
Oldia masih meringkuk di tempat yang sama walau sinar pagi sudah menyorot. Ia menggigiti kuku-kukunya hingga memerah. Tubuhnya bergetar hebat. Keringat dan air mata ketakutan mengalir.
Sementara itu, perkataan Itta terus terngiang di kepala. Ajakan balas dendam sangat menggiurkan di situasinya sekarang.
Ingatan tentang perlakuan Eric padanya juga terlintas semakin jelas, membawanya pada kesengsaraan tiada tara.
Napas Oldia tersengal-sengal.
Pikirannya semakin mengacau. Ia menjambak rambutnya keras, guna memindahkan rasa sakit dari hati.
Merasa tak cukup, Oldia membenturkan kepalanya berulang kali.
Di tengah kekacauan itu, tangan seseorang merengkuhnya.
"Berhenti! Jangan sakiti dirimu lagi. Aku ada di sini, jangan merasa takut dan sendiri lagi."
Ucapan lembutnya bagai obat yang dalam sekejap menghilangkan kecemasan Oldia.
Tubuh Oldia melemas dan tangisnya pecah.
"Tolong, ambilkan minum," pinta Itta pada Riana yang berdiri tak jauh.
Riana mengangguk patuh. Ia segera menuangkan minuman ke gelas, lalu memberikannya.
"Minumlah," titah Itta.
Ia menyodorkan air itu, untungnya Oldia tak menolak.
"Bagaimana perasaanmu sekarang? Merasa lebih baik?"
Oldia mengangguk pelan. Bibirnya bergerak mengucapkan kata terima kasih tanpa mengeluarkan suara.
"Baguslah. Aku membawakanmu makanan, kudengar kau jarang makan."
Oldia menggeleng lemas. "Aku tak mau"
"Kau harus makan untuk tetap hidup."
"Aku tak mau hidup lagi."
Ada binar putus asa yang teramat jelas di mata Oldia. Wanita itu butuh pertolongan dan Itta pasti akan mengabulkannya.
"Kau ingin mati dan membuat orang yang melukaimu senang?"
"Aku ...." Oldia berhenti berbicara, hanya air mata sajalah yang meneruskan kalimatnya.
Itta menghembuskan napas kasar. "Ikut aku," ajaknya.
Itta menarik tangan Oldia, membawanya pergi ke suatu tempat diikuti Riana di belakang.
"Kita mau ke mana?"
"Ke tempat di mana kau bisa membalas dendam."
Kebingungan nampak di wajah cantik Oldia. Lalu, kebingungan itu dalam sekejap hilang tatkala melihat seorang pria berwajah tampan, tetapi mengerikan sedang terduduk di lantai kotor.
Pria itu terengah-engah. Kedua tangannya terikat rantai, pun juga sama dengan kakinya. Bagian tubuh atasnya tak ditutupi sehelai kain, hingga menampilkan bekas luka di sana.
Kaki Oldia mundur selangkah. Trauma yang dialami semakin menyiksa dan mengganggu.
Menyadari hal itu, Itta memaksa Oldia untuk tetap di tempatnya.
"Mau sampai kapan kau lari? Lari tak bisa membuatmu tenang," ujar Itta.
Itta mengarahkan mata Oldia untuk menatap lelaki brengsek itu.
"Lihat dia," tunjuknya pada Eric. "Apa saja yang sudah dia lakukan padamu? Ingat lagi! Kau yakin tidak mau membalasnya?"
Oldia tak akan lupa luka yang diterimanya dari sesosok lelaki di depannya ini. Luka yang teramat baik fisik maupun mental.
"Dia tidak punya kekuatan untuk melawan sekarang. Kau bebas melakukan apa pun padanya, apa kau ingin menyia-nyiakan kesempatan ini?"
"HAHAHAHA."
Tawa kencang keluar dari bibir Eric, sontak membuat atensi ketiga wanita itu teralih padanya.
"Sungguh lucu!" ucapnya keras. "Kau pikir, dia bisa melakukan itu padaku? Kau naif sekali."
"Tentu saja bisa." Riana yang sejak tadi diam, kini ikut berbicara. "Oldia, jangan biarkan dia terus berada di atas angin, lakukan sesuatu untuk membalasnya. Ada Itta dan aku di sini, jadi jangan takut."
Oldia tetap tak bereaksi. Hanya keringatnya saja yang semakin mengucur banyak.
Itta mengambil cambuk yang ada di dekat mereka. Wanita itu menyerahkannya pada Oldia.
"Gunakan ini untuk melakukannya," ucap Itta.
Melihat masih tak ada respon dari Oldia meski waktu semakin berlalu, Itta memaksa wanita itu untuk menggenggam cambuknya.
"Lakukanlah!"
Bola mata Oldia melebar. Cambuk yang ada di tangan dipegang erat-erat.
"Aku ... tak menyukainya," ucap Oldia pelan.
"Berhenti berbohong, kau juga menyukainya."
"AKU TAK SUKA!"
bersamaan dengan teriakan Oldia, wanita itu mengangkat cambuknya, memukul dada bidang lelaki yang telah mempermainkannya.
"AKU TAK SUKA! AKU BENCI MELAKUKANNYA!"
Sesaat pun, Oldia tak melepaskan kesempatan mencambuk Eric. Derai air mata yang mengalir dan rasa sakit menyesakkan, ia mengeluarkan semuanya saat itu.
Napas Oldia tersengal. Badannya melemas, sebab tak memiliki nutrisi makanan dalam tubuh selama beberapa hari.
"Kau pikir ini cukup membunuhku?" Eric tertawa keras. Pria sinting itu seolah menikmati siksaannya. "Rasa sakit ini tak ada apa-apa! Aku sudah sering mengalaminya."
Itta tahu ini sejak awal. Maka dari itu, diam-diam Itta menyimpan pisau kecil di saku Oldia beberapa saat yang lalu.
Pisau itu digunakan Oldia untuk menusuk mata Eric. Jeritan kesakitan terdengar keras.
Semakin lama, Oldia semakin brutal menyiksanya. Pisau itu berkali-kali digunakan untuk menusuk bagian tubuh Eric yang lain.
Sementara itu, Itta menontonnya dengan ekspresi tenang.
"Kejam sekali. Kau tak ingin mengotori tangan, jadi kau memanfaatkan orang lain untuk melakukannya."
Suara berat khas laki-laki membuat Itta menoleh terkejut.
"Adyan?"
"Aku bertanya-tanya kenapa kau meminta hak hidup dan matinya, ternyata ini adalah alasannya. Tapi, kenapa kau memintanya padahal kau bisa langsung membunuh?"
"Eric adalah bawahanmu. Kalau aku membunuhnya tanpa berkata padamu, kau pasti tak menerimanya."
"Iya, tentu saja. Aku tak bisa membiarkan ada orang yang membunuh bawahanku, tapi aku akan mengecualikan jika itu kau."
"Aku tak percaya."
Adyan terkekeh kecil mendengarnya. Tangan pria itu terulur mengacak-acak rambut Itta.
"Pergilah!" kesal Itta.
Wanita itu menyingkirkan tangan Adyan dari kepalanya.
"Kau berani mengusirku?"
Sontak Itta menggeleng. "Tidak. Mana mungkin aku berani. Aku hanya ingin tanganmu berhenti mengacak rambutku."
"Rambutmu milikku juga, aku punya hak untuk melakukannya."
Baiklah, terserah Adyan saja. Itta sudah lelah menghadapi harinya. Itta memilih tak membalas perkataan Adyan lagi.
"Akan ada pesta besok malam, persiapkan dirimu."
"Pesta?"
"Iya, pestanya di kapal pesiar Zahara."
"Bukankah itu kapal pesiar pribadi yang beberapa tahun lalu dibuat, tetapi belum selesai juga?"
"Kau tahu itu?"
Itta mengangguk. Dia pernah mendengarnya dari sang Ayah
Kapal pesiar Zahara, kapal pribadi rahasia milik seorang penguasa terkenal. Sifatnya rahasia, sebab hanya segelintir orang saja yang mengetahuinya.
Alasan kapal pesiar itu tidak selesai dibuat sebab bahan bakar yang digunakan sangat langka.
Selain itu, ada beberapa bahan lain yang tidak bisa didapatkan dengan mudah. Bukan karena tak ada uang, tetapi karena mencari bahannya dalam jumlah banyak adalah hal sulit.
"Aku tak menyangka kapal itu akhirnya selesai juga."
"Kapal itu selesai dibuat kemarin. Besok malam adalah acara peresmiannya. Saat itu datanglah bersamaku."
"Tapi, aku tak biasa menghadiri pesta sebesar itu."
Wajar saja, biasanya yang datang ke pesta seperti itu adalah kedua orangtuanya.
"Kau tak perlu khawatir. Kau hanya perlu menginap dan berada di dekatku setiap saat," ujar Adyan.
"Berapa hari kita akan menginap?"
"Tiga hari. Upacara peresmiannya akan dilakukan di hari terakhir. Tepat sebelum hari terakhir, kita harus bisa mengambil alih kepemilikan kapal pesiar Zahara."
Bola mata Itta melebar mendengar penuturan Adyan.