He's Not A Bad Boy

He's Not A Bad Boy
Bab 52 - You Are Not A Bad Boy (End)



Waktu terus berjalan, usia kandungan Khaira kini telah memasuki 5 bulan, tak ada lagi morning sickness, kini selera makannya pun semakin meningkat. Dokter telah mengatakan bahwa kondisi dirinya dan bayi yang dikandungnya dalam keadaan sehat dan kuat, sehingga menungkinkan untuk melakukan perjalanan bulan madu dengan mengendarai motor.


Hari ini pasangan halal itu akan memulai perjalanan bulan madunya dengan motor besar kesayangan Boy. Motor yang menjadi saksi kesedihan Boy hingga menjadi saksi perjuangan cintanya kala itu.


Pagi itu, usai berpamitan kepada Zafran, Ainun, Oma Sofi, dan Umar, keduanya berangkat sambil berboncengan. Perut Khaira yang semakin membuncit, tak menjadi penghalang untuk bisa memeluk sang suami dari belakang.


Tangan Boy sesekali menggenggam tangan sang istri yang menempel di bagian perutnya. Laki-laki itu melajukan motornya dengan kecepatan sedang agar mereka bisa menikmati setiap momen berharga itu dengan nyaman.


"Jadi bagaimana rasanya naik motor bersama mantan bad boy?" tanya Boy sambil melirik sang istri melalui kaca spion motornya.


"Menyenangkan dan sejuk. Aku suka, apalagi yang boncengin suami sendiri, aku merasa sangat nyaman dan aman bisa bersama denganmu," jawab Khaira dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajah cantiknya.


"Alhamdulillah, aku sangat bahagia mendengarnya, Sayang."


Saat sedang asik berpelukan di atas motor, tiba-tiba mereka mendengar seseorang memanggilnya.


"Kak Boy, Khaira, kalian mau kemana?" tanya Silvi yang saat ini juga sedang dibonceng oleh Ali di motor besarnya. Mereka kini jalan beriringan di jalan yang lenggang karena masih sangat pagi.


"Mau bulan madu," jawab Boy.


"Kalian mau kemana?" tanya balik Khaira.


"Sama, kami mau bulan madu juga," jawab Silvi.


"Hey, jangan niru dong, tidak asik banget sih kalian ini," sanggah Boy.


"Siapa yang niru, ini memang rencana kita sejak awal nikah, iya 'kan, Sayang?" jawab Ali yang meminta persetujuan dari Silvi.


"Iya, bener, Kak," sambung Silvi.


"Jangan bilang kalian juga mau ke pantai Amani yang ada hotel di dekatnya?" selidik Boy.


"Tidak kok, tenang, kami di hotel sebelahnya dengan pantai yang tidak kalah indah dengan pantai Amani," jawab Ali.


"Baguslah kalau begitu karena aku sudah membooking pantainya untuk dua hari, dan aku tak ingin ada yang mengganggu, termasuk kalian," seloroh Boy


"Iya iya, memangnya cuma kalian yang tidak ingin di ganggu? Kami juga kali. Ya sudah kami duluan kalau begitu, assalamu 'alaikum," ucap Ali lalu melajukan motornya mendahului Boy dan Khaira.


"Wa'alaikum salam," balas Boy dan Khaira bersamaan.


"Kita pelan-pelan saja yah, Sayang. Biar lambat asal selamat," ujar Boy. "Oh iya, bilang yah kalau kamu merasa pegal, kita bisa berhenti untuk istirahat sejenak," sambungnya sambil mengusap pelan tangan Khaira.


"Iya, Kak, Sippp," balas Khaira.


Tak terasa, motor mereka tiba di hotel dengan view pantai yang sangat indah saat tengah hari. Keduanya beristirahat sejenak untuk merelaksasikan tubuh mereka yang sedikit pegal, hingga malam pun menjemput.


Boy mengajak Khaira untuk berjalan-jalan ke pantai usai menunaikan sholat berjamaah. Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan menyusuri bibir pantai yang kini terasa sejuk. Di sepanjang perjalanan, terlihat beberapa lampu berjejer rapi menuju sebuah tempat yang terlihat indah meski dari kejauhan.


"Kita mau kemana, Kak?" tanya Khaira kini dirundung rasa penasaran. Pasalnya, saat baru tiba di hotel tadi, ia sudah mendapat kejutan buket bunga mawar besar dari sang suami yang sudah disiapkan pihak hotel.


"Lihat saja nanti," jawab Boy sambil tersenyum. Kini ia merangkul pinggang Khaira dengan begitu mesra.


Mata Khaira berbinar saat di hadapannya telah terlihat tempat makan yang telah dihias sedemikian rupa dengan bunga dan lampu yang begitu indah. Di atas meja makan terdapat lilin dan bunga serta makanan yang telah tersaji.


"Masya Allah, indah sekali, apa kamu yang siapkan semua ini?"


Boy mengangguk pelan sambil tersenyum. "Apa kamu suka?"


Khaira menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Suka, suka sekali malah, terima kasih." Khaira memeluk sang suami begitu bahagia.


"Ayo kita makan dulu yah," ajak Boy lalu menarik kursi untuk Khaira duduk, kemudian ia duduk di hadapannya. Keduanya menikmati makan malam bersama dengan penuh hikmat, suasana yang begitu indah, dan embusan angin yang sejuk membuat makan malam mereka sangat berkesan dan romantis.


"Aku punya hadiah untuk kamu."


Usai makan bersama, Boy memberikan sebuah kotak hadiah kepada Khaira.


"Silakan kamu buka," ucapnya.


Khaira perlahan membuka kotak itu, sebuah kalung emas dengan liontin sayap kecil yang dihiasi berlian kecil disepanjang sayapnya berhasil membuat Khaira membuka mulut tanpa sadar.


"Masya Allah, cantik sekali, tapi rasanya sayap ini tidak asing, deh."


Khaira tanpa sadar mengeluarkan butiran kristal bening dari matanya. Semua tentang masa lalunya bersama Boy seketika berputar kembali, termasuk saat Boy berkoban demi menyelamatkannya dari kobaran api yang hampir mengancam nyawa.


Boy mengusap kedua pipi Khaira guna menghapus air matanya, laki-laki itu berdiri menghampiri sang istri lalu memasangkan kalung itu di lehernya.


"Semoga Allah selalu menjaga kita agar tetap istiqomah di jalannya, melahirkan keturunan yang sholeh dan sholehah, berjuang bersama di jalan Allah, dan mempertemukan kita kembali di Surganya kelak." Boy mengecup kening Khaira lalu mengusap perut buncitnya sambil membacakan doa untuk sang anak.


***


Enam tahun kemudian.


Pagi itu, Khaira baru saja kembali dari rumah sakit setelah menangani pasien darurat semalaman. Wanita itu berjalan memasuki rumahnya setelah mengucapkan salam, tapi tak terdengar balasan apa pun dari suami maupun anaknya.


Bug bug bug


Suara pukulan demi pukulan yang ia dengar dari belakang rumah membuatnya penasaran sekaligus takut. Ia berjalan mengendap-endap menuju halaman belakang untuk mengintip apa yang terjadi.


Senyuman tipis tersungging di wajahnya saat melihat sang anak sedang berlatih bela diri bersama suaminya dengan memukul samsak tinju beberapa kali. Khaira kembali ke dapur sejenak lalu keluar ke halaman belakang sambil membawa baki besar berisi minuman dan roti.


"Wah, Nizam makin jago yah mukul samsak tinjunya, masya Allah. Sekarang istirahat dulu, bunda bawain susu buat Nizam dan teh buat Ayah," ujar Khaira sambil meletakkan baki itu di meja, membuat Boy langsung menghampirinya dan memberikan kecupan di keningnya.


"Kecupan selamat pagi yang tertunda," lirih Boy, membuat Khaira tersenyum malu-malu.


"Kata Ayah, Nizam harus berlatih memukul selama 5 menit, ini masih dua menit, tanggung," ucap anak laki-laki benama Nizam yang masih berusia 6 tahun itu, lalu melanjutkan kegiatannya.


"Baiklah, Sayang."


"Biarkan dia berlatih, agar kelak dia bisa menjaga dirinya sendiri dan orang lain," ucap Boy sambil menyeruput tehnya.


"Apa dia akan baik-baik saja? Semoga dia tidak menjadi orang yang suka berkelahi kelak saat besar nanti."


"Insya Allah itu tidak akan terjadi selama kita mendidiknya dengan baik dan selalu memberikan kasih sayang serta perhatian yang dia butuhkan," ujar Boy.


"Awal aku menjadi Bad Boy juga karena itu, kekurangan kasih sayang dan tak ada keluarga yang peduli padaku, aku kesepian hingga mencari pelampiasan diluar sana," ujar Boy sambil menatap putranya yang masih fokus berlatih.


Mendengar cerita Boy, Khaira berjalan ke belakang kursi sang suami lalu memeluk pundaknya dari belakang.


"Semuanya telah berlalu, Sayang. You are not a bad boy but you are a good Husband and good Father for us," lirih Khaira di dekat telinga sang suami.


Boy tersenyum lalu mengecup lembut tangan Khaira. "Terima kasih, Sayang. Sejak awal aku memang tidak pernah salah memilih kamu, aku mencintaimu, Sayang."


"Aku juga mencintaimu, Sayang."


__________________________________________


Seseorang yang memperbaiki diri karena Allah, kelak Allah pun akan mendatangkan kebaikan padanya dengan cara tak terduga.


-Tamat-


Assalamu 'alaikum semuanya,


Terima kasih telah ke dukung karya Author dari awal hingga tamat, semoga Allah senantiasa melancarkan rezeki kakak-kakak semua.


Mohon maaf juga jika masih banyak kekurangan dalam karya ini, kritik dan saran yang membangun sangat Author butuhkan demi kemajuan karya Author selanjutnya karena Author sendiri masih belajar.


Sampai jumpa di karya author berikutnya yah. Author mau mempromosikan karya barunya, mohon dukungannya yah 🥰


MAHLIGAI CINTA YANG TERTUNDA



Sinopsis :


Sebuah perjodohan yang dilakukan orang tuanya di masa lalu, membuat Alula harus menikah dengan seorang pria dewasa yang memiliki usia terpaut 14 tahun dengannya.


Rencana perjodohan itu terpaksa harus dimajukan di saat usianya masih menginjak 16 tahun karena sang ayah, satu-satunya keluarga yang ia miliki mengidap penyakit parah dan ia khawatir akan pergi sebelum melihat sang putri menikah dan tak ada yang menjaganya.


Khawatir mendapat tuduhan miring, dan mendapat masalah di sekolah, mereka memutuskan untuk tinggal di tempat yang berbeda untuk sementara waktu.


Lalu, sampai kapan kehidupan rumah tangga mereka berjarak? Akankah rasa cinta tumbuh di antara mereka?