He's Not A Bad Boy

He's Not A Bad Boy
Bab 31 - Melihatnya Kembali



Siang itu usai mengajar di pesantren, Boy langsung pergi ke rumah sakit. Sudah beberapa hari ini ia tidak sempat menjenguk Ali dikarenakan kegiatan di pesantren yang begitu padat.


Tak hanya mengajar di sekolah, Boy juga menjadi pembawa materi dalam pengajian di ligkungan pesantren itu. Ia juga telah memutuskan untuk tinggal di rumah khusus ustadz yang masih lajang, setidaknya ia akan di sana sampai status lajangnya itu berubah menjadi menikah.


Berbicara tentang pernikahan, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, beberapa kali Boy memikirkan cara mencari Khaira, ia sudah mencari di media sosial tapi tak kunjung menemukan apa yang ia cari. Bahkan sempat terbesit dalam benaknya untuk kembali ke kota asal demi mencari gadis itu, tapi rasanya ia belum siap menginjakkan kaki kembali di Kota yang menjadi saksi berbagai lukanya.


Apakah salah jika keinginan untuk menikahi Khaira masih ada meski ia tak tahu keberadaan gadis itu? Apakah dirinya egois jika menginginkan gadis yang belum tentu menginginkannya juga? Bahkan status gadis itu pun ia tidak tahu apakah sudah menikah atau belum.


Boy membuang napas kasar memikirkan itu semua. Meski begitu, Boy akan tetap berusaha selama ia belum mendengar kabar Khair telah menikah, setidaknya ia telah berusaha, dan ia tak akan menyesalinya.


Lamunan Boy berakhir saat motor khusus pesantren yang ia kendarai tiba di halaman parkir rumah sakit. Sambil membawa bingkisan untuk kedua orang tua Ali, Boy berjalan memasuki gedung rumah sakit menuju ICU.


Dari jauh sudah terlihat kedua orang tua Ali yang menunggu di depan ruang ICU tempat anaknya dirawat.


"Assalamu 'alaikum, Om, Tante," ucap Boy, dan langsung di jawab oleh Herman dan Salma.


"Bagaimana kondisi Bang Ali?" tanya laki-laki itu


"Masih sama seperti yang kemarin, Nak," jawab Salma lesu.


Boy menoleh ke pintu masuk ruang ICU itu. "Apakah dokter sedang memeriksa Bang Ali?" tanya Boy, tidak biasanya Herman dan Salma menunggu di luar bersama, kecuali jika di dalam ruangan itu ada dokter yang sedang memeriksa putra mereka.


"Iya, Nak. Dokter bersama para dokter muda itu sedang memeriksa Ali."


Boy menganggukkan kepala, lalu ikut duduk di samping Pak Herman untuk menunggu hasil pemeriksaan dokter.


***


"Apa kalian sudah mengerti?" tanya dokter itu kepada para koas setelah melakukan pemeriksaan dan memberikan sedikit penjelasan mengenai pasien koma.


"Mengerti, Dok," jawab dokter koas itu bersamaan.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita keluar," ujar dokter itu lalu hendak melangkahkan kakinya keluar, tapi tiba-tiba langkah kakinya terhenti.


"Oh iya, siapa namamu?" tanya dokter itu menunjuk ke arah Khaira.


"Nama saya Khaira, Dok," jawab Khaira.


"Baiklah, silahkan laporkan hasil pemeriksaan kita kepada orang tua pasien."


"Baik, Dok."


Saat dokter lain telah pergi, Khaira kini menghampiri tiga orang yang sedang duduk di depan ruang ICU, ia yakin jika mereka adalah keluarga pasien. Saat menyadari kedatangan Khaira, ketiga orang itu pum refleks berdiri dengan kompak.


Bukannya langsung berbicara, Khaira justru bergeming menatap tidak percaya pada laki-laki di hadapannya yang sesekali memandang sekilas ke arahnya, tapi ia lebih sering menundukkan pandangan.


"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" tanya wanita paruh baya di hadapannya yang seketika membuyarkan lamunan Khaira.


"Ah iya, maaf, Bu. Jadi begini ...." Khaira mulai menjelaskan hasil pemeriksaan mereka tadinya, di mana pasien telah mengalami perkembangan yang cukup bagus, dibanding sebelumnya.


Boy yang sejak tadi tertunduk seketika mengangkat wajahnya saat mendengar suara sang dokter behijab yang juga menggunakan masker itu. Suara dokter itu benar-benar terdengar tidak asing di telingannya.


Ia mencoba memandangi mata dokter itu, dan benar, mata itu adalah indah yang selalu ia lihat saat dirinya masih berstatus sebagai bad boy.


"Khaira." batin Boy. Entah kenapa ia begitu yakin jika dokter muda yang sedang berbicara dengan orang tua Ali itu adalah Khaira. Namun, karena situasi yang tidak memungkinkan, Boy sama sekali tidak berani mengeluarkan suara, bahkan hingga dokter itu pergi menjauh dari pandangannya.


"Alhamdulillah, kalian dengar itu, kondisi Ali mengalami kemajuan. Sekarang ayo kita masuk," ajak Salma dengan wajah yang begitu bersemangat.


Kedua orang paruh baya itu akhirnya berjalan menuju pintu masuk ruang ICU. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat Boy justru diam di tempatnya dalam keadaan gelisah.


"Kamu kenapa, Nak? Apa kamu akan berdiri saja di situ," tanya Herman.


"Om, Tante, aku mau ke sana sebentar, nanti aku kembali lagi, insya Allah." Boy segera berlari ke suatu tempat, bahkan tanpa menunggu respon orang tua Ali, sehingga membuat mereka kini sedikit bingung.


"Dia kenapa, Ma?"


"Entahlah, mama juga tidak tahu, Pa."


***


Boy berlari menyusuri lorong rumah sakit mengikuti arah yang tadi dilalui dokter muda berhijab tadi. Meski wajah dokter tadi tertutup masker, tapi ia sangat yakin jika itu adalah Khaira, gadis yang selama ini ia cari.


Jika dulu, Boy rela meninggalkan Khaira, tapi tidak kali ini. Ia benar-benar ingin mengikat gadis itu agar selalu berada di sisinya.


Jantung Boy mulai berdebar tidak keruan saat melihat sosok dokter tadi kini berada tidak jauh di depannya. Bukan karena lelah, melainkan karena ada rasa indah yang kembali ia rasakan saat melihat sosok gadis yang selama ini ia rindukan dalam doa. Semoga saja dugaannya jika itu adalah Khaira adalah benar.


"Khaira!"


-Bersambung-