
Rasa cinta akan terasa semakin indah saat Sang Pemilik Cinta telah merestui. Namun, ujian tak kan pernah lari selama napas tak berhenti. Saling berpegangan tangan di kala badai menerpa menjadi kunci. Karena saling percaya dan mendukung adalah salah satu pondasi.
__________________________________________
Satu bulan telah berlalu sejak Khaira dan Boy resmi menjadi sepasang kekasih halal. Rasa bahagia tentu saja masih menyelimuti kehidupan mereka. Meski aktivitas sehari-hari tak ada yang berubah, tapi rasanya semangat semakin bertambah.
Seperti pagi ini, Khaira tengah bersiap untuk ke rumah sakit, sementara Boy baru saja menyelesaikan mandi paginya sebelum nanti akan berangkat ke pesantren untuk mengajar seperti biasa.
Khaira mengambil pakaian yang telah ia siapkan sebelumnya untuk Boy lalu memasangkannya di tubuh sang suami. Sejenak wanita itu memegang lengan kekar sang suami yang dulu memiliki tanda sayap di sana, lalu tersenyum.
"Sudah bersih."
"Tentu saja, sesuai saran kamu 'kan?"
Boy menatap dalam manik mata sang istri yang kini mulai mengancingkan bajunya satu per satu, hingga membuat wanita itu sedikit salah tingkah dengan wajah yang mulai merona.
"Berhenti menatapku seperti itu, Kak," ujar Khaira akhirnya.
"Memangnya kenapa? Apa kamu tidak menyukainya? tanya Boy kini dengan tatapan serius.
"Ti-tidak, hanya saja aku merasa malu," jawab Khaira lirih lalu tertunduk.
Boy tersenyum dan mulai melingkarkan tangannya pada pinggang ramping sang istri. "Kenapa masih malu, selama satu bulan ini kita tinggal dan tidur bersama, makan bersama, bahkan mandi ber ...." Perkataan Boy terputus saat Khaira meletakkan jari telunjuknya di depan bibir sang suami.
"Jangan disebutkan semua juga kali, kalau ada yang dengar gimana?" cicit Khaira.
Boy tertawa pelan tiap kali melihat wajah sang istri yang kini semakin memerah bak kepiting rebus karena ulahnya. Ternyata ada keasikan tersendiri yang ia rasakan saat menggoda istrinya itu. Perlahan ia menarik jari telunjuk Khaira lalu mulai mengecupnya dengan lembut, setelah itu sebuah kecupan hangat yang diikuti dengan pelukan menjadi kebiasaan baru mereka setiap pagi.
"Aku mencintaimu, Sayang. Jangan pernah bosan mendengar ungkapan hatiku ini karena dadaku akan terasa begitu sesak jika aku memendamnya lagi." Boy memejamkan matanya lalu mengeratkan pelukan yang kini bersambut begitu hangat.
"Ungkapkan saja, Kak. Aku justru merasa sangat bahagia tiap kali mendengar ungkapan cintamu itu," lirih Khaira.
.
.
.
Usai sarapan bersama keluarga besarnya, Boy mengantar Khaira menuju rumah sakit menggunakan mobil, hal itu sengaja mereka lakukan agar tak ada yang melihat mereka dan membuat cerita-cerita aneh tentang mereka.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, kini Khaira telah tiba di rumah sakit.
"Ingat yah, nanti siang aku jemput untuk fitting baju, pernikah kita tinggal 2 minggu lagi," ujar Boy saat Khaira menyalami dan mencium punggung tangannya.
"Siap, Kak," balas Khaira tepat saat Boy mengecup keningnya.
Kini Boy melanjutkan perjalanannya menuju pesantren milik Abah Rahman. Saat tiba di sana, ia bertemu dengan Ali yang memang ikut mengajar di sana. Bagai orang yang tak memiliki masalah apa pun, keduanya tetap saling berinteraksi sebagaimana sahabat pada umumnya.
"Boy, aku baru saja mendapat gosip hangat," ujar Ali dengan wajah serius, membuat Boy mengerutkan dahinya.
"Astaghfirullah, Bang. Di mana kamu sering nongkrong akhir-akhir ini? Kenapa tiap bertemu, kamu akan membawa gosip?"
Ali tertawa mendengar perkataan Boy, "Hey, aku hanya bercanda. Bukan gosip, aku hanya ingin membawa kabar bahwa Silvi akan ikut mengajar di sini."
Langkah kaki Boy seketika berhenti. Dia beralih menatap Ali dengan mimik wajah serius.
"Kenapa? Apa kamu takut dia akan menganggu rumah tanggamu?" selidik Ali.
"Tidak, bahkan lebih dari itu, aku takut dia nekat dan melukai Khaira," batin Boy.
"Kenapa diam, Boy?" tanta Ali karena mendapati Boy justru melamun.
"Tidak apa-apa, Bang," jawab Boy, lalu kembali melangkah di susul oleh Ali.
"Kalau menurutku, yah, kamu tenang saja, meski Silvi kadang terlihat agresif, dia itu baik." Boy kini menatap ke arah Ali.
"Kamu tahu dari mana, Bang?" tanya Boy heran.
"Ya, aku hanya menduganya saja," jawab Ali begitu enteng lalu berjalan mendahului Boy. Ia tidak tahu jika ada seseorang yang kini sedang mengaminkan dugaannya itu.
***
Siang itu usai mengajar, Boy langsung keluar dari kelas dengan buru-buru. Sebagaimana janjinya, hari ini dia akan melakukan fitiing baju bersama sang istri. Namun, saat di jalan, ia tidak sengaja saling berpapasan dengan Silvi.
"Boy!" panggil Silvi, membuat laki-laki itu langsung menghentikan langkahnya yang telah melewati wanita itu.
Silvi berjalan menghampiri Boy lalu menatapnya dengan tatapan sendu.
"Apa kamu membenciku?" sebuah pertanyaan kini terlontar dari mulutnya.
"Tidak, dan kuharap itu tidak akan pernah terjadi," jawab Boy tanpa ekspresi.
"Apa maksudmu?
Boy menatap Silvi sekilas lalu kembali berbicara, "Aku tidak ingin membencimu karena kamu saudaraku, ku harap kamu tidak pernah melakukan sesuatu yang dapat membuatku membencimu."
Silvi terdiam dengan pandangan yang mulai buram karena air mata. Ia menundukkan kepala sembari beberakali mengedipkan mata agar air matanya segera menghilang.
Silvi mengangkat wajahnya sambil memaksa tersenyum. "Ku dengar kamu dan Khaira telah menikah, selamat yah untuk kalian," ucapnya lagi walau hatinya terasa begitu perih saat mengatakan hal itu.
"Iya, terima kasih," balas Boy lalu segera pergi meninggalkan adik tirinya itu.
Silvi hanya bisa menatap nanar punggung Boy yang semakin lama semakin menjauh. Laki-laki yang selama ini ia perjuangkan dalam sekejap mematahkan semua harapannya. Ia kembali mengingat bagaimana ia berjuang selama beberapa tahun ini untuk mendapatkan hatinya. Namun, dia yang selama ini berjuang keras kini harus menangisi takdir yang membuat semua perjuangannya itu menjadi sia-sia.
Walau dari perkataan tadi Silvi terdengar telah berbesar hati menerima kenyataan, tapi jauh dalam lubuk hatinya, masih ada rasa tidak rela melepas Boy untuk wanita lain.
***
Sore harinya usai melakukan fitting baju, Boy dan Khaira memutuskan untuk belanja bersama di sebuah mini market. Sebuah hal baru yang mereka lakukan semenjak mereka menikah.
Pasangan suami istri itu kini berjalan beriringan sambil mendorong troli menyusuri lorong di mana sayur dan buah-buahan berjejer rapi di sana.
"Coba kamu cek listnya, Sayang. Apa masih ada yang kurang?"
"Oke, Kak." Silvi mulai membuka kembali ponselnya untuk mengecek list belanja mereka.
"Kurang daging ayam, Kak," ujar Khaira.
"Oke, kamu tunggu di sini, biar aku yang ambil, stand tempat daging ayam agak jauh soalnya," kata Boy lalu pergi setelah mendapat persetujuan daei sang istri.
Tanpa mereka sadari, seorang wanita dengan troli yang penuh barang sedang menatapnya dengan tatapan datar. Wanita itu tampak begitu gelisah dengan tangan yang kini mencengkram erat pegangan troli itu. Di detik berikutnya, ia mendorong troli itu dengan begitu kuat ke arah Khaira dari belakang hingga menabrak dan membuat wanita iri terjatuh.
Tangan wanita itu kini bergetar, rasa cemas seketika menghampirinya. Ia hendak berlari meninggalkan lokasi itu, tapi tiba-tiba seorang laki-laki menghadang jalannya dengan tatapan tajam.
-Bersambung-