He's Not A Bad Boy

He's Not A Bad Boy
Bab 39 - Kembalinya Geng Motor



Boy terbangun dari tidur kala ponselnya berdering. Di tengah kantuk yang mendera, tangannya berusaha keras meraih ponsel itu di atas nakas. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya untuk menyeimbangkan cahaya ponsel yang tampak menyilaukan mata.


Sebuah nomor baru yang terpampang di layar ponsel itu membuat Boy sedikit mengerutkan kening, tapi pada akhirnya ia mengangkat telepon itu juga. Untuk sesaat ia berbicara dengan normal. Namun, di detik berikutnya rasa khawatir mulai menghampiri laki-laki itu.


"Baik, saya segera ke sana," ujar laki-laki itu dan langsung mematikan ponselnya lalu segera bangkit dari tidur.


Dengan cepat Boy mengganti baju untuk bersiap, tapi pandangan laki-laki itu seketika tertuju pada sebuah kunci motor yang tergantung di dalam lemari, kunci yang sangat ia kenali itu tentu saja membuatnya bingung. Seingatnya, itu adalah kunci dari motor kesayangannya yang sudah ia jual beberapa tahun lalu.


Tak ingin membuang waktu, Boy langsung mengambil kunci itu dan segera turun dari kamarnya menuju pintu keluar. Namun, suara ketukan pintu membuat laki-laki itu memperlambat langkahnya.


"Siapa yang bertamu malam-malam begini?" monolognya.


Boy membuka pintu dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Silvi berdiri di sana, keterkejutan Boy semakin bertambah saat sosok wanita yang pernah ia panggil ibu kini tertangkap oleh netranya.


"Boy?" Beberapa kali Silvi memanggil namanya, tapi jangankan menjawab, menoleh ke arahnya pun tidak.


Laki-laki itu justru menatap wanita paruh baya yang sejak tadi tertunduk dengan tatapan tajam, tangannya mengepal kuat serta rahangnya mengeras. Bayangan akan luka yang ditimbulkan oleh wanita paruh itu saat pergi meninggalkan dia dan sang ayah seketika kembali berputar dalam ingatannya.


Masih teringat jelas, saat itu Boy menangis memohon agar sang ibu tidak pergi, bahkan ia sampai memeluk kakinya berharap dapat mencegah kepergiannya, tapi wanita itu tetap saja bersikeras pergi, ia bahkan menendang tubuh Boy yang masih duduk di bangku SD saat itu hingga terhempas, dan dengan angkuhnya dia berkata bahwa ia tidak sudi tinggal bersama orang yang tidak ia cintai, lalu segera memasuki sebuah taksi yang sudah menunggu sejak tadi.


Rasa sakit hati Boy semakin bertambah saat melihat sang ayah yang tampak banyak diam pasca kepergian sang ibu, bagai raga tak bernyawa, ia memandang ke depan, tapi tatapannya kosong. Hal itu berlangsung beberapa tahun hingga saat Boy duduk di bangku SMP, sikap sang ayah berubah total. Sosok yang dulu sangat hangat dan peduli, semuanya hilang dan berganti menjadi sosok dingin dan acuh serta lebih suka menyibukkan diri di kantor daripada pulang ke rumah.


"Mau apa kemari?" tanya Boy tanpa mengalihkan tatapannya dari wanita paruh baya itu. Silvi langsung beralih menatap sang ibu dengan tatapan heran, begitu pun dengan sang ayah.


"Apa kalian sudah saling kenal?" tanya ayah Silvi.


"Apa dia istri anda, Pak?" Bukannya menjawab, Boy kini beralih menatap laki-laki paruh baya di hadapannya dan bertanya balik.


"Benar, ini istri saya, baguslah jika kalian sudah saling kenal, artinya mungkin rencana kami untuk menjodohkanmu dengan putri kami sudah tepat," jawab ayah Silvi seraya tersenyum.


Tatapan Boy kini beralih ke gadis berhijab di depannya yang juga tersenyum malu-malu. Hal itu membuat Boy tersenyum kecut.


"Jadi kalian ingin aku menikahi Silvi?" tanya Boy lalu kembali menatap wanita paruh baya itu.


"Iya, mungkin alangkah baiknya kita bicarakan di dalam mengenai rencana pernikahan kalian," ujar ayah Silvi.


"Maaf, Pak. Sepertinya disini ada kesalahpahaman. Pertama, saya sudah memiliki wanita yang ingin saya nikahi, dan itu bukan Silvi, dan kedua, bagaimana bisa kami menikah sementara kami saudara, lebih tepatnya saudara tiri," jelas Boy membuat Silvi dan ayahnya terkejut bukan main.


"A-apa maksudmu, Boy? Bagaimana bisa kita saudara tiri?" tanya Silvi begitu bingung.


"Kamu tanyakan saja pada Ibumu," jawab Boy sambil menatap kembali wanita paruh baya yang kini tampak pucat. "Maaf, saya punya urusan mendadak jadi saya harus segera pergi," pamit Boy langsung meninggalkan ketiga orang itu menuju bagasinya.


Boy begitu takjub saat mendapati motor kesayangannya masih ada di sana dalam keadaan terawat. "Terima kasih, Ayah," lirih Boy tersenyum lalu segera menaiki motornya dan melaju meninggalkan rumahnya.


"Mari kita pulang dan biarkan Ibumu menjelaskan semuanya." Ayah Silvi langsung berjalan cepat menuju mobilnya meninggalkan dua wanita beda usia itu dengan raut wajah yang tidak baik-baik saja.


***


Malam yang gelap dan sedikit gerimis kini mengiringi perjalanan Boy menuju rumah sakit. Ia tidak peduli dengan gerimis itu, yang jelas ia ingin sampai ke rumah sakit secepat mungkin untuk menemui sang ayah yang telah terbangun.


Suara klakson yang berbunyi beberapa kali di belakang Boy membuat laki-laki itu sedikit terganggu. Ia hendak melihatnya melalui kaca spion tapi terhalang oleh cahaya lampu beberapa motor pengendara di belakang.


Makin lama pengendara motor itu semakin mendekat. Hingga Boy merasa di kelilingi oleh para pemotor yang menggunakan pakaian serba hitam.


"Halo, Boy, lama tidak berjumpa," sapa salah satu pemotor di samping kiri Boy sambil membuka helm yang menutupi wajahnya.


"Kamu masih mengenaliku rupanya," ujar Ifan sambil tertawa.


"Mau apa kamu mengikutiku?" tanya Boy.


"Kita mendapat perintah dari Anton untuk menghabisimu agar adiknya tidak lagi tergila-gila padamu," jawab Ifan.


"Apa? Anton? Adiknya?" Kali ini Boy benar-benar tidak mengerti dengan keadaan saat ini.


"Kenapa? Bingung? Dengar baik-baik, kami sekarang sudah bergabung dengan geng motor Brandalz, dan kamu tahu? Meski Anton di penjara, dia masih tetap bisa berkomunikasi dengan kami, dia bahkan yang mengabari kami tentang keberadaanmu."


"Apa?"


"Ah iya, satu lagi, gadis yang baru saja ingin menikah denganmu itu adalah adik kandung Anton, saudara tirimu sendiri."


Pernyataan kali ini benar-benar membuat Boy tak mampu berkata-kata. Ia benar-benar tidak menyangka jika selama ini ia berseteru dengan saudara tirinya sendiri. Entahlah, apakah Anton masih pantas dikatakan saudara sementara ia bahkan pernah hampir membunuhnya di saat ia sudah tahu yang sebenarnya.


Lamunan Boy seketika buyar saat para geng motor itu menghentikan motornya secara paksa. Belum sempat Boy berbicara, mereka langsung menyeretnya masuk ke dalam hutan yang berada di pinggir jalan.


Perkelahian lagi-lagi terjadi di malam yang semakin sepi. Kali ini para geng motor itu berjumlah lebih dari 10 orang. Ada yang bertugas menahan tangan Boy dan menguncinya sehingga ia benar-benar tak bisa bergerak. Pukulan demi pukulan kini ia terima di wajah dan perut tanpa perlawanan.


"Tega sekali kamu, Ifan," ujar Boy dengan suara pelan, tapi bukannya iba, Ifan justru semakin tertawa puas melihat keadaan mantan bosnya itu.


Wajahnya kini penuh dengan darah, bahkan darah segar keluar dari mulutnya akibat pukulan yang sangat keras di perutnya. Boy benar-benar tak berdaya kali ini, ia hanya bisa memasrahkan diri pada Sang Khaliq, apakah ia masih bisa melihat hari esok atau tidak, kini ia sudah pasrah.


Cukup lama Boy di tahan oleh para geng motor itu di dalam hutan, hingga Ifan mengeluarkan sebuah pisau dari dalam sakunya untuk mengakhiri misinya.


"Ucapkan selamat tinggal untuk ayahmu, Boy."


***


Di tempat lain, Zafran, Akmal dan Khaira baru saja keluar dari bandara, mereka kini menaiki taksi menuju sebuah hotel yang berada di pusat kota. Namun, perjalanan mereka terhambat oleh beberapa motor yang berhenti bebas di tengah jalan yang sepi.


"Astaghfirullah, ini kenapa banyak motor di sini? Memangmya ada pesta di hutan sana?" protes Akmal sambil melirik ke arah hutan yang gelap. Ia bahkan hendak turun untuk memeriksa sesuatu tapi di tahan oleh supir taksi mereka.


"Jangan sembarangan keluar, Pak. Di sini wilayah rawan geng motor, sudah banyak yang di begal di sini. Sebaiknya kita putar arah saja," ujar supir taksi itu lalu mencoba memundurkan taksinya.


"Tunggu, Pak. Sepertinya aku mengenal motor itu." Khaira kini menunjuk ke arah sebuah motor yang berada di sana.


"Motor siapa itu, Ra?" tanya Akmal.


Khaira memicingkan matanya untuk memastikan apa yang dia lihat memang tidak salah. "Itu motor Boy."


"Apa?"


Zafran dan Akmal kini saling memandang sejenak. "Sayang, apa jangan-jangan Boy kembali ke geng motornya?"


Khaira sama sekali tidak merespon kali ini, ia justru tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Pak supir, tolong telepon polisi."


-Bersambung-