He's Not A Bad Boy

He's Not A Bad Boy
Bab 36 - Ujian atau Hukuman



Dia yang kucinta, tapi Engkaulah yang lebih berkuasa, dia yang kuinginkan, tapi takdirMu lebih baik. Kadang rindu begitu menyiksa raga, tapi apa hendak dikata, jika rindu yang membara tidak sejalan dengan skenarioNya.


Apakah dia benar-benar bukan takdirku?Egoiskah aku jika masih saja menginginkan dia? Aku tak memiliki kuasa untuk melembutkan hati mereka yang tak menyukaiku, tapi aku tahu, Engkaulah Dzat yang mampu melembutkan hati.


_________________________________________


Malam itu, usai mendapat kabar dari orang kepercayaan sang ayah, Boy benar-benar tidak bisa tidur. Ia ingin sekali pulang malam itu juga, tapi keadaannya belum memungkinkan. Beberapa kali ia bolak-balik di atas kasur tapi tak kunjung menemukan posisi nyaman.


Hingga akhirnya ia memutuskan untuk bangun dan menghamparkan sajadah di kamarnya. Cukup lama ia berada di sana, menenangkan diri sekaligus mencari petunjuk atas kebimbangan hati yang benar-benar membuat pikirannya kalut.


Air mata mulai mengalir membasahi pipinya tanpa ia sadari, segala kegundahan hatinya kini ia tumpahkan. Tak hanya tentang keadaan sang ayah yang jatuh sakit, keinginannya untuk menikahi Khaira yang tak kunjung mendapat lampu hijau pun tak luput ia adukan.


Waktu berlalu begitu cepat, adzan subuh mulai berkumandang. Kewajiban sebagai seorang hamba yang taat kini ia tunaikan. Hari ini, ia telah memantapkan hatinya untuk kembali berbicara dengan ayah dari gadis yang ingin ia lamar. Bagaimana keputusan akhirnya, ia serahkan semuanya kepada Allah.


Pagi itu, Boy berencana pergi terlebih dahulu ke rumah sakit untuk menemui Ali, sekaligus akan pamit untuk pulang ke kota asalnya. Setelah itu, ia akan menemui Zafran untuk memberikan jawaban atas permintaan Zafran saat itu.


***


"Assalamu 'alaikum." Sebuah ucapan salam terdengar dari luar pintu disertai suara khas pintu kamar rawat yang terbuka.


Terlihat Zafran, Ainun, dan Khaira memasuki kamar itu. Kedua orang tua Ali tampak begitu antusias menyambut kedatangan mereka, terutama saat melihat Khaira yang baru saja melepas maskernya.


"Masya Allah, apa kamu Khaira? Ternyata kamu dokter muda yang kemarin memeriksa Ali." Salma memegang kedua tangan Khaira lalu memeluknya saat gadis itu mengangguk pelan menanggapi pertanyaannya.


"Bagaimana keadaan Ali?" tanya Ainun seraya menatap Ali yang tertidur.


"Alhamdulillah dia sudah semakin membaik, hanya masih perlu beberapa kali menjalani fisioterapi agar ia bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala," jawab Salma.


Mereka mulai berbincang-bincang sejenak di sofa mengenai Ali. Hingga Salma mulai membuka pembicaraan mengenai niat Ali yang ingin menikahi Khaira. Bahkan ia juga menceritakan jika Ali sudah lama menaruh hati kepada gadis itu.


"Sejujurnya kami cukup tersanjung mendengar niat baik Ali. Namun, kita tahu sendiri jika yang akan menjalani kehidupan rumah tangga nanti adalah Khaira, jadi sudah sepantasnya kami memberikan kesempatan kepada putri kami ini untuk menentukan pilihannya," tutur Zafran.


Kini semua tatapan beralih kepada Khaira yang sejak tadi hanya diam tertunduk.


"Nak, bagaimana menurut kamu?" tanya Ainun kepada sang putri.


Khaira beberapa kali menatap kedua orang tanya dan kedua orang tua Ali secara bergantian.


"Maaf sebelumnya, bisakah saya diberi waktu untuk berpikir dan meminta petunjuk Allah? Bagaimana pun, pernikahan adalah ibadah terpanjang seumur hidup, dan untuk itu, saya butuh kemantapan hati dalam menentukan pilihan," ujar Khaira.


"Oh iya, Nak. Biar saya bangunkan Ali yah agar kalian bisa berbicara."


Khaira yang sebenarnya tidak menginginkan hal itu hendak menahan Salma untuk membangunkan Ali, tapi gerakannya cukup cepat sehingga Khaira tidak sempat menahannya.


"Ali, Ali, bangun, Nak. Lihat siapa yang datang menjengukmu," ujar Salma sambil menepuk pelan pipi anaknya.


Perlahan mata laki-laki itu terbuka dan menatap sang ibu yang ada di sampingnya.


"Siapa, Ma?"


Salma tidak menjawab, ia justru memberikan kode kepada Khaira untuk datang menghampirinya.


"Nah ini dia orangnya." Salma bergeser sedikit ke samping sehingga Khaira yang sudah berada di belakangnya kini terlihat jelas.


Ali yang melihat gadis yang selama ini ia istimewakan dalam hatinya tanpa sadar terdiam menatap gadis di sampingnya, jantungnya mulai berdebar lebih cepat dari biasanya, ada rasa bahagia yang tidak terkira di hatinya saat ini, bagai mimpi yang kini menjadi nyata karena bisa melihat Khaira sedekat ini.


Suara deheman sang ibu seketika menyadarkan Ali dari menatap dalam Khaira. "Astaghfirullah, maaf," ucapnya sedikit malu.


"Gitu amat natapnya, ingat! Kalian belum halal, jadi jaga pandangannya," kata Salma mengingatkan.


Salma pun kembali ke sofa yang tidak jauh dari tempat tidur Ali dan membiarkan mereka berdua saling berbincang sejenak, ia berharap dengan saling berbincang, hati Khaira bisa condong kepada putranya itu.


.


.


.


Sementara di luar ruangan, seorang laki-laki terlihat begitu shock usai mengetahui kenyataan yang tidak sengaja ia dengar. Laki-laki itu berdiri di samping pintu sambil memejamkan matanya, dengan dada yang naik turun karena mengatur napasnya yang terasa sedikit sesak.


Tadinya ia ingin masuk dan bertemu dengan Ali, tapi lagi-lagi sebuah fakta menyakitkan kembali menghampirinya. Dengan langkah lunglai seolah tak memiliki tenaga, laki-laki berjalan pergi meninggalkan ruangan itu. Tatapan matanya kosong, bahkan pandangannya mulai buram oleh bulir-bulir air mata yang mulai memenuhi matanya.


"Aku tidak tahu lagi, apakah ini ujian atau hukuman atas dosa-dosaku selama ini. Tapi apa pun itu, kumohon kuatkan aku ya Allah."


-Bersambung-