He's Not A Bad Boy

He's Not A Bad Boy
Bab 51 - Kedatangan Anton



"Bukankah kamu sendiri yang bilang jika kamu tidak ingin menjalani ta'arruf yang lama? Aku datang ke sini untuk membuktikan jika aku memang serius sama kamu, dan aku tidak ingin membuatmu kecewa untuk sesuatu yang belum pasti."


Silvi terdiam menatap netra laki-laki di hadapannya untuk mencari kebohongan. Namun, hanya tatapan teduh dan tenang yang wanita itu dapat.


"Aku merasa tidak cocok untuk Kak Ali. Kamu laki-laki baik dan tak tersentuh oleh sembarang wanita, sementara aku? Kakak tentu tahu bagaimana agresifnya aku mengejar Boy saat itu," ucap Silvi tertunduk dalam sendu.


"Lalu kenapa? Aku tidak peduli dengan bagaimana kamu di masa lalu, aku hanya ingin membangun masa depan bersamamu," balas Ali tegas.


"Tapi, aku gadis yang menyedihkan, jika Kakak ingin menikahiku karena kasihan, sebaiknya jangan lakukan itu." Suara Silvi mulai terdengar bergetar.


Ali diam menatap wanita di hadapannya, ia tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi ia tahu jika wanita itu sedang menahan tangis saat ini.


"Jika aku kasihan padamu, aku tidak akan sampai di sini karena yang membawaku kesini adalah keseriusanku untuk meminangmu menjadi istri, aku ingin menjadikanmu partner hidupku untuk bersama meraih SurgaNya."


"Tapi, aku ... Aku bukan wanita baik, Kak. Silahkan saja tanyakan pada Khaira dan Boy." Silvi masih berusaha menahan tangisnya. Seakan bayangan akan keburukan di masa lalu terputar kembali dalam ingatannya bagai kaset rusak.


"Jika kamu merasa seperti itu, maka izinkan aku menjadi imammu, aku berjanji akan membimbingmu menjadi wanita yang baik, insya Allah," tukas Ali, membuat Silvi langsung mengangkat wajahnya yang sudah sembab oleh air mata.


Sekali lagi Silvi menatap manik mata Ali, dan lagi-lagi ia tak menemukan kebohongan di sana, hanya ketulusan yang bisa ia lihat dari mata laki-laki itu.


"Kamu janji?" tanya Silvi pelan.


"Dengan izin Allah, aku akan memenuhi janji itu," jawab Ali tegas.


Silvi kemudian berbisik kepada sang ayah untuk menjawabkan lamaran Ali. Rasanya ia begitu malu untuk menjawab lamaran Ali secara langsung.


"Dengan ucapan Bismillah, Silvi putriku, menerima lamaran kamu, silahkan datang kembali bersama orang tuamu untuk melakukan lamaran resmi, kami dengan senang hati menunggu," ujar sang ayah.


"Terima kasih, Nak karena bersedia menerima putri kami yang banyak kekurangan ini," lanjut laki-laki paruh baya itu dengan mata berkaca-kaca.


"Saya yang berterima kasih karena telah menerima saya menjadi bagian dari keluarga ini."


Cinta kadang tak memandang harta, tahta dan siapa, tapi rasa cinta bisa saja rusak karena itu semua. Menghadirkan cinta dalam hati adalah kuasa Sang Pemilik Hati, tapi menjaga cinta hingga berakhir bersama dalam surgaNya adalah perjuanganmu.


Tak terasa, hari pernikahan yang dinantikan kini telah tiba, semua orang turut memberikan ucapan selamat pada Ali maupun Silvi, tak terkecuali Boy dan Khaira.


"Itu sebabnya kamu selalu kesulitan mengejarku, karena Allah tahu aku bukanlah jodohmu, tapi dia, orang yang menjadi saksi bagaimana kamu mengejarku." Boy merangkul pundak Ali yang tertawa mendengar perkataan saudara iparnya itu.


"Bang. Aku titip adikku, walau kadang ngeselin, tapi insya Allah dia sudah lebih baik sekarang," lirih Boy di dekat telinga Ali.


"Insya Allah, Boy," balas Ali.


"Ra, aku minta maaf atas semua kesalahanku, di masa lalu, aku benar-benar merasa buruk jika mengingat itu semua," ujar Silvi di hadapan Khaira.


"Ssst, mungkin ini adalah permintaan maafmu yang keseratus kali. Aku sudah memaafkanku dari dulu, jadi tenanglah. Kita sekarang sudah jadi saudara, jadi mari kita membina hubungan yang lebih baik lagi." Khaira kini memegangi perut Silvi dengan lembut.


"Insya Allah, akan segera diproduksi, bagaimana, Bang?" Boy kini turut menggoda Ali, hingga membuat wajah pasangan pengantin itu merah merona.


Wajah Silvi yang tadinya tertawa malu-malu kini berubah sekejap saat melihat seseorang datang dari arah pintu masuk. Laki-laki bertubuh jangkung, meski semakin kurus, ia tetap terlihat begitu tampan.


"Kak Anton?" Semua mata kini ikut mengarah pada laki-laki yang menjadi pusat perhatian kali ini, termasuk Boy dan Khaira.


Anton datang menghampiri Silvi yang kini tanpa sadar telah meneteskan air mata.


"Aku tidak menyangka anak cengeng ini akhirnya menikah juga." Anton tersenyum sambil menghapus air mata adiknya.


"Kakak!" Silvi langsung memeluk kakak kandungnya itu dengan deraian air mata. Setelah sekian lama terpisah, kini ia bisa kembali memeluk Anton.


Khaira, Boy, dan Ali hanya diam ikut terharu menyaksikan pertemuan saudara kandung itu.


Anton melepas pelukan Silvi dan kembali menghapus air matanya. "Berhentilah menangis, kamu akan terlihat jelek jika menangis.


Anton kini beralih kepada Ali. "Terima kasih sudah mau menerima adikku apa adanya, tolong jaga dia, dan jangan pernah sakiti dia, kau berada dalam masalah jika dia sampai meneteskan air mata karenamu," ancamnya dengan wajah serius.


"Bukankah begitu, Boy?"


Laki-laki itu kini beralih menatap Boy yang sejak tadi menatap dalam diam, tapi tak mendapat respon darinya.


"Halo, Boy, lama tak berjumpa." Anton menjabat tangan adik tirinya itu sambil tersenyum, lalu tertunduk.


"Maaf atas kesalahanku yang selalu saja mengganggumu, aku sadar seberapa keras usahaku ingin mencelakaimu, jika Yang Di Atas tidak mengizinkan, semuanya pasti gagal. Aku capek memusuhimu, Boy, bisakah kita berdamai?" tanya laki-laki itu lalu menatap Boy dan Khaira secara bergantian. Namun, ia hanya membuang napas kasar karena tak kunjung mendapat respon dari Boy maupun sang istri.


"Hufh, aku tahu, kesalahanku teramat besar pada kalian, bahkan tidak bisa lagi di maafkan, tapi tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa kalian untuk memaafkan iblis kejam sepertiku." Anton tersenyum nanar lalu menepuk pundak Boy.


"Aku tidak bisa lama-lama, pengawalku sudah menunggu," ucap Anton lalu hendak pergi, tapi Boy menahan pudaknya.


"Jika kau berjanji tak akan lagi mengulangi kesalahan itu, maka maafku seluas samudera untukmu, iya 'kan, Sayang?" Boy menoleh ke arah Khaira.


"Iya, tentu saja." Khaira ikut menimpali.


Mata Anton terlihat berkaca-kaca saat ini lalu mulai tersenyum bahagia. "Tentu saja, kalian bisa menggantungku di pohon tomat jika aku melakukannya lagi," guraunya lalu tertawa pelan.


"Terima kasih atas semuanya, jika saja aku masih memiliki cukup waktu, aku akan memeluk kalian satu-satu, eh tidak untukmu Khaira, kita bukan muhrim, eh maksudnya mahram," ujarnya kembali tertawa.


"Aku pergi dulu, assalamu 'alaikum." Anton kini pergi keluar gedung di mana dua polisi sedang menunggunya di sana.


"Kita akan sering-sering mengunjunginya, bukankah begitu?" tanya Boy dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Silvi, Ali dan juga Khaira.


-Bersambung-