
Panggil saja polisi, jika Boy memang terbukti bersalah, maka biarkan dia ditangkap, tapi jika dia tidak bersalah, itu artinya dia sedang dalam bahaya.
_________________________________________
"Angkat tangan!"
Sejumlah polisi datang mengepung tempat di mana Boy di keroyok. Semua anggota geng motor yang berada di lokasi langsung di ringkus, termasuk Ifan. Tak hanya itu, polisi juga melacak keberadaan anggota lain yang mungkin saja sedang berkeliaran di suatu tempat dan meresahkan warga.
Di tengah kericuhan suasana penangkapan, Khaira ikut menyusup masuk ke dalam hutan dan mencari keberadaan Boy. Pandangannya menelisik ke segala arah dengan bantuan senter di ponselnya. Mata gadis itu membola saat ia menemukan seseorang dari kejauhan sudah tergeletak di tanah dengan bersimbah darah.
Khaira berlari ke tempat itu dengan firasat yang tidak tenang. Gadis itu menutup mulutnya saat wajah dari orang itu terlihat jelas.
"Innalillah, Boy!" Khaira segera berjongkok dan memeriksa keadaan Boy yang sudah tidak sadarkan diri dengan luka tikaman di perutnya.
Setelah memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Boy, dan juga memeriksa jalur napasnya di hidung. Khaira sedikit lega karena rupanya laki-laki itu masih hidup.
Ia segera memanggil Zafran dan Akmal untuk membantunya menghubungi ambulans. Sementara dirinya fokus membalut luka di perut Boy untuk mencegah agar laki-laki itu tidak kehilangan banyak darah sebelum ambulans datang menjemputnya.
.
.
.
Khaira, Zafran, dan Akmal kini menunggu di depan ruang operasi. Mengingat luka tikaman di perut Boy cukup dalam sehingga harus dilakukan operasi sekaligus mendapatkan donor darah karena ia kehilangan cukup banyak darah.
Waktu telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, tapi Khaira masih saja terjaga demi menunggu kabar dari Boy. Terlihat jelas gadis itu sangat gelisah hingga ia tak bisa berhenti menggerakkan kedua tangannya.
Zafran menghampiri Khaira karena tidak tega melihat kecemasan di wajah putrinya itu.
"Sayang, istirahatlah, biar kami yang berjaga menunggu Boy."
"Tidak apa-apa, Pa. Papa lebih baik istirahat, Papa pasti capek, Khaira sudah biasa begadang kalau lagi shift malam," ujar Khaira menampilkan senyumannya, meski sangat jelas ia sedang bersedih saat ini.
"Maafkan papa, Nak. Semua ini karena papa terlalu egois dan menganggap remeh Boy. Papa salah, Nak. Boy tidak akan kembali ke kota ini jika saja papa menerima lamarannya sejak awal."
Khaira menoleh ke arah sang ayah yang kini menatapnya dengan tatapan sendu. Ia langsung memeluk sang ayah dan menepuk pelan pundaknya.
"Papa jangan bicara begitu, semua yang terjadi saat ini sudah menjadi skenario Allah. Khaira mengerti, Papa bersikap seperti itu karena Papa menyayangi Khaira dan menginginkan yang terbaik untuk Khaira. Apapun yang terjadi, kita serahkan saja semuanya pada Allah."
Khaira mengusap air matanya tanpa sepengetahuan sang ayah lalu kembali mengulas senyum sebelum akhirnya ia melepas pelukannya dari Zafran.
***
Di tempat lain, saat ini Silvi sedang menangis meratapi nasib yang lagi-agi tidak berpihak kepadanya. Bagaimana bisa dunia begitu sempit hingga laki-laki yang selama ini ia kejar sampai ke Kairo ternyata adalah saudara tirinya sendiri.
Malam itu, suasana di kediamannya mengalami sedikit ketegangan karena perdebatan antara ibu dan ayahnya yang berujung pada dirinya yang menjadi sasaran pelampiasan amarah sang ayah.
"Makanya kalau menyukai seseorang selidiki dulu, apa gunanya otakmu yang pintar itu jika mencari tahu latar belakang Boy saja kamu tidak tahu!"
Silvi kembali terisak kala perkataan sang ayah yang begitu tajam kembali melintas dalam ingatannya.
"Aaaaaakh!"
Silvi menjatuhkan semua barang-barang yang ada di kamar hingga kamarnya benar-benar berantakan.
"Kalian jahat, kalian semuanya jahaaaat." Silvi meremas rambutnya lalu meringkuk di bawah tempat tidur sambil kembali menangis sejadi-jadinya.
***
Beberapa jam telah berlalu, Boy kini telah dipindahkan ke kamar rawatnya. Kondisi laki-laki itu belum sadarkan diri. Dengan wajah yang masih terlihat sangat pucat.
Khaira berdiri menatap wajah yang penuh lebam itu dengan tatapan sendu.
"Kenapa kamu mundur, Boy? Jika kamu memang serius ingin menikahiku, harusnya kamu berjuang sampai hati Papa luluh," lirih Khaira.
"Sepertinya dia mengalah untuk Ali, Sayang."
Khaira menoleh ke arah sumber suara di mana sang ayah berdiri di sana. "Papa? Apa maksud Papa?"
Zafran berjalan mendekat lalu ikut memandangi wajah Boy. "Sebenarnya saat pertemuanmu dengan Ali di rumah sakit, papa sempat keluar dan tidak sengaja melihat Boy yang berjalan lesu tidak jauh dari kamar Ali. Dan saat kita hendak pulang, papa sempat menanyakan kepada pak Herman, apakah mereka mengenal Boy, dan ternyata Boy adalah teman dekat Ali saat di Kairo. Papa menduga malam itu Boy mengundurkan diri karena mendengar pembicaraan kita waktu itu di kamar rawat Ali."
Zafran tertunduk merasa bersalah, ia juga kembali mengingat saat ia bertanya mengenai Boy kepada Abah Rahman, dan jawaban yang ia dapatkan benar-benarq membuatnya merasa seperti orang jahat saat itu.
Atensi ayah dan anak itu seketika teralihkan saat Akmal tiba-tiba datang dengan membawa ponsel Boy yang sejak tadi berdering.
Zafran langsung mengangkat telepon itu, guna memastikan siapa yang sedang menelepon Boy.
"Halo, assalamu 'alaikum."
"Halo, Pak. Kenapa lama sekali datangnya, ayah anda sedang kritis sekarang."
Zafran langusng menatap Khaira dan Akmal dengan tatapan bingung.
"Di mana sekarang dia di rawat?"
.
.
.
Zafran dan Khaira berlari cepat menuju ruangan yang baru saja disebutkan oleh seorang perawat dari rumah sakit yang sama. Sungguh mereka tidak menyangka jika ayah Boy juga di rawat di rumah sakit yang sama dengan putranya.
Ayah dan anak itu berhenti di depan sebuah pintu kamar di mana beberapa dokter baru saja keluar dari sana.
"Maaf, Dok. Bagaimana keadaan pasien di dalam ruangan itu?"
Zafran menghampiri dokter itu untuk mengetahui keadaan ayah Boy secara detail.
"Maaf, Bapak siapanya Pak Anderson, yah? Di mana anak laki-laki yang sejak kemarin menunggunya di sini?"
"Kami kerabatnya, anaknya yang kemarin baru saja mendapat musibah, makanya kami yang datang ke sini."
"Oh baiklah, jadi begini, Pak ...." Dokter itu mulai menjelaskan keadaan Anderson yang menderita kanker ginjal stadium akhir, dan baru saja mengalami kritis, tapi sekarang dia sudah keluar dari masa kritisnya. Meski begitu, kondisi kesehatannya semakin menurun.
"Oh iya, sejak tadi Pak Anderson memanggil nama Boy, putranya. Jika berkenan, tolong pertemukan beliau dengannya," ujar dokter itu lalu pmit pergi.
"Baik, Dok."
Baru saja mereka hendak memasuki kamar rawat Anderson, ponsel Zafran berbunyi di mana ternyata yang menelepon adalah Akmal. Dia mengabarkan bahwa Boy kini sudah sadar.
"Nak, pergilah melihat Boy, papa akan di sini menjaga Pak Anderson."
Khaira mengangguk paham lalu segera pergi dengan berlari-lari kecil. Entah bagaimana perasaan gadis itu saat ini, yang jelas jantungnya berdegup kencang karena sebentar lagi ia akan kembali bertemu dengan laki-laki yang berhasil membuatnya jatuh hati tanpa sadar.
Khaira memasuki kamar di mana Akmal sedang berdiri di samping tempat tidur Boy. "Nah, ini dia Khaira, kalian bicaralah, aku akan duduk di sofa itu."
Khaira mendekat saat Akmal sudah mempersilahkannya. Suasana canggung menghampiri keduanya, gadis itu sesekali menatap wajah Boy yang juga tampak lebih banyak menatap langit-langit kamar.
"Bagaimana keadaanmu?" Khaira mencoba membuka pembicaraan.
"Alhamdulillah sudah lebih baik. Apa kamu yang membawaku ke sini?" Boy menatap Khaira saat gadis itu menganggukkan kepalanya pelan.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Boy lalu kembali menatap langit-langit.
"Aku ingin menemuimu," jawab Khaira jujur.
Boy kembali menoleh ke arah Khaira dengan tatapan heran. "Untuk apa? Apa ayahmu mengetahui jika kamu ke sini untuk menemuiku?"
"Justru aku ke sini bersama papa."
"Apa?"
"Papa ingin bicara denganmu, tapi sebelum itu, ada yang harus kamu tahu lebih dulu."
Boy menatap wajah Khaira menyimak apa yang akan dia katakan.
"Ayahmu, beliau ingin menemuimu."
-Bersambung-
Sambil menunggu update bab selanjutnya, yuk mampir di karya temanku yang keren ini. 👇