He's Not A Bad Boy

He's Not A Bad Boy
Bab 28 - Dia Berubah



Pagi menjelang siang di kediaman Abah Rahman. Khaira dan Umar baru saja tiba setelah kembali dari bakti sosialnya. Sementara Ainun dan Zafran telah lebih dulu datang pagi-pagi sekali karena hari libur.


Acara akan berlangsung nanti malam sehingga mereka datang lebih dulu untuk membantu menyiapkan makanan dan berbagai hal lainnya.


"Assalamu 'alaikum Nenek Ummi," ucap Khaira dan Umar langsung menyalami tangan Ummi Lina yang menjawab salam mereka. Keduanya hendak menyalami Abah Rahman juga, tapi terhenti saat melihat sang kakek sedang melakukan panggilan video dengan seseorang.


Umar memutuskan untuk langsung ke belakang rumah di mana ayah dan omnya serta kedua sepupu kembarnya Ammar dan Ameer sedang berada di sana. Sementara Khaira tetap tinggal untuk berbincang dengan Ummi Lina sejenak.


"Nenek Ummi, Kakek Abah sedang video call-an sama siapa?" tanya Khaira penasaran.


"Oh itu, santri kesayangan Kakekmu yang sedang kuliah di Kairo sekarang," jawab Ummi Lina.


"Kairo? Wah, hebat yah, apa dia seumuran dengan Khaira?"


"Kamu seangkatan, hanya saja usianya lebih tua dua tahun darimu, kenapa menanyakan itu? Apa kamu mau diperkenalkan dengannya?" tanya Ummi Lina hendak menggoda Khaira.


"Apaan sih, Nenek Ummi ini, Khaira 'kan cuma nanya." Khaira tertawa sambil sesekali menutupi wajahnya yang memancarkan semburat kemerahan, membuat Ummi Lina ikut tertawa dan semakin gencar menggodanya.


"Namanya Boy, kan bagus kalau saling kenal, kali aja jodoh," canda Ummi Lina lagi sembari tertawa.


Berbeda dengan Khaira yang seketika diam dengan tawa yang kini lenyap dari wajahnya saat mendengar nama Boy.


"Boy? Namanya mirip, tapi tidak mungkin dia, dunia pasti sangat sempit jika itu benar-benar dia."


"Yee, di ajak bercanda malah melamun, kenapa?" Lamunan Khaira seketika buyar saat mendengar ocehan Ummi Lina.


"Tidak melamun kok, Nenek Ummi," bohong Khaira. "Oh iya, Mama dan Ummi Aisyah di mana?" lanjutnya bertanya sekaligus mengalihkan pembicaraan tadi.


"Mereka di dapur, pergilah bantu mereka."


"Asiaaap." Khaira mengangkat tangannya seolah sedang hormat lalu segera menuju ke dapur.


"Mama ... Ummi ...," panggil Khaira, membuat kedua wanita yang sejak tadi sedang berbicara serius kompak menyahut.


"Ah, di sini rupanya. Khaira ikut bantu, yah." Khaira langsung bergabung ikut memotong-motong sayuran.


Ainun dan Aisyah kini saling menatap dan memberikan kode melalui mata satu sama lain. Ainun yang paham, akhirnya mulai membuka suara dengan hati-hati, ia tak ingin anaknya salah paham hingga mengira ia akan dinikahkan di saat ia masih ingin fokus kuliah.


"Ekhem, Sayang. Kalau misalnya ada orang yang menyukaimu, gimana?"


"Alhamdulillah, Ma..Khaira senang kok kalau ada yang suka sama Khaira," jawab Khaira begitu enteng tanpa mengalihkan tatapannya dari wortel yang sedang ia potong.


"Bukan gitu, Sayang. Maksud mama, kalau misalkan ada laki-laki yang menyukaimu dan mau menikahimu, gimana menurut kamu?"


Khaira seketika menghentikan aktifitasnya dan menatap ke arah Ainun dan Aisyah secara bergantian.


"Menikahiku?" Khaira menunjuk dirinya dan dua wanita itu menganggukkan kepala mereka dengan kompak.


"Ya tidak apa-apa sih kalau ada yang mau, artinya Khaira masih laku di pasaran," jawab Khaira yang diiringin cengiran.


Ainun maupun Aisyah yang tadinya sempat menahan napas karena penasaran menanti jawaban Khaira langsung membuang napas dengan kasar. Keduanya tidak habis pikir dengan gadis itu, bisa-bisanya dia menjawab sebuah pertanyaan serius dengan candaan.


"Serius dikit napa sih, Nak," tegur Ainun.


"Iya, nih. Jangan kayak Om kamu tuh yang suka banget bercanda, lagi serius juga," timpal Aisyah.


"Hehe, iya, maaf," ujar Khaira tersenyum tipis.


"Jadi gimana?" tanya Ainun lagi.


"Khaira masih ingin fokus menyelesaikan kuliah dan mendapatkan gelar dokter dulu, Mama, Ummi. Bukannya Khaira ingin menunda hal baik, hanya saja Khaira belum siap. Khaira masih ingin menikmati masa kuliah dan menghabiskan waktu bersama kalian."


"Jika Khaira telah selesai kuliah, dan menggapai impian Khaira, barulah Khaira ingin membuka hati melalui pernikahan dan membuat impian baru bersama suami," lanjut Khaira tersenyum dengan tatapan menerawang ke depan.


Ainun dan Aisyah kini mengangguk paham dengan jawaban gadis di hadapan mereka yang cukup masuk akal. Bagaimana pun, Khaira sudah dewasa, dan mereka tidak ingin memaksa Khaira untuk melakukan sesuatu, sebab mereka sadar, Khaira tentu sudah pandai dalam membuat keputusan sendiri.


.


.


.


Abah Rahman dan Ummi Lina terlihat sibuk menyambut para tamu, begitu pun dengan Aisyah yang sibuk menyambut para teman gurunya.


"Bu Aisyah, bagaimana? Apa sudah di sampaikan ke orang tua Khaira mengenai niat baik putra saya?" tanya Salma, teman mengajar Aisyah.


"Eh Bu Salmah, ayo sini." Aisyah membawa Salma sedikit menjauh dari kerumunan para guru lainnya untuk menjaga privasi.


"Begini, Bu. Bukan hanya ibunya yang aku beri tahu, tapi Khaira juga langsung aku beri tahu."


"Terus, gimana jawabannya?"


"Kata Khaira, dia ingin fokus kuliah dulu, Bu."


"Oh ya tidak apa-apa, wong Alinya juga masih kuliah S2 di Kairo, jadi nanti kalau udah selesai, Khaira juga udah selesai, jadi bisa saling bertemu, 'kan?"


"Eh iya, Bu. Asal Alinya mau sabar menunggu, karena kuliah di kedokteran itu agak lama. Tapi kita juga tidak bisa janji, karena semua keputusan akan kembali kepada Khaira."


"Iya, Bu. Saya mengerti."


***


Satu tahun kemudian.


Hari ini adalah hari kelulusan Ali. Kedua orang tuanya tidak bisa datang dikarenakan sang ayah yang sedang kurang sehat, jadi sebagai gantinya, Boy dan beberapa teman lainnya yang menggantikan mereka dalam merayakan hari bahagia tersebut.


"Selamat, Bang atas kelulusannya," ujar Boy sembari menyalami tangan Ali dan melayangkan senyuman bahagia.


"Terima kasih, Boy. Semoga kamu juga bisa segera lulus, nilaimu selalu bagus dan kemampuan bahasa Arabmu juga semakin lancar, insya Allah akan semakin mudah," ujar Ali memeluk Boy sejenak.


"Aamiiin, terima kasih, Bang," ucap Boy tersenyum, ia berharap apa yang dikatakan Ali benar sehingga ia bisa segera kembali ke tanah air.


Tak lama setelah mereka berbincang, seorang gadis datang dengan membawa sebuah buket bunga.


"Bang Ali, selamat yah atas kelulusannya," ucap Silvi sembari menyodorkan buket bunga itu kepada Ali dan hendak menjabat tangannya, tapi dengan cepat Ali menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Makasih, Silvi," ucap Ali.


Silvi hanya tersenyum canggung sambil menarik kembali tangannya. "Jadi, apa rencana Abang selanjutnya? Kerja atau nikah?" lanjut Silvi berusaha mengusir rasa canggungnya.


"Tentu saja aku akan langsung menikah setelah dapat kerja, Silvi. Bagaimana aku bisa menafkahi istriku jika aku belum memiliki pekerjaan?" jawab Ali diikuti tawa.


"Wah asik, udah ada calon nih berarti," tanya Silvi lagi mencoba basa-basi.


"Insya Allah, mohon doanya semua, semoga dimudahkan."


"Aamiiin," jawab semua teman-temannya, termasuk Boy dan Silvi.


"Boy, cepatlah selesai, agar kamu bisa segera menikahi gadis istimewamu," ujar Ali kepada Boy.


Silvi seketika berbalik menatap Boy yang sedang mengangguki perkataan Ali.


"Gadis istimewa? Siapa dia Boy? Bukankah aku gadis istimewa itu?" cecar Silvi tersenyum paksa, dan terlihat sediki khawatir.


Bukannya menjawab, Boy malah mengacuhkan Silvi dan tak berniat sama sekali menjawab setiap pertanyaannya. Baginya, menjawab pertanyaan hanya akan membuat Silvi semakin mencecarnya dengan pertanyaan yang tiada akhirnya.


***


Di tempat lain, seorang pria paruh baya sedang duduk di kursi kebesarannya, sambil memandangi foto putranya yang sudah lama tak pernah ia temui sedang kuliah dengan penampilan yang sangat berbeda.


"Dia sudah berubah, dia benar-benar sudah berubah," lirihnya dengan lelehan kristal yang perlahan mulai membasahi pipinya.


"Apa aku harus menghubunginya untukmu, Pak?" tanya sang sekretaris yang berdiri tepat di hadapannya.


"Tidak, jangan pernah menghubungi putraku, biarkan dia berkuliah dengan baik di sana, lagi pula aku tidak memiliki hak lagi atasnya," tolak pria paruh baya itu sambil menyeka air matanya.


-Bersambung-