He's Not A Bad Boy

He's Not A Bad Boy
Bab 29 - Lulus Kuliah



Malam itu, Boy baru saja mengantar Ali ke bandara. Laki-laki yang selama ini menemaninya dan membimbingnya banyak hal selama di Kairo kini telah kembali ke tanah air.


"Besok pagi akan kutelepon lagi, pasti dia sudah sampai," monolog Boy saat telah tiba di tempat tinggalnya.


Boy mulai kembali belajar sebelum tidur, sebagaimana kata Ali waktu itu, ia ingin segera lulus agar bisa secepatnya kembali ke tanah air. Saat membuka buku, sebuah foto tiba-tiba jatuh dari dalam celah-celah buku itu.


Boy memungut foto yang sudah tergeletak di lantai itu lalu di pandanginua dengan seksama, sebuah foto keluarga yang terdiri dari ibu, ayah, dan seorang anak kecil sedang tersenyum lebar di sana, tampak jelas jika mereka sangat bahagia saat itu.


Tanpa disadari, bulir-bulir kristal perlahan memenuhi mata laki-laki itu, hingga membuat pandangannya kabur. Ada rasa rindu yang seolah ingin menerobos keluar dari dadanya, tapi kepada siapa ia harus mengeluarkan rasa rindu itu, sementara semuanya telah pergi meninggalkannya sendiri.


"Aku ingin sekali membenci kalian setelah apa yang kalian lakukan padaku, tapi kenapa aku tidak bisa? Kenapa justru rasa rindu yang hadir dan bukan benci?" Boy mengusap matanya pelan sebelum kristal itu jatuh membasahi pipinya.


Bukankah sangat menyakitkan saat keluargamu sendiri tak lagi mengakui keberadaanmu? Dan itu yang dirasakan Boy, ia laki-laki yang kuat, meski begitu iantetap saja bisa menabgis, dan ini kali kedua ia menangis karena mengingat orang tuanya.


Tiga tahun sudah Boy tak pernah bertemu dengan sang ayah, entah bagaimana kabarnya saat ini, ia benar-benar tidak tahu. Ia hanya berharap semoga suatu saat ia bisa bertemu dengannya, begitu pun dengan ibunya.


.


.


.


Pagi harinya, Boy sedang menikmati hari libur dengan menonton TV sambil sesekali melihat ponselnya. Sejak tadi ia sudah menunggu telepon dari Ali, tapi sampai sekarang tak ada sama sekali telepon darinya. Boy bahkan sudah beberapa kali menghubungi laki-laki itu, tapi hanya suara operator telepon yang terdengar di sana.


Beberapa hari berlalu, Boy masih saja berusaha menghubungi Ali, tapi masih saja tidak bisa, semua teman-temannya pun mengaku tak bisa menghubunginya hingga saat ini. Entah dimana dan sedang apa laki-laki itu hingga kabarnya hilang bagai di telan ombak.


"Apa dia sudah menikah jadi kabarnya hilang? Awas saja jika itu sampai terjadi, aku akan langsung ke rumahnya dan memarahinya," monolog Boy begitu kesal.


***


Dua tahun kemudian, seorang laki-laki tampan, dengan sedikit bulu halus di sisi wajahnya, dan janggut yang terawat, berjalan keluar dari bandara. Senyumannya tak pernah lepas dari wajahnya sejak ia kembali menginjak tanah air setelah tiga tahun lebih ia berjuang di negara orang.


"Boy, akhirnya sampai juga kamu, Nak," ujar Abah Rahman yang begitu antusias menjemput santri kesayangannya itu.


Sebuah pelukan di hadiahi oleh laki-laki usia lanjut itu kepada Boy. Ia benar-benar bahagia sekaligus bangga melihat pencapaian Boy yang bisa menjadi salah satu lulusan terbaik di universitas Al-Azhar.


"Kamu semakin tampan saja, Nak. Ummi bangga sama kamu," ujar Ummi Lina yang juga ikut menjemput Boy.


"Terima kasih, Ummi," balas Boy sedikit malu.


Mereka pun masuk ke dalam mobil bersama dan langsung menuju ke kediaman Abah Rahman. Sepanjang perjalanan, mereka tak henti-hentinya saling bertukar cerita.


"Jadi, apa rencanamu setelah lulus, Boy?" tanya Abah Rahman.


"Insya Allah mau cari kerja, Abah." jawab Boy.


"Mengajarlah di pesantren, Nak. Kamu bisa tinggal di rumah, atau pun di rumah khusus ustadz yang masih lajang," ujar Abah Rahman memberikan penawaran.


"Eh, Abah ini, siapa tahu Boy ingin langsung nikah, iya 'kan Boy?" Boy hanya tertawa pelan mendengar candaan Ummi Lina. Sejujurnya ia memang ingin menikah secepatnya, hanya saja ia masih bingung ke mana ia harus mencari gadis yang telah berhasil menaklukkan hatinya itu.


"Apa kamu sudah memiliki calon istri, Nak?" Abah Rahman pun ikut penasaran.


Boy diam sejenak, ia bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan Abah Rahman, tapi bagaimana pun ia tetap harus jujur agar tak mendatangkan masalah di kemudian hari.


"Yah, sayang sekali, padahal ummi berencana ingin menjodohkanmu dengan cucu ummi," sela Ummi Lina, bahkan sebelum Boy menyelesaikan perkataannya.


Mendengar hal itu, Boy hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tak tahu harus bicara apa saat ini. Sementara sepasang suami istri itu kini saling menatap, dan di detik berikutnya mereka tertawa bersama.


Setibanya di kediaman Abah Rahman, Boy langsung dipersilahkan untuk beristirahat di kamar tamu yang berada di lantai satu, kebetulan tubuhnya saat ini begitu lelah, sehingga hanya dalam beberapa detik saja Boy langsung tertidur pulas.


***


Di tempat lain, Khaira baru saja mengikuti acara wisudanya sebagai seorang sarjana kedokteran siang itu. Zafran, Ainun dan Umar turut hadir dalam acara yang baru saja selesai beberapa menit yang lalu.


Usai melakukan sesi foto keluarga, Khaira dan keluarganya langsung pulang ke rumah. Di sana mereka di sambut oleh Oma Sofi, Akmal, Aisyah, Billy, Aira, dan tentunya para anak-anak mereka. Kerabat dan teman-teman Khaira pun turut hadir dalam acara syukuran tersebut.


"Ummi, Kakek Abah dan Nenek Ummi di mana? Kok belum datang?" tanya Khaira saat ia tak melihat dua orang usia lanjut itu.


"Oh, Ummi dan Abah lagi jemput santrinya di bandara, kebetulan hari ini dia pulang ke tanah air."


Khaira membulatkan mulutnya merespon perkataan Aisyah tanda ia mengerti. Tak lama setelah itu, orang yang mereka bicarakan akhirnya datang. Khaira dengan cepat menyambut dan langsung menyalami keduanya secara bergantian.


"Khaira, Sayang. Selamat yah atas kelulusannya, sekarang kita sudah punya dokter keluarga nih, alhamdulillah," ucap Ummi Lina lalu memeluk Khaira dengan sayang.


"Alhamdulillah, terima kasih Nenek Ummi, yuk masuk." Khaira merangkul lengan Ummi Lina lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah.


.


.


.


Sore harinya setelah acara syukuran Khaira berkahir, Abah Rahman dan Ummi Lina kembali ke rumah mereka. Namun, mereka dibuat terkejut saat mendapati Boy hendak keluar rumah.


"Mau kemana, Nak?" tanya Ummi Lina.


"Mau ke rumah teman dulu, Ummi," jawab Boy.


"Ya udah, kamu naik mobil abah saja," ujar Abah Rahman sembari menyodorkan kunci mobilnya kepada Boy.


Boy sempat menolaknya dan memilih naik taksi saja, tapi abah Rahman tetap memintanya memakai mobil itu, sehingga pada akhirnya Boy setuju. Boy berangkat usai berpamitan pada Abah Rahman dan Ummi Lina yang sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri.


Dengan berbekal alamat yang pernah ia dapatkan dari Ali sebelum pulang, Boy melajukan mobil menuju alamat yang di tuju. Beberapa menit kemudian, Boy menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah dengan pagar berwarna hitam.


Beberapa kali Boy mengucapkan salam, barulah keluar seorang wanita paruh baya dan langsung menghampurinya di luar pagar.


"Cari siapa, Nak?" tanya wanita paruh baya itu.


"Cari Bang Ali, Bu. Saya temannya Bang Ali saat di Kairo," jawab Boy.


Bukannya menjawab, wanita paruh baya itu justru menangis di hadapan Boy.


"Ali, dia... dia...."


-Bersambung-