
"Khaira!" panggil Boy yang kesekian kalinya, tapi gadis dengan jas dokter itu tak kunjung menoleh, membuat laki-laki itu akhirnya memutuskan untuk langsung menghampirinya.
"Khai... " Boy menghentikan panggilannya saat menyadari gadis yang sejak tadi ia panggil ternyata bukanlah Khaira yang tadi ia lihat di depan ruang ICU.
"Ada apa, Mas?" tanya dokter itu.
"Maaf, Dok. Saya salah orang," jawab Boy lalu segera pergi meninggalkan dokter itu.
Boy kembali ke ruang ICU dengan perasaan sedikit kecewa dam tentu saja malu. Ia sangat yakin jika gadis yang tadi ia lihat adalah Khaira, dan sangat jelas jika tadi dia melewati jalan itu, tapi kemana dia sekarang?
"Di mana kamu, Khaira? Kuharap kita bisa segera bertemu lagi?"
.
.
.
"Boy! Dari mana saja kamu?" Ibu Salma tiba-tiba saja datang dari arah belakang dan langsung berjalan cepat di samping Boy.
"Tadi ada urusan sebentar, ada apa, Tante?"
"Ali, Nak, dia...."
Perkataan Salma terhenti saat seorang dokter berjalan cepat melewati keduanya menuju ruang ICU, tempat Ali dirawat. Salma yang melihatnya dan memang tadi memanggilnya langsung ikut berjalan cepat mengikuti dokter itu sambil memberikan kode kepada Boy agar segera mengikutinya.
"Bang Ali," lirihnya dengan raut wajah khawatir lalu segera berlari memasuki ruang ICU, di mana dokter kini sedang memeriksa keadaan Ali dari samping hingga menutupi wajah Ali dari pandangan Boy.
Boy memperlambat jalannya mendekati Herman yang berada di belakang dokter. "Apa yang terjadi pada Ali, Om?"
Herman menoleh ke arah Boy dengan raut wajah lega dan bahagia. "Ali, dia sudah sadar, Nak," jawab Herman sambil memegangi kedua pundak Boy.
"Bang Ali sadar?" ulang Boy.
Herman mengangguk dengan senyuman, membuat Boy langsung maju beberapa langkah ke samping dokter untuk memastikannya sendiri. Mata Boy seketika membola, sebuah senyuman lega perlahan menghiasi wajah tampannya saat melihat Ali benar-benar telah membuka mata.
"Alhamdulillah, akhirnya."
***
Malam yang dingin mulai menjemput, di
sebuah restoran yang tidak jauh dari rumah sakit, dua orang gadis sedang berbicara sembari menikmati makan malam mereka.
"Kamu belum pulang, Ra?" tanya Shaza, sahabat Khaira yang kini sudah memiliki usaha restoran tempat mereka saat ini.
"Itu makanan kenapa di aduk-aduk aja dan tidak di makan, Ra? Tidak enak, yah?"
"Bukan, bukan gitu, aku hanya lagi kepikiran sesuatu."
Shaza mengerutkan keningnya mendengar perkataan sahabatnya itu. "Memikirkan apa memangnya? Tumben banget," tanyanya sambil menikmati makan malam.
Khaira membuang napas lesu lalu menatap sang sahabat. "Boy, aku melihatnya siang tadi di rumah sakit."
Shaza tiba-tiba menghentikan makannya. "Boy? Di rumah sakit itu? Di kota ini?"
Khiara mengangguk merespon pertanyaan Shaza yang disertai tangannya menunjuk rumah sakit di seberang jalan dan menunjuk ke bawah secara bergantian.
"Lalu lalu? Apa kalian saling bertukar cerita? Gimana kabarnya? Dia ngapain di kota ini? Dia tinggal di mana selama ini? Apa dia sudah menikah?"
Kali ini Khaira menggelengkan kepalanya pelan. "Kami bahkan tak saling menyapa," jawab Khaira tak bersemangat, membuat Shaza langsung menepuk jidatnya.
"Why, Sist? Why? Bukankah selama ini kamu sudah menanti momen ini? Kalau dia pergi lagi, terus kamu nggak sempat ketemu lagi, gimana?" cecar Shaza sedikit heboh.
Khaira lagi-lagi hanya bisa membuang napas lesu. "Aku tidak tahu kenapa tadi lidahku tiba-tiba terasa kaku. Lagian, sepertinya dia tidak mengenaliku karena tadi aku menggunakan masker. Ya sudahlah, jika memang kami ditakdirkan lagi bertemu, kami pasti bertemu."
"Ya ampun, Ra, kok kamu pasrah banget, sih!"
Khaira hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan sahabatnya. Mau gimana lagi? Semua sudah terjadi, tidak mungkin juga ia berlari mencari keberadaan Boy di rumah sakit yang besar itu, mungkin saja tadi siang dia hanya mengantar temannya, dan sekarang dia sudah pulang, begitu pikir Khaira.
Walau pun selama ini hatinya selalu bertanya-tanya tentang kabar laki-laki itu, bahkan hatinya pun merasa senang saat melihatnya tadi, tapi ia juga tidak bisa bersikap seolah selama ini ia mencarinya karena sejak awal yang meminta saling menjauh adalah dirinya.
"Lalu, penampilannya sekarang gimana? Masih seperti bad boy?" tanya Shaza lagi.
"Tidak, Sa. Penampilannya beda banget, sekarang dia seperti ustadz, punya brewok dan janggut tipis." Khaira tersenyum jika mengingat penampilan laki-laki itu yang berbeda 180 derajat, ia bahkan terlihat sangat semakin tampan sekarang.
Shaza menggelengkan kepala pelan melihat sahabatnya itu, ia tahu persis jika Khaira sebenarnya menaruh hati pada Boy dari dulu hingga sekarang, hanya saja gadis itu tak pernah ingin mengakuinya.
"Semoga saja Boy masih lajang," batin Shaza.
.
Usai menghabiskan makan malamnya, Khaira berpamitan kepada Shaza untuk kembali ke rumah sakit. Ia ingin mengambil jaket dan motornya yang masih terparkir di sana, mengingat tadi ia hanya berjalan kaki untuk sampai di restoran milik sahabatnya itu.
Khaira berjalan kaki menyusuri halaman rumah sakit yang cukup luas. Namun, langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu rumah sakit saat laki-laki yang sempat ia bahas bersama Shaza di restoran tadi kini berdiri tepat di depannya yang juga sedang diam memandang ke arahnya.
-Bersambung-