
"Syukurlah karena pasien tidak mengalami masalah apa pun setelah koma, dia hanya mengalami sedikit kekakuan otot karena tak pernah bergerak selama beberapa tahun, nanti akan dilakukan fisioterapi untuk meregangkan otot-ototnya kembali."
Setelah melalui pemeriksaan lengkap dan dinyatakan baik oleh dokter, kini Ali dipindahkan ke kamar perawatan. Herman maupun Salma sangat bahagia melihat kondisi putranya yang kini sudah sadar, bagai keajaiban dari Allah yang sangat mereka syukuri.
"Bang, apa kamu masih mengingatku?" tanya Boy sambil duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur.
"Boy," jawab Ali dengan suara lemah dan sedikit serak.
"Ini berapa?" Boy mengangkat tangannya dan memperlihatkan satu jari di dekat Ali.
"Satu."
"Kalau ini?" Kali ini Boy memperlihatkan dua jarinya.
"Dua."
"Bagus, kamu baik-baik saja sekarang insya Allah." Boy melirik jam tangannya yang kini sudah menunjukkaan pukul tujuh malam, sudah cukup lama ia berada di rumah sakit, dan kini waktunya bagi dia untuk pulang ke pesantren.
Setelah pamit dengan Ali, Herman dan Salma, Boy kini berjalan menyusuri lorong rumah sakit untuk pulang, sesekali ia memperhatikan seluruh sudut rumah sakit, berharap ia bisa menemukan Khaira di sana.
Boy membuang napas lesu saat hendak melewati pintu rumah sakit dan ia tak kunjung menemukan gadis itu. Tapi mau bagaimana lagi, kini ia sudah pasrah dengan ketentuan Allah. Ia yakin, jika memang ia ditakdirkan bertemu, pasti akan bertemu juga.
Suasana malam yang gelap dan ditemani beberapa lampu yang kini menerangi jalan dan halaman rumah sakit. Langkah kaki Boy seketika terhenti saat sosok yang tadinya ia cari kini berada tepat di hadapannya, hanya berjarak empat meter dari tempatnya berdiri saat ini.
"Sepertinya kita memang masih ditakdirkan bertemu," batin Boy tersenyum dalam hati.
Perlahan ia berjalan mengikis jaraknya dengan gadis yang sejak tadi diam di tempatnya hingga posisi mereka hanya berjarak satu meter.
"Assalamu 'alaikum, kamu Khaira kan?" tanya Boy ingin memastikan ia tidak salah orang kali ini karena Khaira masih saja menggunakan masker.
"I-iya," jawab Khaira sedikit tergagap, sungguh keadaannya saat ini membuat jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.
Boy tersenyum sambil tertunduk senang mendapat jawaban itu dari Khaira, ia benar-benar lega karena dugaannya benar, setelah sekian lama mencari, ia dapat melihatnya kembali. Walaupun selama ini Boy berusaha mencari, tapi pada akhirnya Khaira lah yang muncul sendiri di hadapannya atas izin Allah.
"Apa kamu sudah menikah?"
Bukan tanya kabar, bukan pula pertanyaan basa-basi lainnya. Khaira sedikit terkejut mendapat pertanyaan dari Boy yang menurutnya sangat to the point.
"Be-belum."
"Sudah dilamar?"
"Belum."
"Belum."
Boy menahan senyumnya lalu kembali tertunduk, ingin sekali ia menatap gadis di hadapannya sampai puas untuk meluapkan rindunya selama ini, tapi ia sadar hal itu tidaklah aman untuknya yang bukan mahram, apalagi jantungnya yang sejak tadi berdebar tidak keruan bisa saja membuatnya salah tingkah.
"Kalau begitu aku minta nomor ponselmu." Boy menyodorkan ponselnya kepada Khaira.
"Untuk apa?" Khaira kini dirundung bingung mendapati sikap Boy yang terkesan sama dengan sikapnya saat masih menjadi bad boy, begitu gamblang dalam mengutarakan keinginan. Hanya berbeda dalam cara berbicara yang lebih banyak menunduk dan menjaga pandangannya.
"Untuk menghubungimu nanti saat ingin meminta alamat rumahmu."
"Rumahku?"
"Iya."
"Untuk apa?"
Lagi-lagi pertanyaan yang sama dilontarkan gadis itu, tapi Boy hanya menanggapinya dengan senyuman, ia mengerti jika Khaira saat ini sedang merasa kebingungan. Namun, itu lebih baik daripada ia harus berlama-lama di tempat yang mulai sepi bersama gadis yang bukan mahramnya meski di tempat terbuka sekali pun.
"Nanti kamu akan tahu," jawab Boy, ia melihat Khaira mulai memasukkan beberapa digit angka di benda pipih miliknya itu.
"Terima kasih, aku pergi, assalamu 'alaikum," ucap Boy setelah menerima kembali ponselnya, lalu segera pergi dengan senyuman lebar yang tak lagi terlihat di mata Khaira.
***
Di tempat lain, seorang gadis baru saja keluar dari bandara. Ia berjalan menuju seorang pria paruh baya yang sejak tadi sudah menunggunya di depan pintu kedatangan.
"Wah, Silvi, putriku akhirnya kamu kembali juga," ucap pria itu dengan senyuman lebarnya lalu memeluk putri kesayangannya itu. Berbeda dengan sang putri yang hanya memperlihatkan senyuman tipis dan lebih terkesan terpaksa.
Bukan karena tak menyukai keberadaan sang ayah, hanya saja ia tidak sedekat itu dengan ayahnya untuk sekadar bermanja-manja meski pun sebenarnya dia memanglah sedikit manja.
Mereka menaiki mobil menuju rumah mereka. Sepanjang perjalanan, tak banyak pembicaraan di antara mereka, hanya sang ayah yang sesekali bertanya, dan hanya di jawab apa adanya oleh Silvi.
Di didik dalam tekanan selama ini membuat Silvi kehilangan ikatan batin dengan dengan sang ayah, kadang tanpa sadar ia membenci ayahnya yang dulu selalu memaksa dirinya agar selalu berada pada peringkat pertama, dan akan menghukum jika ia gagal.
"Ayah, Silvi ingin menikah." Sang ayah seketika menoleh ke arah Silvi dengan raut wajah terkejut mendengar permintaan yang sangati mendadak itu.
"Apa ayah tidak salah dengar? Bukankah kamu ingin mengejar karirmu dulu?"
Silvi menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak Ayah, Silvi ingin menikah dulu, dan Silvi ingin ayah melamarkan laki-laki itu untukku."
-Bersambung-