
Beberapa minggu telah berlalu. Proses perkuliahan Khaira berjalan lancar. Hanya saja selama beberapa minggu ini, Khaira merasa sangat tidak nyaman dengan kakak seniornya yang bernama Dito.
Pasalnya, laki-laki itu terang-terangan mendekati Khaira, di mana pun ia berada. Baik di hadapan teman angkatannya, maupun di hadapan teman angkatan Khaira. Tidak hanya di kampus, ia bahkan nekat datang di kediaman Zafran hanya untuk bertemu dengan Khaira dan memberinya vitamin, walau hanya sampai di depan pagar rumah yang entah dari mana ia dapatkan alamatnya.
Hal itu membuat Umar merasa geram dan tidak menyukai Dito dengan alasan apa pun. Padahal ia sudah sering mendapat hadiah darinya meski pada akhirnya hadiah itu tidak pernah ia terima karena ia tahu, semua hanya modus. Terlalu kasar sebenarnya, tapi begitulah naluri seorang adik laki-laki yang jelas tahu bagaimana karakter laki-laki yang sebenarnya.
Tepat malam ini, Khaira akan mengikuti liburan bersama sekaligus bakti sosial yang diadakan oleh BEM Fakultas Kedokteran berupa pengobatan gratis yang akan di dampingi oleh beberapa dokter alumni kampusnya sendiri.
Saat ini Khaira tengah menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa dalam kegiatan itu. Umar yang mengetahui rencana kakaknya itu langsung masuk dan duduk di tempat tidurnya.
"Jadi, siapa saja yang ikut dalam kegiatan ini, Kak?" tanya Umar, membuat Khaira seketika menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Semua mahasiswa fakultas kedokteran, Dek," jawab Khaira lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Aku ikut yah, Kak," ujar Umar, membuat Khaira kini menatapnya heran.
"Ikut? Tumben," balas Khaira tidak percaya. Ia sangat mengenali sang adik yang tidak suka bergabung dengan orang banyak, apalagi jika itu adalah orang yang tidak ia kenali.
"Ya tidak apa-apa, 'kan? Aku ingin refreshing saja, Kak."
"Beneran?" Khaira kini memicingkan mata dan menatap sang adik dengan penuh kecurigaan.
"Beneran, Kak. Ikut yah," pinta Umar lagi, kali ini dengan wajah yang dibuat seimut mungkin untuk membujuk sang Kakak.
Khaira diam sejenak untuk berpikir. Sebenarnya tidak ada masalah jika Umar ikut, hanya saja ia sedikit ragu apakah pihak BEM mengizinkannya membawa sang adik. Hingga akhirnya Khaira pun memutuskan menghubungi salah satu kakak seniornya untuk menanyakan hal itu.
Setelah beberapa saat berbicara melalui sambungan telepon, Khaira mematikan ponselnya, lalu menatap ke arah sang adik.
"Ya udah, kamu siap-siap gih," ujar Khaira yang langsung mendapat respon antusias dari sang adik.
Usai bersiap dan berpamitan, Khaira dan Umar langsung menuju ke kampusnya dengan mengendarai motor. Rencananya semua mahasiswa fakultas kedokteran itu akan berangkat bersama dengan mengendarai bus ke daerah pesisir pantai yang cukup jauh dari kota, tempat di mana akan diadakan kegiatan bakti sosial sekaligus liburan bersama.
Sebelum naik bus, semua mahasiswa berkumpul untuk mendengar nasehat dan arahan dari dosen sekaligus dokter yang akan membimbing kegiatan kali ini. Sementara Umar memilih menunggu di dekat beberapa bus yang akan mereka naiki nantinya sambil memantau sang kakak dari jauh.
"Ra, kamu naik bus yang mana nanti?" tanya Dito, ia mendatangi Khaira yang sedang berkumpul bersama teman-teman angkatannya.
"Yang itu, Kak. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku akan ambilkan tempat duduk untuk kamu."
"Apa? Tidak usah ...." Khaira menghentikan protesnya saat Dito telah pergi lebih dulu tanpa menunggunya selesai berbicara, sangat jelas jika laki-laki iti tidak ingin mendengar kata penolakan.
.
.
.
Semua mahasiswa mulai menaiki bus satu per satu termasuk Khaira. Ia baru saja mendapat pesan dari Umar jika ia telah mengambilkan kursi untuknya di bagian tengah.
Ketika Khaira telah menaiki bus dari pintu belakang, sebuah lambaian tangan terlihat dari arah depan, di mana Dito telah menunggunya di sana dengan senyuman lebar.
Khaira tidak terlalu menghiraukan Dito sebab yang ada di pikirannya saat ini adalah Umar. Gadis itu mulai berjalan menyusuri lorong bus sambil menoleh ke kiri dan kanan. Hingga ia menemukan sang adik yang kini tengah asik bermain game di ponselnya sambil memakai topi.
Senyuman di wajah Dito seketika lenyap saat melihat Khaira justru duduk di bagian tengah bersama seorang laki-laki yang tidak terlihat jelas wajahnya. Rasa kesal dan malu karena diacuhkan mulai merasuki laki-laki itu.
Mendengar seseorang menanyakannya, membuat Umar langsung mendongak. Dito yang baru menyadari keberadaan Umar seketika diam dengan wajah yang begitu terkejut.
"Eh, Umar, maaf, kupikir tadi siapa." Dito tersenyum kecut lalu segera kembali ke tempat duduknya tanpa berbicara lagi.
Niat hati ingin mendekatkan diri dengan Khaira, semuanya malah gagal karena keberadaan Umar.
.
.
.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam dari malam hingga pagi, bus yang membawa Khaira dan teman-temannya kini telah tiba di sebuah desa yang berada di pesisir pantai. Para warga di desa itu menyambut kedatangan mereka dengan penuh suka cita.
Setelah istirahat sejenak, pagi itu tim mahasiswa kedokteran mulai melakukan bakti sosial yang berlangsung hingga menjelang sore, di mana dari semua mahasiswa itu di bagi dalam beberapa posko untuk memudahkan semua warga menjangkaunya dalam melakukan pemeriksaan dan pengobatan gratis.
Sore hari aktivitas bakti sosial telah selesai, Khaira dan Umar beserta mahasiswi lain sedang sibuk membereskan barang-barang di posko yang mereka tempati sebelum nantinya mereka refreshing dan bermain air di pantai.
"Rangga, kamu lihat mereka?"
Dito dan Rangga sedang duduk di sebuah tempat yag tidak jauh dari posko Khaira. Keduanya sejak tadi memantau aktivitas gadis itu bersama sang adik.
"Tolong kamu bawa pergi Umar, aku ingin berbicara serius dengan Khaira, keberadaan adiknya benar-benar mengganggu rencanaku," pinta Dito kepada Rangga.
.
.
.
"Dek, tolong bantu angkat kardus ini ke posko utama yah, kebetulan hanya kamu laki-laki di sini," pinta Rangga yang kini sedang membawa kardus besar berisi beberapa obat dan menyodorkannya pada Umar.
Umar tak banyak bertanya, ia langsung mengambil alih kardus itu dan membawanya pergi sesuai arahan Rangga. Jarak antara posko Khaira dan posko utama agak sedikit jauh, sehingga membutuhkan waktu untuk bisa bolak-balik antara dua posko itu.
"Khaira, kita boleh bicara?" tanya Dito yang baru saja tiba di posko Khaira setelah kepergian Umar.
"Bicara apa, Kak?"
"Apa kamu mau ikut denganku?"
"Kita bicara di sini saja yah, Kak."
Khaira menolak secara halus permintaan Dito, sehingga dengan terpaksa, laki-laki itu memberi kode kepada mahasiswi lain yang ada di sana untuk pergi. Khaira yang kini tak lagi memiliki pilihan akhirnya pasrah tapi tetap waspada dan menjaga jarak agar tak ada yang salah paham.
"Ra, maafkan aku jika aku mengambil waktumu. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku padamu yang sudah lama ku pendam."
Khaira diam menyimak kata demi kata yang dilontarkan Dito. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena gugup tapi lebih ke rasa takut dan khawatir terhadap apa yang akan ia dengar nantinya dari laki-laki itu.
"Ra, aku menyukaimu, aku sayang sama kamu, mau kah kamu memberiku kesempatan untuk bisa menjalin hubungan denganmu?"
-Bersambung-