He's Not A Bad Boy

He's Not A Bad Boy
Bab 41 - Air Mata Bahagia Tarakhir



Suara roda dari sebuah kursi roda terdengar melewati lorong rumah sakit. Seorang laki-laki dengan wajah pucat berada di sana. Boy, meski saat ini masih begitu lemah, ia tetap berusaha menemui sang ayah.


Sejak awal ia keluar rumah, tujuannya memang adalah rumah sakit, dan siapa sangka, qadarullah, ia benar-benar sampai di rumah sakit meski dengan keadaan yang berbeda.


Akmal mendorong kursi roda milik Boy, sementara Khaira ikut berjalan di sisinya. Tak menunggu waktu lama, kini mereka telah tiba di kamar rawat dengan nama Anderson terpampang di sana.


Boy sedikit terkejut saat mendapati Zafran tengah berada di sana menemani sang ayah.


"Terima kasih Om karena sudah menemani ayah," ucap Boy.


Zafran tak menjawab, ia berjalan menghampiri Boy lalu mengambil alih kursi rodanya dari Akmal.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Zafran membuka suara.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Om," jawab Boy tersenyum canggung.


Dengan bantuan Zafran dan Akmal, kini Boy berdiri di sisi tempat tidur sang ayah yang masih memejamkan mata. Ia tidak peduli lagi dengan rasa sakit di perutnya yang begitu menyiksa. Asal bisa berbicara dengan ayahnya, ia bisa merasa lebih baik.


"Ayah, ini aku, Boy," lirih Boy di dekat telinga sang ayah.


Tanpa di duga, laki-laki yang sejak tadi memejamkan mata itu kini perlahan membuka matanya saat mendengar suara sang putra yang sebenarnya sudah lama ia rindukan.


"Boy, kamu kah itu?" tanya Anderson dengan suara lirih, bahkan hampir terdengar seperti sedang berbisik.


Tangannya yang begitu lemah perlahan tarangkat dan mengusap kedua sisi wajah Boy. "Maafkan ayah, Boy," ucapnya dengan suara yang begitu lemah, diikuti dengan lelehan air mata yang mengalir dari sudut matanya.


Boy menggelengkan kepalanya lalu memegang kedua tangan sang ayah yang sudah mulai mengeriput.


"Tidak, Ayah tidak salah, akulah yang tidak menyadari kasih sayang Ayah selama ini, maafkan aku, Ayah." Boy menunduk dalam menahan air mata yang juga ingin menerobos keluar. Sungguh ia tidak ingin terlihat cengeng di hadapan sang ayah.


"Kamu tidak pernah salah, Nak. Selama ini sikapmu yang liar itu karena ayah sendiri, dan ayah mengakui selama ini ayah sudah salah telah melampiaskan rasa kesepian dan sakit hati ayah dengan bekerja hingga tak pernah lagi peduli padamu." Suara Anderson semakin mengecil, bahkan mulai terbata-bata.


Pria paruh baya itu benar-benar menyesal selalu menuruti perkataan kakaknya, hingga ia tidak sadar jika selama ini sang kakak hanya mengincar harta miliknya semata.


"Boleh aku memelukmu, Nak?" tanya Anderson pelan.


Boy hanya mengangguk lalu perlahan membungkuk agar bisa memeluk sang ayah. Boy mengeratkan giginya dan memejamkan mata menahan sakit yang teramat menyiksa diperutnya demi bisa memeluk sang ayah, pelukan yang baru kali ini ia rasakan kembali sejak beberapa tahun lalu.


Khaira yang sejak tadi menyaksikan semuanya kini tanpa sadar juga ikut menitikkan air mata. Ia begitu terharu melihat kedekatan Boy dan ayahnya yang kembali terjalin setelah sekian lama merenggang, bahkan pernah hampir putus, tapi tak putus sepenuhnya karena masih ada rindu yang mengikat mereka.


"Nak, siapa gadis yang berada dibelakangmu itu? Seumur-umur, ayah tidak pernah melihatmu membawa wanita bersamamu," bisik Anderson. Meski terbata-bata, Boy tetap mampu memahami apa yang dikatakan sang ayah.


"Dia ...." Boy sedikit ragu untuk menjawab, tapi pada akhirnya ia menjawabnya dengan jujur.


"Dia gadis yang berhasil membuat hidupku jungkir balik, membawa cahaya dalam hidupku, dan mengisi ruang di hatiku," jawab Boy ikut berbisik agar tak terdengar oleh Zafran, Akmal dan Khaira.


"Tidak bisa, dia sudah memiliki calon suami yang lebih baik," lirih Boy sambil tertunduk.


"Dan calon suaminya itu kamu." Zafran maju ke samping Boy lalu merangkul pundaknya.


Boy begitu terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "A-apa maksud, Om? Bukankah saya sudah mengundurkan diri? Kenapa Om malah memilih saya?"


"Kami tidak memilihmu, bahkan Khaira pun tidak memilihmu. Allah lah yang memilihmu, Boy."


Boy refleks berbalik dan tanpa sengaja netranya bertemu dengan Khaira dan mendapati gadis itu tersenyum malu lalu tertunduk.


"Menikahlah, Nak. Ayah ingin melihatmu menikah sebelum ayah pergi," lirih Anderson.


Boy dengan cepat berbalik dan menggelengkan kepalanya lagi. "Jangan bicara seperti itu, Ayah." Boy menunduk memijit pelan tangan sang ayah sambil menahan air mata yang lagi-lagi ingin keluar.


"Ayah mohon, Nak." Gerakan tangan Boy langsung terhenti, ia menatap wajah sang ayah yang begitu serius. Sejenak diam memandangi wajah pucat itu, tak ada candaan di sana, matanya yang sayu bahkan terlihat memelas.


Boy merasa tak mengerti harus melakukan apa saat ini. Meski telah mendapat lampu hijau, entah kenapa ia begitu malu jika harus meminta Khaira untuk menikah saat ini juga. Bukankah semua gadis menginginkan lamaran hingga acara pernikahan yang berkesan?


Boy diam tertunduk sejenak, lalu menarik napas dalam beberapa kali. Ya, meski berat, lada akhirnya tetap harus ia sampaikan, demi membahagiakan sang ayah.


Boy berbalik ke arah Zafran dengan jantung berdegup kencang. Perasaan yang sama saat pertama kali akan melamar Khaira kini kembali menghampiri.


"Om, maafkan saya jika tidak tahu tempat, tapi izinkan saya untuk kembali melamar Khaira, putri Om, sekaligus menjadikannya istri saya hari ini. Mungkin ini terkesan mendadak dan memaksa, tapi sejujurnya momen ini sudah lama saya nantikan, saya juga ingin memberikan hadiah kepada ayah."


Zafran tersenyum melihat keberanian Boy. Ia menepuk pelan pundak Boy lalu memeluknya. "Selamat, Nak. Niat baikmu sudah mendapatkan restuku."


.


.


.


Suasana ruangan kini tampak ramai tapi hening, tak ada suara apa pun di ruangan itu selain suara seseorang yang baru saja mengucapkan lafazh ijab qabul di hadapan penghulu dan mertuanya.


"Sah!" ucap Akmal dan seorang dokter yang menjadi saksi, tak hanya itu, beberapa dokter dan perawat di rumah sakit itu pun juga ikut mengatakan hal yang sama saat menyaksikan pasien mereka menikah.


Beribu-ribu syukur kini dilangitkan atas nikmat yang tak terkira. Setelah melalui proses panjang dan tidak mudah, kini Boy dan Khaira telah resmi menjadi pasangan halal dengan mahar semua isi dompet Boy karena hanya itu yang ia miliki saat ini.


Anderson kembali menitikkan air mata melihat kebahagiaan di wajah putranya. Ia begitu bahagia saat ini karena diberi kesempatan untuk bertemu dan melihat putra satu-satunya melepas masa lajang di penghujung hidupnya.


Mata sayu itu kini perlahan menutup setelah berhasil menitikkan setetes air mata bahagia terakhir.


-Bersambung-