
Beberapa menit sebelumnya.
Ali yang berada di pesantren di minta oleh Salma untuk kembali ke rumahnya karena sang ayah sakit, hal itu membuat Ali harus pulang malam itu juga dengan menggunakan motor Ninja miliknya.
Sebuah taksi yang berhenti di tengah jalan yang gelap membuat laki-laki itu merasa penasaran. Ali memelankan laju motornya untuk melihat keadaan taksi itu, dan langsung berhenti saat menemukan sang supir terbaring tidak sadarkan diri.
"Pak, Pak, apa anda baik-baik saja." Ali menepuk pelan pipi laki-laki paruh baya itu hingga ia tersadar.
"Penumpangku." Bukannya menjawab pertanyaan Ali, supir taksi itu malah teringat dengan penumpangnya, ia bergegas bangkit dan mencarinya di jok belakang. Namun, tak ada wanita itu di sana.
"Ada apa, Pak?" Ali mengikuti supir taksi itu hingga ikut berdiri di dekat pintu mobil yang tadi Silvi lewati saat diseret keluar.
"Kami baru saja di hadang para geng motor, mereka memukulku hingga pingsan, dan penumpangku, seorang wanita muda, tadi dia ada di sini, sekarang sudah tidak ada, barangnya kini berceceran di mana-mana, aku khawatir terjadi hal buruk padanya." Supir itu menunduk dan mengambil sapu tangan yang ada di jalanan.
Kening Ali mengerut saat melihat sapu tangan itu. "Tunggu, Pak. Ini sapu tanganku karena ada bordiran namaku di ujungnya, tapi ...." Ali berusaha mengingat siapa yang pernah meminjam sapu tangannya, laki-laki itu membulatkan mata saat mulai mengingatnya. "Silvi," ucapnya mulai khawatir.
Ali mulai mencari keberadaan Silvi di sekitar tempat itu hingga tanpa sengaja ia mendengar sayup-sayup suara beberapa laki-laki sedang tertawa.
Ali memasuki hutan mengikuti sumber suara itu dengan hati-hati hingga ia bisa melihat Silvi yang sedang diikat dengan mulut yang di tutupi lakban. Tangan laki-laki itu mengepal kuat saat melihat salah satu dari mereka mulai menyentuh Silvi bahkan sampai merobek kerudungnya.
Laki-laki itu berusaha memikirkan cara cepat agar Silvi bisa selamat. Menghubungi polisi tentu sudah tidak sempat. Sementara masuk ke sana seorang diri dengan ilmu bela diri yang kurang sama saja seperti bunuh diri, bukannya selamat tapi malah semakin celaka.
Hingga ia kembali mengingat jika Boy pernah bercerita bahwa gadis istimewanya itu pernah menyelamatkannya dengan bantuan bunyi sirine polisi dari ponsel. Ali pun ingin mencobanya, berhasil atau tidak, ia serahkan semuanya pada Allah.
.
.
.
Suara serine polisi yang terdengar mendekat seketika membuat para geng motor itu panik kalang-kabut. Mereka semua refleks berlari ke dalam hutan karena mengira polisi telah mengetahui keberadaan mereka.
Kesempatan itu digunakan Ali untuk menyelamatkan Silvi yang saat ini menangis ketakutan.
"Tenanglah, dan jangan bersuara, aku akan menolongmi atas izin Allah," bisik Ali.
Silvi terlihat begitu menyedihkan, rambutnya yang kini sudah tergerai, bajunya pun sudah berantakan. Untung saja Ali yang menemukannya langsung menutupi kepala Silvi dengan sorban yang selalu ada di lehernya, dan tubuh Silvi ia tutupi dengan jaket yang ia kenakan.
Tubuh Silvi bergetar ketakutan, bahkan untuk jalan pun ia tak sanggup. Mau tidak mau, Ali menggendongdan membawanya ke motor miliknya yang sudah ia sembunyikan di tempat tertutup.
"Kamu masih bisa memegang 'kan? Tolong pegang bajuku agar kamu tidak jatuh, maaf karena aku menyentuhmu, ini darurat," ucap Ali lalu memakai helmnya dan mulai melajukan motornya menuju rumahnya yang tidak jauh lagi dari jalan itu.
Sepanjang perjalanan, Silvi hanya bisa menangis, bahkan Ali dapat mendengar tangisan pilu dari gadis di belakangnya. Ali hanya diam membiarkannya menangis, setidaknya dengan begitu rasa sesak di dada gadis itu bisa ia keluarkan.
.
.
.
Salma yang sejak tadi menanti kedatangan Ali cukup dibuat terkejut saat melihat putra satu-satunya itu datang tidak sendiri, melainkan ada seorang gadis yang ia bonceng di belakangnya.
"Wa'alaikum salam, Nak," jawab Salma, tapi tatapannya tidak berpaling dari wanita yang berdiri di samping motor Ali sambil tertunduk. "Siapa dia, Nak? Kenapa dia bisa ada bersamamu?" sambungnya bertanya.
"Namanya Silvi, Bu. Nanti aku jelaskan, kita masuk dulu yah, kasihan dia," lirih Ali. "Bu, boleh tolong bantu Silvi berjalan? Tubuhnya masih lemah," lanjut Ali, membuat sang ibu mengerti dan mulai membantu memapah wanita itu berjalan memasuki rumahnya.
Silvi di dudukkan di sofa ruang tamu bersama Salma, sementara Ali izin masuk kamar untuk mengganti bajunya.
Salma diam melihat wanita di hadapannya. Wajah yang sedikit kotor, tapi tidak bisa menutupi kecantikannya. Salma juga tahu sorban yang menutupi rambutnya adalah sorban Ali, begitu pun dengan jaket yang ia gunakan.
Begitu banyak pertanyaan yang hadir dalam pikiran wanita paruh baya itu, tapi ia takut jika pertanyaannya justru akan membuat wanita itu tersinggung.
Tak lama setelah itu, Ali keluar dari kamarnya dengan memakai baju kaos, ia sejenak melihat keadaan sang ayah yang sudah tertidur sebelum akhirnya ia keluar menemani sang ibu dan Silvi di ruang tamu.
"Jadi Silvi ini teman aku mengajar di pesantren, dan qadarullah, tadi dia menjadi korban begal geng motor, kebetulan aku lewat jadi kutolong," terang Ali.
"Innalillah, kasihan sekali kamu, Nak. Lalu kenapa tidak langsung di bawa ke rumah sakit? Kasihan dia ketakutan," tanya Salma.
"Rumah sakit masih terlalu jauh, aku takut para geng motor itu akan kembali mengejar kami, lagi pula saat ini Silvi lebih butuh keluarga berada di sisinya. Setahu Ali, kedua orang tuanya tidak tinggal di kota ini," jelas Ali lagi.
"Ya Allah, baiklah, kamu tinggal di sini dulu untuk sementara, Ibu bisa memanggil adik sepupu Ali, Anisa untuk tinggal disini menemani kamu."
***
Beberapa hari telah berlalu, hari ini Boy dan Khaira telah menjadi pasangan suami istri yang sah secara hukum dan di mata publik. Keduanya kini menjadi Raja dan Ratu sehari. Khaira terlihat begitu cantik dalam balutan gaun berwarna putih tulang sementara Boy terlihat begitu tampan dalam setelan tuxedo hitam.
Seperti pasangan pengantin pada umumnya, Boy dan Khaira akan sering berdiri dan duduk untuk menyambut kedatangan tamu yang ingin mengucapkan selamat kepada mereka. Beruntung kaki Boy sudah lebih baik sehingga ia tidak perlu lagi memakai kruk.
Beberapa jam telah berlalu, Khaira mulai memperlihatkan gerak-gerik yang menunjukkan jika dia sudah mulai tidak nyaman.
"Sayang, apa kamu ingin istirahat di kamar?Sepertinya kamu sudah mulai lelah." Boy menggenggam tangan Khaira yang mulai terasa dingin dan sedikit bergetar.
"Iya, Kak. Perutku tidak nyaman, rasanya aku ingin muntah," lirih Khaira.
"Baiklah, sebaiknya kita beristirahat di kamar kita sekarang."
Boy meminta izin kepada Zafran dan Ainun serta Oma Sofi untuk pergi lebih dulu karena Khaira sudah tidak enak badan. Setelah itu, ia membantu Khaira untuk turun dari pelaminan menuju kamar mereka.
"Apa Ratuku ini ingin di gendong oleh Raja?" tawar Boy sambil menggoda sang istri, membuat Khaira tersenyum malu-malu.
"Tidak perlu, Kak. Cukup papah aku seperti ini saja, baju ini berat dan panjang, kamu akan kesulitan jika menggendongku," tolak Khaira halus.
"Baiklah jika itu keinginan Ratuku."
"Boy."
Langkah kaki Boy dan Khaira seketika terhenti saat seseorang memanggilnya dari arah belakang. Keduanya kompak berbalik untuk melihat siapa yang ada di belakang mereka saat ini.
Seorang wanita paruh baya yang wajahnya terlihat sangat mirip dengan Boy saat ini berada di hadapan mereka, hingga membuat Khaira menoleh ke arah sang suami yang justru memperlihatkan tatapan sinis kepadanya dengan tangan yang mengepal kuat.
-Bersambung-