
Ali berjalan melewati semua orang yang sedang melihat ke arahnya. Tatapannya lurus dan tajam ke depan di mana Boy dan Khaira sedang berdiri.
Pandangan laki-laki itu kini turun pada tangan Boy yang sedang berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Khaira meski pun dengan begitu lembut. Bukannya tak ingin, menggenggamnya, Boy hanya sedang berusaha menjaga perasaan Ali.
"Maaf, Bang," ucap Boy tertunduk.
Ali masih saja bergeming menatap Boy dengan tatapan tak percaya, sangat terlihat jelas jika dia sedang kecewa, entah pada Boy, dirinya sendiri atau bahkan takdir.
"Kenapa kamu melepas genggaman tangan Khaira?" Sebuah pertanyaan yang tak pernah disangka oleh Boy, kini terlontar dari mulut laki-laki itu.
"A-apa?"
"Aku bilang, jika kamu memang sudah memutuskan untuk menikahinya, harusnya jangan pernah lepaskan genggaman tangannya, tak peduli apapun yang terjadi. Kamu tidak pernah tahu apakah aku akan bertindak sebagai pendukung atau bahkan ujian untuk rumah tangga kalian."
Boy diam menatap tak percaya ke arah Ali.
"Maaf, Bang," lirih Boy lalu kembali tertunduk.
"Kenapa minta maaf?" tanya Ali tapi kini giliran Boy yang bergeming.
Ali mendekat ke arah Boy hingga kini ia berada tepat di samping telinganya.
"Harusnya sejak awal aku menyadari bahwa gadis istimewa yang kita maksud waktu itu adalah orang yang sama. Harusnya aku juga langsung memukulmu waktu itu karena berusaha mengancamku dengan kata 'aku akan menikahi gadis istimewamu jika kamu tak bangun,' kamu lihat sekarang? Allah mengabulkan doamu itu karena memang perkataan adalah doa."
Ali berbisik di dekat telinga Boy lalu kembali mundur dengan senyuman yang melekat di wajahnya.
"Selamat atas pernikahan kalian, aku sudah mendengar ceritanya dari tante Ainun. Itulah jodoh, dia akan datang di waktu yang tepat, dan sebagai orang yang meyakini takdir cinta Allah itu selalu indah, aku tidak akan berkecil hati karena hal ini."
Ali kini mengulurkan tangan ke arah Boy dan langsung bersambut, keduanya saling berjabat tangan dan berpelukan sejenak. Semua orang pun kini tampak tersenyum melihat interaksi mereka.
"Terima kasih, Bang."
***
Malam hari usai kepulangan Boy ke rumah Zafran, Abah Rahman dan Ummi Lina yang sudah mengetahui ceritanya langsung datang menemui sang cucu.
"Masya Allah, Allahu Akbar, rahasia Allah memang luar biasa. Kamu tahu, Boy, beberapa kali muncul niat di hati abah untuk menjodohkanmu dengan cucu abah ini, tapi setelah mendengar jika kamu sudah memiliki seorang gadis yang ingin kamu lamar, abah langsung mengalah, eh ternyata wanita yang kamu maksud itu adalah Khaira juga, Allahu akbar."
Abah Rahman memeluk Boy dengan penuh kebahagiaan dan haru. Ia tidak menyangka santri kesayangannya kini telah menikah dengan cucu kesayangannya.
"Iya, Abah, Allah benar-benar Maha Baik telah mengabulkan doa yang sudah kupanjatkan selama ini sehingga bisa menikah dengan gadis baik seperti Khaira dan memiliki keluarga yang hangat seperti ini." Boy tersenyum menatap sang istri lalu beralih menatap dua orang usia lanjut di depannya.
Mereka kini menikmati makan malam mereka bersama dengan cara lesehan membentuk lingkaran. Para istri mulai melayani suami mereka masing-masing dengan menyendokkan makanan ke piringnya, termasuk pasangan baru itu.
"Terima kasih, Sayang," lirih Boy setelah menerima makanan dari Khaira, membuat wajah wanita itu kini bersemu merah, terang saja, ini adalah kali pertama bagi Boy memanggilnya dengan sebutan itu.
Mereka semua menikmati makan malam mereka sambil sesekali bertukar cerita. Suasana di rumah Zafran kini terasa benar-benar hangat.
"Jadi, kapan rencana kalian akan melangsungkan resepsi pernikahan?" tanya Zafran.
"Insya Allah secepatnya, Pa. Kami masih memikirkan waktu yang tepat," jawab Boy.
"Bagus, memang harusnya begitu, mulut para tetangga di sini sulit dikendalikan bagai bom waktu, kita tidak tahu kapan akan meledak jika melihat kalian selalu bersama sementara mereka tidak tahu status kalian yang sebenarnya."
"Iya, Pa,"
.
.
.
"Kamar gadis memang beda, yah," ujar Boy tersenyum sambil melihat deretan foto-foto sang istri berada di atas meja.
Khaira hanya tersenyum lalu duduk di kasur sambil melihat kegiatan sang suami.
Puas memperhatikan semua foto-foto sang istri, Boy kini beralih menatap Khaira yang sejak tadi tersenyum ke arahnya. Ia berjalan menghampiri dan ikut duduk di sampingnya.
Keduanya saling bertatapan sejenak, tapi berakhir ketika Khaira tertunduk malu. Hening sejenak di kamar itu, tapi tidak dengan jantung keduanya yang saling bertalu-talu dalam keheningan, jika saja bisa terdengar, mungkin kamarnya akan terdengar bising saat ini.
"Boleh aku bertanya sesuatu," tanya Boy, setelah berusaha menormalkan detak jantungnya, membuat Khaira langsung mengangkat wajah menatap sang suami.
"Aku penasaran, saat pertama kali kita bertemu di depan ruang ICU, kenapa kamu tidak menyapaku setelah itu?"
Khaira tampak mengingat sejenak kejadian waktu itu. "Maaf, sebenarnya saat itu aku tidak yakin jika itu adalah Kakak."
"Kenapa?"
"Karena penampilan Kakak yang sangat berbeda, aku takut jika aku salah orang."
"Aku pikir kamu tidak mengingatku lagi."
"Tidak, Kak. Tidak mungkin aku melupakanmu."
Boy tersenyum mendengar jawaban dari sang istri. "Terima kasih karena sudah menerima lamaranku, jujur, aku masih merasa ini adalah mimpi. Gadis yang dulu meyelamatkanku, kini telah menjadi istriku." Tangan Boy kini terangkat menyentuh wajah Khaira yang kini mulai bersemu merah.
"Boleh aku bertanya, Kak?"
"Silahkah."
"Bagaimana ceritanya hingga kamu ada di sini dan menjadi santri kesayangan Kakek Abah?"
Boy tersemyum, lalu mulai menceritakan kisah hidupnya yang begitu menyakitkan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk belajar di pesantren milik orang yang pernah dengan sabar mengajarinya berwudhu waktu itu.
"Aku pernah hampir menyerah saat semua orang meninggalkanku, tapi aku bersyukur karena Allah menghadirkan setitik asa dalam hatiku, dan aku tidak menyangka, melalui setitik asa itu, aku perlahan merasa menjadi manusia kembali, merasakan bagaimana memiliki teman yang tulus dalam kebaikan, dan orang yang peduli, bahkan melalui setitik asa itu juga, kini aku bertemu kembali denganmu hingga akhirnya menikah denganmu."
Tangan Boy kini menggenggam kedua tangan sang istri lalu mengecupnya perlahan. Hati Khaira berdesir merasakan sentuhan yang begitu indah dan lembut itu.
Tatapan keduanya kini saling terkunci satu sama lain saat Boy kembali menatap Khaira. Perlahan laki-laki itu mendekat dan mengecup kening Khaira dengan begitu lembut. Ada perasaan begitu indah yang baru pertama kali mereka rasakan.
"Aku mencintaimu, Sayang, sangat mencintaimu, dari dulu hingga sekarang rasa itu semakin bertambah," ungkap Boy kini dengan mata yang berkaca-kaca dan perasaan yang begitu lega karena telah mengungkapkan perasaan yang selama ini ia jaga untuk pertama kalinya.
Khaira tersenyum dan ikut mencium tangan sang suami. "Aku juga, dan aku bersyukur karena Allah menjaga rasa itu hingga saat ini," balas Khaira dengan pandangan yang ikut menjadi buram karena air mata bahagia.
Boy perlahan mengusap pipi Khaira yang basah karena air mata yang berhasil lolos. "Apa aku boleh memelukmu?"
Khaira mengangguk pelan. "Kenapa bertanya? Sejak kamu mengucapkan kalimat sakral itu di hadapan Papa, saat itu juga aku telah menjadi milikmu seutuh ...."
Perkataan Khaira terpotong saat Boy langsung memeluknya dengan begitu erat dan membuat jantungnya seolah ingin melompat karena begitu terkejut. Tapi semakin lama, keterkejutan itu berubah menjadi rasa yang sangat nyaman.
Khaira tersenyum lalubperlahan mebalas pelukan itu dan memejamkan matanya, merasakan pelukan hangat dari laki-laki yang selalu membuatnya merasa aman dan nyaman saat berada di sisinya.
Setelah sekian lama saling memendam perasaan, kini mereka bisa saling merajut indahnya cinta dan memadu kasih yang begitu hangat tanpa khawatir dosa menyertai mereka, dan pahala terus mengalir kepadanya.
-Bersambung-