
Malam yang sunyi, suhu dingin yang mulai menusuk. Di saat semua orang telah terlelap di bawah selimut, seorang gadis justru masih nyaman pada posisinya yang berada di atas hamparan sajadah dengan Al-Qur'an yang berada di tangannya.
Hatinya begitu bimbang tiap kali memikirkan deretan hal yang ia alami saat ini. Ia sadar hatinya telah condong pada salah satu dari dua pilihan yang dihadapkan padanya, tapi bagaimana pun juga, petunjuk sesungguhnya ada pada Sang Pemilik Cinta.
Ingatannya pada pembicaraan malam tadi antara laki-laki yang pernah melamarnya dengan sang ayah yang lagi-lagi tak sengaja ia dengar dari lantai dua kembali menghampirinya.
"Saya telah memikirkan perkataan Om mengenai keikhlasan beberapa waktu lalu. Mungkin alasan saya waktu itu membuat Om beranggapan jika saya bukanlah orang yang tulus dan hanya ikut-ikutan menjadi baik. Saya tidak akan memaksa Om untuk menilai baik saya. Oleh karena itu, jika memang Om merasa ada yang lebih baik dan lebih ikhlas dari saya, maka saya akan lepaskan keinginan saya untuk menikahi Khaira. Saya bukannya menyerah, tapi saya sedang berusaha menata hati saya agar bisa lebih paham mengenai arti ikhlas itu sendiri."
Khaira mengusap wajahnya pelan dengan napas lesu. Ada rasa tidak rela, tapi kini ia hanya bisa pasrah menanti jawaban dari Allah atas istikharahnya tadi.
.
.
.
Pagi itu diruang kerja Zafran, Akmal tiba-tiba datang menemuinya dengan membawa beberapa berkas di dalam sebuah map.
"Bang, ini berkas yang kamu minta dari Billy," ujar Akmal sambil meletakkan map itu di meja kerja Zafran.
"Oke, terima kasih," ucap Zafran lalu membuka map itu dan membacanya dengan teliti.
"By the way, itu data siapa lagi, Bang?" Akmal menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan meja kerja Zafran.
"Boy, baru-baru ini dia melamar Khaira."
"Boy? Bukankah dia yang dulu kamu minta datanya sama Billy?"
"Benar dia. Dia pernah bilang kalau sekarang dia mengajar di pesantren, aku sedikit tidak percaya, makanya aku ingin memeriksanya."
Akmal menganggukkan kepalanya karena mengerti dengan posisi Zafran. Jika saja dia juga memiliki anak yang akan menikah, tentu ia akan menelusuri latar belakang laki-laki itu.
"Masya Allah," lirih Zafran saat membaca latar belakang pendidikan dan tempat mengajar Boy saat ini."
"Ada apa, Bang?"
"Aku benar-benar merasa tertampar dengan anak ini."
"Memangnya ada apa, Bang?"
"Akmal, pesantren Al Hikmah ini bukannya pesantren milik mertuamu?" tanya Zafran dengan tatapan serius.
'Iya, benar," jawab Akmal.
Zafran mengusap wajahnya kasar. "Sepertinya aku telah salah menilai anak itu, ternyata apa yang dia katakan semuanya benar, dia bahkan mendapat hadiah dari Abah Rahman untuk kuliah di Kairo, dan kamu tahu? Dia berhasil lulus dengan predikat terbaik."
"Benarkah?" tanya Akmal dan dijawab anggukan oleh Zafran.
"Kalau begitu, artinya Abah Rahman sangat mengenal Boy, coba kamu tanyakan ke Abah langsung," ujar Akmal memberikan saran.
"Tidak sekarang, lagi pula dia juga sudah mundur, Khaira hanya memiliki satu pilihan saja sekarang, yaitu Ali."
.
.
.
Zafran dan Akmal kini sarapan bersama, di temani oleh Ainun dan Umar di ruang makan. Zafran beberapa kali menatap ke atas lantai dua, di mana kamar Khaira berada di sana.
"Masih di kamar, sepertinya dia baru tidur setelah subuh tadi deh, aku dengar dia semalaman mengaji," jawab Ainun. "Sepertinya dia benar-benar bimbang sekarang," lanjutnya.
Zafran membuang napas kasar beberapa kali sebelum mulai berbicara. "Sayang, sebenarnya semalam Boy datang lagi," ujar Zafran. "Maaf aku tidak memberitahumu karena aku lihat kamu kelelahan," sambungnya.
"Boy ngomong apa?" Ainun memperbaiki duduknya seolah ingin menyimak perkataan sang suami dengan baik.
"Dia tidak melanjutkan lamarannya, dia ...." Perkataan Zafran terpotong saat melihat Khaira menuruni tangga.
"Eh kamu udah bangun, Sayang. Kamu ada shift nggak hari ini?" Ainun menyambut kedatangan sang putri dengan menuangkan nasi ke piring Khaira beserta lauk dan sayurnya.
Sementara Zafran dan Akmal kini sesekali saling melirik bingung harus bicara bagaimana. Zafran tahu bahwa mungkin Khaira sudah melakukan sholat istikharah malam tadi, tapi bagaimana jadinya jika salah satu yang membuatnya bimbang kini sudah mengundurkan diri?
"Emmm, Sayang ...." Perkataan Zafran terpotong saat Khaira memenggilnya.
"Papa, ada yang ingin Khaira katakan."
***
Di tempat lain, Boy sedang duduk di sisi tempat tidur di mana seorang laki-laki paruh baya sedang terbaring lemah di atasnya. Wajah yang begitu pucat dan tubuh yang begitu kurus, membuat hati Biy terasa perih melihatnya.
Tak lama setelah itu, seorang wanita paruh baya bersama seorang pemuda memasuki ruangan itu.
"Boy?" Wanita paruh baya itu menatap Boy dengan pandangan heran sekaligus meremehkan.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanyanya.
"Menjenguk ayahku," jawab Boy menoleh sekilas ke arah sang Bibi lalu kembali menatap sang ayah.
"Ayah? Bukankah dia bukan lagi Ayahmu? Harusnya kamu diam-diam saja di tempat yang tidak jelas itu." Terdengar tawa meremehkan dari wanita paruh baya itu, tak terkecuali dengan anaknya yang juga ikut mengejek.
Boy hanya membuang napas kasar tanpa ingin menoleh ke arah sang bibi apalagi merespon perkataannya.
"Tunggu dulu, jangan bilang kamu datang kesini untuk warisan? Astaga Boy, tidak kusangka kamu sangat licik, setelah sekian lama kamu pergi, kini kamu kembali saat kamu tahu ayahmu sekarat, iya 'kan?"
Boy mulai mengepalkan tangannya mendengar ocehan sang bibi yang yang membuat telinga dan hatinya terasa panas. Ia berusaha keras menahan dirinya agar tidak kelepasan, bagaimana pun juga, ia masih berusaha menghormati kakak dari ayahnya itu meski ia selalu diperlakukan buruk.
"Hey, Boy. Apa kamu tidak mendengar apa yang kukatakan? Ingat yah, kamu jangan pernah berharap mendapat warisan sepeser pun karena anakku yang lebih berhak, sedangkan kamu ...."
"Bibi, jika kedatangan Bibi ke sini hanya ingin kembuat keributan, maka pulanglah, ayahku ingin istirahat," ujar Boy memutus perkataan sang Bibi.
"Hey, jangan kurang ajar kamu sama orang tua," tegur David yang tidak terima ibunya di usir.
"Kalian yang kurang ajar, bisa-bisanya kalian membahas warisan di depan Ayahku." Tatapan Boy kini berubah tajam menatap dua orang disampingnya. "Selagi aku masih nisa menahan diri, silahkan keluar." Boy kini menunjuk ke arah pintu keluar sebagai kode agar mereka segera keluar.
Dengan memasang wajah yang begitu tidak ramah, disertai berbagai umpatan, wanita paruh baya beserta putranya itupun akhirnya keluar.
***
"Ayah, aku sudah menemukan alamat Boy. Ayo kita ke sana dan minta Boy menikahiku."
"Silvi, apa kamu yakin dia akan mau menikahimu?" Meski sedikit ragu, Silvi akhirnya mengangguk.
"Silvi yakin, Ayah."
-Bersambung-