He's Not A Bad Boy

He's Not A Bad Boy
Bab 42 - Senyuman yang Memudar



Hujan rintik-rintik menandai berakhirnya prosesi pemakaman almarhum Anderson. Satu per satu orang yang ikut hadir sejak siang hingga sore kini mulai pulang. Termasuk bibi dan dua sepupu Boy.


"Boy, setelah ini, kami akan datang ke rumahmu untuk mengurus peralihan saham dari perusahaan ayahmu," ujar wanita paruh baya itu dengan begitu angkuh lalu pergi bersama kedua anaknya.


Boy tak peduli dengan apapun yang di katakan sang bibi. Ia lebih memilih diam di samping pusara sang ayah yang mulai basah itu sambil memanjatkan doa.


"Kak, kita pulang yah, ini sudah hujan," ujar Khaira lembut. Sejak ia resmi menjadi istri Boy, Khaira telah memutuskan untuk merubah panggilan nama Boy sebagai bentuk penghormatannya kepada laki-laki yang kini ia sebut suami.


Boy masih saja tak merespon, ia malah menyandarkan dahinya di ujung batu nisan kuburan sang ayah, air mata selalu saja keluar dari pelupuk matanya tanpa bisa ia kendalikan. Terus terang, Boy benar-benar berat melepas kepergian sang ayah yang baru saja berbaikan dengannya. Ia bahkan belum puas saling melontarkan perhatian yang baru kembali ia rasakan setelah beberapa tahun diacuhkan.


Langit kini semakin gelap dengan hujan yang masih setia mengguyur kota. Baju yang mereka kenakan pun kini sudah hampir basah semua. Khaira berjongkok di samping sang suami dan menepuk pelan pundaknya.


"Aku tahu Kakak sangat sedih dengan kepergian Ayah, aku juga ikut merasakan hal yang sama walau ini pertama kalinya bertemu dengan Ayah. Sejak pertama melihatnya, aku tahu Ayah sebenarnya orang yang baik dan perhatian. Aku yakin Allah akan menempatkan Ayah di tempat yang mulia, kita bisa mendoakan ayah selalu, iya 'kan, Kak?"


Boy yang sejak tadi tertunduk dalam tangis kini menoleh ke arah wanita di sampingnya yang kini memperlihatkan senyuman manis. Perlahan Boy mengangkat kepalanya dan ikut tersenyum.


"Terima kasih yah, kamu selalu saja berhasil membawa cahaya untukku sejak kita belum mengenal hingga kita menjadi pasangan halal."


Khaira menganggukkan kepala lalu mengusap air mata Boy yang membasahi pipinya. "Sekarang kita pulang yah, sepertinya sebentar lagi hujan semakin deras," ajak Khaira sembari mengulurkan tangannya ke arah Boy dan langsung di sambut oleh laki-laki itu.


Mereka kini berjalan bersama meninggalkan tempat pemakaman itu. Tanpa mereka ketahui, seorang wanita paruh baya dengan pakaian serba hitam tengah menatapnya dari kejauhan. "Maafkan ibu, Boy."


***


Malam itu, Zafran, Akmal, Boy, dan Khaira sedang berkumpul di ruang keluarga rumah Boy. Mereka membicarakan tentang rencana kepulangan mereka ke kota A besok pagi, dan Khaira akan ikut pulang mengingat izinnya tidak lama.


Boy pun setuju dengan rencana mereka, ia bahkan ingin ikut kembali bersama mereka besok usai menyelesaiakan beberapa urusan terkait ayahnya. Di tengah-tengah pembicaraan mereka, suara ketukan pintu membuat pembicaraan mereka terhenti sejenak.


Boy segera membuka pintu karena ia sudah tahu siapa yang datang itu. Dan benar saja, sang bibi beserta pengacara ayahnya saat ini sedang berdiri di hadapannya.


Kini mereka berkumpul di ruang tamu dengan beberapa berkas yang berada di meja. Sang bibi mulai berbicara lebih dulu. Menurutnya, Anderson pernah mengatakan bahwa jika ia meninggal nanti, seluruh harta dan sahamnya akan di alihkan kepadanya dan kedua anaknya. Dan itu tercatat rapi dalam sebuah catatan, meski belum disahkan sepenuhnya sebelum Anderson meninggal.


Boy hanya diam menyimak tiap kata yang dilontarkan wanita paruh baya itu, dan ia tidak keberatan sama sekali jika memang yang di katakan sang bibi tentang keputusan sang ayah itu benar adanya.


"Oh iya, saya baru ingat, beberapa hari sebelum Pak Anderson masuk rumah sakit, beliau pernah memberikan kepada saya sebuah amplop rahasia yang katanya hanya boleh dibuka oleh anaknya yang bernama Boy," ujar pengacara itu dan memberikan sebuah amplop beewarna cokelat kepada Boy.


Sang bibi yang melihat amplop itu langsung memberikan protes kepada sang pengacara. "Loh! Kenapa saya tidak pernah tahu tentang keberadaan amplop itu, Pak?" tanyanya sinis.


"Karena Pak Anderson yang langsung bilang agar tidak boleh ada yang tahu kecuali Boy. Silahkan di buka, saya juga tidak tahu apa isi amplop itu." Pengacara itu mempersilahkan Boy untuk membuka amplop yang masih bersegel itu.


Tak lupa membaca Basmalah, Boy membuka amplop itu dengan hati-hati, ia membaca surat itu sejenak, lalu memberikannya langsung kepada pengacara untuk membacakankan agar sang bibi dapat mendengarnya juga


"Ini adalah surat wasiat dari Pak Anderson kepada Boy. Di sini dikatakan bahwa seluruh saham perusahaannya akan ia alihkan ke Boy, begitu pun dengan rumah dan semua harta di dalamnya. Sementara tabungannya akan ia bagikan kepada ahli waris lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku."


"Apa? Lalu wasiat yang tadi bagaimana?" Lagi-lagi wanita paruh baya itu melayangkan protesnya.


"Ini adalah surat wasiat terbaru, dan sudah ada tanda tangan Pak Anderson sebagai pewaris beserta capnya," ujar pengacara itu.


"Apa? Tidak, aku tidak bisa terima ini." Sang bibi langsung menarik surat wasiat dari tangan pengacara itu lalu hendak merobeknya, tapi dicegah oleh Boy.


Mendengar perkataan Boy, wanita paruh baya itu langsung diam dan menyetujui meski ada kesan tidak rela di wajahnya, tapi itu lebih baik dari pada tidak ada sama sekali bagian untuk kedua anaknya.


.


.


.


Masalah kini telah selesai, Boy kembali ke ruang keluarga di mana Zafran dan Akmal masih duduk di sana sambil bercerita, tapi tidak dengan Khaira yang sudah tertidur pulas di atas sofa.


"Boy, bawa istrimu ini ke kamarmu, kasihan dia, sepertinya dia sangat lelah dan kurang tidur," ujar Zafran.


"Iya, Pa." Boy mengangkat tubuh Khaira ala bridal style menaiki lantai dua menuju kamarnya.


Boy meletakkan Khaira di atas kasur dengan sangat hati-hati. Ia duduk sejenak di samping wanita itu sambil menatapnya penuh takjub. Ia mengagumi semua yang ada pada istrinya ini sejak awal, tak hanya kecantikannya, tapi juga kebaikannya.


Tanpa di sadari, Boy mengulas senyum saat mengingat bagaimana usahanya selama ini untuk bisa mendekati Khaira, sejak ia dijuluki Bad Boy oleh semua orang, hingga ia dikenal sebagai Good Boy di kalangan pesantren dan orang-orang yang dekat dengannya.


"Terima kasih yah, karena sudah selalu ada di saat aku merasa terpuruk. Entah apa yang terjadi padaku saat ini jika kamu tidak ada. Aku bersyukur, Allah benar-benar Maha Baik."


Boy menunduk dan mendekati wajah Khaira untuk memberikan sebuah kecupan pertama di kening wanita yang kini telah menjadi istrinya.


"Aku mencintaimu, Istriku."


***


Keesokan harinya, mereka tengah bersiap untuk pulang. Jalur transportasi udara kembali menjadi pilihan mereka agar lebih cepat sampai.


Sebelum memasuki pesawat, Boy mendapat sebuah pesan dari Ali yang membuatnya seketika gelisah dan tidak tenang.


Assalamu 'alaikum, Boy.


Kamu di mana? Kenapa kamu hilang seperti di telan bumi? Apa kamu sudah menikah dengan gadis istimewamu? Jika memang benar, maka kamu jahat sekali karena tidak mengabariku. Oh iya, hari ini aku juga akan melamar gadis istimewaku, doakan agar semuanya lancar yah :)


"Kenapa, Kak? Kenapa wajahmu pucat begitu?" tanya Khaira yang mendapati wajah Boy seketika pucat dan tidak tenang.


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja." Meski rasanya berat, tapi ia sadar, semuanya harus ia hadapi.


Dua jam telah berlalu sejak keberangkatan. Kini mereka telah tiba di kediaman Zafran setelah melalui taksi dari bandara. Zafran dan Akmal berjalan lebih dulu, sementara Boy dan Khaira berjalan di belakang sambil bergandengan tangan.


Keempat orang itu menghentikan langkah kakinya saat mendapati Ali dan kedua orang tuanya sudah berada di ruang tamu.


Ali bahkan berdiri dengan senyuman lebar saat melihat Khaira telah datang. Namun, senyuman itu perlahan memudar saat melihat Boy ada di sampingnya sambil bergandengan tangan dengannya.


-Bersambung-