He's Not A Bad Boy

He's Not A Bad Boy
Bab 22 - Hadiah dari Abah



Aku percaya, dia yang di takdirkan untukku, walau bagaimana pun jauhnya jarak di antara kita, pada akhirnya akan tetap bertemu. Sebaliknya, sedekat apa pun jarak kita, bila tidak ditakdirkan bersama, pada akhirnya akan menjauh juga.


_________________________________________


Satu setengah tahun kemudian.


Hari ini adalah hari kelulusan Khaira di jenjang pendidikan SMA. Khaira yang di dampingi kedua orang tuanya berdiri di hadapan semua orang untuk menerima penghargaan atas prestasinya sebagai lulusan terbaik.


Rasa syukur yang teramat besar tak henti-hentinya keluar dari bibir gadis berhijab itu. Berjuang di tanah orang tanpa sanak keluarga memanglah tidak mudah, ujian demi ujian datang silih berganti, hingga akhirnya semuanya berhasil ia lewati dengan baik.


Usai mengikuti acara kelulusan itu, Khaira beserta adik dan kedua orang tuanya langsung kembali ke kota asalnya dengan penuh suka cita.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 8 jam, akhirnya Khaira dan keluarganya tiba di kota asal mereka tepat di malam hari. Rupanya, di sana ia kembali di sambut dengan acara syukuran yang sengaja di atur oleh Oma Sofi sebagai kejutan atas kepulangan cucu kesayangannya.


"Oma!" teriak Khaira langsung menghambur memeluk wanita usia lanjut yang berdiri di depan rumah. Rasa rindu yang teramat besar akhirnya bisa ia salurkan setelah dua tahun tak pernah bertemu karena keputusannya untuk bekerja.


"Dasar cucu nakal, bisa-bisanya kamu tidak pernah pulang ke sini selama dua tahun terakhir, apa kamu tidak merindukan omamu yang sudah tua ini?" Oma Sofi melepas pelukannya lalu mencubit hidung Khaira hingga gadis itu meringis.


"Ampun, Oma. Khaira nggak akan gitu lagi deh, Khaira janji," ujar Khaira lalu kembali memeluk Oma Sofi dengan sayang.


"Sudah-sudah, kalian masuk dulu, diluar lagi dingin, banyak keluarga yang sudah menantimu di dalam," ujar Zafran kepada ibu dan putrinya, membuat kedua wanita beda generasi itu akhirnya masuk bersama. Khaira menggandeng erat tangan Oma Sofi sambil menyandarkan kepalanya di pundak sang nenek dengan begitu manja.


Khaira dibuat terharu saat ia mendapati keluarga besarnya sudah menunggu di ruang keluarga. Ada Akmal, Aisyah dan si kembar Ammar dan Ameer, lalu ada Billy, Aira dan anak gadis mereka, Mahra, lalu ada Abah Rahman dan Ummi Lina.


Semuanya tampak bersuka cita menyambut kedatangan anak gadis yang sejak kecil sudah merepotkan mereka semua.


"Akhirnya gadis merepotkan ini datang juga," ujar Akmal mulai mengganggu keponakannya itu.


"Ish, apaan sih Om, jangan mulai deh, Khaira lagi capek nih," ujar Khaira sambil memanyunkan bibirnya dan duduk bersama Oma Sofi di sofa besar bersama yang lain.


"Ish, dasar manja," cibir Akmal membuat Oma Sofi langsung menatapnya dengan tajam. "Sesama orang manja jangan saling mencibir," ujar Oma Sofi mengingatkan.


"Aku? Manja?" Akmal menunjuk dirinya dengan wajah yang menampilkan ekspresi lebay.


"Lah iya, manja sama istri kamu, iya 'kan Aisyah?" Aisyah tersenyum di balik cadarnya lalu mengangguk membenarkan perkataan Oma Sofi, sontak semua orang diruangan itu langsung tertawa.


Mereka pun mulai saling berbagi cerita satu sama lain, sesekali mereka tertawa bersama, dan ada juga yang terkejut serta antusias saat Khaira menceritakan pengalamannya di culik. Hingga tiba waktu makan malam, mereka semua pun mulai makan bersama dengan penuh hikmat.


Usai makan malam, mereka kembali berkumpul di ruang keluarga sambil bercerita. Kali ini topik pembicaraan mereka adalah rencana Khaira selanjutnya usia lulus SMA.


"Jadi, apa rencanamu selanjutnya, Khaira?" tanya Abah Rahman.


"Khaira mau kuliah, Kakek Abah. Tapi Khaira masih bingung karena Khaira lulus di dua universitas yang berbeda melalui jalur berbeda," jawab Khaira.


"Alhamdulillah, luar biasa cucu Abah ini. Di mana saja kamu lulus, Nak?"


"Di Universitas A di Singapura, dan Universitas A di kota ini."


"Jika kamu merasa bingung, coba sholat istikharah, Nak. Biarkan Allah menunjukkan mana yang terbaik untukmu."


"Iya, Kakek Abah."


"Ingat, Nak. Di dalam atau di luar negeri, terkenal atau pun tidak sebuah tempat kuliah itu, bukanlah penentu yang terbaik untukmu, karena setiap orang beda-beda rezekinya, baik untuk orang lain belum tentu baik untukmu, begitu pun sebaliknya."


Khaira menganggukkan kepala membenarkan perkataan Kakek Abahnya itu.


.


.


.


Tak langsung berbaring, Khaira berjalan menuju balkon kamar dan menatap bintang yang bertaburan begitu indah. Tubuhnya begitu lelah, tapi ia juga ingin melepaskan kerinduannya pada rumah dan lingkungannya yang begitu asri.


"Apa kabar kamu? Di mana kamu sekarang? Sudah cukup lama kita tak saling bertemu, tanpa kabar apa pun. Kuharap kamu baik-baik saja di mana pun kamu berada," batin Khaira sambil tersenyum menatap langit.


"Aku tidak pernah berharap bertemu denganmu, tapi jika Allah memberiku kesempatan bertemu lagi denganmu, aku akan sangat senang."


***


Beberapa hari kemudian, di sebuah lingkungan pesantren, tepatnya di rumah Kiai Rahman atau yang lebih sering dipanggil Abah Rahman, terlihat seorang laki-laki muda tengah sibuk menurunkan beberapa kardus buku baru dari mobil sang pemilik pesantren.


"Sudah semua, Nak?" tanya Abah Rahman.


"Alhamdulillah sudah, Abah," jawab laki-laki itu sambil menyeka keringat yang mengalir membasahi pelipisnya.


"Ya sudah, masuklah dulu ke dalam, Nak. Kita istirahat, kamu pasti lelah seharian menemani abah membeli buku yang diperlukan pesantren."


"Baik, Abah."


Kedua lelaki beda usia itu kini masuk ke dalam rumah Abah Rahman. Di dalam Ummi Lina telah menyiapkan minuman dan beberapa cemilan.


"Bagaimana perasaanmu selama satu tahun bersekolah di sini, Nak?" tanya Abah Rahman.


"Alhamdulillah, rasanya tenang, Abah, meski sulit di awal, sekarang sudah terbiasa dan nyaman dengan kehidupan di pesantren ini," jawab laki-laki itu.


"Alhamdulillah, semoga Allah memberkahi kehidupanmu, Nak." Abah Rahman menepuk pelan punggung laki-laki itu.


"Oh iya, karena kamu benar-benar memperlihatkan keseriusanmu untuk belajar dan terus memperbaiki diri, abah punya hadiah untukmu," lanjutnya sembari mengambil sebuah amplop dari laci meja di depannya lalu ia berikan kepada laki-laki itu.


"Apa ini, Abah?"


"Buka saja, Nak."


Laki-laki itu mulai membuka amplop dengan hati-hati dan mulai membaca isi dari amplop itu. Beberapa detik kemudian, mata laki-laki itu terlihat berembun.


"Apa ini untukku, Abah?" tanya laki-laki itu tidak percaya dan mendapat anggukan dari Abah Rahman.


"Alhamdulillah." Laki-laki itu langsung melakukan sujud syukur. Ia benar-benar tidak menyangka kesempatan itu akan datang kepadanya.


"Terima kasih, Abah," lanjutnya langsung menyalami tangan laki-laki yang selama ini membimbingnya dengan begitu sabar dan kini memberikan hadiah besar kepadanya.


.


.


.


Usai kepergian laki-laki muda tadi, Ummi Lina ikut duduk di samping sang suami. "Boy, anak itu benar-benar baik dan tulus. Aku sempat tidak percaya saat mendengar ceritanya bahwa dulu dia adalah anak geng motor," ujar Ummi Lina.


"Sejak awal bertemu, aku tahu di laki-laki baik, aku bersyukur dia memilih tempat ini sebagai pilihan terakhirnya di saat ia mulai patah semangat," sambung Abah Rahman.


"Apa menyekolahkan dia ke Kairo adalah pilihan yang tepat? Katanya dia sering tinggal kelas dulu," tanya Ummi Lina.


"Dia sebenarnya adalah anak yang cerdas, daya ingatnya kuat, hanya saja lingkungan hidupnya dulu yang membuatnya seperti itu."


-Bersambung-