He's Not A Bad Boy

He's Not A Bad Boy
Bab 45 - Belajar Ikhlas



Tubuh Silvi bergetar usai mendorong sebuah troli ke arah Khaira. Jantungnya berdebar lebih cepat, ia benar-benar ketakutan luar biasa saat ini. Dengan menggunakan seluruh tenaga yang ia miliki, ia memaksa kakinya untuk melarikan diri, tapi seorang laki-laki tiba-tiba menghadang jalannya dengan tatapan serius.


.


.


.


"Kenapa kamu lakukan itu, Dik?" tanya Ali yang kini berdiri di hadapan Silvi sambil memijit pangkal hidungnya.


"A-aku ... Aku hanya ...." Silvi tertunduk lalu menarik napas dalam sebelum melanjutkan perkataannya. "Aku pernah membenci Khaira, tapi kebencianku sempat surut saat aku masuk pesantren, saat aku tahu statusku dengan Boy ternyata adalah saudara tiri, aku begitu kecewa dan marah, Kak, semua usaha yang telah kulakukan saat ini untuk mendapatkan hatinya hanyalah sia-sia. Sekarang aku mendapat fakta baru, jika Boy sudah menikahi Khaira. Hatiku hancur, Kak. Takdir benar-benar kejam padaku, kenapa harus dia, kenapa bukan aku, hiks." Silvi menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu menangis.


Ali membuang napas kasar, mungkin bisa dikatakan dirinya adalah saksi bagaimana usaha Silvi mendapatkan hati Boy selama di Kairo, tapi ia tidak menyangka gadis itu akan berbuat nekat pada Khaira.


Ali maupun Silvi saat ini sedang berada di samping minimarket. Ali memilih tempat itu karena meskipun banyak orang yang lalu lalang, tapi Boy dan Khaira tidak akan melihatnya. Ia tahu bagaimana Boy jika marah, dan ia khawatir gadis di hadapannya ini akan semakin terluka jika ia bertemu Boy yang sedang marah.


"Tapi caramu tidak bisa dibenarkan Silvi, Khaira tidak bersalah, dia hanya tidak sengaja berada di antara kalian. Jodoh itu sudah di atur Silvi, jika Boy bukan jodohmu, insya Allah ada laki-laki diluar sana yang lebih baik untukmu," ujar Ali.


"Aku sakit hati, Kak. Aku kecewa, hiks."


Ali kembali membuang napas, lalu mengambil sebuah sapu tangan dari dalam saku celananya.


"Aku tahu, awalnya memang sakit, Dik, itu wajar karena kamu memiliki perasaan, tapi belajarlah untuk ikhlas, insya Allah seiring berjalannya waktu, semua akan baik-baik saja untukmu." Ali menyodorkan sapu tangan itu kepada Silvi.


Gadis itu langsung mengambil sapu tangan dari tangan Ali dan mengeringkan air mata sekaligus air hidung yang juga ikut keluar. Untuk sesaat mereka saling diam tak berbicara lagi.


"Aku pulang dulu, dan kuharap kamu tidak lagi melakukan hal yang tidak dibenarkan seperti tadi." Ali mulai melangkah pergi.


"Tunggu, Kak. Bagaimana dengan sapu tanganmu?" tanya Silvi dengan suara yang sedikit ditinggikan karena jarak Ali sudah semakin jauh.


"Simpan saja dulu, kamu bisa mengembalikannya nanti," jawab Ali dengan suara yang ikut ditinggikan.


Silvi kini menatap punggung Ali yang kini menghilang dibalik dinding minimarket.


"Terima kasih, Kak."


***


Akibat insiden mengejutkan di minimarket tadi, Khaira mengalami kaki terkilir dan nyeri di bagian panggul karena berbenturan dengan troli yang full dengan barang itu. Boy kini membawa sang istri ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan.


"Siapa sih yang dorong troli itu. Bikin kesel aja, ck," tanya Boy sambil berdecak kesal.


"Kadang tidak tahu itu lebih baik, kak. Ya sudahlah biarkan saja, mungkin dia juga tidak sengaja," tukas Khaira.


"Ya meski tidak disengaja, harusnya dia tanggung jawab, minimal minta maaf, ini malah lari, itu namanya lempar batu sembunyi tangan."


"Yang sabar, Kak. Sabar, suami sabar di sayang istri loh," celetuk Khaira.


Boy seketika menahan senyumnya mendengar perkataan sang istri. Bisa-bisanya wanita itu mengatakan sesuatu yang terdengar manis saat hatinya sedang panas.


"Nah, kan bagus kalau sabar, tenang, dan adem," sambung Khaira sambil mengelus lengan Boy, tapi dengan cepat Boy menahan tangannya dan memberi beberapa kecupan hangat di sana sambil tersenyum.


***


Usai mendapat penanganan di rumah sakit, keduanya kini pulang saat langit sudah menggelap dan bulan mulai menampakkan cahaya. Boy mengeluarkan semua barang belanjaan yang tadi sempat mereka beli ke depan rumah dan meminta asisten rumah tangga membawanya ke dapur. Setelah itu barulah ia membantu sang istri untuk keluar dari mobil.


"Simpan saja kruknya di mobil, Sayang. Selama aku ada, biar aku yang menggendongmu kemana pun kamu mau," ujar Boy.


Khaira menuruti perkataan Boy, kemudian laki-laki itu mulai menggendongnya ala bridal style. Khaira cukup nyaman berada dalam gendongan suaminya itu karena bisa menyandarkan kepala pada ceruk lehernya yang wangi kasturi.


Zafran dan Ainun, serta Oma Sofi yang melihat keadaan Khaira langsung berdiri menyambut kedatangan mereka dengan sederet pertanyaan dan kekhawatiran.


Boy membaringkan Khaira sejenak di sofa sambil meluruskan kakinya yang sudah diperban, kemudian mengganjal kakinya itu dengan bantal agar lebih tinggi dari jantung. Setelah itu barulah ia menjawab satu per satu pertanyaan yang dilontarkan keluarganya agar mereka bisa tenang.


Usai menjawab semua pertanyaan dari mertua dan nenek mertuanya, Boy membawa sang istri untuk berisitirahat di kamar. Ia kembali memposisikan istrinya sebagaimana saat di sofa tadi.


"Kamu di sini dulu yah, aku akan mengambilkan makanan untukmu," ucap Boy sambil mengusap pucuk kepala sang istri degan begitu lembut.


Tak menunggu lama, Boy kini telah kembali dengan membawa sebuah baki besar berisi satu piring makanan dengan porsi dua orang, satu gelas air putih, satu gelas teh hangat, dan sebuah kantung kompres berisi es batu.


Boy mendudukkan Khaira sambil bersandar, kemudian menempelkan kantung kompres di atas kakinya guna mengurangi nyeri dan pembengkakan, kemudian mulai menyuapinya makanan.


"Aku bisa makan sendiri, Kak."


"Tapi kamu sakit, Sayang."


"Hanya kakiku yang sakit, Kak."


"Biarkan suamimu ini memperlakukanmu seperti ratu, jadi tenanglah dan buka mulut kamu," ujar Boy, membuat Khaira langsung diam dan patuh.


Boy mulai menyuapi sang istri sambil menyuapi dirinya sendiri yang memang belum makan. Sesekali Boy membuat lelucon hingga Khaira tertawa.


"Setelah makan, jangan langsung minum teh, Kak. Teh mengandung senyawa yang bisa menghambat penyerapan zat besi dari makanan, apalagi aku ada riwayat anemia, jadi tehnya nanti baru aku minum yah," ujar Khaira saat Boy mulai menawarkan teh kepadanya setelah makan.


"Baiklah, Sayang. Minum air putih saja kalau begitu." Boy memberikan segelas air putih untuk diminum oleh Khaira, lalu membantunya beristirahat.


***


Beberapa hari telah berlalu. Boy diminta oleh Abah Rahman untuk menggantinya mengunjungi pesantren cabang yang berada diluar kota bersama beberapa pimpinan pesantren. Beruntung saat itu, kaki Khaira sudah pulih sehingaa Boy bisa berangkat dengan tenang.


Hari ini tepat sudah satu minggu Boy di luar kota, dan ia sudah mengabari sang istri jika malam ini ia akan tiba. Sayangnya, Khaira sedang mendapat bagian shift malam di bagian UGD.


Jam dinding di UGD telah menunjukkan pukul 10 malam. Entah kenapa Khaira merasa gelisah sejak tadi, kabar akan kepulangan sang suami pun tak kunjung ia terima. Ingin sekali ia menghubungi suaminya tapi keadaan di UGD yang masih sibuk membuatnya kesulitan.


"Teman-teman, dalam beberapa menit, ambulans akan datang membawa korban kecelakaan mobil, kita harus bersiap," seru salah perawat yang baru saja mendapat telepon darurat.


Khaira dan teman-temannya mulai bersiap, tak lama setelah itu terdengar suara serine beberapa ambulans yang semakin lama semakin dekat dan akhirnya berhenti. Satu per satu korban kecelakaan itu di turunkan dan di dorong masuk ke UGD dengan menggunakan brankar.


Khaira mendatangi salah satu korban untuk membantu memberikan penanganan. Namun,


mata Khaira seketik membola, napasnya tertahan dan jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat korban kecelakaan di hadapannya yang bersimbah darah.


"Kakak!"


Beberapa detik berikutnya tubuh Khaira ambruk tak sadarkan diri.


-Beesambung-