
Beberapa minggu berlalu, Khaira masih berada di zona ngidam yang benar-benar membuatnya hanya bisa beristirahat di rumah, bahkan karena itu ia harus mengambil cuti bedrest dari koasnya.
Morning sickness yang Khaira alami rupanya membuat Boy juga harus mengambil cuti guna bisa mengurus sang istri, meski ia masih tinggal di rumah mertua. Padahal ia sudah membeli rumah untuk mereka tempati sendiri, hanya saja ia sadar saat ini Khaira sedang membutuhkan sosok sang ibu dikehamilannya yang pertama.
Seperti saat ini, Khaira memilih beristirahat di teras depan rumah bersama sang suami tercinta. Tak hanya mereka berdua, bahkan Ainun, Umar yang sedang libur, dan Oma Sofi juga ikut menemani mereka sambil berbincang.
"Kak, jika aku meminta sesuatu yang agak sulit karena ngidamku, apa kamu masih akan mengabulkannya?" tanya Khaira tiba-tiba, membuat semua orang yang ada di sana seketika langsung saling pandang.
Ya, meminta sesuatu yang sulit saat ngidam memang bukan pertama kalinya dilakukan Khaira, sebelumnya ia pernah ngidam sesuatu yang hanya ada di kota kelahiran Boy, beruntung ada Silvi yang langsung datang membawakannya.
"Insya Allah, Sayang," jawab Boy dengan senyuman, meski hatinya sedikit gelisah.
"Aku ingin makan mangga muda punya Pak Gunawan yang itu, dari tadi aku ngiler lihatnya." Khaira menunjuk pohon mangga yang ada di samping rumahnya.
"Oh, itu saja, tidak sulit kok," ucap Boy dengan perasaan lega. "Umar, ayo temani abang ke sana," sambungnya mengajak sang adik ipar.
"Oke, Bang. Syukurlah peemintaan Kakak kali ini lebih mudah." Umar dengan entengnya langaing ikut karena menganggap keinginan kakaknya kali ini lebih mudah dari biasanya.
"Eet, tunggu di sini dulu." Khaira menahan kedua lelaki itu lalu segera pergi ke kamarnya.
"Ada apa dengannya, Bang?" tanya Umar mulai gelisah.
"Mungkin ngambil kantong buat mangganya," jawab Boy santai.
Tak lama setelah itu, Khaira datang dengan membawa dua daster dan dua kantong plastik. "Kalian pake ini dan panjat sendiri, yah. Maaf semalam aku memimpikan cerita wanita tangguh, seketika aku ingin melihatnya, tapi tidak mungkin aku meminta Mama dan Oma, makanya kalian yang gantikan, dan pake ini biar terlihat seperti wanita.
Wajah kedua lelaki itu seketika memucat, apalagi saat Khaira meletakkan daster itu di tangan mereka masing-masing. "Bang, aku tarik kembali kata-kataku kalau permintaan Kakak kali ini mudah," bisik Umar.
"Aku juga, sepertinya dari semua permintaan ini yang paling sulit, kita harus bertarung nyawa dan harga diri," timpal Boy ikut berbisik.
"Kenapa diam? ayo pake, tenang aja, aku yang akan minta izin sama Pak Gunawan, kalian tinggal eksekusi. Oke?" Khaira langsung berjalan cepat sambil menarik tangan dua lelaki yang kini terlihat pasrah itu.
Ainun dan Oma Sofi kini hanya menahan tawa melihat mereka. Entah kenapa Khaira begitu semangat kali ini, biasanya saat jam-jam begini, ia akan lebih sering berbaring karena pusing.
.
.
.
Boy dan Umar kini sedang berjuang memanjat pohon menggunakan daster, dengan kantong plasfik yang di ikatkan di leher mereka.
"Bang, doakan aku, semoga tak ada teman sekolah yang melihatku di sini, bisa hancur masa depanku di kalangan para wanita jika itu sampai terjadi," lirih Umar dengan wajah memerah karena menahan malu.
"Aamiiin, doakan aku juga semoga tidak ada santri yang melihatku, hancur reputasiku jika itu terjadi," balas Boy.
Kedua lelaki itu kini mulai memetik beberapa buah sambil sesekali melihat ke arah Khaira yang sedang asik berbincang dengan seorang gadis muda tanpa hijab.
"Bang, dia siapa?" tanya Umar yang penasaran karena gadis itu terlihat sebaya dengannya.
"Entahlah, memangnya kenapa?"
"Cantik, Bang," jawab Umar sambil nyengir hingga tak sadar jika ia baru saja menginjak sarang semut rang-rang.
"Bang, Bang, apaan nih, sakit ... Aww." Umar meringis kesakitan saat beberapa semut rangrang mulai menyerbunya.
"Hey, ada apa, Umar? ... Aww aww." Boy juga meringis saat semut itu menyerang kaki hingga ke tubuhnya.
Kedua lelaki itu dengan cepat merosot turun sambil menggaruk tubuhnya seperti sedang bergoyang, membuat kedua wanita yang ada di bawah langsung tertawa.
Beberapa menit berlalu.
Boy dan Umar kini sudah kembali ke rumah dengan wajah kusut. Pakaian atas mereka terpaksa dilepas karena badan mereka terasa panas akibat gigitan semut rang-rang.
"Beneran nih, Kak?"
"Iya, beneran kalau dari akunya, kalau dari babynya aku tidak bisa janji," ujar Khaira dengan wajah serius, membuat Boy dan Umar kembali saling pandang dan langsung menepuk jidat mereka.
***
Di sebuah kantor pesantren, Abah Rahman memanggil Ali ke ruangannya. Sudah beberapa hari ini ia merasa tidak enak badan sehingga ia hanya berdiam diri di dalam ruangannya.
"Nak, Ali, bisa kah kamu menggantikan abah ke kota B? Abah sedang kurang enak badan untuk mengikuti kegiatan pertemuan pimpinan pesantren di sana. Biasanya Boy yang akan menggantikan abah ke sana, tapi sekarang dia cuti," pinta Abah Rahman.
"Bisa Abah, insya Allah. Kapan waktunya?"
"Besok kegiatannya, jadi kamu bisa berangkat ke sana malam ini."
"Baik, Abah. Insya Allah."
.
.
.
Malam itu Ali baru saja tiba di bandara kota B. Rencananya malam ini ia akan berisitirahat di hotel yang jaraknya sangat dekat dengan lokasi kegiatan besok.
Ali berjalan memasuki lobby sambil menyeret koper. Setelah mendapat kunci kamar, ia melanjutkan jalan menuju lantai 3 di mana kamarnya berada. Laki-laki itu dibuat cukup terkejut saat sosok yang sangat tidak asing baginya ternyata berada di lift yang sama dengannya.
"Silvi?"
Pandangan keduanya sejenak saling bertemu sebelum akhirnya Ali menundukkan pandangannya. Berada di lift yang sama hanya berdua membuat keduanya saling diam sejenak.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Ali memulai pembicaraan.
"Lagi ikut pertemuan pesantren, sepertinya alasan Kakak ke sini juga sama," tebak Silvi dan mendapat anggukan dari Ali.
"Oh iya, apa kabar, Kak?" tanya Silvi.
"Alhamdulillah, baik. Kamu?" tanya Ali kembali.
"Alhamdulillah, baik juga," jawab wanita itu sambil memeriksa isi tasnya.
"Ini, Kakak Ali pernah berkata jika kita bertemu kembali, aku bisa mengembalikannya padamu, 'kan? Berarti sekarang sudah waktunya."
Ali sedikit tercengang saat melihat sapu tangan legendarisnya berada di hadapannya saat ini. Ia tidak menyangka jika Silvi akan lebih cepat mengembalikan sapu tangan itu. "Oh, baiklah, terima kasih." Ada rasa tidak rela mengambilnya saat ini, tapi ia tak memiliki alasan lagi untuk meminta Silvie menyimpannya.
Tak lama setelah itu, beberapa orang ikut masuk ke dalam lift dan sedikit sempit hingga membuat keduanya semakin mendekat.
"Dik, apa kamu sudah bisa melupakan Boy?" lirih Ali.
"Hmm, alhamdulillah, sepertinya begitu, Kak. Perlahan aku sudah bisa menerima Boy sebagai Kakakku dan Khaira sebagai Iparku," jawab Silvi.
"Alhamdulillah, kalau begitu apa sudah ada yang mengkhitbahmu?" tanya Ali, kali ini ia harus segera memastikan agar ia tidak terlambat lagi.
"Belum sih, memangnya ada apa, Kak?" tanya wanita itu.
"Ada yang ingin mengajakmu ta'arruf."
Silvi terkejut mendengar perkataan Ali, ia hendak bertanya lagi tapi pintu lift terbuka saat berada di lantai yang ia tuju, mau tidak mau wanita itu harus segera keluar.
-Bersambung-