
Allah tidak akan mendatangkan ujian tanpa mengiringnya dengan kebaikan. Pun Dia tak akan memberi ujian melebihi batas kemampuan hambaNya. Lalu apa yang harus dikhawatirkan selama iman dan sabar masih terjaga?
__________________________________________
Khaira perlahan membuka matanya setelah beberapa jam ia tidak sadarkan diri. Matanya berkedip beberapa kali saat cahaya lampu menyilaukan pandangannya.
"Kamu sudah sadar, Sayang?" Khaira langsung menoleh saat ia mendengar suara yang sangat tidak asing itu.
"Kakak?" Khaira refleks ingin bangkit dari tidur kala tatapannya menangkap sosok sang suami yang tadi sempat membuatnya shock dan akhirnya jatuh pingsan.
"Et et et, jangan bangun dulu, berbaringlah agar tenagamu kembali pulih." Boy menahan tubuh sang istri dengan begitu lembut.
"Apa yang terjadi, Kak? Apa kamu baik-baik saja?" Khaira memegang tangan Boy yang saat ini sedang berdiri dengan bantuan kruk.
"Mobil yang kami gunakan saat kembali tidak sengaja menabrak pembatas jalan, kepalaku terbentur sedikit dan ligamen lututku mengalami sedikit cedera karena terbentur begitu keras. Tapi terlepas dari itu, aku baik-baik saja, Sayang," jawab Boy dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya.
"Alhamdulillah, aku jadi lebih tenang sekarang." Alula mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia kini mengerutkan dahinya saat melihat Boy masih saja tersenyum, binar matanya menujukkan kebahagiaan di sana.
"Kenapa Kakak senyum-senyum, sepertinya lagi bahagia banget?" tanya Khaira penasaran.
"Aku memang sangat bahagia sekarang, Sayang. Sepertinya Allah mengirim aku ke rumah sakit ini karena ada kabar bahagia yang sedang menanti."
"Kabar bahagia?" Alula semakin mengerutkan dahinya.
"Iya, kamu tahu apa itu?" Khaira menggeleng pelan menanggapi pertanyaan sang suami.
"Kamu hamil, Sayang," ucap Boy lalu mengecup seluruh wajah Khaira dengan begitu hangat.
Jantung Khaira seketika berdebar. Ia yakin tidak salah dengar, tapi ia ingin memastikan jika yang dikatakan suaminya saat ini bukan candaan.
"Aku hamil?"
Boy mengangguk pelan. "Saat kamu pingsan tadi, dokter yang memeriksamu menemukan tanda kehamilan padamu, dan tadi dokter obgyn langsung turun tangan melihatmu dan ikut memeriksa untuk memastikan kebenarannya, dan alhamdulillah, kamu memang sedang hamil, Sayang. Selamat yah, aku sangat bahagia."
Air mata Khaira kini tak terbendung lagi. Sama halnya dengan Boy, Khaira merasa sangat bahagia saat ini. Ia tidak menyangka kabar bahagia ini akan ia dapatkan setelah mendapat musibah.
"Apa Papa dan Mama sudah tahu?" tanya Khaira kemudian setelah mengusap air mata yang telah lolos membasahi pipi hingga bantal.
"Sudah, mereka sedang dalam perjalanan ke sini sekarang," jawab Boy.
Tak lama setelah itu, Zafran, Ainun, Oma Sofi, serta Umar datang tergopoh-gopoh memasuki kamarnya. Perasaan mereka campur aduk saat ini saat melihat kondisi Khaira dan Boy, ada rasa khawatir sekaligus bahagia yang tak bisa mereka gambarkan sekaligus melalui wajah mereka, yang jelas, ucapan syukur tak henti-hentinya mereka ucapkan atas semua yang telah terjadi.
"Alhamdulillahi 'alaa kulli haal."
.
.
.
Keesokan harinya, Khaira dan Boy telah dibolehkan untuk pulang. Mereka sangat bersyukur karena semua kekhawatiran kini telah terlewati. Meski Boy masih harus memakai kruk saat berjalan, ia sangat antusias dalam memantau persiapan acara resepsinya yang akan berlangsung dalam hitungan hari di sebuah hotel mewah yang ada di kota A.
"Iya, Sayang. Ayo!" Boy menarik tangan Khaira dengan begitu lembut lalu membawanya keluar menuju mobil mereka, di mana kini giliran Khaira yang akan mengemudikan mobil.
Tanpa mereka sadari, dari jauh seorang wanita tengah menatap mereka dari jauh dengan tangan yang mengepal. Sudah beberapa hari ia berusaha mengikhlaskan semua yang telah terjadi. Namun, tiap kali melihat kedekatan Khaira dan Boy, hatinya akan kembali merasa sakit.
Niat hati ingin menghibur diri dengan mendapatkan beberapa perawatan di hotel itu, ia justru mendapatkan fakta bahwa pernikahan orang yang ia cintai tapi tak bisa ia miliki akan berlangsung di hotel itu juga. Begitu banyak rencana buruk yang tiba-tiba hadir dalam pikirannya saat ini, tapi sebisa mungkin ia redam.
Bukankah cinta sesungguhnya itu akan mendatangkan kebaikan? Bukankah cinta itu perasaan yang tulus? Terlepas dari fakta bisa atau tidaknya dimiliki. Lalu, apakah masih bisa dikatakan cinta jika rasa ingin memiliki lebih besar daripada rasa peduli? Apakah masih bisa dikatakan cinta jika rela menyakiti demi memiliki? Tidak, itu obsesi!
Tak ingin tenggelam dalam luka yang berlarut-larut, wanita itu memutuskan untuk kembali ke rumahnya dengan mengendarai taksi. Ia telah berusaha keras menahan air matanya untuk keluar, tapi pada akhirnya keluar juga bersamaan dengan rasa sesak di dadanya yang sejak tadi ia pendam.
"Maaf, Pak. Bapak punya tissue?" tanya Silvi dengan suara bergetar.
"Maaf, Mbak, ini baru saja habis." Supir taksi itu mengangkat kotak tissuenya yang sudah kosong.
Silvi akhirnya memeriksa tasnya dan hanya menemukan sebuah sapu tangan milik Ali yang sudah ia cuci dan hendak ia pulangkan. Tak ada pilihan lain, ia kembali memakai sapu tangan itu untuk menghapus air matanya.
Jalan kini semakin terasa sepi saat ia memasuki sebuah jalan yang minim pencahayaan. Beberapa saat kemudian, taksi yang ia tumpangi harus berhenti secara tiba-tiba.
"Ada apa, Pak?" tanya Silvi.
"Ini, Mbak. Ada yang baru saja mengalami kecelakaan," jawab supir taksi itu sambil menunjuk seorang laki-laki yang tengah pingsan di depan mobilnya.
"Ya udah, Pak. Tolongin gih, kasihan dia," ujar Silvi tanpa merasa curiga sama sekali.
Tepat saat sang supir keluar, beberapa anak geng motor langsung datang dan langsung memukul supir itu hingga pingsan. Silvi mulai panik saat mereka mulai membuka pintu belakang taksi dan menyeretnya keluar secara paksa.
Teriakan minta tolong darinya pun tak berarti lagi saat ini, tak ada yang mendengarnya. Silvi benar-benar ketakutan, ingin melawan pun ia tak kuasa.
"Cantik, Bos!" seru salah satu dari mereka.
"Ya sudah, seret dia masuk hutan, kita bisa berpesta di sana," balas pemimpin mereka sambil tertawa.
"Kumohon jangan lukai aku, ambil saja semua uangku dan biarkan aku pergi dari sini." Silvi memohon dengan berderai air mata, bahkan ia sampai berlutut dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Bukannya kasihan, mereka semua malah tertawa. "Bukan begitu konsepnya, Cantik. Jika bisa mendapatkan dua, kenapa harus memilih satu?" Pemimpin dari geng motor itu kembali tertawa lalu memberi kode kepada anak buahnya agar tetap membawa Silvi ke dalam hutan.
Wanita itu kini di dudukkan di atas tanah yang hanya beralaskan daun kering dengan mulut yang ditutup dengan lakban, tangan dan kaki yang diikat. Segerombolan anak geng motor itu kini berdiri di depannya, sang pemimpin dan antara mereka kini menghampiri Silvi sambil menghisap rokok dan mengembuskan asap tepat di wajahnya.
Tubuh Silvi semakin bergetar ketakutan, seketika ingatan tentang apa yang pernah ia lakukan kepada Khaira berputar bagai kaset rusak. Rencana untuk menculik Khaira dan mencelakainya hingga wanita itu hampir mat!.
"Apa ini karmaku?"
"Kamu sungguh sangat cantik, Sayang. Apa kamu sudah siap? Tenang saja aku akan membuatmu melayang, Sayang." Tangan laki-laki itu kini mulai meraba pundak Silvi dengan penuh hasrat hingga membuat wanita itu semakin menangis ketakutan.
Hanya dalam satu tarikan, kerudung yang digunakan Silvi langsung sobek dan memperlihatkan rambut hitamnya. Mata laki-laki itu kini mulai ditutupi awan hitam. Hasratnya semakin memuncak melihat kecantikan dari wanita di hadapannya.
"Siapa pun di luar sana, tolong selamatkan aku." Teriak Silvi dalam hati dengan mata yang terpejam ketakutan.
-Bersambung-