He's Not A Bad Boy

He's Not A Bad Boy
Bab 48 - Ibu



"Boy, maaf ...."


"Sayang, ayo kita ke kamar." Boy menarik tangan Khaira meninggalkan wanita paruh baya itu tanpa mendengar perkataannya.


"Kak, apa dia Ibumu?" tebak Khaira setelah tiba di kamar mereka.


Boy tak menjawab, laki-laki itu hanya memilih duduk di atas sofa sambil memijit pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut.


"Apa kamu tidak akan menemuinya, Kak?" tanya Khaira lagi seraya melepas gaun pengantin yang cukup berat di tubuhnya itu.


Lagi-lagi Boy hanya diam seribu bahasa. Khaira membuang napas lesu. Ia menduga telah terjadi sesuatu yang menyakitkan di antara mereka, hingga Boy memilih tidak pernah menceritakannya, dan tidak ingin bertemu dengan Ibunya lagi.


"Kakak, tolong lepaskan pentul-pentul ini, dong," pinta Khaira sambil duduk di samping sang suami.


Tanpa bersuara, Boy melakukan permintaan istrinya itu. Dari sorot matanya, Khaira tahu jika sang suami sedang dilanda kebingungan, entah itu rindu atau justru benci yang betahta di dalam hatinya.


Satu per satu pentul mulai dicabut, hingga semua pernak-pernik yang menghiasi kerudung Khaira dapat terlepaskan dengan sempurna.


"Hah, leganya saat pentul-pentul ini berhasil dicabut, kepala rasanya ringan kembali. Iya 'kan?" tanya Khaira berbalik ke arah sang suami untuk meminta pendapatnya.


"Iya, Sayang," jawab Boy lesu.


"Pentul-pentul ini tajam, sama seperti berbagai jenis penyakit hati, entah itu benci, dendam, dan iri. Semakin banyak yang menancap di hati, semakin berat pula beban yang akan ditanggungnya, dan semakin lama dibiarkan, maka ia bisa berkarat dan merusak hati bahkan tubuhmu," ujar Khaira sembari mengambil sebuah pentul dan mengamatinya.


Boy mengerutkan keningnya mendengar perkataan sang istri. "Iya benar juga sih," balasnya.


"Aku tidak tahu apa masalah kamu dan Ibu di masa lalu, Kak. Aku hanya ingin mengatakan, jika memang pentul-pentul itu sedang tertancap di hati kamu, lepaskan! Memang tidak mudah, tapi aku yakin setelah itu hatimu akan merasa lega."


Boy seketika beralih menatap sang istri dan mendapati senyuman yang sangat meneduhkan di sana.


"Apakah berselingkuh dan menelantarkan anak bisa dimaafkan?" tanya Boy. Ia sudah dewasa, tentu ia tahu jawabannya menurut akal sehat. Namun, kadang akal sehat tidak sejalan dengan hati, hati yang merasakan luka, dan dari hati pula rasa benci itu bersarang.


"Semua orang pernah berbuat khilaf, Kak. Tapi sebesar apapun kesalahan orang itu tentu masih ada kebaikan di dalamnya, salah satunya saat ia datang untuk meminta maaf," ujar Khaira lalu segera berjalan cepat menuju kamar mandi, rasanya ia tidak tahan lagi menahan sesuatu yang sejak tadi bergejolak ingin keluar dari perutnya.


Boy langsung berdiri mengikuti Khaira karena khawatir. Laki-laki itu membantu memijit tengkuk Khaira dengan begitu lembut.


"Apa sangat tidak nyaman, Sayang?" Boy membantu Khaira berjalan menuju tempat tidur lalu ikut duduk sambil memijit tangan sang istri.


"He'um, tidak nyaman sekali. Ternyata begini rasanya hamil, padahal ini baru awal. Aku salut sama ibu-ibu yang bisa kuat dan sabar menjalani masa kehamilannya dari awal hingga melahirkan, tidak, bahkan setelah melahirkan pun mereka masih harus berjuang menyusui dan merawat anak-anak mereka," tutur Khaira.


Boy terdiam mendengar penuturan istrinya. Bukankah itu alasan mengapa Rasulullah memerintahkan umatnya untuk menyayangi dan menghormati ibu, ibu, dan ibu, lalu ayah? Perjuangan dan tanggung jawab ayah memang berat, tapi dibalik itu semua, ada ibu yang setiap harinya harus menahan rasa sakit, menahan amarah, bahkan menahan kebutuhan akan dirinya sendiri demi mengurus anak-anaknya.


Setetes air mata tanpa sadar jatuh membasahi pipi Boy. Mengingat kesalahan yang pernah dilakukan sang ibu memang sangat menyakitkan, tapi jauh sebelum hal itu terjadi, ia adalah anak paling bahagia, ada ayah yang perhatian, dan ada ibu yang penuh kasih sayang.


"Sayang, istirahatlah dulu. Aku akan keluar sebentar." Boy mengecup kening Khaira lalu segera keluar dari kamarnya.


Khaira menatap punggung sang suami yang sudah menghilang di balik pintu dengan senyuman. "Semoga kebahagiaan dan keberkahan selalu menyertaimu."


.


.


.


Boy berjalan cepat menuju ke tempat di mana tadi ia bertemu dengan ibunya. Namun, wanita paruh baya itu sudah tidak ada di sana.


"Ibu?"


Boy berlari mencari sang ibu kesana-kemari, tapi tak ia temukan. Kini ia berlari memasuki ruangan tempat di mana acara resepsinya masih berlangsung


"Ibu?"


"Ibu?"


Tak kunjung menemukan yang ia cari, Boy memutuskan untuk keluar dari ruangan resepsinya menuju halaman hotel itu, pandangannya menyisir seluruh tempat mencari sosok yang tadi menatapnya dengan mata berkaca-kaca, tapi malah ia abaikan.


Boy berdiri di pinggir jalan keluar hotel sambil membuang napas kasar. Air mata mulai berkumpul dipelupuk matanya. Ia baru menyadari jika sikapnya tadi tentu telah menyakiti hati sang ibu.


Meski dalam hati masih ada perdebatan antara benci dan rindu, tapi kini ia sadar, berlarut-larut memendam benci justru hanya akan menambah beban di hatinya. Boy membenarkan semua yang dikatakan Khaira dan itu sebabnya ia berusaha membesarkan hati untuk menerima maaf dari sang ibu, walau bagaimana pun wanita paruh baya itu tetaplah ibu kandung yang telah melahirkannya.


"Boy, kenapa kamu di sini, Nak?"


Boy langsung berbalik saat mendengar suara yang sangat ia kenali. Ia langsung berbalik dan menjumpai sosok sang ibu tengah berdiri di sana seorang diri.


"Ibu ...." Boy berjalan menghampiri wanita paruh baya itu.


"Boy, ibu ... Ibu mau minta maaf sama kamu, Nak. Ibu mengaku salah, tidak sepantasnya ibu melakukan itu, ibu tidak pernah menduga jika apa yang ibu lakukan telah menyakiti kamu," ucap wanita paruh baya itu dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


Boy bergeming di tempatnya, entah kenapa lidahnya seketika terasa kelu, ingin mengatakan satu kata saja kini terasa begitu sulit.


"Kamu tahu? Selama beberapa tahun ini ibu selalu dihantui rasa bersalah, selama itu juga ibu tidak mampu berbagi kasih sayang kepada saudara tirimu, ibu lebih banyak diam karena ibu selalu mengingatmu, ibu ingin sekali kembali melihatmu, tapi ibu terlalu malu untuk melakukannya. Sekarang, ibu sudah berusaha membuang rasa malu itu, ibu siap menerima apapun konsekuensi darimu, termasuk jika kamu akan mengusir ibu, ibu sudah siap menerima itu, tapi setidaknya ibu mohon, maafkan ibu."


Wanita paruh baya itu kini tertunduk dalam tangisnya, hingga membuat hati Boy terenyuh. Perlahan laki-laki itu belangkah hingga tepat berada di hadapan sang ibu.


"Jangan tinggalkan aku lagi, Bu."


Wanita paruh baya itu mengangkat wajahnya dan menatap sang putra yang kini ikut meneteskan air mata.


"Apa kamu memaafkan ibu?" Satu anggukan kecil dari Boy membuat wanita paruh baya itu tersenyum dalam haru dan langsung memeluk putranya dengan penuh cinta dan rindu.


***


Di tempat lain, Silvi sedang berpamitan kepada Salma dan juga Herman yang kini sudah lebih baik. Wanita itu sudah membulatkan tekad untuk bekerja di tempat lain agar ia bisa melupakan cintanya pada Boy.


"Kak, aku pamit, terima kasih sudah selalu menolongku dan menasehatiku, aku berutang banyak padamu. Mulai sekarang aku akan belajar melupakan semua tentang Boy, aku akan menjauh darinya dengan begitu tak ada lagi yang mengusik rumah tangga mereka," ujar Silvi saat berada di hadapan Ali.


"Kamu tidak perlu berutang karena saling tolong-menolong adalah kewajiban, semoga kamu bisa menemukan kebahagiaan di tempat barumu, dan semoga suatu saat kita bisa berjumpa lagi."


Ali menangkupkan kedua tangan di depan dada lalu tersenyum sejenak ke arah Silvi.


"Tunggu, aku ingin kamu menyimpan ini." Ali mengeluarkan sapu tangannya dari dalam saku lalu ia berikan kelada Silvi.


"Kenapa Kak Ali memberiku ini?" tanya Silvi heran.


"Simpanlah dulu, suatu saat jika Allah kembali mempertemukan kita, kamu bisa mengembalikannya padaku," jawab Ali.


Silvi hanya mengangguk lalu pergi ke sebuah mobil di mana ibunya telah menunggu. Beberapa saat kemudian, mobil itu melaju meninggalkan kediaman Ali dan orang tuanya.


Salma dan Herman kini beralih menatap sang putra yang masih memandangi mobil Silvi yang telah menjauh.


"Ekhem, Ali, ayah ingin kamu segera menikah jika kamu sudah menemukan wanita yang telah berhasil mengisi hatimu lagi," ujar Herman menghampiri sang putra.


"Belum, Ayah. Doakan Ali agar bisa segera menemukannya," balas Ali.


"Lalu Silvi itu bagaimana?" tanya Herman.


"Dia, dia hanya teman Ali di pondok kemarin," jawab Ali.


"Bukankah kamu tertarik padanya? Jika tidak mana mungkin kamu akan memberikan sapu tangan legendarismu itu dengan begitu mudah," timpal Salma, membuat laki-laki itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


-Bersambung-