
Di sebuah lapas, Silvi sedang duduk sambil menunggu seseorang di sebuah ruangan khusus. Tak lama setelah itu, seorang laki-laki dengan penampilan yang sedikit berantakan masuk ke dalam ruangan itu.
"Kak, lama tidak berjumpa, bagaimana kabarmu?" Silvi berdiri dengan senyuman tatkala melihat sang kakak berjalan mendekat dan langsung duduk di hadapannya.
"Apa kamu masih peduli padaku? Tak perlu sok dekat seperti itu karena kita kini tak sedekat itu," balas Anton ketus.
"Maafkan aku, Kak. Aku tidak bermaksud mengabaikan Kakak, hanya saja aku harus sekolah di pesantren yang jauh dari kota ini, setelah itu aku lanjut kuliah di Kairo, makanya aku tidak bisa menjenguk Kakak selama beberapa tahun."
Meski Silvi pernah sedikit kecewa dengan sang kakak yang gagal menjalankan rencananya waktu itu, tapi ia tetap menyayangi kakaknya itu, mengingat hanya sang kakaklah yang selalu ada di saat tak ada yang peduli padanya.
"Apa? Masuk pesantren? Apa aku tidak salah dengar?" cecar Anton tak percaya.
"Iya, Kak. Kenapa kaget gitu?"
"Ya, kaget aja, kamu kan pernah bilang tidak ingin sekolah di pernjara suci itu."
"Itu kan dulu, sebelum Boy sekolah di sana." Khaira memandang ke depan seolah sedang membayangkan wajah laki-laki yang sudah lama ia kagumi sambil mengulas senyum.
Anton begitu terkejut saat mengetahui jika Boy pernah masuk pesantren, dan semakin bertambah rasa terkejutnya saat mengetahui niat sang adik yang ingin menikah dengan laki-laki yang dulu menjadi musuhnya.
"Tidak, Dik. Kamu tidak bisa menikah dengannya," protes Anton, membuat senyum di wajah Silvi langsung pudar dan berganti dengan raut wajah bingung.
"Memangnya kenapa, Kak? Apa Kakak tidak ingin melihatku bahagia? Hah?"
"Bukan begitu, Dik. Hanya saja hubungan kalian akan disoroti masyarakat jika itu beneran terjadi, lagian apakah ayah dan ibu sudah tahu siapa Boy itu?"
Silvi hanya menggelengkan kepalanya dengan alis yang kini saling bertautan, sepertinya mood gadis itu benar-benar buruk hari ini.
"Sebelum mereka tahu, sebaiknya kamu urungkan niatmu itu karena...."
Belum juga Anton selesai menjelaskan alasan kenapa Silvi tidak boleh menikah dengan Boy, gadis itu malah merajuk lebih dulu dan pergi meninggalkan Anton.
"Ck, dasar tukang ngambek, Boy itu saudara tiri kamu, Silvi," monolog Anton sedikit kesal.
***
Malam yang dingin telah tiba, tapi tidak menjadi penghalang bagi Boy untuk menyegerakan niat baiknya, niat untuk segera menjemput jodoh yang selama ini ia impikan. Seperti saat ini, ia berdiri di depan sebuah rumah mewah yang alamatnya sesuai dengan alamat yang ia terima dari Khaira langsung kemarin malam melalui pesan teks.
Beberapa kali ia menarik napas dan membuangnya perlahan untuk menenangkan hatinya yang dirundung rasa gugup dan khawatir secara bersamaan.
"Hufth, bismillah," ucapnya lirih lalu memasuki halaman rumah itu setelah diizinkan oleh satpam.
Setelah tiga kali mengetuk pintu rumah, sang pemilik rumah itu akhirnya membuka pintu.
"Assalamu 'alaikum, Tante," ucap Boy kepada wanita yang kini berada di depannya.
"Wa'alaikum salam, cari siapa, yah?" tanya Ainun. Sejak awal Ainun memang tidak pernah melihat Boy, itu sebabnya ia merasa asing dengan laki-laki muda di hadapannya saat ini.
Meski nyali Boy sedikit menciut saat melihat wanita yang ia duga adalah ibu dari Khaira, tapi ia sudah terlanjur datang dan niatnya pun sudah bulat.
Boy mulai memperkenalkan diri lalu mengutarakan niatnya ingin bertemu dengannya dan sang suami. Dan disinilah ia sekarang, di ruang tamu yang cukup besar, sementara Zafran dan Ainun kini telah berada di hadapannya dengan mode wajah serius.
Berhadapan dengan dua orang dewasa itu, membuat Boy beberapa kali menelan salivanya, bahkan ia melupakan semua kata-kata yang telah ia rangkai sebelumnya untuk melamar Khaira.
Entah kenapa suasana di ruangan itu tiba-tiba terasa mencekam, bagai duduk di kursi panas, apa pun yang keluar dari mulutnya kali ini akan menjadi cerita hidupnya di masa depan.
"Boy?" Zafran mengernyitkan alisnya dan menatap laki-laki di hadapannya dari atas sampai ke bawah, penampilan yang dulu terkesan nakal kini terlihat begitu rapi dan berwibawa.
"Iya, Om. Ini saya."
"Kamu apa kabar? Apa kegiatanmu sekarang? Apa kamu sudah keluar dari geng motormu?"
Kesan awal bertemu beberapa tahun lalu, membuat Zafran menilai negatif Boy, sehingga sampai saat ini pun ia masih bersikap sinis kepada laki-laki itu, tak peduli bagaimana pun penampilannya saat ini.
"Alhamdulillah baik, Om. Kegiatan saya sekarang mengajar di pesantren, dan saya sudah keluar dari geng motor sejak saya bebas dari penjara," jawab Boy apa adanya.
"Pesantren? Bagaimana bisa? Kamu sekolah di mana selama ini?" selidik Zafran lagi, rasanya begitu banyak hal yang ingin ia ketahui dari Boy.
"Sejak bebas dari penjara, saya memutuskan untuk belajar di pesantren, Om, dan kini saya telah menyelesaikan kuliah saya," jawab Boy lagi.
Zafran terdiam sejenak. Ia sedikit terkesan atas perubahan pada Boy, pasalnya tidak semua orang bisa berubah menjadi lebih baik secepat itu. Namun, tetap saja ia masih memiliki sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Jadi apa tujuanmu sebenarnya datang kemari? Apa kamu ingin bertemu dengan putriku?"
Mendengar pertanyaan Zafran, Boy dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Bukan, Om. Kedatangan saya ke sini ingin bertemu dengan Om dan Tante," jawab Boy sesopan mungkin dan setenang mungkin, meski nyatanya ia tidak setenang itu saat ini.
"Bertemu kami?" Zafran kini menautkan kedua alisnya.
"Iya, Om." Boy meletakkan tangannya di atas lutut yang sejak tadi tak ingin berhenti bergerak naik-turun dengan cepat. Rasa gugup yang tadi sempat hilang kini datang kembali tatkala pembicaraan utamanya akan segera dimulai.
"Se-sebenarnya kedatangan saya kemari ingin melamar Khaira menjadi istri saya, kiranya om merestui, saya ingin segera menikahinya."
Zafran menoleh ke arah sang istri sejenak lalu kembali menatap Boy. "Jika masalah seperti ini, saya lebih suka langsung menanyakan pendapat Khaira, tapi sebelum itu, saya ingin tahu satu hal."
Boy menatap Zafran dengan penuh tanda tanya. "Apa itu, Om?"
"Apa yang menjadi titik awalmu untuk berubah menjadi lebih baik seperti sekarang? Maksudku, apa yang membuatmu berubah?" tanya Zafran.
Boy tertunduk sejenak, ia sedikit bingung harus menjawab apa pertanyaan itu. "Sebenarnya, hidup saya mulai berubah semenjak mengenal Khaira, Om. Di saat saya dalam bahaya, dia datang menolongku. Di saat saya terpuruk, dia datang dalam pikiran saya dan membuat perasaan saya menjadi lebih baik. Saya rasa semuanya berawal karena Khaira."
Zafran yang mendengar penjelasan Boy bukannya tersanjung, ia justru menggelengkan kepalanya. "Saya rasa kamu masih perlu mempelajari arti keikhlasan, Boy."
Boy mengerutkan keningnya mendengar perkataan Zafran. "Maksud, Om bagaimana?"
"Saya terkesan dengan alasanmu, tapi sayantidak bisa menerima alasanmu, kembalilah dulu lalu pikirkan apa yang saya katakan ini, Boy. Datanglah kembali jika kamu sudah paham maksud saya menanyakan ini."
-Bersambung-