
Malam mulai menjemput, Boy yang sudah merasa lelah akhirnya memutuskan untuk kembali ke tempat tinggal sementaranya selama di Kairo. Namun, baru beberapa langkah setelah ia keluar dari perpustakaan, gadis yang tadinya memutuskan untuk menunggu Boy di luar kini kembali mengikutinya.
Merasa muak karena selalu diikuti, Boy akhirnya menghentikan langkah kaki dan berbalik. "Sudah beberapa kali kuperingatkan padamu, jangan pernah mengikutiku lagi! Aku tidak menyangka ada gadis sepertimu yang begitu bebal," ujarnya begitu geram.
"Silvi, namaku Silvi. Haruskah aku mengulanginya lagi, aku menyukaimu Boy, makanya aku bela-belain ikuti kamu ke pesantren hingga sampai ke sini hanya untuk ikutin kamu dan membuatmu tertarik padaku."
Ya, tepat setelah Anton tertangkap, Silvi yang dilanda depresi akhirnya mencari tahu keberadaan Boy dengan segala cara, bahkan ia rela menghabiskan uang tabungannya demi membayar orang untuk mencari keberadaan Boy, karena hanya Boy yang mampu meredam depresinya saat itu.
Hingga akhirnya ia menemukan kabar bahwa Boy kini telah memutuskan untuk masuk pesantren. Ia pun berusaha keras membujuk sang ayah agar ia disekolahkan di pesantren yang sama, dengan begitu ia bisa selalu melihat Boy dan terlepas dari tuntutan sang ayah, serta yang pasti Khaira tidak lagi menjadi saingannya.
Boy memutar bola mata jengah mendengar alasan yang entah sudah berapa kali ia dengar. Jika dulu ia sering mengikuti Khaira, kini keadaan berubah, dan itu membuat Boy benar-benar tidak nyaman.
"Ternyata dibuntuti benar-benar membuat tidak nyaman. Apa dulu dia juga merasakan hal yang sama saat aku selalu mengikutinya?"
Boy membuang napas kasar sambil mengusap wajahnya saat bayang-bayang seorang gadis kembali mengganggunya. Ia segera berbalik dan langsung berlari meninggalkan Silvi di depan perpustakaan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dan benar saja gadis itu kini kehilangan jejaknya.
Beberapa menit berlalu, Boy kini telah tiba di tempat tinggalnya. "Assalamu 'alaikum," ucapnya saat membuka pintu.
"Wa'alaikum salam," jawab seorang laki-laki yang baru saja keluar dari kamarnya.
Namanya Ali, dia senior Boy di kampus Al-Azhar, dan dia adalah mahasiswa dari Indonesia yang kebetulan satu tempat tinggal dengan Boy.
"Kamu pulang terlambat lagi, apa kamu belajar bahasa Arab?" Boy menganggukkan kepala lalu mendudukkan tubuhnya di sebuah sofa kecil karena begitu lelah sambil melonggarkan sedikit kerah bajunya. Tak sengaja pantulan dirinya terlihat dari jendela kaca yang berada tepat di hadapannya.
Sebuah tato sedikit terlihat di lehernya yang tertutupi kerah baju. Perlahan ia mengusapnya dan seketika sekelebat ingatan mengenai pembicaraannya dengan seorang gadis mengenai tato dan sholat kembali muncul bagai kaset yang sengaja diputar mundur.
"Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang, jika kamu ingin bertobat dengan sungguh-sungguh dan tidak lagi membuat tato di tubuhmu insya Allah sholatmu akan diterima...."
"Jika memang kamu yakin saat menghapus tato tidak menimbulkan bahaya yang fatal bagi tubuhmu, lebih baik di hapus.... "
Boy langsung bangkit dari duduknya seakan baru saja ia mendengar perkataan itu tepat di telinganya. "Bang, apa kamu tahu tempat penghapus tato di sekitar sini?"
Ali mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Boy. "Kenapa kamu mencarinya? apa kamu memiliki tato?" tanya balik laki-laki itu yang kini duduk di sampingnya, membuat Boy kembali duduk.
Boy tak menjawab, ia hanya membuka sedikit kerah bajunya dan terlihat di sana sebagian tatonya, di mana sisanya masih tertutupi oleh lengan baju yang Boy kenakan.
"Subhanallah, sejak kapan kamu memiliki tato, dan bagaimana bisa kamu memilikinya, Boy?" tanya Ali yang begitu terkejut, pasalnya selama ini ia melihat Boy adalah laki-laki yang baik sehingga ia benar-benar tidak menyangka jika di balik baju gamis yang sering Boy gunakan tersembunyi sebuah tato.
"Sudah lama aku memilikinya, Bang. Ceritanya panjang dan aku tidak bisa menceritakannya saat ini. Tolong bantu aku mencari tempat yang menyediakan jasa penghapus tato, Bang," pinta Boy.
Awalnya Ali sedikit tidak yakin karena ia sendiri tidak pernah berurusan dengan hal itu, tapi pada akhirnya ia bersedia membantu Boy mencarinya.
***
Beberapa hari kemudian.
Khaira sedang dalam perjalanan menuju sekolah mengantar Umar, kebetulan jalur menuju sekolah dan kampus mereka sama sehingga sang adik lebih sering meminta Khaira untuk mengantarnya, dibanding ikut dengan sang ayah.
Akan tetapi saat di tengah jalan, ban motor Khaira tiba-tiba kempes. Hal itu membuat keduanya terpaksa harus berhenti di pinggir jalan.
"Kok berhenti, Kak?"
Khaira segera turun dari motor dan memeriksa kondisi ban motornya. "Ini, ban motor kakak kempes, Dek."
"Tenang, dong. Kamu naik ojol aja biar cepat."
Baru saja Khaira berhenti berbicara, sebuah mobil tiba-tiba berhenti di sampingnya. Tak lama setelah itu, seorang laki-laki keluar dari sana.
"Khaira? motor kamu kenapa, Dek?"
"Bannya kempes, Kak," jawab Khaira kepada seniornya yang bernama Dito.
"Ya udah, kalian bareng aku aja, motornya tinggalin di situ, nanti aku suruh orang membawanya ke bengkel."
Khaira melirik ke arah sang adik. Sebenarnya ia tidak ingin merepotkan kakak seniornya itu, tapi ketika melihat ekspresi sang adik yang memohon dalam gerakan, akhirnya Khaira menyetujui.
"Ya udah kamu naik sana," ujar Khaira kepada Umar, dengan senang hati sang adik masuk dan duduk di samping tempat kemudi sembari melambaikan tangannya kepada Khaira, membuat Dito sedikit heran.
"Kamu tidak naik?" tanya Dito saat melihat Khaira justru diam di dekat motornya.
"Kakak tolong antar Umar, yah. Aku akan langsung bawa motorku ke bengkel, tidak jauh dari sini kok," jawab Khaira santai.
Raut wajah keberatan kini terlihat di wajah laki-laki itu, ingin sekali ia kembali membujuk Khaira untuk ikut bersamanya, karena menurutnya tentu akan lebih mudah mendekati gadis itu ketika bisa berkendara bersama dan duduk dalam jarak lebih dekat di dalam mobil.
"Kak, ayo, Umar hampir telat nih," pinta Umar kepada Dito, membuat laki-laki itu hanya bisa membuang napas lesu lalu masuk ke dalam mobilnya.
Mau tidak mau, karena sudah terlanjur, Dito pun akhirnya mengantar Umar tanpa Khaira. Selama di dalam mobil, suasana terasa hening, Umar hanya duduk diam sambil melihat ke arah luar jendela. Sementara Dito fokus menyetir sambil sesekali melirik adik dari gadis yang ia incar.
"Ekhem, kamu udah kelas berapa, Dik?"
Dito mulai berbasa-basi, meski sebenarnya ia tidak terlalu suka. Walau bagaimana pun, mendekati keluarga adalah salah satu point penting dalam mendekati seorang gadis, begitulah pikirnya.
"Kelas satu SMP, Kak," jawab Umar. Selanjutnya, Dito terus mengajak Umar untuk bercerita hingga tiba saatnya ia ingin menanyakan beberapa hal terkait sang kakak.
"Umar, kakak kamu itu udah punya pacar, belum?" tanya Dito, membuat Umar langsung mengerutkan keningnya.
"Pacar?" tanya Umar ingin memastikan, dan Dito menjawabnya dengan menganggukkan kepala.
"Kalau pacar tidak ada, Kak."
Dito tersenyum lega mendengar jawaban dari Umar.
"Tapi, kakakku itu udah punya suami."
Senyuman di wajah Dito seketika lenyap bagai di tiup angin.
"Jadi Khaira sudah menikah?" Umar mengangguk polos menjawab pertanyaan Dito. Terlihat jelas raut kekecewaan di wajah laki-laki itu, ia bahkan tak lagi banyak bicara setelahnya, hingga mereka tiba di sekolah Umar.
Umar melambaikan tangannya ke arah mobil Dito yang sudah melaju pergi sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Aku ralat, maksudnya aku pernah bermimpi melihat kakakku menikah dengan seseorang." Umar tertawa pelan jika ia mengingat bagaimana perubahan wajah Dito yang begitu derastis tadi.
"Dasar modus, dia pikir bisa mendekati kakakku dengan mudah, ooo tidak semudah itu fergusso, but terima kasih tumpangannya," monolog Umar lalu masuk ke sekolahnya.
-Bersambung-