
Suasana sore di posko semakin tampak sepi, hampir semua mahasiswa kini tengah berkumpul di pantai, kecuali Khaira dan Dito yang masih berada di posko. Keduanya tampak diam tak berbicara.
Dito dengan sabar menunggu jawaban dari Khaira. Menurutnya, Khaira sangat unik karena beda dari gadis lain yang begitu mudah didapatkan hanya melalui beberapa kali pendekatan saja.
Sementara Khaira masih bingung harus memberikan jawaban apa agar tak sampai menyakiti hati Dito.
"Maaf, Kak," ucap Khaira mulai memecah keheningan di antara mereka.
"Maaf karena aku tidak bisa menerima permintaanmu, Kak. Bukannya aku tidak menyukaimu, aku menghormatimu sebagai kakak senior, dan aku berterima kasih atas semua kebaikanmu selama ini. Hanya saja untuk menjalin hubungan seperti yang Kakak bilang aku tidak bisa," lanjut Khaira.
"Kenapa tidak bisa, Ra? Aku ingin mejagamu, dan dengan kamu menjadi kekasihku aku bisa leluasa menjagamu." Dito kini mendekat ke arah Khaira, tapi gadis itu justru mundur perlahan.
"Iya. Kamu leluasa menjagaku, dan setan pun leluasa menggodamu," batin Khaira.
"Karena aku hanya ingin menjalin hubungan sekali seumur hidup, Kak. Aku ingin menjalin hubungan yang melalui hubungan itu, pahalaku kian bertambah, kedua orang tuaku ridho dan bahagia. Dan hubungan itu adalah menikah, bukan pacaran," jawab Khaira.
"Aku bisa saja menikahimu, Ra. Tapi aku butuh mengenalmu terlebih dahulu, dan begitu pun sebaliknya. Kamu tentu tidak ingin membeli kucing dalam karung, 'kan?"
Khaira tersenyum kecut mendengar perumpaan yang dilontarkan oleh Dito, entah kenapa ia tidak begitu suka mendengarnya.
"Kakak bisa mengenalku tanpa pacaran, Allah memudahkan seseorang untuk mengenal calon pasangannya melalui ta'arruf jika memang diperlukan," terang Khaira dan kali ini tidak mendapat balasan dari Dito. Ia tidak tahu bagaimana raut wajah laki-laki itu saat ini, sungguh ia tidak sanggup menatapnya.
"Maaf, Kak. Aku harus pergi." Khaira hendak melangkahkan kakinya untuk pergi.
Berlama-lama berdua dengan Dito membuatnya merasa was-was. Lagipula Khaira merasa jawaban yang ia berikan sudah cukup dan ia berharap Dito bisa mengerti. Namun, apa yang ia harapkan saat ini sangat jauh berbeda dengan kenyataannya. Dito tiba-tiba saja memegang tangannya, hingga membuat Khaira refleks ingin menarik tangan itu, tapi cengkraman Dito jauh lebih kuat.
"Ra, aku tidak bisa menerima penolakan," lirih Dito, membuat jantung Khaira kembali berdebar hebat, apalagi saat ia tak sengaja menatap mata laki-laki itu yang kini berubah tajam. Sekelebat memori tentang penculikan waktu itu yang membuat Khaira sempat mengalami ketakutan tiba-tiba kembali hadir dalam ingatannya bagai kaset rusak.
"Kak Khaira!" panggil Umar yang baru tiba, membuat Khaira seketika bernapas lega, meski Dito masih enggan melepas tangannya.
Dengan menggunakan kekuatannya, Umar melepas cengkraman tangan Dito. "Tolong jangan ganggu kakakku lagi," ucapnya lalu segera menarik tangan Khaira menjauh dari posko di mana Dito berdiri.
.
.
.
Sepanjang perjalanan, Khaira merangkul pinggang sang adik yang tubuhnya sedikit lebih tinggi darinya. "Makasih, Dek. Kamu sudah datang, entah apa yang terjadi padaku jika kamu tidak kembali."
"Inilah alasanku ingin ikut denganmu, Kak. Aku tahu kak Dito itu sangat menginginkan Kakak, dan aku khawatir dia bisa saja menyakiti Kakak jika Kakak menolaknya," ujar Umar, membuat Khaira sejenak terdiam menatap sang adik dengan tatapan takjub tapi juga sedikit curiga.
"Kenapa Kakak menatapku seperti itu?"
"Aku takjub dengan kepekaanmu, Dek, tapi dari mana kamu mengetahui semua itu? Apa kamu pernah melakukannya sebagai laki-laki?" selidik Khaira.
"Ish, apaan sih, Kak. Ya tidak lah. Ayo kita ke pantai terus pulang. Kata Mama besok kita akan ke rumah Kakek Abah Rahman, beliau akan mengadakan makan bersama untuk syukuran pembukaan pesantren khusus tahfizh Qur'annya."
"Benarkah? Wah sudah lama aku tidak ke rumahnya, ayo kalau gitu." Khaira kini berjalan lebih dulu dengan memperlihatkan senyuman seolah ia baik-baik saja.
Umar yang melihat Khaira begitu semangat hanya tersenyum nanar, ia tahu itu hanyalah ekspresi untuk menutupi betapa takutnya sang kakak tadi, apalagi jika memang dia teringat akan penculikannya dua tahun lalu.
***
Keesokan harinya di Kairo.
Boy dan Ali sedang sarapan bersama sebelum berangkat ke kampus pagi ini. Namun, saat hendak berangkat, Boy justru duduk di sofa seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Kamu tidak jadi berangkat, Boy?" tanya Ali yang baru saja selesai memakai sepatu.
"Kamu duluan aja, Bang. Aku ingin melakukan video call dengan Abah dulu, kayaknya hari ini beliau akan mengadakan syukuran pembukaan pesantren Tahfizh Qur'annya," jawab Boy dan di setujui oleh Ali.
Panggilan video pun dilakukan Boy. Terdengar suara khas sambungan yang berbunyi beberapa kali, hingga wajah Abah Rahman terlihat di sana.
"Assalamu 'alaikum, Abah," ucap Boy sambil memperlihatkan senyuman tulusnya.
"Wa'alaikum salam, Nak," balas Abah Rahman dengan senyuman yang tak kalah tulus.
Keduanya kini saling menanyai kabar masing-masing guna melepas rasa rindu mereka. Selama panggilan berlangsung, Abah Rahman tak henti-hentinya mengulas senyum di depan Boy.
Tampak jelas jika laki-laki usia lanjut itu sangat bahagia bisa berbincang dengan Boy bagaikan ayah dengan anak kandungnya. Terang saja, Abah Rahman tidak memiliki anak laki-laki, sehingga kehadiran Boy bagaikan anugerah yang sangat ia syukuri.
Saat sedang asik berbicara, tanpa sengaja Boy melihat seorang gadis lewat tepat di belakang abah Rahman yang wajahnya sama persis dengan Khaira, bahkan ia mendengar suara yang sama dengan suara gadis yang selalu ingin ia temui sedang berbincang bersama Ummi Lina.
Ingin sekali ia menanyakannya pada Abah Rahman mengenai siapa gadis itu, tapi ia takut jika apa yang ia lakukan justru membuat Abah Rahman malah merasa tidak nyaman.
"Kamu kenapa, Boy?" tanya Abah Rahman yang melihat Boy seketika diam dan tampak melamun.
"Eh, tidak apa-apa, Abah, oh iya selamat atas pembukaan pesantren Tahfizh Qur'annya, semoga berkah, Abah," ucap Boy berusaha mengalihkan pikirannya yang mulai tidak fokus karena memikirkan gadis tadi.
Setelah berbincang-bincang selama beberapa saat, Boy akhirnya pamit.
"Abah, kalau begitu sudah dulu, yah, Boy mau ke kampus, nanti telat lagi," ujar Boy diiringi tawa pelan. Kedua laki-laki beda usia itu akhirnya mengakhiri panggilan video mereka dengan salam.
Boy kini diam sejenak sambil mengingat wajah gadis yang sangat mirip dengan Khaira. "Sepertinya aku benar-benar telah merindukan gadis itu hingga wajahnya muncul di mana-mana. Astaghfirullah, ampuni hamba ya Allah," monolog Boy lalu segera berangkat ke kampus.
***
Di dapur rumah Abah Rahman, Ainun dan Aisyah sedang sibuk menyiapkan makanan sambil bercerita. Berbeda dengan cerita-cerita sebelumnya yang kadang masih diiringi canda tawa, kali ini wajah kedua wanita itu tampak serius.
"Ai, sebenarnya ada yang ingin aku katakan sama kamu, udah lama aku ingin mengatakannya tapi baru kali ini aku bisa bertemu langsung denganmu," ujar Aisyah dengan wajah serius.
"Memangnya apa, Sya? Serius banget mukamu," tanya Ainun.
"Ya karena memang ini pembicaraan serius." Aisyah menghentikan sejenak perkataannya sambil menatap sang sahabat yang diam menyimak.
"Aku punya teman yang ingin menjodohkan anaknya dengan Khaira, gimana menurutmu?"
-Bersambung-