He's Not A Bad Boy

He's Not A Bad Boy
Bab 38 - Sholat Istikharah



Aku tahu dia mundur, meski tidak rela, tapi sekuat tenaga kuyakinkan diriku pada pilihan lain. Namun, hatiku kembali goyah saat dia hadir dalam mimpiku dan mengajakku ke surgaNya.


Apa artinya? Mungkinkah ini adalah jawaban atas istikharahku?


Ya Allah, jika memang jodoh, pertemukan kami. Jika dia jauh dekatkan kami, selama dia masih setia berada di jalanMu.


(Khairah Muthmainnah)


________________________________________


"Papa, Mama, ada yang ingin Khaira katakan," ujar Khaira setelah Zafran mempersilahkan untuk berbicara lebih dulu.


"Katakan, Nak."


"Sebenarnya, semalam Khaira tidak sengaja mendengar pembicaraan papa dan Boy. Jujur, saat tahu Boy datang melamar, Khaira sangat senang, tapi saat mendengar Boy mundur, Khaira kecewa." Khaira kini tertunduk dengan wajah lesu.


"Apa kamu mencintai Boy, Nak?" tanya Ainun.


Khaira tak langsung menjawab, ia hanya diam sejenak dalam tunduknya. "Khaira tidak tahu apa arti rasa itu, Ma. Ini pertama kalinya Khaira merasakan hal itu," jawab Khaira jujur.


Zafran memandangi Ainun dan Akmal bergantian.


"Lalu? Apa kamu tidak ingin memilih Ali? Boy sudah mundur," ujar Zafran, membuat Khaira langsung mengangkat wajahnya.


"Khaira semakin bingung, Pa. Khaira baru saja bermimpi usai sholat istikharah semalam. Di sana seorang laki-laki datang mengajak Khaira ke surga, wajahnya tidak terlihat jelas, tapi dari bentuk tubuhnya, Khaira yakin itu Boy."


Semua keluarga di meja makan itu kembali diam, kecuali Umar yang menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Berarti jodoh kakak itu yah Boy," celetuk Umar, membuat semua orang langsung beralih menatap ke arah remaja laki-laki itu.


"Kenapa? Benar 'kan?" Umar mengangkat kedua tangannya begitu percaya diri dengan dugaan yang baru saja ia lontarkan.


"Sayang, coba kamu sholat istikharah lagi, jika memang mimpimu masih sama, maka biar Papa yang langsung menemui Boy."


Pandangan semua orang kini beralih ke Zafran.


"Apa kamu serius, Bang?" tanya Akmal dan dijawab anggukan oleh Zafran.


***


Tak ada sama sekali yang berubah dari rumah itu, fotonya masih terpajang di beberapa tempat, bahkan kamarnya selalu bersih, seolah-olah kehadirannya di rumah itu sangat dinantikan.


Sudah dua hari Boy tinggal di rumah sakit, menemani sang ayah dan selama dua hari itu juga ia tak bisa berbicara dengan sang ayah yang lebih banyak tidur karena begitu lemah. Sementara kini tubuhnya begitu lelah dan butuh istirahat. Ia hanya meminta perawat untuk menghubunginya saat ayahnya telah bangun dari tidur.


Boy duduk di kamarnya sambil menatap ke arah jendela lalu tersenyum, meski terkesan dipaksakan.


"Tidak kusangka kita benar-bemar bertemu lagi, kupikir itu adalah tanda jika kita memang berjodoh, tapi sepertinya aku sudah keliru memaknai arti pertemuan kita. Aku lupa jika jodoh itu bukan hanya tentang pertemuan, tapi ada restu dan takdir Allah yang juga lebih utama."


***


Malam harinya, sebuah mobil berhenti tepat di sebuah rumah mewah yang menjadi tempat kediaman Boy dan ayahnya.


"Kamu yakin ini rumahnya?" tanya seorang laki-laki paruh baya yang memegang kemudi sambil sesekali melihat ke arah rumah itu.


"Iya, Ayah, ini yang aku dapatkan dari temanku," jawab Silvi.


"Ternyata dia kaya juga, siapa lagi nama dia?" tanya sang ibu yang juga ikut ingin melamarkan anak sambungnya dengan seorang laki-laki yang ia cintai.


"Namanya Boy, Boy Anderson," jawab Silvi yang duduk di jok kedua.


"A-apa? B-Boy Anderson?" Jantung wanita paruh baya itu seketika berdebar mendengar nama itu. Ia jelas sangat tahu nama itu, tapi apa benar dia adalah Boy yang sangat ia kenali?


"Iya, kenapa? Apa ibu mengenalnya?" tanya Silvi sedikit heran.


"Tidak, aku tidak mengenalnya," jawab wanita paruh baya itu cepat. Terlihat jelas ada kecemasan di wajahnya dan Silvi sadar akan hal itu, tapi gadis itu tidak ingin ambil pusing, untuk saat ini ia ingin bersikap bodoh amat sampai urusannya selesai.


Setelah dipersilahkan masuk oleh satpam, sang ayah menjalankan mobilnya memasuki halaman rumah itu. Satu per satu dari mereka pun keluar kecuali sang ibu.


"Kenapa tidak keluar, Bu?" tanya Silvi.


"Ibu di sini saja, tiba-tiba ibu merasa tidak enak badan," jawab wanita paruh baya itu beralasan.


"Akan lebih tidak nyaman jika kamu duduk sendiri di sini, Sayang. Ayo masuklah bersama kami, ini tidak akan lama, kok." Mau tidak mau, wanita paruh baya itu keluar karena ditarik oleh sang suami.


Mereka pun berjalan menuju pintu rumah dan mengetuknya beberapa kali.


-Bersambung-