He's Not A Bad Boy

He's Not A Bad Boy
Bab 35 - Kedatangan Seseorang



Khaira menutup pintu kamar perlahan lalu bersandar di balik pintu sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. Air matanya mulai luruh membasahi pipi. Baru saja ia dibuat terkejut dan bahagia di waktu bersamaan fsaat mendengar kedatangan Boy yang bermaksud ingin melamarnya malam ini, tapi sepertinya takdir belum berpihak kepada mereka.


Sepertinya sang ayah sudah terlanjut membenci Boy, hingga ia menolak niat baik laki-laki itu tanpa merundingkan terlebih dahulu dengan dirinya.


Khaira menutupi wajahnya dan mulai terisak, tubuhnya bergetar, dan dadanya terasa sesak sekali saat ini. Sudah sejak lama ia menahan perasaannya, tapi lagi-lagi ia harus berusaha sabar dan menerima keputusan sang ayah.


"Maafkan aku, Boy."


Cukup lama Khaira menangis di balik pintu kamarnya, hingga suara ketukan pintu disertai panggilan dari sang ibu membuatnya tersadar dan segera menghapus air matanya.


Tak ingin terlihat menyedihkan, Khaira segera ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. "Iya, Ma." Khaira segera mengeringkan wajah yang basah itu lalu segera membuka pintu.


"Loh, kamu kenapa, Sayang? Kamu menangis?" tanya Ainun sembari memegang sisi wajah Khaira saat melihat kedua mata putrinya sedikit bengkak dan merah.


"Tidak, Ma. Khaira baru bangun tidur ini," bohong Khaira. Ia tahu berbohong tidaklah dibenarkan, tapi ia tak ingin keadaannya saat ini membuat masalah bersama orang tuanya semakin rumit.


"Oh, tumben kamu cepat banget tidurnya. Eh, papamu ingin membicarakan sesuatu, ayo kita turun sebentar," ajak Ainun lalu menarik tangan Khaira pelan.


Keduanya kini berjalan turun menemui Zafran di ruang keluarga. Khaira didudukkan sendiri di hadapan Zafran, sementara Ainun kini memilih duduk di samping sang suami.


"Nak, kamu sekarang sudah dewasa, kamu tentu sudah bisa membuat keputusan untuk hidupmu sendiri. Tapi kamu tahu, papa dan mama sebagai orang tuamu selalu ingin yang terbaik untuk anaknya." Zafran menghentikan sejenak perkataannya sambil melihat respon Khaira yang sejak tadi hanya diam tertunduk.


"Boy, kamu masih ingat dia, 'kan? Tadi dia datang melamarmu."


Khaira menatap mata sang ayah yang kini dalam mode serius.


"Tapi papa menyuruhnya kembali, papa hanya merasa dia tidak tulus. Kebaikan yang selama ini dia lakukan ternyata hanya karena manusia. Jika kepada Allah saja dia belum mampu tulus, lalu bagaimana dia bisa tulus kepadamu?"


Khaira kembali tertunduk mendengar perkataan Zafran.


"Orang yang berubah baik karena manusia, tidak akan bertahan lama karena manusia tempatnya Khilaf, saat dia kecewa pada manusia yang selama ini ia inginkan atau ia cintai, maka tidak menutup kemungkinan dia akan kembali pada kehidupan awalnya," lanjut Zafran.


"Papa tidak bermaksud menolak Boy mentah-mentah, papa hanya memberi dia kesempatan untuk menyadari kesalahannya. Jika kalian memang berjodoh, kalian pasti akan bersama, Nak," pungkas Zafran.


"Benar kata Papamu, Nak. Lagi pula, dibanding Boy, masih ada laki-laki yang lebih baik dari dia dan ingin menikahimu juga." Kini Ainun ikut menimpali.


Zafran dan Khaira kini beralih menatap ke arah Ainun. "Mama dan Ummi Aisyah pernah bilang 'kan kalau ada laki-laki yang ingin menikahimu waktu kamu lulus SMA?" Khaira mengangguk pelan menanggapi pertanyaan sang ibu.


Ainun mulai menceritakan apa yang ia dengar dari Aisyah. Namanya Ali El-Husein, dia adalah anak dari teman mengajar Aisyah, dia sudah menyelesaikan pendidikan S2nya di Kairo tiga tahun yang lalu. Tapi karena sebuah kecelakaan, dia koma sejak saat itu dan baru sadar beberapa hari yang lalu.


"Nah, jika kamu penasaran siapa sosok Ali itu, kita bisa pergi menjenguknya." Ainun kemudian meminta persetujuan kepada sang suami dan langsung disetujui oleh Zafran.


***


Di sebuah pantai yang tampak gelap, dengan hanya dibantu oleh beberapa lampu saja sebagai penerang, Boy duduk di atas pasir pantai sambil menatap bintang uang hanyabterkihat sebagian saja sebab yang lain tertutupi awan yang mulai mendung.


Ini kedua kalinya ia datang ke pantai setelah ia berhadapan dengan Zafran. Meski pantai yang ia tempati berbeda, tapi keduanya mampu menjadi pelarian di saat hatinya merasa kecewa.


Dulu saat ia masih menjadi seorang bad boy, Zafran memintanya untuk menjauhi Khaira. Sekarang saat dia telah berusaha menjadi lebih baik, lagi-lagi ia disuruh kembali untuk memikirkan jawaban yang ia lontarkan atas pertanyaannya.


"Dari Allah, untuk Allah, dan kembali ke Allah."


Boy tersenyum getir mengingat tiap kata yang diucapkan Zafran, santun tapi tetap saja berhasil menghancurkan semangatnya. Biarlah hanya Allah yang tahu seberapa ikhlas dirinya dalam usahanya menjadi lebih baik, dan seberapa tulusnya ia dalam mencintai Khaira.


.


.


.


Boy baru saja tiba tepat di depan gerbang pesantren saat pukul 10.00 malam. Ia menghentikan motornya saat mendapati seseorang sedang mondar-mandir di depan gerbang.


Rasa penasarannya kini membuat Boy menghampiri orang itu. "Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"


Mendengar suara Boy, orang itu langsung berbalik. "Boy?"


"Pak Candra?" Boy begitu terkejut saat orang kepercayaan ayahnya kini berada di hadapannya.


"Maafkan aku karena datang ke sini mengganggumu," ucap laki-laki paruh baya itu.


"Silahkan masuk dulu, Pak. Kita bicara di dalam saja." Boy mengajak laki-laki itu masuk ke dalam rumahnya yang berada di lingkungan pesantren.


.


"Silahkan di minum, Pak." Boy menyajikan secangkir kopi panas di hadapan Candra dan mulai duduk berhadapan.


"Dari mana Pak Candra tahu jika aku di sini?"


Candra sejenak terdiam. "Sebenarnya selama ini aku diperintahkan Pak Anderson untuk selalu mencari tahu kabarmu. Sejak awal kamu masuk pesantren, beliau selalu menyuruhku untuk melaporkan keadaanmu, bahkan saat kamu di Kairo, beliau menyuruh orang untuk menjagamu dari jauh."


"Apa? Tapi mana mungkin? Bukankah ayah tidak lagi mengakuiku sebagai anaknya? Lalu kenapa dia seperti itu?" tanya Boy sedikit bingung.


Semua yang di katakan sang ayah saat berada di kantor polisi masih terekam jelas di ingatannya, tidak, bahkan ia tak bisa melupakan sama sekali karena teramat sangat menyakitkan.


"Itu karena beliau merindukanmu, dan merasa bersalah kepadamu."


Mata Boy kini terasa sedikit panas mendengar perkataan orang kepercayaan ayahnya itu. Selama ini ia menyangka bahwa hanya dia yang merindu tapi ayahnya tidak. Namun, ternyata apa yang sangkakan itu salah.


"Maafkan, aku. Sebenarnya, Pak Anderson melarangku menemuimu, tapi aku tidak tega selalu merahasiakan ini semua darimu, Boy."


Boy mengerutkan keningnya menatap laki-laki paruh baya di hadapannya. "Apa maksudmu Pak Candra?"


"Pak Anderson, beliau sedang sakit parah, kata dokter beliau mengidap kanker ginjal stadium akhir."


"Apa?"


-Bersambung-