
Hati Khaira seakan tercubit saat mendengar penuturan Boy. Ia benar-benar tidak menyangka jika laki-laki seperti Boy tidak lagi memiliki keluarga, itu yang ia tangkap dari perkataan Boy.
"Maafkan aku, Boy," ucap Khaira. Jujur saja, ia merasa bersalah karena tak bisa menjadi teman Boy, apalagi setelah ia tahu keadaan laki-laki itu.
"Tidak masalah, aku mengerti dengan keputusan Papamu. Jika aku memiliki anak, tentu aku juga tidak ingin anakku bergaul dengan seorang bad boy, meski aku sendiri adalah bad boy."
Keluar masuk kantor polisi memang sudah biasa baginya, tapi tak pernah sekali pun ia mendekam dibalik jeruji besi. Dan ini adalah pertama kali baginya mendekam di temoat itu. Walau hanya beberapa hari saja, Boy mulai sadar bahwa kehidupannya selama ini bukanlah kehidupan yang ia inginkan, tapi ia tetap menjalaninya sebagai pelarian.
Kedua remaja itu sejenak saling diam tak bersuara. Khaira yang entah kenapa seketika merasa begitu berat menjauhi laki-laki di hadapannya, dan Boy yang selalu ingin menikmati kecantikan wajah Khaira sebelum dia benar-benar tidak lagi saling bertemu.
"Ekhem, waktu habis," ujar Akmal dengan sedikit meninggikan suara hingga membuat atensi kedua remaja itu beralih kepadanya.
"Aku pergi dulu," ujar Khaira pamit, lalu mulai melangkahkan kakinya untuk pergi.
"Apa kita masih bisa bertemu kembali suatu saat nanti?" tanya Boy, membuat Khaira menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Aku tidak tahu, hanya Allah yang tahu. Dia yang mempertemukan kita, Dia pula yang memisahkan kita. Jika suatu saat Dia menghendaki kita bertemu kembali, kuharap kita bertemu dalam keadaan yang lebih baik." Usai mengatakan itu, Khaira kembali melangkahkan kakinya pergi menuju tempat kedua pamannya menunggu.
Boy diam menatap kepergian Khaira yang semakin lama semakin menjauh. Rasanya seperti de javu, pemandangan yang pernah ia lihat saat pertama kali bertemu Khaira usai gadis itu menolongnya, dan kini pemandangan itu kembali di saat terakhir mereka akan berpisah.
Sejenak Boy mencerna perkataan Khaira, meski ia tidak sepenuhnya memahami arti perkataan gadis berhijab itu, tapi entah kenapa tiap katanya begitu mengena di hati terdalamnya.
"Terima kasih, Ra. Walau hanya sebentar, kehadiranmu benar-benar mendatangkan cahaya di hidupku yang gelap ini. Aku tidak akan pernah menyesali pilihan hatiku, kamulah satu-satunya, yang pertama dan terakhir."
.
.
.
Boy kini telah sampai di basecamp yang akan menjadi rumahnya untuk sementara hingga ia tahu kemana ia akan pergi nantinya. Semua yang ia katakan tadi kepada Khaira memang hanyalah sebuah alasan dan perkataan spontan. Mengenai mau pergi kemana? Ia belum memikirkannya sama sekali.
Sementara di sampingnya, Ifan tengah duduk seraya menceritakan usaha mereka mencari sang bos yang tiba-tiba hilang kabar usai keluar dari kantor polisi sejak malam itu hingga saat ini.
Tubuh Boy ada di basecamp, tapi sayang, hati dan pikirannya sedang berkelana entah kemana. Bahkan telinganya yang berada tepat di dekat Ifan tak ia gunakan untuk mendengarkan penjelasan laki-laki itu.
"Ifan, ayahku telah memutuskan hubungan denganku," ucap Boy tiba-tiba, membuat Ifan seketika menghentikan ceritanya.
"Ada apa? Kenapa bisa? Apa itu artinya tidak akan ada lagi pemasukan dalam geng motor kita? cecar Ifan.
Boy hanya diam tak menjawab, ia juga bingung dengan keadaan saat ini. Bukan hanya masalah keluarga, kini ia juga di hadapkan dengan masalah di geng motor yang semakin membuat kepalanya terasa berat.
Ifan mengusap kasar wajahnya saat tak mendapat respon dari Boy. "Apa itu artinya kita akan kembali membegal di jalan?"
Boy langsung menatap Ifan dengan alis yang bertautan. "Apa kau tidak memiliki ide lain untuk mendapatkan uang selain cara itu?" tanya Boy dengan tatapan sinis ke arah Ifan.
"Terus harus bagaimana lagi? kita butuh uang untuk bersenang-senang, Boy!"
"Kau bisa bekerja, Ifan! Aku pun akan bekerja jika memang harus."
"Mana ada yang mau menerima kami bekerja, Boy, kami tidak berpendidikan, tidak sepertimu yang sudah hampir menamatkan pendidikan SMA. Orang kaya sepertimu memang tidak akan mengerti."
Boy lagi-lagi terdiam. Dulu geng motor Black Wings memang kerap kali melakukan pembegalan, sama seperti geng motor Brandalz. Namun, semenjak Boy terpilih mejadi ketua geng, semua kegiatan itu ia hentikan, dan sebagai gantinya ia yang menanggung kebutuhan para anggota gengnya, entah dengan uang pribadi atau uang hasil taruhan balapannya.
Tak ingin berdebat, Boy memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan khusus ketua geng untuk sekadar mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Berharap semua kesulitan ini bisa cepat mendapatkan solusi.
.
.
.
Boy terbangun dari tidurnya saat malam mulai larut. Sayup-sayup dari luar kamar ia mendengar suara para anggota geng yang sepertinya sedang melakukan pembicaraan serius.
"Malam ini kita akan beraksi sesuai dengan tempat yang sudah kita sepakati." Ifan menutup pembicaraan mereka saat melihat kedatangan Boy.
"Apa yang kalian bicarakan tanpa mengajakku? Beraksi? Beraksi apa yang kalian maksud?" tanya Boy.
"Kami akan mulai melakukan aksi begal kembali," jawab Ifan enteng.
"Apa? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak melalukannya?"
"Itu dulu, sebelum kau jadi anak terlantar, Boy," cibir Ifan disertai senyuman mengejek.
Boy mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Ia benar-benar tidak terima dengan perkataan Ifan kepadanya. "Apa kau bilang?" Boy mencengkeram kerah baju Ifan. "Sepertinya kau benar-benar berani padaku sekarang," lanjutnya berbicara tepat di depan wajah Ifan.
"Aku tidak pernah takut padamu, Boy. Dulu aku menghormartimu karena kau menghasilkan uang, sekarang tak ada lagi yang perlu kuhormati darimu."
"Kurang ajar kau ...."
Bugh
Boy yang sudah terbakar emosi karena perkataan Ifan, langsung menghajar laki-laki itu hingga tersungkur di lantai.
"Aku keluar dari geng motor ini, rupanya kalian tidak lebih seperti parasit yang tidak setia dan hanya mencari keuntungan dariku saja." Boy mengambil jaketnya lalu berjalan cepat ke arah pintu, tapi belum sampai di sana, ia dicegah oleh beberapa anggota Black Wings.
"Kau pikir keluar dari geng ini semudah itu?" Ifan kembali berdiri lalu memberi kode kepada teman-temannya untuk menghajar Boy.
Mau tidak mau, kini Boy harus bertarung melawan teman-temannya sendiri yang berjumlah lebih dari 20 orang itu. Meski terasa berat dan sulit, Boy kali ini tidak ingin kalah, sudah cukup ia direndahkan tadi, kali ini ia tak ingin itu terjadi lagi.
Setelah beberapa menit berlalu, semua yang melawan Boy tadinya kini telah terkapar, termasuk Ifan. Tak ingin semakin mandapat masalah baru, Boy langsung pergi meninggalkan basecamp di tengah malam yang semakin larut dan dingin seorang diri.
.
.
.
Boy duduk termenung di pinggir pantai seorang diri di malam yang begitu dingin. Ia menatap laut lepas yang gelap dengan tatapan sendu. Dadanya terasa sesak, mengingat nasibnya yang begitu malang. Angin sepoi-sepoi yang berembus menerpa wajahnya bahkan tak bisa membuat perasaannya lega.
Ia benar-benar sendiri kali ini, benar-benar tak memiliki arah dan tujuan lagi. Ayah yang selama ini menjadi satu-satunya orang yang selalu ada di belakangnya walau tak memberi kasih sayang kini telah pergi meninggalkannya.
Begitu pun dengan teman-teman geng motornya yang ia pikir akan tetap mau bersama dan mendukungnya di saat ia sedang terpuruk, tapi ternyata apa yang ia pikir itu salah, mereka bahkan tak lagi menghormatinya dan nekat melawan.
"Astaga nasibku yang malang." Boy mengusap wajahnya dengan kasar. "Tidak, aku tidak boleh seperti ini, dasar lemah."
Tring
Suara ponsel yang berdering membuat Boy tersadar dari lamunan. Ia hendak mengambil ponsel tapi sebuah kertas di saku celananya membuat Boy yang tadinya hendak mengambil ponsel malah mengambil kertas kecil tersebut.
"Rahman." Boy membaca sebuah nama di kertas yang ternyata adalah sebuah kartu nama yang pernah diberikan oleh seorang kakek kepadanya.
"... Barangkali suatu saat kamu mau berkunjung ke tempat saya, saya akan sangat senang...."
Potongan ingatannya memutar kembali pada perkataan pria usia lanjut itu saat ia telah usai melaksanakan sholat maghrib untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia tidak pernah melakukannya.
"Pesantren Rahmatan Lil 'alamin." Boy kembali membaca tulisan di kartu nama itu.
"Apa dia adalah seorang guru pesantren?" monolognya penasaran.
Rasa penasarannya membawa laki-laki itu untuk membuka internet, Boy ingin mencari lebih jauh informasi tentang pria itu dan pesantrennya, hingga akhirnya sebuah keinginan untuk ke sana muncul dari dalam hatinya.
"Tempat ini lumayan jauh, bagaimana caraku ke sana?" tanya Boy pada diri sendiri, kini pandangannya tertuju pada motor kesayangannya, satu-satunya yang masih bertahan di sisinya di saat semua orang pergi meninggalkannya.
-Bersambung-