He's Not A Bad Boy

He's Not A Bad Boy
Bab 50 - Ta'arruf yang Singkat



"Ada yang ingin mengajakmu ta'arruf."


Silvi terkejut mendengar perkataan Ali, ia hendak bertanya lagi tapi pintu lift terbuka saat berada di lantai yang ia tuju, mau tidak mau wanita itu harus segera keluar.


"Ternyata kamar kita berada di lantai yang sama."


Silvi berbalik saat mendengar suara bariton yang baru saja ia dengar di dalam lift tadi.


"Kak Ali di lantai ini juga?" tanya wanita itu.


Ali mengangguk sambil tersenyum lalu melewati Silvi. "Sepertinya jodoh memang tidak akan kemana," lirihnya sambil berjalan, tapi masih bisa di dengar oleh wanita itu.


"Apa maksud Kak Ali? Dan mengenai yang tadi, siapa yang ingin ta'arruf denganku?" Silvi berjalan di belakang Ali mengikutinya sampai laki-laki itu berhenti.


"Apa kamu ingin masuk di kamarku juga?" tanya Ali, membuat Silvi yang baru sadar langsung mundur beberapa langkah.


"Maaf, Kak. Aku hanya penasaran dengan perkataanmu tadi," jawab Silvi tertunduk malu.


Ali tersenyum tipis lalu mulai kembali berbicara. "Aku yang ingin mengajakmu ta'arruf, apa kamu mau?" tanyanya dengan wajah yang kini berganti serius.


"Apa? Kak Ali?" tanya Silvi lagi.


"Iya, aku, apa kamu mau menjalani ta'arruf denganku?" tanya Ali.


Silvi bergeming, rasa tidak percaya seketika membuatnya tak mampu merespon perkataan laki-laki di hadapannya.


"Aku masuk dulu, tidak baik bicara berdua seperti ini lama-lama, kamu bisa memikirkannya dulu, aku menantikan jawabanmu dikegiatan besok," ucap Ali lalu pamit masuk ke dalam kamarnya.


Sementara Silvi masih diam berdiri di tempatnya, kedua tangan wanita itu perlahan terangkat dan mencubit pipinya sendiri.


"Aww, sakit ternyata, berarti ini bukan mimpi." Silvi mengusap pelan kedua pipinya lalu masuk ke dalam kamar yang berada tepat di samping kamar Ali.


.


.


.


Keesokan harinya, semua perwakilan pesantren se-Indonesia Barat berkumpul di sebuah gedung yang cukup besar. Suasana di sana begitu ramai dan meneduhkan karena banyak ulama yang ikut menghadiri kegiatan itu. Tempat duduk antara laki-laki dan perempuan berada di tempat terpisah, di mana laki-laki berada di bagian kanan, dan perempuan berada di bagian kiri.


Selama kegiatan berlangsung, Ali maupun Silvi tak pernah terlihat satu sama lain. Padahal wanita itu ingin memberikan jawabannya. Hingga acara berakhir, Silvi memutuskan untuk langsung kembali ke hotel.


Ia menatap kamar Ali yang masih tertutup tanpa ada suara apa pun sambil membuang napas kasar..


"Katanya dia menunggu jawabanku, tapi dia malah tidak terlihat sama sekali. Ya sudah aku akan pulang lebih dulu, jodoh tidak akan kemana," lirih Silvi lalu memasuki kamarnya.


Beberapa saat kemudian, Silvi keluar dari kamarnya sambil menarik koper. Sejenak ia berhenti dan kembali menatap ke arah kamar Ali. Wanita itu menyelipkan sebuah kertas di bawah pintu kamar Ali lalu segera pergi.


Setelah 30 menit berlalu pasca kepergian Silvi, Ali baru saja keluar dari lift dan berjalan menuju kamarnya. Untuk sesaat ia menatap ke kamar yang ia duga adalah kamar Silvi, lalu kembali berjalan memasuki kamarnya. Namun, tatapannya kini tertuju pada secarik kertas yang terselip di bawah pintu.


Kertas itu di ambil dan di baca perlahan, tanpa sadar senyuman mulai terlihat di wajah tampan laki-laki itu.


Untuk Kak Ali


Maaf, aku memberimu jawaban melalui tulisan ini, aku harus segera pulang dan aku tidak bisa menemukan keberadaanmu sejak tadi.


Bismillahirrahmanirrahim... Jika Kakak serius dengan niat Kakak, maka aku menerimanya. Hanya saja aku tidak ingin menjalani masa taarruf yang lama, bukan karena kebelet nikah, aku hanya takut kecewa untuk kedua kalinya.


Usai membaca pesan dari Silvi, Ali segera mengambil ponselnya lalu menghubungi Boy.


"Halo, assalamu 'alaikum, Boy."


"Tolong berikan aku alamat rumah kedua orang tua Silvi."


***


Di tempat lain, sepasang suami istri sedang menikmati kebersamaan mereka. Khaira duduk di kasur sambil bersandar di kepala ranjang, dan Ali sedang membaringkan kepalanya di pangkuan sang istri.


"Ada apa, Kak?" tanya Khaira yang melihat sang suami hanya menelepon dalam waktu yang sangat singkat.


"Aku bingung sama laki-laki satu itu, tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba minta alamat rumah orang tua Silvi," jawab Boy.


"Kak Ali maksudnya?" tanya Khaira memastikan dan dijawab anggukan kepala oleh Boy.


"Apa mungkin Kak Ali ingin melamar Silvi?" tebak Khaira.


Boy menatap wajah sang istri dengan dahi yang berkerut. "Tidak mungkin sih menurutku, Ali tahu bagaimana agresifnya Silvi mengejarku waktu itu."


"Memangnya kenapa? Jika cinta sudah bertahta, maka tidak peduli siapa pun dia, hati akan merasa nyaman dan bahagia. Lagi pula Silvi sudah berubah, dia baik dan tak lagi menyimpan kebencian untuk kita," ujar Khaira sambil mengusap lembut kepala sang suami.


"Kamu benar, Sayang. Semoga kebaikan selalu menyertai niat baik mereka, jika memang apa yang kamu pikirkan benar adanya." Boy kini mengubah posisinya menghadap ke perut Khaira yang mulai membuncit.


"Assalamu 'alaikum anakku, bagaimana kabarmu? Sehat selalu di dalam yah, jangan buat ibumu kesulitan dengan ngidam yang aneh-aneh, kasihan dia, kasihan juga ayahmu ini yang harus memenuhinya," lirih Boy sambil mengusap perut Khaira dengan lembut, membuat Khaira ikut tersenyum melihatnya.


"Oh iya, Sayang. Jika keadaanmu sudah lebih baik, aku ingin mengajakmu bulan madu, bagaimana?"


"Bulan madu? Kemana?"


"Kamu ingin kemana? Insya Allah akan aku penuhi."


"Tidak usah jauh-jauh yah. Hmmm, aku ingin ke pantai, tapi hanya kita berdua saja di sana, dan berangkatnya pake motor gede kamu."


Boy yang mendengar permintaan sang istri langsung bangkit dari tidurnya dan menatap wanita hamil itu.


"Sayang, kamu itu lagi hamil, bahaya kalau naik motor."


"Kita tunggu sampai usia kandunganku kuat, Kak, aku ingin merasakan berduaan sama mantan anak geng motor."


"Tapi, Sayang ...."


"Please, boleh yah, Kak," pinta Khaira seraya memegang tangan sang suami dan memperlihatkan senyuman termanisnya, tak lupa kedipan mata yang membuat Boy seketika tersenyum gemas.


"Baiklah, Sayang. Aku akan memperlihatkan bagaimana mantan anak geng motor membonceng istrinya yang sedang hamil."


***


Hari semakin gelap, Silvi baru saja kembali dari pesantren setelah mengurus beberapa hal. Wanita itu berjalan gontai memasuki rumah karena begitu lelah.


"Assalamu 'alaikum, Ayah, Ibu, Silvi pu- ...." Suara Silvi seketika tercekat di tenggorokan saat netra wanita itu menangkap sosok laki-laki yang baru saja ia temui semalam di depan kamar hotel kini berada di hadapannya, dengan ayah dan ibunya berada di sana.


"Wa'alaikim salam, kebetulan kamu sudah datang, kemarilah, Nak." Sang ayah langsung menarik tangan Silvi untuk duduk bersama mereka.


"Kamu sudah mengenal laki-laki ini 'kan?" tanya sang ayah dan hanya di jawab anggukan oleh Silvi.


"Nah, jadi Nak Ali ini datang untuk melamarmu menjadi istrinya, bagaimana pendapatmu?" tanya sang ayah.


Silvi langsung menatap Ali dengan tatapan bingung. "Maaf, Kak. Bukankah kamu ingin mengajakku ta'arruf, kenapa tiba-tiba datang melamar?"


"Bukankah kamu sendiri yang bilang jika kamu tidak ingin menjalani ta'arruf yang lama? Aku datang ke sini untuk membuktikan jika aku memang serius sama kamu, dan aku tidak ingin membuatmu kecewa untuk sesuatu yang belum pasti."


-Bersambung-