
Dito berjalan ke sebuah sekret jurusan di belakang kampus dengan wajah kesal. Ia duduk di kursi dekat pintu masuk sambil mengoyangkan kakinya naik turun dengan cepat, terlihat jelas jika saat ini dia sedang gusar akan sesuatu.
"Hey, Bro! Itu muka kenapa? Kayak kertas habis di obok-obok aja, kusut banget," ujar Rangga ikut duduk disampingnya.
"Nasibku apes, Bro. Baru juga mau di deketin, eh ternyata udah nikah," gerutu Dito.
"Nikah?" Rangga mengerutkan keningnya. "Tunggu-tunggu, memangnya siapa yang udah nikah? Aku bingung soalnya cewek yang mau kamu deketin itu banyak, Bro," lanjutnya diikuti tawa.
"Ah, nggak asik, malah buka kartu. Itu tu si Khaira, kata adiknya dia udah nikah."
Dito mulai menjelaskan apa yang baru saja ia dengar dari adik Khaira itu saat ia mengantarnya pergi sekolah. Namun, Rangga yang mendengar cerita Dito kini malah tertawa terbahak-bahak sambil sesekali memukul lengan sahabatnya itu.
"Haduh, kamu itu mau aja dikibulin anak SMP, Khaira itu belum nikah, ini Shaza loh yang bilang langsung."
"Shaza?"
"Iya, temennya Khaira yang kemarin itu, kemarin sore aku tidak sengaja ketemu dia di sebuah warung bakso, terus sambil nungguin bakso pesanan kita, aku sedikit cerita-cerita sama dia, dan dia bilang kalau Khaira itu tidak memiliki hubungan spesial dengan siapa pun."
"Apa? Ish, dasar bocah tengil, untuk saja dia adiknya Khaira...."
"Kenapa adik aku, Kak?" tanya Khaira yang baru saja tiba di sekret bersama temannya sambil membawa box berisi beberapa berkas.
"Eh, tidak, Ra. Maksudnya adik kamu itu baik dan ramah," ujar Dito segera meralat perkataannya sambil menyunggingkan senyum maksimal.
"Oh." Khaira hanya membulatkan bibirnya merespon perkataan Dito. "Oh iya, terima kasih sudah mengantar adikku tadi ke sekolahnya, Kak," lanjut Khaira dan mendapat anggukan disertai senyuman dari Dito.
Usai mengantar barang ke sekret, Khaira pamit dan kembali ke kelasnya untuk bersiap mengikuti kuliah selanjutnya. Namun, baru beberapa langkah, Dito langsung menyusul dan berjalan beriringan dengannya.
Khaira tentu saja merasa risih dengan keberadaan Dito di sampingnya, ia tidak terbiasa akan hal itu. Namun di sisi lain, ia tidak enak jika harus bicara langsung, sehingga ia memutuskan untuk mempercepat langkah kakinya agar bisa segera sampai di ruang kelas.
Dito yang melihat itu rupanya juga ikut mempercepat langkahnya untuk menyamai Khaira, meski ia tidak perlu berusaha keras karena kakinya yang panjang, tapi tetap saja ia merasa bingung dengan sikap gadis itu.
"Khaira, kok kamu jalannya cepat banget?"
"Tidak, Kak. Biasa aja kok ini." Khaira sebisa mungkin menjawab singkat semua pertanyaan yang dilontarkan Dito.
Melihat Dito yang tidak kunjung peka dengan sikapnya, membuat gadis itu mulai merasa kesal. Berkali-kali ia beristighfar agar tidak kelepasan bicara hingga membuat Dito akhirnya sakit hati padanya.
Ia teringat perkataan sang ibu yang selalu mengajarinya untuk mengontrol diri jika ada hal yang tidak ia sukai. Salah satunya adalah diam dan menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata yang pada akhirnya dapat menyakiti hati orang.
"Aku masuk dulu, Kak." Khaira akhirnya berhasil sampai di depan kelasnya, dan itu membuat Dito mau tidak mau akhirnya memutuskan untuk pergi.
.
.
.
Waktu terus berlalu, langit kini menampakkan semburat jingga yang begitu indah, hari pun tampak semakin gelap. Khaira baru saja menyelesaikan kuliah terakhirnya hari ini. Ia berjalan menyusuri koridor fakultas menuju tempat di mana ia memarkir motornya.
"Ra, kamu mau pulang?" Khaira menoleh ke arah sumber suara ketika seorang laki-laki datang menyapanya di tempat parkir.
"Iya, Kak," jawab Khaira malas, ia benar-benar lelah hari ini.
"Kamu terlihat lelah, Ra. Bagaimana jika aku mengantarmu pulang?"
Khaira dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Kak. Aku bisa bawa motor sendiri, kok."
"Kamu beneran bisa pulang sendiri?" Dito kini terlihat khawatir pada Khaira.
"Iya, Kak."
Khaira menatap bungkusan yang kini telah berada di tangannya, lalu segera menyimpannya ke dalam tas ransel yang ia kenakan.
"Huufth, kenapa repot-repot sih kak Dito ini," monolognya lalu segera melajukan motornya pulang.
***
Hari terus berlalu. Malam ini, Boy dan Ali baru saja kembali dari tempat menghapus tato. Sebagaimana janji Ali sebelumnya, ia benar-benar mencari tahu tempat untuk menghapus tato, mulai dari mencari diinternet, hingga bertanya pada teman-temannya.
"Jadi tadi tatomu di apain?"
"Di laser, Bang. Tapi tidak sakit sih soalnya pake bius, tidak tahu deh nanti kalau biusnya udah hilang."
"Jadi tatomu sekarang sudah hilang?"
"Belum hilang total, Bang. Kata dokternya karena tatoku lumayan besar, jadi proses lasernya harus diulang lagi."
"Kok bisa sih kamu punya tato? Ceritanya gimana tuh?"
Awalnya Boy merasa ragu untuk bercerita, karena jujur, kadang ia merasa minder jika harus bercerita mengenai masa lalunya. Namun, mengingat Ali kini adalah temannya, maka ia pun mulai bercerita.
"Emm, gini ceritanya, Bang, sebenarnya ...." Boy mulai menceritakan awal mulanya ia memutuskan membuat tato, mulai dari ia yang menjadi anggota geng motor, hingga menjadi ketua geng motor.
Ali hampir tidak percaya jika Boy adalah mantan ketua geng motor, mengingat perilakunya yang kini begitu kontras dengan masa lalunya. Tapi jika di telisik lebih dalam, tatapan mata Boy memang kadang memancarkan aura dingin yang sedikit menakutkan, di tambah tato di lengannya yang lumayan besar, membuat Ali pada akhirnya percaya dengan cerita adik juniornya itu.
"Lalu bagaimana ceritanya kamu bisa berubah seperti sekarang?" Ali kini semakin penasaran.
Boy tidak langsung menjawab, ia justru tersenyum, entah kenapa jika membahas awal mulanya berubah, nama Khaira yang langsung melintas dalam pikirannya , bagaimana pertemuan pertamanya dengan Khaira hingga bagaimana gadis itu memberikan perubahan dalam hidupnya walau kebersamaan mereka sangatlah singkat.
"Ada seorang gadis istimewa, dia baik dan lembut serta suka menolong. Kami sempat berteman, walau pun sangat singkat, tapi gadis itu berhasil mengetuk pintu hatiku. Aku ingin selalu berada di dekatnya saat itu, tapi ayahnya memintaku menjauhinya karena aku seorang bad boy. Sejak saat itu keinginan untuk memperbaiki diri mulai muncul dalam hatiku."
Ali tersenyum mendengar cerita Boy. "Kenapa kamu tidak menikahinya? Bukankah kini kamu bukan lagi seorang bad boy tapi good boy?"
Boy tertawa membalas candaan Ali. "Entahlah, Bang. Aku merasa hingga saat ini aku masih jauh dari kata baik, mungkin aku butuh waktu untuk bisa lebih memantaskan diri agar aku bisa langsung menemui ayahnya."
Ali menganggukkan kepalanya lalu merangkul Boy. "Kamu benar, Boy, laki memang jarus gitu," ujarnya. "Mendengar bercerita tentang seorang gadis, tiba-tiba aku teringat juga akan seorang gadis yang saat kecil sudah menarik hatiku," lanjut Ali sembari mengulas senyum.
Boy menoleh ke arah Ali. "Gadis kecil? Jangan bilang seleramu anak kecil, Bang."
Ali tertawa lepas mendengar perkataan Boy. Ia melepas rangkulannya lalu berjalan sambil menjelaskan lebih detail agar Boy tidak salah paham.
"Ibuku dulu seorang guru di sekolah tahfizh, saat itu usiaku masih 8 tahun, aku sering ikut di acara-acara lomba tahfizh itu untuk sekadar menonton. Saat itulah aku pertama kali melihat seorang gadis kecil yang ikut serta dalam lomba, aku begitu takjub padanya hingga mencari tahu informasi mengenai gadis kecil itu. Dan ternyata dia adalah keponakan dari teman ibuku yang juga adalah guru di sekolah itu."
"Lalu? Apakah perasaanmu itu masih sama sampai sekarang?" Boy kini ikut penasaran.
"Entahlah, aku juga heran sama diriku ini, bisa-bisanya aku hanya takjub pada gadis yang sama dari kecil hingga sedewasa ini. Aku berniat melamarnya setelah aku menyelesaikan pendidikan S2ku, ibuku juga sudah berbicara dengan tantenya."
"Masya Allah, luar biasa sekali hatimu yang begitu setia, Bang. Gadis itu benar-benar beruntung."
***
"Uhuk uhuk uhuk, ekhem ekhem, ekheeeem."
"Kenapa, Kak? Kayak nenek-nenek aja batuk-batuknya.
"Tidak tahu, Dek. Tiba-tiba tenggorokanku terasa gatal. Sepertinya ada yang membicarakanku."
-Bersambung-