He's Not A Bad Boy

He's Not A Bad Boy
Bab 30 - Ancaman Boy



Boy berlari menyusuri lorong sebuah rumah sakit dengan perasaan tidak tenang, kedua alisnya saling bertautan, jantungnya berdebar dan keringat mulai membasahi pelipisnya. Sangat jelas terlihat kecemasan di raut wajah laki-laki itu, kecemasan pada orang yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.


"Ali mengalami kecelakaan saat ia baru saja meninggalkan bandara. Taksi yang ia tumpangi di tabrak oleh truk besar hingga membuat kepalanya mengalami cedera parah. Sekarang dia sedang koma di rumah sakit, dan belum pernah bangun sampai sekarang."


Boy mengusap wajahnya kasar kala perkataan Ibu Salma yang ternyata adalah ibu dari Ali tadi kembali berputar dalam ingatannya. Semakin lama larinya semakin melambat hingga tubuhnya kini berada tepat di depan sebuah pintu ruang ICU di mana Ali di rawat.


Suara khas pintu yang terbuka terdengar di ruangan itu. Boy berjalan masuk dan langsung memperkenalkan diri dan menyalami seorang laki-laki paruh baya bernama Herman, ia terlihat sedang menjaga putranya dengan keadaan yang begitu lesu tak bersemangat.


Bagaimana tidak, anak tunggal yang selama ini menjadi kebanggaan dan selalu memberi kebahagiaan, kini terbaring lemah di atas tempat tidur dengan berbagai macam alat medis yang menempel di tubuhnya guna memantau keadaan dan membantu tubuh Ali selama koma, seperti alat bantu pernapasan, selang makan dan infus sebagai jalan untuk memasukkan nutrisi dan obat-obatan, dan monitor ICU untuk memantau denyut jantung dan tekanan darah.


Boy berjalan menghampiri Ali yang masih dalam keadaan menutup mata. Bibirnya mengulas senyum, tapi matanya memancarkan kesedihan.


Suasana ruangan kini terasa begitu hening, hanya ada terdengar suara monitor ICU yang berbunyi teratur.


"Ajaklah bicara, Nak. Kata dokter, meskipun dia sedang tidak sadarkan diri, tapi dia bisa mendengar suara di sekitarnya," ujar laki-laki paruh baya itu.


Boy menatap wajah Ali lalu menampilkan senyumnya lagi. "Assalamu 'alaikum, Bang. Apa kamu masih mengingatku? Aku Boy, aku sudah tamat dan aku juga sudah kembali ke tanah air. Pantas saja kamu hilang kabar saat kembali ke Indonesia, rupanya kamu malah bermalas-malasan di sini. Bangunlah, Bang. Bukankah kamu ingin mencari kerja lalu melamar gadis istimewamu?"


Boy menghentikan kata-katanya lalu menatap wajah Ali yang sama sekali tak memberikan respon. Laki-laki itu kini berbalik ke arah pria paruh baya di sampingnya dengan wajah lesu.


"Tidak apa-apa, Nak. Kita bisa mencobanya lagi nanti," ujar Herman sambil mengulas senyum tipis meski terkesan sedikit dipaksa, ia mengerti arti raut wajah Boy saat ini sebab ia sudah sering mengalami hal yang sama.


Tak lama setelah itu, Salma memasuki ruangan. Ketiga orang itu kini saling berbicara sejenak mengenai keadaan Ali. Berdasarkan cerita wanita paruh baya itu, entah sudah berapa kali mereka mengajak Ali bercerita, tapi tak ada satu pun yang berhasil membuat Ali merespon.


"Kata dokter, katakan sesuatu yang bisa memancing emosinya, agar bisa memicu tubuhnya bereaksi," kata Herman.


"Iya, tapi Ali itu orangnya sabar, memangnya hal seperti apa yang bisa membuat emosi Ali tergerak?" balas Salma.


Boy seketika teringat akan sesuatu, ia segera berbalik lalu kembali mendekati tempat tidur Ali dan membisikkan sesuatu di dekat telinganya.


"Bang, ayo bangun, jika kamu tidak bangun, aku yang akan menikahi gadis istimewamu," ancam Boy.


Tak lama setelah itu seorang dokter masuk untuk memeriksa keadaan Ali, mulai dari pemeriksaan pupil hingga pemeriksaan EEG . Dan dari EEG ini terlihat adanya aktivitas baru di otaknya hal itu membuat wajah dokter itu sedikit berbinar.


"Alhamdulillah, Ali baru saja memperlihatkan perkembangan barunya, terus ajak dia berbicara, semoga saja dalam waktu dekat ini dia bisa bangun dari komanya."


Bagai angin segar, kedua orang tua Ali mengusap wajahnya penuh syukur dan langsung menghampiri Boy.


"Nak, kami tidak tahu apa yang kamu katakan pada Ali, tapi apapun itu terima kasih, Nak. Jika perlu ulangi lagi agar Ali segera sadar." Herman menjabat tangan Boy begitu bahagia. Setelah sekian lama mereka berjuang, akhirnya kondisi anaknya mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik, insya Allah anaknya akan segera sadar, itulah yang ia yakini saat ini.


Sementara Boy hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak mungkin juga ia selalu mengatakan hal itu, jika Ali mendengar semuanya, mungkin ia akan akan mendapat gamparan dari laki-laki itu saat sadar nanti.


***


Beberapa minggu kemudian, Khaira kembali melanjutkan pendidikannya untuk meraih gelar dokter, di mana ia harus menjalani pendidikan koas (ko-asisten) selama dua tahun di rumah sakit secara langsung.


Seperti hari ini, Khaira dan beberapa temannya sedang mengikuti dokter pembimbing mereka untuk melakukan visit pasien rawat inap. Sesekali dokter akan menjelaskan keadaan pasien, dan tidak jarang dokter akan melemparkan sebuah pertanyaan kepada mereka.


Dari satu kamar, mereka kini berpindah ke ruang ICU. "Kali ini kita akan mengamati pasien yang sudah koma selama lebih tiga tahun," ucap dokter lalu memasuki sebuah ruangan tersebut.


Khaira dan beberapa temannya pun ikut masuk dalam ruangan itu.


-Bersambung-


NOTE:


Electroencephalography (EEG) adalah alat yang berfungsi untuk mempelajari gambar dari rekaman aktivitas listrik di otak, termasuk teknik perekaman EEG dan interpretasinya. 


EEG mungkin juga bermanfaat untuk mendiagnosis atau mengobati gangguan seperti tumor otak atau kerusakan otak akibat cedera kepala, disfungsi otak yang dapat memiliki berbagai penyebab (ensefalopati), peradangan otak (ensefalitis), trauma pada kepala, dan gangguan tidur.


Selain itu, pemeriksaan EEG juga dapat digunakan untuk mengkonfirmasi kematian otak pada seseorang yang koma persisten. Pemeriksaan EEG berkelanjutan digunakan untuk membantu menemukan tingkat anestesi yang tepat untuk seseorang yang koma dan diinduksi secara medis (halodoc.com).