He's Not A Bad Boy

He's Not A Bad Boy
Bab 23 - Cantik



Beberapa bulan kemudian.


Khaira berjalan cepat menuruni tangga sambil menenteng tas ranselnya yang sedikit besar. Langkah kakinya yang berbalut rok kini membawa gadis itu ke meja makan di mana Zafran, Ainun, Oma Sofi, dan Umar sudah menunggunya sejak tadi untuk sarapan bersama.


"Kamu begadang semalaman yah, Sayang? Tumben-tumbennya kamu terlambat bangun." Ainun membantu menyendokkan nasi goreng ke piring yang ada di hadapan Khaira.


"Iya, Ma. Laporan praktikum Khaira banyak banget," jawab Khaira. "Cukup, cukup, Ma," lanjut Khaira menghentikan sang ibu yang hendak kembali menuangkan nasi ke piringnya.


"Loh, makannya kok dikit banget, Sayang?" tanya Oma Sofi yang melihat isi piring Khaira hanya sedikit, seperti orang diet.


"Khaira lagi buru-buru, Oma, bentar lagi Khaira ada praktikum," jawab Khaira seraya menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Umar, kamu mau kakak antar ke sekolah nggak? Kalau mau cepetan," tanya Khaira kepada sang adik yang masih fokus menghayati sarapannya.


"Aku diantar Papa sajalah, lebih tenang dan damai, kalau sama Kakak yang buru-buru gini, nanti sampai di sekolah rambutku tidak beraturan lagi gara-gara naik motor pembalap amatiran seperti Kakak," tolak Umar, membuat Khaira langsung membulatkan mata ke remaja SMP itu.


"Apaan sih? Harusnya kamu bersyukur, walau rambutmu berantakan, kamu bisa sampai di sekolah dalam keadaan selamat dan utuh, itu artinya aku pembalap profesional."


Khaira mengakhiri sarapannya dengan meminum susu yang telah disediakan Ainun lalu berpamitan kepada empat orang itu dan menyalaminya satu per satu. Gadis itu kembali berlari menuju motornya dan mulai melaju meninggalkan halaman rumahnya.


Beberapa menit kemudian, Khaira tiba di kampusnya. Ya, Khaira telah menentukan pilihannya melalui sholat istikharah, dan pilihan itu adalah kuliah di universitas ternama di kota asalnya.


Khaira berlari menuju laboratorium sambil mengeluarkan baju khusus lab yang akan ia gunakan saat praktikum. Namun, akibat tidak memperhatikan jalan, gadis itu tak sengaja menabrak seorang laki-laki hingga keduanya terjatuh.


"Astaghfirullah, maaf, maaf, aku lagi buru-buru tadi, Kak." Khaira segera bangkit sambil memungut tas dan baju khusus lab yang terjatuh ke lantai.


"Tidak apa-apa, aku juga salah karena tidak melihat jalan," ujar laki-laki itu ikut berdiri.


Khaira melihat sekilas laki-laki itu lalu pamit dan kembali berlari menuju lab. Tanpa ia ketahui, laki-laki itu mengulas senyum sembari melihat Khaira yang semakin menjauh.


"Cantik," ucapnya pelan, lalu kembali melanjutkan jalannya menuju kelas.


Waktu terus berjalan hingga tak terasa waktu praktikum pun telah selesai. Khaira memutuskan untuk langsung menuju ke masjid kampus mengingat waktu sholat dzuhur tinggal beberapa menit lagi.


"Ra, akhirnya ketemu kamu juga di sini."


Shaza yang baru datang langsung merangkul pundak Khaira. Kebetulan ia kuliah di kampus yang sama dengan Khaira, hanya saja jurusan mereka berbeda, Khaira kedokteran dan Shaza jurusan tata boga.


Adzan mulai berkumandang, satu per satu mahasiswa mendatangi masjid untuk menunaikan kewajiban mereka. Ketika sholat dzuhur berjamaah telah selesai dilakukan, Khaira dan Shaza memutuskan untuk langsung menuju kantin guna mengisi perut mereka yang mulai keroncongan.


Kedua gadis itu kini makan bersama di pojok kantin saling berhadapan. Mereka menikmati makan siangnya dengan begitu lahap, apalagi Khaira yang memang sangat lapar karena sarapannya hanya sedikit pagi tadi.


"Assalamu 'alaikum, apa kami boleh gabung?" tanya seorang laki-laki yang datang bersama temannya.


Khaira maupun Shaza yang sejak tadi asik makan dan bercerita seketika mendongak dan mendapati dua laki-laki tampan sedang berada di sampingnya. Tidak langsung menjawab, kedua gadis itu saling menatap dan saling meminta pertimbangan melalui tatapan mata.


"Bingung banget, boleh nggak, nih?" Laki-laki yang lain ikut bertanya karena tak kunjung mendapat jawaban dari kedua gadis itu.


"Eh, iya silahkan," jawab Shaza cepat, lalu berpindah tempat ke samping Khaira. Sementara dua laki-laki tadi langsung mengambil tempat di hadapan mereka.


"Kamu yang tadi, 'kan?" tanya salah satu laki-laki itu sambil menatap Khaira.


"Iya betul, Kak," jawab Khaira, ia tahu jika laki-laki itu adalah seniornya, tapi ia tidak tahu namanya.


"Kenalkan, namaku Dito, nama kamu siapa?" tanya laki-laki itu lalu mengulurkan tangannya ke arah Khaira.


Khaira menatap tangan Dito sejenak, entah kenapa ia tiba-tiba mengingat seorang laki-laki pertama yang pernah bersikap sama seperti Dito. Senyuman khasnya dan bagaimana laki-laki itu selalu mengikutinya.


"Astaghfirullah, kenapa keinget dia lagi sih?


Khaira mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada. "Khaira," ucapnya kemudian ia memegang lengan Shaza yang diam di sampingnya. "Dan ini Shaza," lanjutnya memperkenalkan sang sahabat.


Dito menarik kembali tangannya sambil tersenyum. "Ah, maaf," ucapnya, lalu merangkul sahabatnya yang juga berada di sampingnya. "Dan ini Rangga, teman sekelasku," lanjutnya.


Sejenak suasana kembali hening karena kedua gadis itu memilih diam. "Em, Kamu mahasiswa baru di fakultas kedokteran 'kan? Ini pertama kalinya aku melihatmu, padahal sudah beberapa bulan berlalu semenjak aktivitas perkuliahan kembali aktif," ujar Dito.


"Iya, aku mahasiswa baru, Kak," jawab Khaira tersenyum canggung.


"Kamu juga?" Rangga kini bertanya kepada Shaza.


"Tidak, Kak. Aku jurusan tata boga," jawab Shaza.


Keempat orang itu terus bercengkrama hingga makanan mereka habis. Khaira dan Shaza pun akhirnya pamit lebih dulu untuk kembali ke kelas mereka.


"Gimana? Dia cantik, 'kan?" tanya Dito kepada Rangga.


"Iya, dia cantik, tapi temannya tidak kalah cantik juga ternyata," jawab Rangga sambil mengulas senyum.


"Akan ku pastikan, dalam beberapa minggu dia akan menjadi kekasihku," ujar Dito begitu yakin.


Rangga tertawa mendengar perkataan Dito. Yang benar saja, gadis berhijab dan menjaga diri seperti Khaira, tentu tidak akan mau di ajak pacaran, apalagi sama Dito, laki-laki playboy yang menjadikan paras dan latar belakang pendidikannya sebagai penjerat hati wanita.


"Jangan deh, Bro, dia tidak akan mau. Yang ada kau akan malu sendiri karena di tolak untuk pertama kalinya," ujar Rangga.


Dito tidak percaya dengan perkataan sahabatnya itu, ia justru sangat yakin jika dia akan berhasil karena sejauh ini belum ada wanita yang mampu menolak pesonanya. Tak ingin kalah, laki-laki itu pun membuat taruhan dengan sahabatnya, jika ia berhasil maka Rangga harus membayarnya sebanyak 50 juta. Sebaliknya, jika ia kalah, maka ia harus membayar 100 juta kepada Rangga. Dengan senang hati Rangga menerimanya.


***


Di tempat lain, seorang laki-laki tengah fokus mempelajari bahasa Arab secara otodidak di dalam perpustakaan. Selama setahun lebih di pesantren, ia sudah mampu memahami dasar-dasar bahasa Arab, sehingga tidak terlalu sulit baginya untuk belajar bahasa tersebut lebih dalam.


"Hai, Boy." Seorang gadis berhijab tiba-tiba duduk di sampingnya. "Bagaimana? Apakah kamu mau aku mengajarimu bahasa Arab? Gampang kok, pasti kamu akan lebih cepat menguasai bahasa Arab jika aku langsung mengajarimu, " ujar gadis itu dengan bahasa Indonesia sambil tersenyum.


Boy hanya melirik sekilas gadis itu dengan ekor matanya dan tidak memberikan respon apa pun, hingga membuat gadis itu kesal.


"Boy, kamu kenapa, sih? Selalu saja cuekin aku, memangnya aku salah apa sama kamu?" tanya gadis itu dengan suara tinggi, membuat semua orang yang ada di perpustakaan langsung menatap risih ke arahnya.


"Jika kamu ingin membuat keributan, silahkan keluar," ujar Boy dingin, tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya.


-Bersambung-