
Setelah perjalanan 4 jam disinilah Kiara sekarang, Villa keluarga "Aidan Kamil". Villa keluarga dari Albiansyah Kamil.
Mama Syafina memberitahu bahwa Bian ada disini karena diberitahu pembantu yang membersihkan villa ini bahwa Bian sedang berada di villa ini.
Saat sampai di depan villa tadi Kiara disapa oleh maid villa ini dan diberi tahu bahwa Bian sedang ada diruang keluarga setelah bangun pagi dan menyantap sarapan yang telah disediakan oleh maid.
Maid itu juga bilang pada Kiara bahwa Bian tidak baik-baik saja keadaannya saat ini.
Bian terserang demam mungkin efek kelelahan setelah kembali dari tugas atau ada suatu hal yang membuat daya tahannya menurun. Entah! kan ku tanyakan nanti.
Setelah berpamitan mohon ijin untuk masuk ke dalam villa Kiara segera berjalan masuk dan tak lupa mengucapkan salam saat masuk villa itu. Memang yang seharusnya dilakukan oleh setiap umat manusia beragama entah ucapan salam seperti umat muslim biasanya atau kata permisi itu harus tersemat saat memasuki tempat dimanapun juga.
"Mbok Dah, saya ijin masuk dulu nggeh, mau lihat keadaan Mas Bian dulu nanti kita sambung lagi obrolannya, " ucap Kiara
"Oh, nggeh nak ayu monggo. Den Bian mungkin masih ada di ruang keluarga habis sarapan tadi, " jelas mbok Dah
"Enggeh mbok, pareng(permisi) mbok Dah, " ucap Kiara lagi ramah
"Enggeh monggo, katuran. (Iya silahkan)" balasnya
Saat membuka pintu suasana didalam terasa hening dan sebelum masuk Kiara mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Assalamu'alaikum" ucap Kiara
sedetik
dua detik
tak ada suara yang menjawab dengan rasa canggung Kiara masuk lebih dalam dan menemukan ruangan yang katanya ruang keluarga itu cukup luas memang untuk ukuran villa, dan saat melihat ruang tamu pun memang tempat ini diperuntukkan yang memiliki keluarga besar karena ukurannya memang luas dan tujuannya diperuntukkan big family.
200 meter dari tempat berdiri Kiara, dia melihat pria yang membuat Kiara sedikit kecewa dan penuh dengan kerinduan yang mendalam pada sosok lelaki tersebut.
Setelah meletakkan paper bag yang berisi makanan yang ku masak sendiri di rumah kediaman keluarga AlBIAN tadi karena instruksi, ijin dan saran camer tadi untuk dibawa ke villa ini.
"Assalamu'alaikum, mas" ucapku yang sedikit membuat BIAN terkejut dan langsung membuka matanya yang sejak tadi ia tutup.
"Waalaikumsalam" jawabnya meski seperti antara sadar dan tidak ia melihat Kiara ada di depannya.
"Sayang,,,,, Kiara, bener kamu itu, " meyakinkan mungkin takut Kiara hanya halusinasinya.
Kiara hanya mengulas senyum manisnya dan mengangguk pasti pada Bian.
Dan selanjutnya Bian mengulur tangan untuk membuat Kiara berjalan mendekat padanya.
Setelah sampai didepan Bian, ia tak menyia-nyiakan momen ini dan segera mendekat dan merengkuh pinggang Kiara untuk Bian peluk.
"Eeh,,, mas, " kaget Kiara karena langsung ditarik dan dipeluk erat oleh Bian.
Rindu! memang itu yang mereka berdua rasakan saat ini, memang tak dipungkiri rasa kangen berat karena lama tak bersua dan merasa ada sedikit kerenggangan antara mereka beberapa bulan ini dan terganjal dengan kesibukan masing-masing yang tak bisa diganggu gugat oleh apapun itu.
"I miss you so hard, honey, " ucapnya teredam karena muka Bian dibenamkan diperut Kiara.
"Me too, " jawab Kiara sambil membelai dan sedikit menyugar rambut sang kekasih dengan lembut dan sayang.
Kiara merasakan sedikit basah pada baju yang tembus ke kulit perutnya dan Kiara sadar Bian menumpahkan entah rasa haru, sedih atau bahagia hingga Bian bisa mengeluarkan air matanya.
"Mas lepas, ihh. Kamu kenapa sih. Tuhkan basah, kamu nangis mas. "Kiara menggoda Bian sambil berusaha menangkup dan mendongakkan kepala Bian tapi ia masih kekeh untuk memeluk Kiara yang masih setia berdiri didepan Bian itu.
"Diem ga, 5 menit aja Ki, " ucap Bian terdengar serak
"Yah tapikan ga harus setrap aku berdiri kayak gini dong. Masa tamunya suruh berdiri terus, pegel kan, " cerocosku menggoda dan mencandai Bian.
"Iih, ngerusak suasana romantis aja, " ucapnya tak Terima tapi masih memeluk pinggang Kiara yang membuat Kiara terkikik mendengar protesan Bian padanya.
Sejenak suasana serasa hening mereka menikmati kehangatan pelukan pengurai kangen mereka.
Setelahnya Bian mendongakkan kepalanya dan tersenyum manis yang membuat Kiara terhipnotis melihat senyum dan lesung pipi yang tersemat saat senyum Bian menguar.
Dan Bian menarik lengan Kiara setelah melepas pelukan dan menyuruh Kiara untuk duduk di sampingnya dan kembali memeluk bahu Kiara sampai kepala Kiara menempel ke dada Bian dan Bian bisa menikmati aroma harum dari rambut Kiara yang tertutup hijab pashmina itu.
"Kok tahu aku disini? pasti mama nih yang kasih tahu yah? Kamu sama siapa ke sininya? Diantar sopir kan?, tanya Bian tanpa jedah yang membuat Kiara gemes dan berusaha lepas dari pelukan Bian yang erat itu.
Yang disiksa wanita itu hanya meringis dan menyengir antara sakit dengan geplakan sang kekasih dan merasa dirinya sedikit berlebihan atas pertanyaan yang belum satupun dijawab Kiara sebab mau membuka mulut untuk menjawab tapi pertanyaan nya diutarakan tanpa jeda, jadikan Kiara bingung dan saking gemesnya Kiara tak sadar memukul paha Bian agak keras tadi itu.
"Sadis amat sih yank, main geplak aja, " sedikit meringis merasakan geplakan Kiara, sedikit drama sih tapi tak selemah itu sebenarnya.
"Sakit,, ?"tanya Kiara tak tega
"Lumayan, moga ga bekas jadi merah aja yah,, hehehe" canda Bian tapi memang tak selemah itu fisik Bian secara pengalaman seorang militer tak kenal sakit tapi masih merasa sakit juga🤭.
"Idiih sok lemah, " cibir Kiara.
"Iyah, mama yang telpon aku katanya disuruh hibur orang galau, baru pulang langsung pergi lagi. Nih aku kesini buat jemput kali aja mau kalo nggak ya tak tinggal pulang aja, jawabku sambil terkikik menggoda Bian dan Bian mencebik tanda tak Terima.
"Mama mah ada-ada aja. Aku tuh kesini buat healing kalo dirumah pasti direcokin Alisha ato mama, inilah itulah," jelas Bian sambil menghela nafas dan posisi kami masih Bian merangkul bahu Kiara dan Kiara menempel didada Bian.
Sesekali Bian mengecup kepala Kiara yang tertutup hijab, nyaman itu yang dirasakan mereka berdua karena dengan seperti itu mengobati rasa rindu mereka.
"Terus tadi kesini sama siapa kamu yank? " tanya Bian lagi.
"Sama sopir mama tadi, tapi udah tak suruh pulang. Planing nya kalo yang diajak pulang ga mau ya naik Grab aja nanti,,hehehe" jawab Kiara sambil mendongak kearah Bian dan menyentuh rahang tegas Bian yang terasa masih hangat.
"Masih anget kamu mas, udah minum obat kah?" melepas pelukan Bian dan beranjak niatnya akan mengemasi makanan yang ada di paperbag yang dibawa tadi.
"Emang ada?" bukannya menjawab malah bertanya atas kata-kata absurd sang kekasih (emang ada grab di desa kayak gini-pemikiran Bian yang sedang terhipnotis perkataan Kiara- jadi bodoh kan😁😁 merasa konyol dengan guyonan sang kekasih).
Dan belum dijawab Bian sudah bertanya lagi karna tiba-tiba Kiara beranjak dari
"Mau kemana?" tanya Bian menoleh ke belakang
"Bentar mau kemasi makanan yang aku bawa tadi dari rumah. "jawab Kiara berjalan tanpa menoleh kearah Bian yang masih duduk disofa tapi tak disangka ternyata Bian mengikutinya.
"Kamu belum jawab loh mas, Udah minum obat lagi belum. "tanya Kiara lagi dan ditanggapi dengan sengiran Bian.
"Udah tadi habis sarapan, yank. " yang hanya diangguki Kiara.
"Tentara kok lemah, " ejek Kiara menggoda yang digoda melongo tak menyangka ucapan Kiara yang diutarakan.
"Tentara juga manusia kali yank, " jawab Bian sambil bibirnya mengerucut dan bukan membuat jengkel malah Kiara dibuat terkikik geli dengan ulah Bian. Kiara tau Bian tak sungguh-sungguh marah.
"Ini lagi, kan mas dokter yah kok bisa sakit, " goda Kiara lagi yang tambah membuat Kiara terbahak melihat raut wajah Bian tak Terima ejekan Kiara.
"Astaghfirullah yank, emangnya dokter itu robot ga bisa sakit gitu🤦♂️. Orang robot juga bisa kongslet terlalu lama dipakek, " jawab Bian tanpa terduga Kiara tambah terkikik geli mendengar jawaban Bian yang seperti jadi korban keusilan Kiara.
"Becanda, sayankku,,, my sweet heart😁, " sambil mengelus rambut cepak Bian, entah kapan mencukur rambutnya.
"Coba ngomong sayang terus gitu kan jadi gimana gitu, " harap Bian dengan mengukir senyum manisnya yang dilebih-lebihkan.
"Idiih ngarep pak, "jawab Kiara sewot, Bian terkekeh melihat raut wajah Kiara seperti itu.
Selama di villa itu mereka quality time, ngobrol ngalor ngidul sampai waktu dhuhur tiba dan setelahnya mereka langsung makan siang. Karena rencananya setelah ashar nanti cus mereka balik ke rumah utama, rumah keluarga Albian.
Dan mengingat keadaan Albian yang masih kurang fit akhirnya mobil yang dikendarai Albian ke villa itu terpaksa disopiri oleh Kiara. Tadinya Albian tidak mengijinkan tapi karena Kiara memaksa dan menunjukkan bukti bahwa Kiara memang bisa dan punya lisensi mengemudi akhirnya Bian pasrah saja.
Memang selama ini Kiara tidak pernah menunjukkan bahwa ia bisa mengendarai kuda besi itu.
Siapa yang berjasa usul agar Kiara bisa berkendara dengan roda empat itu? Yang pasti tiada lain dan tiada bukan adalah sahabat Kiara, "DILLA".
Meski belum punya mobilnya minimal bisalah markirinnya😁, itu celetukan Dilla yang bikin geli tapi itu nyata ternyata berguna juga skillnya hingga punya surat lisensi yah ada campur tangan sang kakak sahabat meski tetap menjalani test drive dulu. Jangan terus mentang mentang punya koneksi jadi berulah intinya ingin jadi warganegara yang baik jauh dari KKN tentunya 🤭.
Dari pertemanan jadi persahabatan dan sekarang merasa jadi saudara meski tak mengalir darah persaudaraan.
Dari pertemanan keluarga pun jadi semakin dekat seperti saudara, itulah yang dirasakan antara Kiara dan Dilla, secara berteman
🌼🌼🌼
Mau lanjut next bab gaess.
Maaf upnya terlalu slow bang et coz still have a baby, sorry!
Maaf kalo banyak typo 'n q tunggu Like, Vote, Comment nya yah,, Love You All😘❤!