
"Ki pulang kerumah mama aja dulu, istirahat disana ajak ibu, Dilla sama keluarga nya kalau disini ga bisa istirahat nanti. Nunggu pas resepsi nanti kan agak lama. Nanti kalau pas mau persiapan dikasih tahu i." ucap mama Bian panjang lebar.
"Apa ga papa mah, gak enak nanti sama yang lain, " ucapku sambil meringis sungkan
"Ga papah lagi, kasian ibu sama mama Dilla juga lainnya, kamu sama Dilla juga keliatan capek gitu, kita nanti juga pulang dulu sebentar lagian semua udah ada WO yang tanggung jawab kok. Biar nanti Bian sama Alisya temenin pulangnya.
Mama habis ini pulang, tadi juga ibu sama mama Dilla udah bantuin juga."
"Bantu apa toh jeng wong bantu makan aja ini, " sahut ibuku merasa sungkan juga
Karena paksaan akhirnya ibu, aku, Dilla dan keluarga mau untuk beranjak dan kembali kerumah Bian yang didampingi Bian dan Alisya, yang lainnya nanti menyusul katanya tadi.
Tak disangka akhirnya yang bisa tinggal hanya Aku dan Dilla yang lainnya pulang kerumah, Bang Reno dan Mbak Nisa masih tugas sebelum rencana pernikahan mereka terlaksana, 2 bulan lagi mereka akan sah saat ini masih sibuk memenuhi persyaratan pernikahan mereka.
Sampai di rumah Bian Aku dan Dilla diseret paksa oleh Alisya masuk kamarnya.
"Eh main gandeng aja kayak truck aja, mau kemana coba ini?" omel Dilla tak terima diseret sama Alisya, Alisya hanya nyengir atas teguran Dilla dan aku hanya senyum sambil geleng kepala atas kelakuan Alisya dan Dilla.
"Udah buruan mbak-mbakku yang cantik sebelum pangeran atu tuh seret mbak Kiara ke tempat dia, " ucap Alisya sambil mengekspresikan wajahnya yang membuat Aku dan Dilla tergelak melihatnya.
Dan saat itu juga aku melihat kebelakang ternyata Bian sedang menatap kami bertiga sambil memicingkan kedua matanya tersorot pada Alisya dan itu membuat Aku dan Dilla tambah terbahak melihatnya.
Sedang Alisya hanya menyengir dengan tangan membentuk V kearah Bian.
"Udah sana istirahat dulu tapi ibadah dulu sebelum tidur kalau memang mau tidur, biar ga capek pas resepsi nanti, " ucap Bian saat sudah didekat kami dan selanjutnya merangkul bahuku dan mengusap kepalaku saat Alisya dan Dilla berjalan meninggalkanku masuk kekamar Alisya.
"Istirahat dulu sayank, tuh lihat mata kamu sayu gitu, " aku mengangguk mengiyakan karna memang merasa tubuh ini butuh merebah😁.
"Hhhmmm", jawabku sambil melenggang masuk ke kamar Alisya
"Yank, " panggil Bian aku menoleh dan bertanya dengan mengangkat daguku.
"Gak masuk kamarku aja? " ucapnya menggodaku sambil terkekeh, aku melotot tak Terima
"Belum halal juga, halalin dulu, " ucapku ketus, Bian tambah terkekeh
"Ayok! kapan kamu siap, aku mah siap kapanpun loh, " ucap Bian lagi, aku melotot dengan berkacak pinggang tahu dia menggodaku
"Buktikan, jangan cuma omdong yah Bang, " sahut Mbak Artika menepuk pundak Bian sambil menaik turunkan alisnya, dan Bian berjengit kaget karena tak mengira ada Kakak sulungnya saat dia menggodaku dan aku menutup mulutku menahan tawaku.
Dengan memutar bola matanya dan pergi meninggalkan kami berdua masuk kamarnya.
Aku dan Mbak Tika terkikik geli melihat kelakuan Bian itu.
Bian adalah pria introvert dan jadi hangat saat bersama keluarga nya, jadi menjadi kesenangan keluarga saat menggodanya seperti saat ini.
Saat masuk ke kamar Alisya aku melihat Dilla sudah tertidur dan Alisya masih sibuk dengan gadgetnya.
"Sini mbak, bednya cukup kok kalau buat kita bertiga" suruh Alisya
"Bentar aku mau sholat dulu deh mumpung masih keburu" jawabku sambil melenggang ke kamar mandi.
Setelah ibadah itu aku mulai ikut ke ranjang Alisya, ternyata lelah juga ya padahal cuman ikut ini itu aja belum merasakan sendiri gimana rasanya acara pernikahan sendiri (aku menutup mukaku dengan tangan malu sendiri membayangkannya 🤭).
"Mbak, jangan diambil hati kata-kata Alena yah, dia tuh sebenarnya baik cuman dia ga mau kalau zona amannya terganggu misal hubungan pertemanan nya diusik, " ucap Alisya.
...****************...
Mengingatkan kejadian tadi di taman belakang rumah Ayu untung sepi meski ada satu dua orang yang lalu lalang, saat itu aku memang ingin sendiri menetralisir kelelahanku itu kebiasaan ku memang.
"Jangan terlalu kepedean lah kamu jadi orang dan ga semua keluarga juga menerima kamu disini, " ucap Alena sarkastis padaku yang saat ini dia duduk dengan menyilangkan tangan didadanya, aku hanya bisa menoleh dan tersenyum sinis mendengar perkataannya yang tak ada gunanya menurut ku.
Siapa juga yang kepedean, aku kesini juga karena diundang bukan asal datang juga monolog batinku
.
Ini yang kedua kalinya dia berkata sarkastis padaku setelah dikafe itu.
"Hubunganku dan Bian memang belum lama tapi aku ga memaksa atau merendahkan diri untuk memaksa perasaan orang lain untuk mau suka padaku atau mau berhubungan dengan serius denganku.
Itu semua atas kesadaran Bian sendiri yang mau berhubungan denganku juga dengan keluarga nya aku tak memaksa pihak manapun untuk suka padaku karena aku ga mau memaksakan sesuatu yang akan merugikanku suatu saat nanti, aku ikuti alur saja. "
Setelah mengatakan itu aku meninggalkan Alena sendiri dan ga mau mencetuskan emosiku padanya karena aku tahu saat ini Alena ingin menyulut emosiku.
Sebelum jauh aku juga berkata pada Alena.
"Dan satu lagi, Bian ga mau milih pasangan yang diktator dan hanya bisa memamerkan sesuatu yang ga ada untungnya, hubungan itu dari hati bukan dari ambisi dan obsesi."
Setelah itu aku melenggang pergi tanpa menoleh lagi karena aku tahu saat terakhir berucap padanya tadi wajahnya menahan emosi yang siap meledak.
Tadi mungkin dia ingin menyulut emosiku tapi aku tak mau merusak image dan acara ramai ini dengan tingkah polah yang tak berguna dengan emosi yang meledak-ledak seperti orang tak berpendidikan, aku harus bisa mengontrol emosiku dalam keadaan dan saat apapun juga.
Ibuku berkata Orang yang baik itu tahu atas dirinya, jangan praduga dan emosi saja di kedepankan karena ga semua orang berpendidikan itu bisa menahan emosi diri pada saat apapun itu, tapi setidaknya hormati dan malulah atas apa yang kamu miliki hingga jadi orang yang benar-benar berpendidikan.
...****************...
"Udah jangan dibahas lagi, ayo istirahat. "
"Ga gitu mbak, aku gedeg aja gitu pas denger isi dari perkataannya itu kayak nyudutin dan ngejelek-jelekin mbak dimata mama dan keluarga, untungnya mama dan saudara lain tuh pikiran nya terbuka dan ga picik atau percaya perkataan tanpa bukti, dari dulu dia tuh memang gitu mbak, makanya aku ga terlalu suka, sukanya nonjolin diri kalau dia tuh bisa melakukan apapun tanpa orang lain, ambisi sama obsesinya itu ga kuat, mbak.
Untung Abangku ogah punya pasangan kayak dia, untung juga cuma temen bukan pacar kalau iya, aduuh bisa botak tuh kepala Abangku, mbak. " cerocos Alisya padaku bercerita tentang Alena yang ku tanggapi hanya dengan senyuman dan mengelus puncak kepala Alisya sayang.
"Udah jangan ghibah aja, enak dia dong pahalamu yang dikumpulkan lama kesedot sama dia, cuekin aja, semoga dia dapat hikmah dari apa yang telah dia perbuat selama ini. "
"Duuuh tambah sayang aku sama mbak, tetep jadi kakakku yah, karena jodoh itu Tuhan yang mengatur. Jadi jodoh bang Bian aja yah 😁, Alhamdulillah ada teman curhat. Kalaupun nggak berjodoh janji yah tetep jadi temenku yah mbak. "
"Udah kayak teletubies aja berpelukan, ga ajak-ajak ikutan dong, " ucap Dilla menyela tapi tetep memejamkan mata seperti orang nglindur, entahlah! Aku dan Alisya tergelak atas tingkah Dilla itu.
Sebelum menyamankan diri dan berharap menit, jam berikutnya lebih baik dari sebelumnya, aku menghela nafas panjang untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya dan selanjutnya kami bertiga terbuai mimpi masing-masing.
Entah berapa lama aku terbuai dengan mimpi saat aku merasakan bekasi lembut dikepala ku dan pelukan erat tangan kecil dipinggang ku, dan segera aku membuka mata.
"Mas,,, "ucapku saat melihat wajah tersenyum Bian didepanku, terus ini siapa yang memelukku saat menoleh ternyata Ali bocah kecil putra sulung Mbak Artika.
Aku langsung berbalik memeluk bocah menggemaskan itu dan kembali bertanya sesuatu pada laki-laki tampan yang tetap menyematkan senyum padaku.
"Jam berapa nih Mas, loh Alisya sama Dilla mana Mas, Ini Ali kenapa disini?, tanyaku tanpa jeda sambil nyengir malu yang membuat Bian mengernyitkan dahinya.
"Atu-atu kenapa sih neng baru bangun juga" ucap Bian lagi sambil mengusap kepalaku.
Aku terkekeh geli juga dengan tingkahku sendiri.
"Mana dulu nih yang dijawab?" tanya Bian saat aku sudah bersandar di head board dan mengedikkan bahuku.
"Ini udah jam 04.00 sore waktunya ashar, belum sholatkan" jawab Bian sabar yang kuangguki.
"Alisya sama Dilla dah bangun tadi jam 03.30, mau makan katanya lapar dan sekarang diganti tempat nya sama Ali, karena sampai jam 04.00 ga bangun jadi aku masuk kesini buat bangunin dan ternyata bidadari ku ini masih nyaman dengan mimpinya, maaf kalau bikin bangun. "
aku tersenyum manis dengar ucapannya.
"Ga papa Mas malah Terima kasih aku dah dibangunin, telat ga sih buat siap-siap kan banyak yang mau prepare kan. "
"Masih lama juga, laper gak?"
aku mengangguk atas jawaban dan pertanyaan Bian.
"Pengen bakso, masih sempet ga sih kalau makan keluar, "
"Masih kayaknya yank, " jawab Bian sambil melihat jam dinding didepannya.
"Okey aku bersih-bersih dulu terus sholat" Bian mengangguk padaku.
Aku bergegas turun ranjang menuju toilet setelah mengambil keperluan pribadiku.
Saat keluar aku melihat diranjang Bian nyaman memeluk Ali yang tertidur pulas, segera aku tunaikan ibadah.
Ketika membuka mukenah ku ternyata 2 pria tampan beda generasi itu telah pergi keluar dan aku segera menyelesaikan bersiap ku.
Saat keluar ternyata ramai sekali banyak saudara Bian yang saling bercengkrama dan denda gurau, aku langsung menuju dapur niatku buat minum.
"Makan dulu nak" suruh mama Bian
"Nanti aja mah di Ballroom pas resepsi nanti, sekarang lagi pingin jalan-jalan, boleh gak mah?"
"Ya bolehlah. Sama Bian kan"
"Enggeh mah"
"Ya udah berangkat aja, MUA nya juga belum dateng kok"
Tak berapa lama saat asyik bercengkrama dengan tetua keluarga ini suara lelaki pujaanku berkumandang🤭
"Sudah siap, " ucap Bian sambil menggandeng Ali keluar kamarnya
"Yah, ayok"
"Onty, Ali boleh ikut yah?"
"Bolehlah, ayo biar rame ga berdua aja" jawabku dan melihat Ali yang bersorak senang karena diajak jalan.
Kami bertiga pergi setelah berpamitan pada mama Bian dan yang lainnya yang masih ada di ruang makan.
"Mau kemana?" tanya Dilla saat sampai di ruang tamu.
"Jalan sore aja, mau ikut ga?"
Sejenak terlihat berfikir dan menanyakan pada yang lain para saudara Bian yang dijawab gelengan yang berarti menolak akhirnya cuma kami bertiga yang keluar jalan.
Saat perjalanan dengan naik motor begini selalu saja tangan kiri Bian sesekali menautkannya ke jemariku kadang ada dipaha, kadang juga dia lingkarkan di pinggangnya (uuuh romantis ga sih 🤭) dan tangan kanannya mengendalikan stang. Dia berbuat begitu kalau hanya perjalanan dekat saat jalan menikmati waktu luang saja.
Selama perjalanan dihibur oleh celotehan Ali yang bertanya ini itu saat melihat sesuatu yang membuat anak itu penasaran, sesekali kami menimpali dengan tawa saat celotehan anak itu lucu, seperti keluarga bahagia saat ini, apakah mungkin semua ini terwujud, Wallahu alam bishawab.
Bian benar-benar mengajak kami untuk kuliner makan bakso dan mencicipi makanan yang ada dipinggir jalan, setelah puas kamipun pulang dan sebelum maghrib pun kami sampai dirumah Bian. Senang melihat Ali yang sumringah dari tadi karena kami ajak jalan sambil kulineran.
Dan didalam rumah ini suasana sedang riuh karena setelah beribadah kami segera bersiap untuk ke resepsi Ayu dan Fauzan, katanya nanti ada acara pedang pora secara kan Fauzan seorang pilot, turut bahagia kurasakan saat melihat mereka bahagia.
...***************...
to be continued,,,,,
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Hai readers! maaf banget update kali ini panjang banget jedanya, mohon maklum enggeh,,,
Ini disebabkan karena ada suatu dan lain hal yang mendesak.
Ku tetap menunggu Vote, Like, Comment kalian para readers yang terhormat.
Terima kasih atas perhatiannya, love you all!😘😘❤