First Seesight

First Seesight
chapter 13



Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih emang peribahasa itu, seperti aku saat ini


Tak disangka tak diduga berangkat sehat wal afiat tak kurang apapun dan sekarang taaraaa karena kejadian pas pertandingan tadi lututku geser, tumit ku salah urat fix deh ga bisa jalan normal sementara waktu dan terpaksa pakai kruk deh.


Bukannya gimana liat keadaanku yang memprihatinkan, eh ini sobat kecilku malah ngledek dari tadi.


Sebelum dibawa ke klinik buat periksa aku dibawa ke tukang urut dan disana pas di betulin letak lutut dan memperbaiki urat ku yang katanya salah urat.


Dilla ketawa ngakak liat ekspresi ku yang katanya ga jelas.


"Tadi katanya aku baik-baik aja kok Bang, Dilla, eh sekarang kamu tuh mau nangis, marah, apa ketawa sih Ki, katanya sambil ngeliat ekspresi ku yang ga jelas.


Aku ga jawab pertanyaan Dilla karena menahan rasa sakitku ini.


Saat kesini aku naik mobil abang Dilla kalau nggak duh nasibku berarti ga mujur.


Sedang Dilla tetap pakai sepeda sport tadi.


Pagi tadi aku buka Hpku yang ternyata banyak notif chat dan panggilan tak terjawab dari Mas Bian, saat membalasnya aku tadi aku menerangkan karena kelelahan aku ga sempat buka HP langsung tidur aja.


Dan saat aku berobat tadi dia vidcall aku, emang janjinya begitu pas chat aku pagi tadi kalau agak siang bisa vidcall aku.


"Ki, Bang Bian nih", kata Dilla karna memang Hpku dipegang Dilla dan aku sekarang masih selonjoran diatas kursi habis diurut dan dipasang perban elastis.


"Ki, kamu kenapa kok kakinya,,,,,, " tanya Mas Bian saat lihat keadaan ku mungkin. Karena saat ini kamera belakang dipakai Dilla saat dia terima vidcall dari Mas Bian.


"Habis akrobat itu Bang", jawab Dilla sambil terkekeh menerangkan keadaan ku dan aku hanya menyengir tanpa dosa.


"Astaghfirullah, Ki. Kok bisa"


" Ya bisalah Bang kan tahu sendiri kelakuan ayang mbeb kamu", jawab Dilla lagi sambil ngakak, aku hanya manyun menanggapi omongan Dilla.


"Ki,,,, sayang,,, bikin khawatir aja kamu tuh. "


"Iya,,, ini udah mendingan kok Mas bentar lagi aku ke dokter juga kok".


"Sama siapa?"


"Sama abangnya Dilla nih", jawabku sambil pgang Hpku dan kutunjukkan wajah Bang Reno.


"Hai,, Bro,,,, Loh Bian kamu cowoknya Kiara? " kaget Bang Reno saat tahu wajah orang yang menelpon ku.


"Loh,,, kamu Reno ya" ucap Bang Bian juga terkejut.


Ternyata mereka ini kenal saat terpilih menjadi anggota paskibraka tingkat Provinsi.


Setelah itu mereka mengobrol dan menceritakan kejadian yang menimpaku.


"Sekarang dinas dimana bro? " tanya bang Reno


"Dinas Jogja bro," jawab Bian


Sampai beberapa menit Bian mengakhiri vidcall nya.


"Ki, aku baru tahu Bian tuh cowok kamu" ucap Bang Reno


"Bukan pacar kok Bang cuma temen aja", jawab ku dengan senyum malu.


"Iiidiiih apaan, temen tapi sayang sayangan itu apa namanya Bang, jangan PHPin orang ya ki", celetuk Dilla yang kubalas dengan pelototan tapi Dilla cuek tanggapi perlakuanku.


Setelah dari tukang urut aku diantar ke dokter yang ternyata keadaan tidak terlalu parah mungkin karna udah dibawa ke tukang urut tadi jadi agak mendingan dan hanya tinggal bengkak saja harus di kompres.


Setelah dari dokter aku diantar pulang sampai rumah ibu dan adikku kaget dengan keadaanku, yang jalan keluar mobil pakai kruk dan dipapah oleh Bang Reno.


Bang Reno masuk rumah menjelaskan semua kejadian yang menimpaku dan biaya pengobatan ditanggung oleh Mas Tejo selaku penanggung jawab.


Tadinya aku menolak dan Mas Tejo memaksa akhirnya aku mau. Bang Reno mewakili Mas Tejo meminta maaf atas kejadian yang menimpaku, tapi sebenarnya itu ga perlu karna semua ini murni kecelakaan menurutku.


Setelah Bang Reno dan Dilla pulang aku dibantu ibu dan adikku istirahat dikamar dan ibuku membantuku membersihkan diri.


Ibu dan adikku merawatku dengan telaten dan malam itu ibuku menemani ku istirahat dikamar takutnya aku butuh apa-apa katanya karna melihat keadaan ku yang sementara harus mengistirahatkan cidera ku.


Sesaat aku ingin memejamkan mata bunyi panggilan HP ku berbunyi, saat kulihat ternyata Mas Bian.


"Assalamualaikum, mas"


"Waalaikumsalam ,Ki"


"Yah gimana yah kan masih baru jadi masih ada nyut-nyutan gitu tapi tadi dah diinjeksi sama dikasih obat pereda nyeri sih Mas sama dokternya. Ga boleh terlalu banyak gerak dulu sih. "


"Oh gitu, aku kepikiran loh sayang. Andai aku bisa kesana aku pasti yang nemenin kamu Ki☹️.


Sekarang ada yang nemenin kamu?"


"Iya don't worry lah. Ya ga usah sampe kesini juga kan Mas, aku udah gapapa kok.


Aku tidur sama ibu takut aku butuh apa-apa katanya. Ini ibu baru masuk, mau ngomong sama ibu?"


Ibu mengernyitkan dahinya dan tanya tanpa suara 'Siapa' katanya. Temenku jawabku tanpa suara juga.


Aku pikir Bian menolak tapi ternyata salah dugaankh malah dia mau ngobrol sama ibu.


"Boleh deh, mana? Aku pingin kenalan sama camer, " ucap Bian sambil terkekeh.


"Iidiih PD amat pak, emang ibuku mau punya mantu kayak kamu. "


"Lah emang kenapa ga mau, aku ganteng kok😁😁😁"


"Dah,, dahlah nih ngomong sama ibu"


"Bu, nih π™²πšŠπš–πšŽπš—πš—πš’πšŠ mau kenalan, " candaku, sementara Ibu dan Bian tertawa saat dengar candaanku setelah nya aku berikan hpku pada ibuku.


"Assalamu'alaikum, bu. Perkenalkan nama saya Albiansyah, temen dekat Kiara bu"


"Waalaikumsalam nak, saya ibunya Kiara, salam kenal yah nak"


"Enggeh bu"


Mereka larut dengan obrolan antar anak dan orang tua dan aku hanya jadi pendengar yang baik dan sesekali menimpali nya.


Sejauh aku mendengar mereka nyambung sih kalo ngobrol seperti dah lama kenal, emang gitulah seorang Bian, supel, ramah, sopan dan orangnya suka mendengarkan orang yang bicara, tidak gampang menyela pembicaraan itu yang aku perhatikan selama kenal dengan Bian ini.


Setelah beberapa saat Bian memutuskan obrolan denganku dan ibu. Dan ibu mulai mengintrogasiku.


"Udah lama kenal Bian, Ki"


"Ga lama kok bu, pas aku KKN itu aku kenal nya, dia sepupu Ayu teman KKN ku bu. "


"Oh gitu brarti masih dua bulanan ini kenalnya?"


aku hanya menjawab dengan anggukan


"Ibu dengar dari caranya dia bicara, dia baik yah. Tapi apa kamu ga berat sama kerjaannya kalau misal nanti kamu berjodoh sama dia kan sering ditinggal tugas loh nak, apa kamu siap jadi istri abdi negara?


"Bu, kita ga pacaran bu. Kita hanya jalani aja hubungan kami kalau misal emang jodoh ya aku harus belajar kan bu.


Dan siap ga siap kalau emang jodoh pasti ada jalannya kok bu.


Aku masih pengen jalani hidupku saat ini, lulus kuliah, magang terus kerja, aku masih pingin bahagiain ibu, jadi masalah jodoh turut takdir Allah aja aku bu, ga mau memaksa, yah aku juga doa semoga Allah ngasih aku jodoh terbaik dan sayang sama keluarga. "


"Yo wes lah nduk, ibu manut awakmu. Ibu cuman biso doa yang terbaik buat kamu karena jodoh, maut, rizki itu Allah yang atur manusia hanya berusaha dan berdoa saja.


Ya sudah ayo tidur itu matamu tinggal 5 watt kayaknya efek obate mungkin yo?"


"Enggeh bu. Ibu tidur sama aku kan. "


"Iyo nduk, ibu ora tego ninggal awakmu koyo ngono keadaanmu, moso Iyo tak tinggal. Ayo wes enggal babuk".


Aku mengangguk menyetujui apa yang ibu katakan setelahnya aku dan ibu mencari posisi ternyaman kami untuk menuju pulau kapuk untuk bermimpi karena esok telah menyambut hari yang baru lagi dengan aktivitas yang telah menunggu.


Setelah nya entah siapa yang terlebih dahulu terlena tidurnya.


…to be continued…


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Hai readers maaf updatenya slow.


Ditunggu VOTE, LIKE , COMMENT nya yah.


Maaf kalau isi ceritanya membosankan dan banyak typo, thanks for your attention, love you all readers 😘😘!! Semoga SukaπŸ˜‰