First Seesight

First Seesight
chapter 20



Tak lama aku menutup panggilan dari Bian pintu kamarku diketuk oleh Ibu.


"Nduk, ada tamu cari kamu bisa keluar ndak? ucap ibuku setelah mengetuk pintu. Aku berusaha untuk bangkit dari tidur rasanya remuk redam tubuhku mungkin salesma atau gejala lain karena aku jarang sakit, berasa badan kurang fit aku berusaha minum jamu herbal biasa yang dijual diwarung atau paling nggak minum vitamin dan full istirahat.


Nah ini dari kemarin sore setelah dari kafe itu badanku rasanya ga enak banget. Mungkin PMS kali ya? pengaruh juga dengan imun sama stamina ku.


Pintu ku buka dan disana masih ada ibuku. "Siapa buk, laki-laki apa perempuan bu, " tanyaku pada ibu. Masa Bian ga mungkin kan baru juga aku tutup telpon terus ada yang datang bertamu, monolog ku dalam hati.


"Itu ada Nining didepan cari kamu ada perlu penting katanya, " jawab ibu


"Emang ada yang janjian tah? selidik ibu sambil mengerutkan dahinya penasaran.


"Eh, enggak bu gak ada, " bohong ku sambil mencengir malu.


"Kok ga langsung masuk kamar, biasanya juga langsung masuk, " ucapku lagi pada ibu


"Ga tahu ibu, kamu bersih-bersih aja dulu masih jorok gitu masa mau keluar. Masih ga enak badan ya?


"Enggeh bu, sebentar aku mau bersih-bersih dulu. "


Setelah itu aku keluar kamar dan melihat disana ada Nining sedang ngobrol sama ibu kangen mungkin karena lama ga ketemu.


"Assalamu'alaikum, ning"


"Waalaikumsalam, Ki"


"Eh itu udah ada Kiara ibuk tinggal kedepan dulu yah" ucap ibuku yang diangguki Nining dan Aku.


"Tumben ga langsung ke kamar"


"Sungkan lah,,, hehehe"


"Heleh,,, kemalan (aleman/manja) " ucapku sambil menepuk lengan Nining.


"Kamu juga tumben jam segini masih ngebo (tidur)aja mentang-mentang udah ga kuliah lagi,,, hehehhe. "


"Lagi ga penak awak Ning. "


"Iya berasa pas salaman sama peluk kamu rada anget gitu badanmu Ki. "


"Tumben biasane imun mu kwi terjaga beda sama yang lain koyo Aku, Dilla, sama Zaskia eh tapi koyoe Dilla sebelas-duabelas koyo awakmu yo, "lanjutnya dan kami sama-sama tertawa.


Hampir satu jam kami berdua asyik ngobrol sambil sesekali Nining makan dan minum suguhan yang dihidangkan ibuku tadi sekedar cemilan gitu. Karena kangen kami tidak sadar sudah cerita ngalor-ngidul hingga ngobrol tentang bisnis kecil-kecilan kami.


"Nih kita mau lanjut apa gimana secara aku buka lapaknya ga di Malang loh Ki, tapi di Surabaya karena aku kuliahnya disana. "


"Eh lanjut lagi Ning udah terlanjur nyemplung juga tapi soal tempat aku ga keberatan soalnya nanti aku juga kerja di Surabaya Ning. "


"Wah Alhamdulillah kalau gitu, gayung bersambut kayaknya. "


"Heeh kayaknya ini kita jodoh temanan sama bisnis kita juga. "


"Iya, semoga selalu dilancarkan yoh bisnis kita ini dari kita SMA yah Ki, Alhamdulillah sampai sekarang meski ada sedikit kendala tapi teratasi yoh. "


"Iya Ning, aamiin🤲semoga doa-doa kita dan keluarga dihijabah sama Allah SWT, karena rezeki, jodoh, maut itu Allah yang atur kita hanya bisa menjalani dan ikhtiar. "


"Enggeh bu ustadzah leres jenengan,,, hihihi" jahil Nining, aku tersenyum geli atas ucapannya.


"Terus jadi kerjanya kapan? "


"Dapat kebijakan dari perusahaan setelah wisuda baru masuk jadi bisa istirahat total sebelum perang,,, hihihi. "


"Eneng ae omonganmu Ki,,, hehehe. "


Tak berapa lama kami asyik berbincang ada ucap salam dari ruang depan dan aku mengenali suara itu.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, " jawabku dan Nining


"Siapa Ki, kok suara cowok tapi bukan suara Agil kok? tanya Nining penasaran, aku hanya bisa tersenyum menanggapinya.


Saat itu juga aku melihat Bian tersenyum padaku yang diantar ibu dibelakang nya dan ada satu perempuan di samping ibu juga tersenyum padaku.


Aku bangkit dan meraih tangannya untuk ku salami dan berganti bersalaman dengan Nining sambil berkenalan yang dikenalkan ibu.


Dan aku juga menyalami perempuan imut itu.


"Kenalin nih adik bungsuku, " ucap Bian


"Alisya, mbak. "


"Kiara."


"Nining."


Setelah bersalaman dan kenalan Bian bicara padaku.


"Kok anget banget suhu tubuhmu Ki, udah kedokter kah?


"Lebih panas tadi malam loh nak Bian ini udah mending habis ibu kasih paracetamol tadi malam sama pagi tadi. " adu ibuku yang hanya diangguki Bian.


Bian meraih tanganku dan mencek nadiku biasalah kebiasaan dokter kan gitu, kenapa ga sekalian tadi bawa stetoskop nya juga.


"Kok cuma digituin ga sekalian pakai stetoskop atau sekalian buka praktek gratis didepan pak, pasti banyak pasiennya loh pak, ledek ku yang membuat Bian, Nining, Alisya dan ibu terkekeh dengan ucapanku.


"Jadi ini Pak Dokter toh baru tahu, beruntung kamu Ki punya Dokter Pribadi.


Praktek dimana Mas Bian, RS atau Klinik. "


"Dimana-mana pas dia tugas Ning,,, hihihi🤭"


"Maksudnya gimana Dokter Freelance gitu yah"


"Mana ada Dokter freelance Ning. "


"Hahaha,,, bukan Ning dia dokter Tentara"


"Oohh, " ucap Nining


"Apa ga di tugaskan diRumah Sakit gitu ya Mas Bian? tanya Nining lagi


"Iya sudah baru dapat surat perintah sebelum pulang tugas kemarin, jadi sibuk pas itu dan ga bisa hubungi siapapun, " jawab Bian sambil melirik ku mungkin sambil menjelaskan kesalahpahaman kami, aku tak bereaksi apapun hanya menatapnya lekat.


Dan mungkin gemas atas tingkahku Bian mengacak kepalaku gemas dan aku cemberut atas ulahnya.


"Jadi berantakan kan Mas, iiih" ucapku tak terima.


Aku sempat terngiang akan ucapan Bian tadi entah serius apa nggak aku berharap serius deh tapi nanti dulu kayaknya🤭"Iya nanti pas kita halal yah, bolehkan bu, " ucap Bian tambah menggodaku.


Kami berempat terlibat obrolan yang menurutku random, dan melihat adik Bian dia tuh humble banget meski baru kenal seperti sudah kenal lama. Tapi terlihat juga sedikit pendiam. Tapi lihat aja nanti saat ketemu dengan biang rusuh berubah ga yah🤭.


Yang jadi provokator absurd disini pastilah Dilla.


Sore menjelang dan saat itu juga Nining pamit pulang dan tepat saat Agil adikku baru pulang dari bimbingan. Sebenarnya Bian dan Alisya ijin pulang tapi ditahan ibu agar nyempatin buat makan malam disini. Nining pun diajak tapi udah ditelpon keluarganya jadi pamit pulang dulu.


Selesai makan malam bersama dengan hikmat yang sebelumnya menyelesaikan ibadah, kami berempat kembali ke ruang tengah mengobrol dengan akrab.


...****************...


Dua hari setelah kedatangan Bian , dia menghubungiku agar mau diajak ketemu keluarga kebetulan ada pertemuan keluarga bulanan.


Tadinya mau menolak tapi akhirnya luluh karena Bian bicara dengan ibuku agar bisa meyakinkan aku buat mau diajak, jadi disinilah aku depan cermin untuk memantaskan diri, bersolek.


Pakaianku simple dan ga ribet itu fashion yang ku gunakan, dress maroon broklat bawah lutut berlengan atas siku ada pemanis dipinggang itu pilihanku. Dengan rambut hitam legam dibawah bahuku tergerai.


Dalam hati aku berucap semoga ga salah kostum, saat ini aku memang belum menutup aurat ku mungkin nanti.


Aku sadar sebenarnya saat anak perempuan belum menutup auratnya maka Allah mengharamkan Ayahnya yang meninggal untuk masuk surga tapi entah nanti mungkin, hidayah belum hadir untukku🤭semoga disegerakan 🤲.


Keluar dari kamar aku menuju ruang tengah untuk menunggu jemputan Bian.


Ga nyangka sebenarnya atas semua ini karena baru kenal udah diajak datang kerumah mertua tapi mungkin ini adalah bentuk keseriusan Bian mungkin.


Sempat dengar ucapannya waktu itu 'Aku ga main-main dengan hubungan ini, aku serius Kiara, aku begini karena melihat umur dan ga mau kekhawatiran keluarga ku yang melihat aku masih sendiri. '


15 menit berlalu orang yang ditunggu sudah ada didepan rumah katanya karena tadi sudah chat kalau hampir sampai rumahku.


Bian keluar dari mobil dan menghampiri ku diteras depan bersama ibu.


" Masuk dulu nak Bian, " suruh ibu saat Bian sampai depan kami dan menyalami tangan ibuku.


"Maaf, lain kali aja nggeh bu, masih mau mampir ke toko kue mau ambil pesanan mama.


Saya mohon ijin bawa Kiara ke rumah bu. "


"Oh, ya silakan nak Bian, hati-hati kalian dijalan yah. "


Setelah aku dan Bian berpamitan, kami berjalan menuju mobil yang Bian gunakan, tadinya mau dijok tengah ternyata aku disuruh di samping jok kemudi.


Saat buka pintu mobil aku dikejutkan suara Ayu.


"Surpriseeeee,,,,, "


"Astaghfirullah hal adzim, " jeritku kaget sampai terlonjak


" Ayuuuu,,, iih jahil banget sih, untung ga jantungan akunya, " sungut ku, ayu hanya menyengir tak bersalah.


"Kangeeen,,, kamu Ki, " ucapnya sambil memelukku dari belakang


"Iidiih ,,,,lebay banget , "ucapku sewot dan baru sadar kalau disitu bukan hanya Ayu saja ternyata ada Alisya yang hanya bisa tersenyum melihat ulah Ayu padaku.


Dan Bian hanya bisa mendengus pasrah melihat apa yang dilakukannya padaku dan Ayu melepaskan pelukannya padaku dan saat itu juga aku menyapa Alisya.


"Hei,,, dek, " panggilku pada adik Bian. "Kok gak turun dulu?" tanyaku


"Ga keburu Mbak, lain kali aja yah, " jawabnya.


"Kamu kenapa ga turun tadi? " tanyaku pada Ayu dan saat ini mobil pun berjalan menuju tujuan semula.


"Bikin surprise kamulah,,, hehehe, " jawab Ayu sambil tersenyum tak bersalahnya.


Sepanjang jalan para wanita di mobil itu mendominasi obrolan ngalor-ngidul sedang Bian konsen dengan kemudi nya.


Setelah sampai di toko kue itu kami berempat mengambil pesanannya dan lanjut ke tujuan pergi ke rumah keluarga Bian.


...****************...


30 menit perjalanan kami sampai di depan rumah besar milik orang tua Bian.


Sampai dalam rumah sudah ada keluarga inti Bian, setelah meletakkan Kue itu Aku, Ayu, dan Alisya sementara membantu menata Kue itu ke dalam wadah dan selanjutnya Aku diajak Alisya dan Ayu bertemu dan berkenalan dengan keluarga Bian. Sedangkan Bian sendiri berkumpul dengan keluarga pria.


"Oh,,, ini toh ceweknya Bian, pinter emang Bian milihnya, pantes semua cewek yang dijodohin sama mamanya ga ada yang cocok ternyata begini toh wajahnya. Cantiiik banget, " ucap salah satu tante Bian yang ternyata adik mama Bian saat salaman berkenalan tak disangka keluarga Bian wellcome padaku, Alhamdulillah ucapku dalam hati.


"Temen Ayu nih, ucap mama Ayu yang kutahu saat berkenalan.


"Mantumu ayu tenan dek, semoga hubungannya lancar yah Kiara, " ucap mama Ayu lagi sambil memelukku, Mama Ayu sedikit kenal denganku, dikenalkan Ayu saat sidang skripsi pada waktu itu.


"Udahlah Mama lepas peluknya nanti tempel lagi Kiara nya keburu keluarga lain datang, mau aku kenalin sama yang lain ini, "protes Ayu yang membuat aku tersenyum geli melihat wajah cemberut.


Saat berada di depan yang kutahu tadi mamanya Bian, aku langsung di peluknya sayang sambil mengelus punggung ku.


Tadi pas datang aku sudah berkenalan dan menyalami tangan mama Bian dan kakak perempuan Bian etapi karena membawa pesanan Kue tadi dan harus ditata jadi pending deh kenal akrabnya.


Setelah melepas pelukanku dengan mama Bian dia berucap padaku, " Terima kasih sudah menerima Bian jadi pasanganmu, sebelumnya dia susah buat menjalin sesuatu dengan wanita tapi sama kamu berbeda. "


Itu ucapan mama Bian padaku sambil menatap sendu padaku, aku merasa malu karena baru kenal sudah sesayang ini padaku dan aku merasa takjub karena se berharga itu adanya hubunganku dengan Bian.


"Iya tante sama-sama, tapi saya merasa ini terlalu berlebihan anda memuji saya karena saya ga se berharga itu tante.


"Enggak,, (sambil geleng kepala), kamu mungkin memang yang ditakdirkan Allah buat Bian, karena baru kali ini dia seruwet itu kemarin dan berubah jadi melow saat kamu ambekin dan wajahnya cerah ga cool kayak kulkas lagi, " ucap mama Bian lagi dan membuat kami semua yang ada disana tertawa lepas karena sedikit ghibahin dan meledek tingkahnya.


Dan tak disangka yang dighibahin datang.


"Rame amat lagi ghibahin siapa nih, " ucap Bian sambil tersenyum dan munculnya 2 lesung pipinya.


"Idiiih kepo amat ' 𝘛𝘪𝘢𝘯𝘨 ' berjalan,,, wlee, " ledek Ayu pada Bian yang akan dibalas tapi aku halangi takut memalukan tapi kata mereka sudah biasa begitu kalau kumpul Ayu kata keluarga.


"Kenapa kesini, " kata Kak Artika


"Itu tamunya dah datang di depan, " jawab Bian.


Visual Bian ini seperti wajah afgan🤭(halu bolehkan) tapi ga pakai kacamata tinggi tegap 185 cm dan jauh tinggiku yang hanya 165 cm ini.


Saat itu juga kami bergegas ke ruang tamu karena kami tadi ada di ruang keluarga dekat dengan dapur.


Tak sadar Bian menggandeng tanganku saat menuju ke depan ternyata rame juga banyak yang datang.


"Hai,,, sayang, " aku mendengar suara seseorang yang tak asing ditelingaku dan saat aku menoleh ke arah suara ternyata dia sedang memeluk Ayu.


Apakah dia? saat tak sengaja melihatnya dan saat tanpa sengaja kami saling tatap dia menyebut nama yang selalu dia ucapkan.


"Ara,,,," kata itu terngiang lagi oleh dia.


Siapakah "Dia"? Apakah mungkin seseorang dari masa lalunya tunggu kelanjutannya yah!!


...****************...


to be continued………