First Seesight

First Seesight
chapter 22



๐™๐™š๐™ข๐™ฅ๐™–๐™ฉ ๐™‹๐™š๐™ง๐™ฃ๐™ž๐™ ๐™–๐™๐™–๐™ฃ ๐˜ผ๐™ฎ๐™ช


Beruntung perhelatan pernikahan Ayu dan Farhan dilaksanakan saat weekend jadi untuk Aku dan Dilla bisa datang ke kediaman Ayu saat jumat sore sedang Bian baru bisa jumat malamnya.


Tapi rencana tinggal rencana karena ada kebutuhan pribadi yang belum semua terbawa jadi aku dan Dilla pulang ke rumah terlebih dahulu dan akhirnya pagi ini kami berdua baru bisa datang kerumah Ayu dan berhubung keluarga kami berdua juga diundang jadi ibu, aku, mama dan papa Dilla, Dilla, Bang Reno dan pasangannya miss adikku karena masih ada kegiatan sekolah, mungkin nanti nyusul katanya.


Kami semua berangkat bersama lebih awal juga karena aku dan Dilla ikut acara akad jadi sekalian berangkat juga.


Di tengah perjalanan aku ditelpon Bian pesannya agar mampir dulu kerumah Bian karena sebagian persiapan ada di rumah itu, pesan itu juga atas perintah mama Bian.


Jam 06.30 kami sampai dirumah Bian, Kami bertujuh berada dalam satu mobil yang dikemudikan oleh bang Reno.


Sampai depan rumah itu terlihat ramai dengan keluarga Bian.


Karena takut ga keburu jadi kami semua sudah memakai pakaian untuk menghadiri acara ini terutama Aku dan Dilla, jadi sampai rumah Bian tinggal tuch up.


Tapi ternyata sampai sana sudah ada MUA yang akan merias semua keluarga.


Akad akan dilakukan di mesjid dekat komplek perumahan ini jam 10.00 nanti masih cukuplah untuk persiapan, rumah Ayu dan Bian satu komplek tapi beda block terjangkau lah, jadi ada sebagian keluarga yang dipersiapkan di tempat Bian.


Pukul 09.00 Aku dan Dilla sudah selesai berias tinggal beberapa orang yang belum dan akan selesai, persiapan perempuan memang lebih rieweuh ketimbang laki-laki.


Mau cantik aja ribet yah๐Ÿ˜.


Keluar dari kamar rias aku dikagetkan dengan keriuhan para sepupu Bian yang berkumpul disana.


"Tysya (panggilan sepupu Bian pada mama Bian), MasyaAllah cantiknya mbak Kiara"


"Tak bawa pulang mbak Kiara nya ya tysya" gaungan suara para sepupu Bian membuat mereka yang sedang asik ngobrol jadi berhenti dan menoleh kearah ku yang sedang dirangkul oleh salah satu sepupu lelaki Bian .


Aku melotot karena kaget dan tak Terima atas perlakuannya hingga membuat semua orang memperhatikan ku.


Yang kupelototi hanya nyengir dan akhirnya mama Bian mendekati kami sambil tersenyum.


"Enak aja bawa pulang, mau ribut kamu sama Bang Bian"


Aku tersenyum saat melihat sepupu Bian yang manyun tak Terima dan saat tak sengaja bertatap dengan Bian ternyata dia juga menatapku dan berkata "Cantik" tanpa suara dan berkedip sebelah matanya, aku menunduk malu atas perilakunya padaku.


Akhirnya drama itu berakhir dengan bergabungnya aku dan Dilla bersama dengan para sepupu Bian, mengobrol entah apa mungkin tujuannya mengakrabkan diri, it's okeylah.


Saat sedang duduk diruang tengah tempat kumpul para keluarga itu, mama Bian memanggilku, sedang ibuku dan yang lain masih berkumpul dengan para tetua.


Meski baru kenal tapi se welcome itulah keluarga Bian, salut aku melihatnya. Seperti nya mereka ga pernah membedakan kasta.


"Kiara, bisa bantu mama nak? "


"Yah ma, "jawabku sambil berdiri


2 kali bertemu dengan mama Bian aku sudah di ultimatum untuk memanggilnya mama seperti anak-anak lainnya.


(panggil mama Ki, mama bukan tante-tante tapi udah oma-oma๐Ÿ˜).


"Bawain baju seragam ini kekamar Bian, dia lagi siap-siap mungkin" saat itu aku hanya mengangguk dan saat melihat ditempat Bian duduk ternyata Bian sudah tidak ada.


Setelah menjelaskan letak kamar Bian aku bergegas pergi.


Didepan kamar Bian aku sempat ragu mengetuk dengan keberanian yang ku punya aku berusaha melakukannya.


Tok,,, tok,,, tok


"Assalamu'alaikum, Mas. "


"Waalaikumsalam, masuk"


Saat kubuka pintu untung saja Bian tak telanjang, saat ini dia sudah pakai celana bahan warna biru navy dan memakai kaos putih mungkin dibuat dalaman kemeja ini.


Dan ternyata sudah rapi, saat menoleh padaku berasa melted lihat visual dia sekarang.


Oh Tuhan setampan itu lelaki didepanku ini monolog hatiku, tambah melted hatiku saat dia tersenyum padaku.


"Kenapa sayank" (mana-mana jantungku oh Tuhan jangan sampai copot yah๐Ÿ˜lebay๐Ÿคฆโ€โ™€๏ธ)


"E,, eh ini kemeja nya dari Mama" ucapku sedikit gagap diawal karena aku melamun.


"Sini masuk" aku menjejakkan diri memasuki kamar itu tapi tetep dengan pintu terbuka takut timbul fitnah ( kan belum halal๐Ÿคญ)


"Pakein dong" ucapnya manja


"Idiih jijik Mas dengernya" jawabku sambil begidik dengar ucapannya dia terkekeh mendengar ucapanku.


Aku mendekat dan dia langsung merengkuh tubuhku dan memeluknya erat, aku kaget hingga melotot, saat aku berontak tapi Bian berbisik.


"Biar begini dulu sayank semenit aja buat mood booster ku dari tadi aku pengen gini, kangeeen banget sama kamu. "


Saat akan berucap dari luar suara Mbak Tika menginterupsi perlakuan Bian.


"Astaghfirullah hal adzim Bian, sampai kapan mau gitu terus, telat nih Bian.


Aku hanya bisa menunduk malu karena kepergok dan Bian menyengir tak bersalah.


Setelah menegur kami, Mbak Tika berlalu karena takut diaduin ke mama Bian aku bergegas pergi tapi Bian menahan pinggang ku dan berkata.


"Pakaikan dulu baru aku lepas"


"Kayak anak kecil aja sih, pasang sendiri kan bisa Mas, manja ih"


"Manja sama calon istri emang salah? pasangin gak?" takut telat dan malas berdebat aku terpaksa memasangkan nya dan Bian terdiam menatapku.


Sambil ngedumel aku memakai kan kemeja itu ke badannya.


"pede amat nih bapak satu, emang aku mau apah jadi istrinya, " dumelku, Bian mengernyit kan dahinya saat mendengar dumelanku, becanda sebenarnya ๐Ÿ˜, siapa sih yang ga mau sama cowok tampan mempesona depanku ini๐Ÿคญ.


"Ikhlas ga sih ini" tanyanya sambil memberengut


"Ikhlas sayank, emang pernah ada kata ikhlas di surat al-ikhlas, "jawabku sambil nunjukin gigi putihku.


"Idiiih tumben udah pake sayang-sayangan nih, jadi pengen, " ucap Bian sambil mencubit hidungku


"Iih sakit tau Mas"


"Gemes tau ga sih" Bian berpindah mencubit pipiku


"Luntur Mas make up ku kamu gituin, lepas ga" ucapku sambil melotot.


Seperti tak rela Bian masih sedikit gemas mungkin dengan ulahku melepas tangannya dari pipiku.


Selesai memakaikan nya Bian masih terpaku memandangku karena merasa risih aku menggeplak lengannya gemas sedikit keras.


"Sampek kapan kayak gini terus, sampek akad selesai, " aku melotot pada Bian dan dia sedikit meringis sambil mengelus lengannya yang ku geplak tadi.


"Kejam amat kamu sayank"


"Biarin, bikin gedeg tau ga " ucapku lagi dan bergegas meninggalkan Bian yang masih dengan wajah keselnya dan mata tajamnya.


"Tungguin lah Ki, keluar bareng"


"Iih jalan sendiri kan bisa" ucapku kesal, masa iya masih rieweuh gini mau manja-manjaan, dan masih kudengar suara dengusan Bian.


Saat sampai diruang tengah ternyata sudah siap semua menuju tempat akad.


Kami semua bergegas berangkat karena takut terlambat karena dekat jadi kami semua jalan kaki kecuali pengantin yang menaiki mobilnya.


Sampai dimasjid perempuan dan laki-laki dipisah ada sket disana.


30 menit berlalu ucapan ijab dan qobul berkumandang didalam mesjid ini.


Setelah membaca 2 kalimat syahadat dan basmalah ijab dimulai.


๐˜š๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ-๐˜’๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ถ ๐˜‹๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ฉ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ฉ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด 24 ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต 100 ๐˜จ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ช.


๐˜š๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ถ ๐˜‹๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ฉ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ฉ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ธ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ช.


๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ช,,, ๐˜š๐˜ˆ๐˜!


๐˜š๐˜ˆ๐˜!


๐˜š๐˜ˆ๐˜!


๐˜ถ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ถ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ซ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฒ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ซ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌa๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ง๐˜ข๐˜ด ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.


Terdengar suara doa berkumandang dengan jelas saat kata Sah terjawab.


Aku masih belum mengusai tangis ku, aku dipeluk Dilla di kiriku dan Ibu di kananku.


Aku membayangkan saat akad nanti pasti adikku yang akan jadi waliku pengganti Ayahku yang telah tiada, ikhlaskah aku, InsyaAllah itu yang selalu tertanam didadaku.


Setelah bersalaman dengan kedua pengantin yang masih ada di mesjid itu kami semua digiring ke tempat perhelatan nikah tersebut. Yang ternyata sudah ada transport untuk pergi kesana.


Sampai rumah Ayu ternyata sudah terhidang lunch buffet disana untuk sajian para tamu saat akad, catering nya masih dari keluarga juga karena ada yang buka restoran dan mereka yang menyediakan.


Tak luput juga seragam yang dikenakan ini juga hasil karya dari Mbak Artika kakak sulung Bian yang buka butik di Jakarta.


Sebenarnya mau ketemu Ayu lagi tapi kupikir nanti aja pas resepsi di Ballroom hotel aja, karena tadi ketemu Ayu cuma sebentar karena masih banyak tamu yang mau memberi selamat sama Ayu tadi, hanya bisa mengucap ๐™Ž๐™–๐™ข๐™–๐™ฌ๐™– aja belum bisa ngobrol lama karena tadi lama di rumah Bian.


Lama ngobrol bersama keluarga besar Bian dan Ayu sambil santap siang, aku sedikit dengar ada seseorang yang ku kenal suaranya saat menoleh benar saja dia lagi dan lagi, bukan pengacau tapi pengusik hati yang bikin bad mood.


Setiap hubungan tak selamanya akan mulus seperti jalan tol tapi pasti ada kerikil kecil yang membuat perjalanan itu sedikit terguncang. Dengan itu Tuhan menguji umatnya yang sedang menjalin hubungan agar bisa bersabar dan berusaha dan berjuang bersama agar hubungan itu terjaga dan terjalin hingga Jannah-Nya.


to be continuedโ€ฆ


...****************...