
"uhuk,,, uhuk"
"uhuk,,, uhuk"
Saat makan karena nikmatnya aku tersedak makanan, saat adikku datang mentapaku.
Ibuku mengasongkan minum untukku saat itu juga meredakan sedakku.
"Kebiasaan, " kataku pada adikku setelah sedakku berkurang. Adikku hanya terkekeh tanpa dosa.
"Mbak Ki yang kebiasaan, terlalu menikmati sampek lupa kalo masih ada orang disekitar nya," jawab adikku, aku hanya bisa melototi adikku sambil melanjutkan makan.
"Sudah,,, sudah nanti aja dilanjut ngobrol nya, sekarang kamu duduk Gil, makan sekalian," lerai ibuku.
Setelah makan malam bersama yang sudah lama tidak kami lakukan, meski menu sederhana namun penuh berkah dan nikmat.
Aku membantu ibu membersihkan alat-alat makan yang kami bertiga gunakan.
Sebenarnya ibu tadi yang mau bersihkan tapi aku larang karena niatku untuk meringankan pekerjaan ibuku, aku lihat ibuku lelah terlihat dari gurat wajahnya.
Sebagai anak inilah baktiku padanya.
Saat akan masuk kamar aku melihat ibu dan adikku masih ada di ruang tengah sambil nonton TV. Aku mendekati sofa yang diduduki adikku dan langsung memeluknya. Kalau mungkin orang yang ga kenal pasti menganggap aku memeluk pacarku karena memang seperti itu adanya, perawakannya lebih besar dariku, kami bedua beda 4 tahun jadi ga kentara.
"Apa sih mbak, engap nih"
"Ih orang mbak kangen sama kamu, emang kamu ga kangen sama mbak"
"Tapi ga seerat ini mbak, ga bisa nafas nih"
"Dasar jones"
"Jones gini mbakmu juga kan, " kataku tak terima ledekannya sambil aku kacak pinggang.
Ibuku melihat itu hanya tersenyum geli melihat tingkah kami, karena memang sudah biasa melihat kami seperti ini.
Begitulah aku dan adikku, kami memang sering ribut kecil tapi kami tahu itu semua hanya ingin menunjukkan rasa sayang kami.
Saat jauh kami rindu, saat dekat kami sering debat tapi tak sampai gelut, hanya melampiaskan rindu itu wujudnya saja tapi sebenarnya kami saling menyayangi, ibu tahu dan menyadari itu semua.
Dua bersaudara yang saling melengkapi. Adikku meski lebih muda dariku tapi dia lebih bijak dan sedikit dewasa tapi banyak manjanya juga😁.
Mungkin karena kondisi keluarga kecil kami yang menuntut untuk dia lebih kuat dan bijak karena ditinggalkan oleh kepala keluarga kami.
Saat itulah momen yang kurindukan saat bersama keluarga, setelah lelah berargumen dengan adikku dan senda gurau yang kurindukan di keluarga ini tlah tercipta.
Saat ini aku larut melihat acara TV yang kutonton. Saat adzan isya berkumandang ibuku beranjak untuk sholat dan akan tidur, aku mengijinkan, aku tahu ibuku lelah dan selalu tidur petang karena esok ibuku bangun pagi untuk buka warungnya, aku maklum untuk itu.
Aku bersyukur masih memiliki mereka, meski ayahku tlah tiada merekalah pelipur laraku saat susah dan senang sekalipun.
Selama ini kami hidup dari kerja keras ibu meski sesekali aku membantu ibu dari hasil OLSHOP ku bersama temanku, sebagian ku tabung, dan kuberikan ibu untuk kebutuhan lain yang bisa membantu perekonomian kami selama Ayahku tidak ada terutama biaya adikku sekolah meski sebagian ter-cover karena aku dan adikku mendapat beasiswa dari sekolah.
Sebagian uangku juga untuk makanku, aku melarang ibu memberiku uang saku bukan sombong atas penghasilan ku tapi setelah punya penghasilan sendiri meski kecil , aku ga mau jadi beban ibuku yang sudah kerja keras tak kenal waktu itu.
Aku hanya bersyukur dan Terima kasih pada ibuku meski kehilangan ayah kami semua ga putus asa berusaha dan berjuang dalam kehidupan ini.
Merasa sudah lelah dan aku sudah ditinggalkan sendiri di depan televisi juga aku sudah mengantuk maka aku masuk kekamar tapi sebelum tidur aku tunaikan ibadah terlebih dahulu.
Karena kelelahan aku tidak sempat mengecek Hpku jadi lanjut tidur sampai subuh tiba.
...****************...
Kami sekeluarga memang sudah terbiasa bangun pagi. Maka semalam apapun aku tidur jadi saat sebelum subuh atau adzan subuh berkumandang akupun terbangun segera.
Seperti pagi ini setelah menunaikan ibadahku, aku keluar kamar untuk bantu ibu menata dagangan di warung dan untuk sarapan sudah dihidangkan oleh ibuku jadi tinggal ambil saja.
Untuk bersih-bersih sudah ada adik kesayangan ku yang kerjain jadi kakaknya hanya bantu ibu saja. (😁emang pengertian adikku ini)
Saat jam menunjukkan pukul 08.30 Dilla datang kerumah.
"Assalamu'alaikum
"Ki, main yuk! masa iya sih pulang ga jalan-jalan sih"
"Walaikumsalam"
" Kan niatnya buat rehat dirumah Dil"
"Di kost juga bisa rehat kan Ki, yuklah"
ajak Dilla sambil gandeng tanganku.
"Kebiasaan deh kamu Dil, belum juga orang bilang setuju main seret aja sih", kataku kesel
"Hadeeeh biasa nih makhluk atu, kebiasaan ganggu orang tenang aja", sambung adikku yang ternyata mendengar keributan Dilla denganku yang ada didapu.
"Ikut-ikut aja nih bocah atuk, maen nyambung aja, kebiasaan"
"Hak aku lah rumah-rumah aku, mulut-mulut aku, kakak tuh biang onar", ucap adikku yang ga mau kalah.
Memang 2 orang nih kalau ketemu kayak orang pengen gelut aja, ga mau kalah juga, kuat banget adu argumen kalau ga ada pemisah nya bisa sampe siang nih.
"Udah- udah kok malah ribut sih", leraiku pada mereka berdua, bukan musuhan sih tapi emang 2 orang nih sifatnya ga ada yang mau kalah.
"Awas berjodoh kalian tuh yah", sambung ku sambil terkekeh melihat kelakuan mereka.
"Idiiiih, ogah banget, " jawab mereka hampir bersamaan.
"Udah ah, ga kelar-kelar nih, mau aku ajak ga sih Ki? " tanya Dilla kesel.
"Iya udah ayo daripada ngeliat Tom Jerry pada beraksi", jawabku lagi sambil masih terkekeh.
Dilla manyun, adikku menatap sengit Dilla yang langsung pergi melewatinya pergi dari tempat itu.
Mereka sebenarnya bukan musuhan tapi yah emang keduanya suka jahil, sahabatku berisik dan adikku suka tempat damai dan ga suka gadis agak bar-bar kayak Dilla.
Saat sampai luar aku pamit ibu untuk keluar dengan Dilla
"Bu, mau ijin keluar sama Dilla boleh kan nggeh bu"
"Iyo rapopo nduk pergi aja, tadi Dilla sudah ijin kok sama ibu".
"Maturnuwun bu, Kiara pamit dulu bu, Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam, ati-ati nduk, Dilla"
"Enggeh bu, "sahutku dan Dilla.
Ternyata Dilla bawa sepeda sport Abangnya yang katanya nganggur ga terpakai dan orangnya saat ini sedang pergi ke lapangan voli untuk kontrol pertandingan.
Ternyata ada pertandingan dilapangan tempat biasa aku Dilla main dan Abangnya tadi mau jadi wasitnya.
Saat ku tanya tadi mau berangkat, tadinya sih mau ke mall jalan-jalan tapi kok males akhirnya disini lah kita nonton pertandingan voli.
Setelah sampai kami cari tempat buat duduk, eh belum juga duduk ternyata aku dan Dilla ditodong buat main, tadinya menolak tapi gimana terpaksa pemainnya ada yang cidera tadi saat set pertama.
Dan saat melihat kami berdua pelatih yang bertanding butuh pemain. Dan aku kenal dengan pelatihnya, aku dan Dilla ga jago banget sih tapi bisa. Dulu ikut tunanen timku sering menang jadi terkenal lah sedikit.
Dan saat mau kuliah aku dan Dilla berhenti ga ikut turnamen lagi. Tepatnya saat itu masih kelas 3 SMP sampai Kelas 3 SMA.
"Kiara, Dilla ayo kalian main", kata Mas Tejo pelatih tim itu. Aku dan Dilla berpandangan dan mengedikkan bahu tanda ga paham maksudnya.
"Aduh Lek, nanti timmu kalah kali aku main, buang lain aja, aku udah ga pernah latihan lagi Lek" kataku
"Iyo Lek, kaku kabeh awakku ora tau latihan are" sambung Dilla yang kuangguki.
"Wes rapopo buat memeriahkan aja, menang syukur, ora yo ra usah gawe pikiran", Jawab Mas Tejo meyakinkan kami.
Dan akhirnya main juga, meski terpaksa dan juga atas paksaan Abangnya Dilla "Reno" yang melihat jami tadi.
Dan atas perintah Mas Tejo dan disetujui Bang Reno akhirnya kami ikut main, kok yo pas tadi brangkat aku dan Dilla pake sepatu kets jadi yah aman deh.
Tinggal ganti baju tim dan pemanasan sebentar, ga pernah latihan jadi grogi badan kaku semua tapi tetap optimis aja nanti hasilnya seperti apa. Bismillah aja deh🤭.
Saat pertandingan berlangsung ternyata permainan ku dan Dilla tidak terlalu mengecewakan dan kata Mas Tejo permainannya lebih hidup saat kami masuk dalam permainan.
Set 1 kami menang, Set kedua lawan menang beda tipis nilainya.
Set Ke-3 kami menang ternyata permainanku dan Dilla tidak mengecewakan dan bisa dipertimbangkan.
Dan saat Set ke-4 berlangsung aku masih main dan Dilla diistirahatkan, dan saat itu juga baru aku ngeh dengan salah satu pemainnya, nemang dari tadi awal main aku tanya hatiku kayak pernah lihat itu orang.
Ternyata benar kita ketemu lagi, dia pernah jadi lawan ku saat pertandingan tingkat kabupaten dan timku jadi juara dan sejak saat itu dia seperti memusuhi ku hingga saat bertemu pyn di suka menghindar, entahlah apa salahku.
Saat serunya main aku akan melakukan smash pojok dengan loncatan tapi celakanya didepan ku dia(Arin namanya), saat kaki ku turun ternyata kakinya seperti berusaha menslading kakiku dengan cara manipulasi berpura-pura terjatuh juga, yang ternyata membuat kakiku terkilir akhirnya susah berdiri.
Saat jatuhnya aku semua rekanku teriak tapi aku terlanjur kesakitan.
"Aaaaahhhh,,,,, Kiaraa"
"Eh lo ya kalo main sportif dong jangan kayak gini, licik tau ga, curang"
Banyak yang kudengar saat aku terjatuh tadi dari yang teriak, mengomeli lawan yang buat aku cidera, mengumpati mereka, emosi mungkin mereka.
Saat itu juga aku ditolong Abang Dilla dibopong ke pinggir yang diikuti Dilla.
"Kamu baik-baik aja kan Ki"
"Baik gimana Abang ini, orang jatuhnya kayak gitu masih bilang gapapa gimana sih, " cerocos Dilla pada Abangnya
"Udah aku gapapa cuma terkilir dikit mungkin, udah sana lanjutin dulu nanggung tandingnya bentar lagi finish tuh.
Dah sana Dilla, Bang Reno aku gapapa, tapi aku rasanya pengen nangis saat ngerasain kakiku yang nyut-nyutan.
Akhirnya pertandingan itu dimenangkan oleh timku dengan score 3-1.
Saat pertandingan berakhir Arin mencoba mendekatiku untuk saya hello mungkin atau minta maaf karena kulihat wajahnya yang ga tulus penuh dengan senyuman smirk, ga tulus banget kan.
Sambil mengasongkan tangan ia bekata," Maaf yah Ki".
…to be continued…
...****************...
Ditunggu VOTE, LIKE, COMMENT nya yah.
Baru ini aku munculin satu-satu yang bikin rusuh semoga ga bosen bacanya yah
Thanks for attention, Maaf banyak typo
Love You All😘! !