
Perhatian yang orang berikan pada kita itu antara tulus dan tidak tapi bagaimana kita bisa membaca ketulusan seseorang secara kita bukan cenayang.
...****************...
"Assalamu'alaikum"
Seseorang ucap salam saat Bian selesai merawat cidera ku dengan mengompresnya.
Dengan berakhir nya drama penolakan ku, canggung sebenarnya.
Baru tahu meski baru kenal ternyata se perhatian itu Bian padaku (maaf GR nya aku terlalu lebay yah๐)
"Waalaikumsalam", jawabku, Bian, dan Dilla bersamaan.
Bang Reno ternyata yang datang sambil nenteng paperbag entah apa isinya paling makanan๐คญ.
"Hai,,, bro, dah tadi nyampeknya?" sapa Bang Reno pada Bian yang berdiri menyambut kedatangannya.
"Yah lumayan, sampai dah ngeliat banyak drama disini, " jawab Bian sambil melirik ku dan Dilla. Bang Reno hanya terkekeh geli menanggapinya karena dah hafal tingkah absurd ku dan Dilla kalau bersama.
Aku dan Dilla hanya menunjukkan cengiran kami.
"Udah mendingan kan Ki, kan udah ada dokter pribadinya yah kan, rindu hati dan raga terluka sudah terobati ๐" ucap bang Reno menggodaku sambil naik turunkan alisnya.
"Apa sih bang ga jelas banget nih orang, " sahutku sambil manyun.
Dilla, Bian dan bang Reno hanya terkekeh saat melihat respon ku.
"Ya udah sehat walafiatlah bang kan Dokter yang ngerawat penuh perhatian, kasih dan sayang kan bang๐๐คญ, ledek Dilla padaku , aku balas dengan lirikan tajam padanya.
"Eeh,, Bang Reno bawa apa tuh, pesananku kah?" tanya Dilla pada Bang Reno mengalihkan sambil menunjukkan cengiran nya.
"Baru juga duduk Dil, dah kamu todong gitu. Pede amat lo emang yang dibawa pesenan lo,, wleee"
"Idiih,,, wleee kepo aja lo", balas ejekan ku
"Dah,,, dah mulai deh tom jerry kumat.
Sabar napa sih Dil, " jawab Bang Reno sedangkan Bian diam menyimak perdebatan ku dengan Dilla mulai lelah mungkin dengan tingkah ga jelas kami ๐.
"Pesenan kamu sama Nissa tuh masih ketemu bude didepan itu, " lanjut Bang Reno menjelaskan.
๐๐ฃ๐ฉ๐๐ง๐ข๐๐ฏ๐ฏ๐ค
๐๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ ๐ฏ๐ช๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ ๐๐ช๐ญ๐ญ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ๐บ๐ข '๐๐บ๐ข๐ง๐ช๐ณ๐ข' ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ช๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต ๐ด๐ถ๐ข๐ฎ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ ๐ฌ๐ฐ๐ต๐ข.
๐๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐ฑ๐ฐ๐ญ๐ช๐ด๐ช ๐๐ฆ๐ด๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ ๐๐ณ๐ช๐ฎ๐ช๐ฏ๐ข๐ญ ๐๐ข๐ฑ๐ฐ๐ญ๐ณ๐ฆ๐ด ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฑ๐ข๐ต๐ณ๐ฐ๐ญ๐ช, ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ฆ๐ฑ ๐จ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฌ๐ฐ๐ฃ๐ข, ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ฐ๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ช๐ง๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ณ๐ช๐ฎ๐ช๐ฏ๐ข๐ญ ๐จ๐ช๐ต๐ถ, ๐ฌ๐ข๐ด๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ฏ๐ต๐ฆ๐ญ ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐บ๐ข.
๐๐ถ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ข๐ฉ๐ข๐ฎ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐.
๐๐ช๐ข ๐ซ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ฆ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ข๐จ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ฆ ๐ฃ๐ข๐ซ๐ถ ๐ด๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ช ๐ฌ๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ช๐ต๐ข๐ฎ-๐ฉ๐ช๐ต๐ข๐ฎ, ๐ค๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐ข ๐ด๐ฐ๐ฃ๐ฆ๐ฌ ๐บ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฐ๐ฌ๐ฐ๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐จ๐ข ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐ซ๐ถ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ฐ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ต๐ถ๐ฉ ๐ฑ๐ฐ๐ญ๐ช๐ด๐ช.
๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ช๐ด๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ข๐ด ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ข๐ฌ๐ถ ๐๐๐ ๐ฅ๐ช๐ข๐ซ๐ข๐ฌ ๐ต๐ถ๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐๐ช๐ญ๐ญ๐ข ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ๐ง๐ญ๐ข๐ด๐ฆ ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ข๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฏ๐บ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ, ๐ฑ๐ข๐ด ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ฅ๐ช๐ต๐ณ๐ข๐ฌ๐ต๐ช๐ณ ๐
๐๐ต๐ถ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฉ๐ข๐ฃ๐ข๐ต ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ญ๐ญ๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ข๐จ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐จ๐ข ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ข๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฅ๐ช๐ฌ ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ข๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐จ๐ข ๐จ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข ๐ค๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข ๐ง๐ณ๐ช๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ป๐ฐ๐ฏ๐ฆ ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ณ๐ข ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐บ๐ข๐ฉ ๐คญ.
๐๐ข๐ฏ '๐๐ช๐ต๐ข ๐๐ฏ๐ฏ๐ช๐ด๐ข' ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ต๐ถ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ฏ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ฉ, ๐ฌ๐ข๐ฌ ๐๐ช๐ด๐ข ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ช๐ข ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ญ๐ญ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐จ๐ฐ๐ถ๐ต ๐ฃ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐จ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐จ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ต๐ถ๐จ๐ข๐ด.
๐๐ข๐ฌ ๐๐ช๐ด๐ข ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ช๐ฅ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข ๐ฅ๐ช๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ต๐ถ ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ฐ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ต๐ถ๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข, ๐จ๐ข ๐ด๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐บ๐ข, ๐ฉ๐ถ๐ฎ๐ฃ๐ญ๐ฆ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ต๐ฆ๐จ๐ข๐ด.
๐๐ช๐ข ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐๐๐ ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ, ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ค๐ฐ๐ธ๐ฐ๐ฌ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ต๐ช ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐จ๐ข ๐ฅ๐ช๐จ๐ถ๐ฃ๐ณ๐ช๐ด ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ด๐ช๐ฎ๐ข๐ญ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ฆ๐จ๐ข๐ด๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ญ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฉ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข.
๐๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ ๐จ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ฆ ๐ฑ๐ข๐ค๐ข๐ณ๐ข๐ฏ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ญ๐ฆ ๐ฏ๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฅ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ค๐ฐ๐ธ๐ฐ๐ฌ ๐ฌ๐ข๐บ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ ๐ฏ๐ช๐ฉ ๐.
...****************...
๐๐๐ก๐ ๐๐๐๐๐ข!!!
"Assalamu'alaikum, " ucap kak Nisa dengan nada cerianya saat masuk rumahku dan masih pakai seragam kerjanya.
Yang ternyata pulang tadi dijemput bang Reno dan ngajak jenguk aku di rumah cerita bang Reno tadi.
"Waalaikumsalam, " jawab kami berempat.
Dan kak Nisa langsung bersalaman dan memelukku dan Dilla.
"Panjang amat kayak gerbong kereta tanpa jeda lagi, yah baiklah orang udah ditangani sama dokter pribadinya, " bukan aku yang jawab tapi Dilla, mau jawab tapi dah keduluan.
"Eh siapa nih, boleh kenalan kan, " ucap kak Nisa sambil tersenyum menggoda padaku saat melihat Bian dan melirik padaku.
"Boleh lah tapi jangan lama-lama salamannya takut nempel terus๐๐, "ucap bang Reno pada kak Nisa menjahili nya.
Kami hanya tertawa renyah mendengar ucapan bang Reno.
Kak Nisa mencibir ucapan bang Reno dan bang Reno terkekeh melihatnya.
Selama ini melihat hubungan mereka tuh ga seperti pasangan tapi sahabat hampir halal karna belum nikah๐คญ.
Selanjutnya kak Nisa mengasongkan tangannya pada Bian.
"Sita Annisa, panggil Nisa aja"
"Albiansyah, panggil Bian"
"Dokter yah, " tanya Kak Nisa dijawab dengan anggukan saja.
Saat itu juga suara ibu membuyarkan obrolan kami semua sambil menikmati cemilan dari ibu dan yang dibawa kak Nisa dan bang Reno.
"Ayo semua silahkan makan, waktunya makan kan. Itu sudah ibu siapkan, bukan ibu yang masak sih delivery spesial tadi yang bawa, " ucap Ibu
"Wah, maaf Bu sekali kesini malah ngrepotin tuan rumah ini, kata Bian tak enak.
"Ya enggak to nak Bian, ibu malah seneng rumah jadi rame biasanya sepi. Ibu malah sudah biasa suasana rame gini sebelum Dilla sama Kiara kuliah, " jawab ibuku
"Ayo bu makannya bareng-bareng aja, " kata kak Nisa sambil merangkul ibu masuk ruang makan.
"Masih sakit gak, bisa jalan kan? "tanya Bian padaku sambil mengulurkan tangannya untuk menggandeng ku.
"Bisa kok mas, don't worry, "jawabku dengan senyuman.
Kami bertiga jalan beriringan ke meja makan.
Di meja makan pun kami semua menikmati hidangan makanannya sambil sesekali mengobrol.
Tak lama Bian pamit pulang karena ada kepentingan lain sama keluarganya.
"Aku pamit pulang dulu yah, nanti aku hubungi lagi, " pamit Bian padaku.
Aku menyalaminya dan dia mengelus puncak kepalaku.
"Pengen peluk takut ada yang grebek, " ucap lirih Bian, aku tersenyum geli mendengar keluhannya tepat dekat dengan telingaku seperti berbisik jadi yang lain ga dengar.
"Eh belum halal dok, jangan deket-deket nanti khilaf, "goda kak Nisa pada Bian yang ditanggapi dengan senyum manisnya.
Setelah berpamitan pada semua kami semua mengantar kedepan sampai dekat mobil, sebelum masuk mobil ternyata adikku datang jadi berkenalan lah adikku dengan Bian setelah itu Bian meninggalkan rumahku untuk pulang ke kediamannya.
Tadinya diajak bamg Reno nginap dirumahnya tapi Bian menolak karena ada kepentingan lainnya. 'Lain waktu aja aku sempatkan kerumah kamu Reni' begitu ungkapnya.
Sepeninggal Bian ada rasa mengganjal dihati, ga rela di tinggal gitu tapi menyadari tentang hubunganku dengannya yang statusnya ga jelas.
Banyak pencerahan saat aku bertukar cerita dengan Kak Nisa atau Ibuku terkadang juga pada Dilla setelah mereka tahu tentangku dan Bian.
Setiap manusia itu berbeda menanggapi statusnya dengan lawan jenis kalau dia memang serius 'why not' kita jalani dengan status yang jelas, kalau ga jelas kita merasa terombang-ambing dengan status itu (ungkap Kak Nisa yang suka dengan ketegasan dan kejelasan ga abu-abu gitu)
Kalau dihatimu ada 'kretek', khawatir berdebar saat sama dia, ada kenyamanan, merasa diperhatikan dengan perhatian, tatapan hangat sama dia kenapa harus ditutupi terus terang aja tapi semua itu terserah hatimu, kalau ragu dan takut jangan diteruskan daripada saling menyakiti, perjelas apa yang ada dihatimu itu (ungkap ibuku yang suka to the point tanpa tedeng aling-aling)
Kiara jangan menjebak dirimu sendiri, jangan suka PHPin cowok, sayang ya bilang sayang kalau dia udah ungkapin apa perasaannya, jangan mundur saat dia maju tetapkan hatimu lihat ketulusannya dari lubuk hatinya lewat matanya, karena mata ga bisa bohong (ungkap Dilla sok bijak)
Saat ini aku sudah pulang di kostan yang saat itu dijemput oleh Bian, sebenarnya aku canggung dengan sikapnya tapi bagaimana lagi karna dia udah maksa dan aku baru tahu dia tuh ga mau dengan ungkapan 'penolakan' apapun itu.
"Mas Bian, " sapaku lewat telpon saat ini
" Aku mau ngomong serius sama kamu, boleh?" ungkap ku lagi
Mau ngomong apa yah, tunggu lanjutannya yah!!
.โขโซโขโฌโข to be continued โขโฌโขโซโข.