
Berdamai dengan keadaan segenting apapun itu hingga kita tak merasa terpuruk akan kondisi buruk atau membuat hati dan fikiran menjadi tak terkendali yang mungkin tak harus dipikirkan maksudnya tak ada gunanya tuk difikirkan keras. Hingga membuat fisik terasa terciderai.
Sudah 2 minggu ini setelah kejadian di mall itu masih ingin mendamaikan hati, memantapkan hati atas semua yang terjadi apa keputusan untuk tetap yakin dengan apa yang jadi keputusan hati.
Resah serta bimbang karena merasa diri tak sama dalam derajat tapi masih percaya bahwa dimata Tuhan kita sama dan yang membedakan adalah amalan kita pada Tuhan.
Hampir sebulan ini aku tak pulang kerumah tapi ibu dan adikku menyadari kesibukanku diakhir bulan dan bertepatan dengan akhir tahun ini, ingin mengeluh tapi ini sudah jadi tanggungjawab yang harus kujalani karena sudah yakin akan sesuatu yang harus terpenuhi. Sebab keputusan ku yang sudah sukarela untuk bisa sibuk dengan tugasku saat ini.
Aku tak pulang tapi Dilla memang harus pulang itu sudah jadi konsekuensi dia dari awal ijin untuk bekerja di luar kota, meski sesibuk apapun dia harus memberi waktu untuk keluarga nya.
Seperti saat ini meski tergesa dan waktu mepet karena pulang kerja sudah malam jadi terpaksa harus pulang dan terpaksa juga melibatkan tunangannya Aji.
Yah, setelah kejadian di mall juga Aji yang merasa tidak mau lagi bermain-main dengan hubungannya dengan Dilla, seminggu setelahnya Aji dan keluarga menyambangi keluarga Dilla untuk melamar tanpa ada Dilla disana, meski ada perdebatan antar pelamar dan yang dilamar.
Bukan terpaksa menerima tapi Dilla juga menyadari tak ingin salah pilih dan meyakini ketulusan Aji dan syukur Alhamdulillah lamaran diterima dengan lapang dada tanpa penyematan pengikat secara langsung karena sang wanita masih sibuk bekerja dan tak menduga mendapat lamaran secara mendadak dan kedua pihak keluarga sama-sama tak ingin terlalu panjang untuk membual dalam pengikatan.
Finally is engagement true. Ta barakallah ku ucapkan saat itu sambil memeluk haru sahabat tercinta ku yang akhirnya terikat jua oleh sang pujaan hati. Ucapan syukur kami semua ucapkan saat lamaran dadakan itu terselenggara. Dan saat acara itu pula yang tadinya merasa terkejut berubah bahagia dan terharu karena acara dadakan lamaran Dilla.
Saat melihat itu aku menyadari dan berfikir "aku kapan? " tapi semua itu aku tepis dan tak ingin berkeluh lagi, berdamai dengan kenyataan yang ada.
...****************...
saat ini!
"Ki, aku berangkat dulu yah" pamit Dilla padaku saat membuka pintu kamarku dan menyembulkan kepalanya untuk berpamitan.
"Eh udah dijemputkah? tanyaku sedikit terkejut karena kerja depan laptop menyelesaikan sedikit tugas yang tertunda dan harus segera dikirim lewat email pada manajer keuangan di kantor.
Karena memang weekend dan akan libur tahun baru.
"Udah didepan, " jawab dilla sambil menggenggam tanganku seperti tidak rela meninggalkan ku, berlebihan sepertinya tapi itulah bentuk perhatian sobat ku ini.
"Oh, okey tak anter kedepan, " dilla melepas genggamannya dan aku turun dari ranjang setelah meletakkan laptopku diatas nakas dan mengikuti dilla dari belakang.
"Beneran ga papa tak tinggal", yakin dilla padaku dan kubalas dengan senyuman manisku serta anggukan meyakinkan dilla,
Dilla menghela nafas berat.
"I'm okey bestie, dah sana ditungguin yayangmu itu, cepet iihh kasian bang Aji kelamaan nungguin kamu tuh", halauku agar dilla cepat meninggalkan rumah bukan mau usir sih tapi aku ga mau ada drama lagi neyakinkanku agar ikut pulang.
Sebab rencananya aku akan pulang esok pagi dengan angkutan umum sambil menikmati perjalanan pulang.
...****************...
Beberapa saat setelah kepergian Dilla dan Aji yang membujuk ku ikut serta tapi aku tetap menolak karna aku harus selesaikan tugas kantorku yang tinggal beberapa yang harus ku email.
Kalau misal aku ikut pasti takkan selesai tepat waktu karna sudah beda atmosfer nya saat pekerjaan sudah kubawa pulang kampung, sedikit sulit untuk konsentrasi dan bila ada data yang harus dilengkapi pun aku tak harus merepotkan orang lain dan tak jauh juga, maka dari itu aku terlambat untuk pulang dan segera menyelesaikannya sebelum menikmati cuti tahunan ku dan tahun baru.
Tak terasa waktu hampir dini hari setelah merasa sudah menyelesaikan semua laporan yang telah selesai kukirim email pada atasan ku, aku mulai mengistirahatkan diri dan berencana untuk rehat sejenak sebelum bangun dan akan menempuh perjalanan pulang kampung.
Kuucapkan syukur alhamdulillah karena tugas yang ku kerjakan selesai tanpa banyak drama dan aku bisa istirahat dengan tenang.
Tak berapa lama aku istirahat, aku mendengar suara gawaiku berbunyi dan yakin itu adalah suara panggilan dan bukan alarm.
Saat melihat jam di dinding menunjukkan pukul 04.00 hampir subuh dan saat kulihat nama panggilan itu "mama" itu artinya ibu mas Bian, karna takut ada apa-apa aku pencet tombol hijau di aplikasi hijau tersebut.
"Assalamu'alaikum, mah" jawabku memang sudah seakrab itu karna meski aku sedikit berjarak dengan Bian saat ini karna kesibukan kami dan sedikit "ada something" tapi ibu Bian tetap komunikasi denganku dengan lancar tak terkecuali dengan saudara yang lainnya.
"Waalaikumsalam, nduk! Sudah bangun tah, maaf mama ganggu kamu tidur. "
"Eh, ndak kok mah, emang sudah biasa bangun jam segini kok. Kenapa mah? "
"Eh ini mama dapat kabar dari Aji kalo kamu sendiri di kost dan mau pulang pagi ini, kalo ga keberatan kamu bareng sopir mama aja kebetulan masih ada di Surabaya mau balik ke Malang juga nduk. "
"Oh, enggeh Mah, Kiara pulang pagi ini tapi ga usah Kiara bisa pulang naik transportasi umum aja kok mah, Kiara ga mau ngrepotin, " berusaha menolak.
"Ga repot dah sekalian bareng Pak Minto, mama udah pesen tadi, jam 07.00 nanti mama suruh jemput kamu di kost. "
"Udah mama ga mau ada penolakan titik, okey sayang, " ucap mama bian tak terbantahkan.
"Huufff," Aku hanya bisa menghela nafas untuk bisa legowo dan menerima perintahnya.
"Yah siap mah, aku mau siap-siap dulu. " ucapku pasrah.
"Yaudah mama tutup yah, nanti jam 7 kamu dijemput Pak Minto, Assalamu'alaikum. "
"Iyah mah, waalaikumsalam wr. wb. "
Aku sempat tak percaya status ku masih sebagai calon mantu tapi sudah dianggap sebagai anak sendiri, bersyukur sih tapi aku yang tak enak hati.
Tak nenyiakan waktuku segera ku laksanakan semua PR di kost ini dari habis sholat subuh, buat makan seadanya, bersih-bersih tujuannya saat balik kost nanti ga terlalu ribet bebersih lagi, dan membuka semua alat yang memicu terjadinya kecelakaan dalam rumah, setelah itu terakhir membersihkan diri mempersiapkan kepulangan ku.
Saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.40 dan sebentar lagi akan dijemput oleh sopir ibu Bian yang ditunjukkan tadi.
Finally i will go home! ! antara senang dan resah apa yang akan terjadi nantinya saat kepulanganku nanti, ada something yang membuat aku jadi berfikir kayak ada kretek yang akan terjadi nantinya.
Di kediaman Bian.
"Mah, udah di call mbak Kiara nya ? " tanya Alisha, si bungsu yang penyayang.
"Udah tadi sebelum subuh mama telpon."
"Mbak Ki, mau mah? " tanya Alisha lagi sambil mendekati mamanya yang sedang menyiapkan sarapan keluarga nya yang kebetulan anak, mantu, cucu keluarga ini datang minus Bian entah kemana.
"Tadinya nolak tapi tahu sendiri kamu mama kalo dah ada maunya gimana," ucap si sulung yang sudah bergabung.
Alisha dan mama Bian hanya terkirim mendengar ucapan kakak sulungnya itu.
"Ya harus kan mantu idaman, " sambil terkikik lagi atas ucapannya sendiri.
"Ini kalo bukan karna abang yang kumat mode diamnya pasti ga akan manggil asisten pawang mama kan, " ucap Alisha asal.
Yang diangguki oleh 2 wanita beda generasi itu.
"Ga tahu mama feeling aja, habis tugas kok dianya berubah mode, secapek-capeknya, seruwet-ruwetnya pekerjaan dia, abangmu itu ga pernah mode begini kalo bukan ada something sama pujaannya, "ungkap mama Bian panjang.
"Dasar dah bucin tuh ma, sama mbak Alisha. "dijawab gedikan bahu dan senyum kakak sulungnya.
"Mama bukan feeling aja sih tapi diceritain Aji kalo lagi mode diam-diaman tuh bocah sama Kiara. "
"Kenapa mah? "tanya si bungsu lagi
"Biasa kan namanya juga hubungan ga akan bisa mulus, seharmonis apapun hubungan pasti ada cekcok lah dikit, bener ga mbak? ungkap mama yang diangguki si sulung keluarga ini yang sudah berumah tangga.
Obrolan tadi berhenti saat ada bel rumah berbunyi, mereka mendengar karena obrolan tadi sudah pindah ke ruang makan.
"Biar aku yang buka mah, mungkin mbak Kiara udah nyampek, " tawar Alisha dan sudah beranjak ke pintu meski belum ada jawaban dari mamanya.
Saat membuka pintu, " ngapain pagi-pagi dah kerumah orang aja kamu itu. omel Alisha saat tiba nembukanya.
...****************...
Hayo siapa tuh tamu tak diundang?
Dan kemana menyendiri Bian? yang penasaran tunggu bab selanjutnya yah!
Maaf banget buat raiders tersayang update ku slow banget, sudah pada draft tapi masih banyak kendala di tulisan dan kondisi pribadiku.
Sampai saat ini semoga readers masih mau membaca tulisanku ini.
Thanks for your attention readers, Mohon Like, Comment and Votenya yah,,,
Love you Allšā¤