First Seesight

First Seesight
chapter 3



Pukul 04.00 menjelang subuh tiba, alarm otomatis tubuhku ini karena sudah terbiasa bangun pagi juga.


Setelah mengumpulkan nyawa yang masih tercecer entah kemana aku beranjak bangun dari bed dan keluar menuju kamar mandi untuk bersih-hersih.


Kamar mandi disini ada 2 jadi patut bersyukur karena gak antri lama kalau mau mandi asal jangan lama-lama saat ritualnya🤭.


Saat telah selesai melaksanakan sholat aku melihat Dilla masih tenangnya bergelung selimut, pasti susah nih banguninnya kalau di rumahnya mah ada pawangnya (papa sama abangnya) lah disini siram air aja kali ya😁(aku ga kan setega itu kali)


"Dil, bangun dah subuh nih. "


" Eeenghhh, lenguhnya tanpa berubah malah semakin mengeratkan selimutnya.


"Bangun Dil, subuh dulu……te tak siram piye? " tak bergeming dia.


" Astaghfirullah, "


" Hal adzim, ucapnya tanpa bergeming dan membuka matanya.


"Sebahagianya lo lah, " ucapku lagi tak menyambung lagi


Setelah mengganti pakaian dengan baju olahraga Training dan hoddie bergegas keluar untuk jogging yang aku planning semalam dalam pikiranku karena jam masih pukul 04.30 aku ingin memanfaatkan untuk olahraga sejenak sambil menunggu sarapan matang.


Jam segini dah rame kalau didesa banyak sudah bangun dan entah apa kegiatannya.


Saat keluar kamar aku melihat Izza dan Firza didapur karena hari ini jadwal mereka memasak.


"Mau masak apa, ojo abot-abot lek masak seng ringan asal gak terlalu bikin kenyang, " ucapku saat dekat mereka.


"Ga kok ini menu seadanya belum belanja stock juga kali, " jawab Izza


"Nasi goreng oke Ki? "


"Okey lah masih bisa aku tapi ga terlalu banyak mungkin. "


"Biasanya juga air putih atau teh anget aku kalau pagi, ya udah selamat memasak, aku mau jogging dulu. "


"Okey take care Ki. "


"👍👍"


"Ada yang mau jogging ga nih saat diruang tengah aku melihat Reksa, Adam dan Ayu duduk sambil otak atik HP mereka. "


"Boleh…", jawab mereka kompak


"Eh tunggu aku ikut, kata Sultan keluar dari kamar saat kami berempat sudah berjalan ke pintu depan.


"Ayoook", kata Reksa saat berjalan disampingku menjawab omongan Sultan.


"Loh Dilla mana kok ga ada, tanya Adam mungkin padaku karena Dilla sekamar denganku.


"Masih molor dia, kalau bukan pawangnya yang bangunin, susah tuh anak, " jawabku


"Wah repot kalau udah nikah tuh, " kata Sultan


"Lah kenapa, "kata Ayu


"Yo kudu jadi pawangnya Dilla yang ga mudah bangun, " jawab Sultan sambil terkekeh yang menular pada kita.


Obrolan ga jelas emang tapi yah begitulah banyak intermezzo kalau bareng gini.


"Enek-enek ae awakmu, Tan………orang utan, ledek Adam sambil noyor kepala Sultan yang hanya disikapi senyuman aja.


Setelah itu kami hanya terdiam menikmati suasana desa ini.


Kami berjalan beriringan, didepan Ayu yang diapit Sultan dan Adam, aku dan Reksa dibelakang mereka.


Udara pedesaan memang segar tapi kalau ga ada kabut, kalau ada dah dingin bahaya juga masuk paru-paru kita.


Setelah 500meter kami lari kecil, kami berhenti dengan berjalan santai diiringi dengan canda dan obrolan kecil.


Merasakan damai dan bahagia "Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan " itu ungkapan hatiku.


Saat ditengah perjalanan melihat indahnya pematang sawang yang masih hijau belum ada benih padi tapi masih rimbun daun padi hijau.


"Wah segernya, " kataku saat melihat pematang sawah nan hijau itu.


Melihat ada sungai irigasi sawah yang jernih aku menghentikan langkah dan duduk di batu sambil melihat pemandangan sawah yang ada didepanku.


Aku merentangkan tangan dan menghirup rakus udara insyaallah bersih nan sejuk ini.


"Wah……segernya bisa dibuat destinasi wisata nih, " kata Ayu yang diangguki kita semua


Selang 15 menit berlalu tak terasa jam menunjukkan pukul 06.00 yang artinya kami semua harus pulang untuk bersiap.


Disepanjang jalan pulang aku terdiam menikmati jalan santai sambil sesekali menimpali mereka yang sedang mengobrol, saat tengah perjalanan aku mengingat keadaan Dilla yang semalam tidak baik-baik saja.


"Rek, kamu marah sama Dilla, " tanyaku


" Enggak ngapain marah, lagi moody aja jadi pingin diem, " jawabnya


"Kayak orang hamil sama PMS aja, moodyan kamu tuh. "


Hanya direspon senyum tipis oleh Reksa.


Saat akan sampai rumah Adam menyapa seseorang ditengah jalan sepertinya sudah kenal sih.


"Biyan kok sendiri, mana yang lain", Adam menyapa laki-laki yang dipanggil Biyan itu.


"Eh Hai, Assalamu'alaikum. "


"Waalaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh"


"Loh Bang Bian kok disini"


"Eh Ayu yah, lagi di villa sama temen-temen. "


"Kok Ayu kenal, siapa itu, " tanya Sultan


"Ya kenal la wong dia sepupu aku, dia anak budeku, kakaknya ayahku.


"oooh, jawab Sultan dan Adam sambil mengangguk. Aku dan Reksa hanya diam menyimak.


" eh iya kenalin ini teman-temanku yang lagi KKN disini, ucap Adam. Ini Reksa, KIARA, Sultan dan ini kan udah kenal ya…Ayu, aku Adam, katanya lagi sambil memperkenalkan diri. Kami semua saling menjabat tangan kecuali Ayu dan Adam.


Menyorot laki-laki ini saat " 𝘍𝘪𝘳𝘴𝘵 𝘚𝘦𝘦𝘴𝘪𝘨𝘩𝘵" memang berbeda badan atletis suka olahraga, hidung mancung kaya prosotan TK🤭, bibir merah tanpa nikotin rambut cepak khas tentara pokoknya kalau detail penuh nih buku😁(lebay ga sih)beda sama temen-temen ku ini meski ga gendut tapi ga seperti dia.


Sepersekian detik aku sadar atas lamunanku menilai lelaki ini dan berpura-pura melihat jam takut kepergok mengagumi makhluk Tuhan yang indah di pagi hari ini ternyata sudah hampir setengah tujuh itu artinya kami semua harus gegas pulang. Untung saja masuk kegiatan jam 07 . 30 jadi masih cukup untuk acara bebenah.


"Yuk pulang, dah jam 06.20 nih takut telat nanti, kataku menyadarkan mereka yang asik mengobrol ria itu.


Setelah mendengar itu kami semua berpamitan kepada Bian untuk undur diri karena harus bersiap nugas.


Setelah sampai rumah ternyata sarapan sudah siap dan mereka bertiga dah siap semua.


Tinggal kami berlima yang belum siap.


"Kalian darimana aja sih. "


"Lama banget tau ga, kalo ga setia kawan dah kita tinggal deh daritadi, sungut Dilla.


Aku menghampiri sobatku yang lagi ngambek sambil mencubit pipinya yang cubby itu dan berkata.


"Siapa coba yang tadi dibangunin kaya kebo ga bangun-bangun. "


" Iihh sakit Ki, teriak Dilla sambil memegang pipinya yang ku cubit tadi.


"Emang siapa yang kebo, lo berteman sama kebo. "


"Ya elo lah," jawabku lagi


" Udah-udah ga selesai-selesai kalo diterusin, ayo cepet siap-siap jamnya dah mepet nih belum juga sarapan, " lerai Reksa mendekat Dilla dan mengacak-acak rambutnya sambil tersenyum manis padanya.


"Reksa… ih berantakan lagi kan, sebel, ucap Dilla tak Terima yang ditegur langsung ngacir takut di bales mungkin.


Setelah menyelesaikan semua kegiatan pagi ini kami semua mulai berangkat ke Balai Desa ini. Jalan kaki lagi biar sehat katanya, kurang dari 30 menit kami sampai.


…to be continued…


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Hai readers, thanks for your attention to reading this my story.


Semoga ga bosan yah, I need your vote, like and comment for the story.


Thanks and Sorry karena masih banyak typo dicerita ini,,,,,,,, Happy reading, readers👍


.