
Masa lalu biarlah berlalu, move on harus karena hidup bukan bayangan masa lalu tapi hidup menuju masa depan lebih cerah dan lebih baik lagi.
Masa lalu sebagai tolak ukur untuk memperbaiki diri agar dalam menjalani hidup di masa depan tak terbelenggu manis dan pahitnya masa lalu.
...****************...
𝙁𝙖𝙧𝙝𝙖𝙣
"Kiara, " ucapku lirih
Tak kuduga setelah sekian tahun aku tak bertemu ternyata disini aku menjumpai nya.
Berubah? Pasti. Setelah sekian tahun itu aku masih terpesona seperti dulu cantik parasnya, senyum manisnya, bahasa tubuhnya. Dan attitudenya mungkin masih seperti dulu atau berubah aku belum tahu.
'Astagfirulloh hal adzim' doa itu yang kuucap saat ini dalam hati hingga bisa mendamaikan hatiku saat ini
Saat mata kami bersitatap kulihat senyum manisnya masih terpampang disana.
Sudah move on kah aku sekarang?
Jawabnya harus dan sudah karena aku sudah diberi ganti yang mungkin sebelas duabelas dengan tunangan ku ini tepatnya istri sah bawah tangan ku.
Rencananya setelah kelulusan nya kami akan melangsungkan pernikahan.
Pernikahan bawah tangan itu dilakukan karena kami menghargai apa yang dilakukan tetua agar kami terjaga dari fitnah dan zina kalaupun kami kebablasan.
Tapi InsyaAllah kami bisa menjaga diri sampai hari H pernikahan kami nanti.
"Hai, apa kabar Ara? tanyaku mengurai pelukanku pada pendamping ku ini dengan masih merangkul pinggangnya penuh kasih dan menyalami teman dekat yah itu yang ada dibenakku saat ini ketika bertemu 'dia' lagi.
Kami memang tak pernah menjalin hubungan tapi kami tahu bahwa kami pernah saling mengagumi hingga perpisahan saat itu.
"Baik, Bang Farhan" ucapnya sambil tersenyum manis padaku
"Lho,,, kok. Sudah kenal ? tanya Ayu yang kaget dan diangguki Bian yang kutahu dia sepupu pendamping ku ini.
Yang kutahu mungkin Kiara dan Bian ini pasangan kekasih karena melihat genggaman mereka seperti itu.
Dan aku juga baru tahu kalau yang sering diceritakan Ayu kalau dia punya teman baru dan jadi sahabatnya itu orang yang sama yang kukenal "Kiara Akila Fauzan" tak menyangka itu yang terpikir dalam benakku tapi bagaimana lagi sudah takdir Ilahi.
"Iya itu dulu kakak tingkat aku pas sekolah dan tetangga sebelum Bang Farhan pindah di tempat sekarang, " ucap Kiara menjelaskan dan aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum menanggapinya.
Dan sebuah interupsi datang dari mama Ayu yang melihat kami berempat asyik mengobrol untuk bergabung dengan yang lain. Satu kata yang ada di pikiran ku "Ramai".
Kata Ayu ini belum semua yang hadir masih ada yang alpa apalagi kalau datang semua beeeeh tambah penuh nih ruangan belum lagi kalau ketambahan dari keluarga ku atau Kiara nantinya.
Pertemuan ku dengan Kiara memberi hikmah tersendiri bagiku karena Tuhan menguji hatiku dimana harus berlabuh dan meyakinkan diri agar tetap pada pilihanku yang sekarang ku jalani.
Semoga kau juga bahagia seperti aku saat ini dengan pasangan yang kita pilih.
Itu doa yang ku sematkan dihatiku saat aku menatap ke arah Kiara yang kurasa 'nyaman ' itu kata yang terlintas dalam pikiranku saat melihat senyum ramah dan tulus ia berikan pada kerabat keluarga ini yang menyapa tanpa terlepas genggaman tangan Kiara dan Bian.
...****************...
𝙆𝙞𝙖𝙧𝙖
6 bulan telah berlalu setelah acara yang diselenggarakan dirumah Bian, kelanjutan hubunganku dengan Bian serius meski belum dalam ikatan engagement. Aku katakan 'Sabar Dulu Yah' tunggu aku bisa menata apa yang aku cita-citakan untuk membahagiakan keluarga ku beruntungnya aku karena punya pasangan yang sabar dan mengerti situasi.
Saat aku bilang begitu Bian berkata padaku, "Jangan terlalu lama yah aku beri kamu satu tahun, aku ga mau hubungan ini hanya abu-abu aku mau kejelasan dan aku serius semua itu. "
Sambil menghela nafas panjang dia berkata lagi, " Umurku dah ga muda lagi, dah hampir kepala tiga Ki, teman seumur ku dah punya anak loh, ada yang sudah 2 lagi Ki. "gerutunya panjang lebar.
"Iya,,, iya yang mau tua, " ledek ku sambil terkekeh geli saat melihat wajahnya yang tak terima kusebut seperti itu.
"Lah kan situ yang salah kenapa malah nunggu aku yang belum siap, kan ada yang lebih siap tuh Alena, "sewot ku sambil mengerucutkan bibirku sebel, kok kayak nyalahin aku gitu.
"Ga gitu konsepnya sayank, lagian kenapa mesti bahas Alena sih, " ucap Bian tak terima.
"Kan emang dia yang lebih sanggup dan siap dari aku, dinilai dari mana pun lebih diakan dari aku, " ucapku membela diri
"Nih sampek kapan kita debat ga penting kayak gini, " katanya sambil pasang wajah dingin dan datarnya
"Auk,,, ah,,, " ucapku sebel dan berpaling tak melihat dia lagi.
Setelah perdebatan ga penting itu Bian mendiamkanku agar tenang dulu katanya, emang dasar laki-laki datar banget dirayu kek ceweknya lagi ga mood eh ini malah didiemin ga peka emang yah jadi cowok. Hadeeeeh, elus dada punya cowok kayak Bian mah gerutu hatiku.
...****************...
Saat ini aku sedang terhubung dengan calon adik iparku yang sedang berkabar denganku memang sering begitu kadangkala saat weekend seperti ini yang memang sabtu minggu adalah hari libur ku adik Bian itu datang ke kost ku dan Dilla meski hanya menghabiskan waktu dikost sambil belajar masak katanya atau dia mengajak jalan ke mall dan itu kadang yang membuat Bian uring-uringan karna dia gak dapat waktu denganku.
Memang ga terlalu dekat sih aku dan Alisya tapi lumayanlah buat ukuran orang yang baru kenal, memang keluarga Bian itu orang yang hangat dan tidak pilih pandang.
Semua yang mengenalku di keluarga nya suka berkomunikasi dengan ku meski hanya 'Saya Hello' aja. Itulah yang kusuka dari keluarga Bian.
Seperti aku, ibu dan adikku kami tak putus komunikasi memang tidak terlalu jauh dan hanya diluar kota tempat kerjaku sekarang.
Kalau ga telpon aku kalau sempat ya pulang kerumah saat weekend paling tidak sebulan sekali.
Seperti saat ini aku berkabar dengan Alisya.
"Assalamu'alaikum, mbak Ki. "
"Lagi apa?"
"Waalaikumsalam, dek"
"Ga ada sih dek, cuma lagi rebahan aja "
(sambil sandar di headbed )lagi males ngapa-ngapain, lagi periode.
"Kamu ngapain?"
"Nih lagi telponan,, hehehe, "ucapnya spontan
"Dah tahu dek lagi telpon,,, mulai deh nyebelin, " jawabku sewot, terdengar kekehan geli diseberang.
"Eh ya mbak, Kak Dilla mana kok sepi biasanya ikut nimbrung. "
"Lagi beli makan keluar, lagi mau manja-manja ga mau masak,,, hehehe"
Sebelun obrolan santai itu terputus dan saat itu juga Alisya mengatakan kalau aku dan Dilla diberi undangan khusus dari Ayu sepupunya dan sahabatku itu. Serta informasi kalau aku dan Dilla memakai baju bridemaids yang couple dengan keluarga.
Alisya juga bertanya apa aku minggu ini bisa pulang atau tidak untuk pulang buat memastikan baju seragam nya dah pas apa belum dan aku bilang 'InsyaAllah' bisa datang kalau ga ada hal mendesak, memang sebelumnya mama Bian meminta ukuran bajuku dan aku kirim setelah dibantu istri Bang Bone(Reni).
Dan ternyata aku baru tahu kalau untuk seragam ini.
Ayu akan menikah 2 minggu kedepan.
Lima menit setelah telpon terputus Dilla datang dengan tentengan yang berisi pesanan makanan kami, makanan anak kost sejuta umat 'makanan padang gaess🤭'.
Saat menikmati makan Dilla beritahu ku kalau nanti siang diajak duo couple (Bang Reno dan Bang Bone beserta pasangan masing-masing) makan siang dikafe mall.
Selesai menikmati makanan itu dengan lahap kami membersihkan bersama tempat kost kami sebelum nanti kami tinggal keluar.
Selesai membersihkan diri Dilla memberitahuku kalau sebentar lagi kami dijemput.
Hanya pakaian casusl biasa untukku dan Dilla, dengan hanya outfit kaos oblong putih dan celana jeans navy aku hanya menambahkan jaket rajut, sepatu flat dan Dilla pakai sepatu kets ditunjang dengan tas slempang simple dengan rambut kuncir kuda, Dilla menggerai rambut sebahunya. 5 menit berlalu kami siap berangkat dan duo couple sudah menunggu didepan kost.
Tempat kost ini tidak jauh dari rumah Bang Beno atas kesepakatan dan memaksa Aku dan Dilla mau kost sendiri tapi harus dekat dengan bang Beno agar bisa memantau kami (segitu posesif nya padahal kan bukan saudara tapi dah anggap kami saudara 😊)
Sampai dimall yang kami tuju, kami berenam berkeliling sebentar dan mulai masuk kafe.
Di meja itu kami berenam ngobrol, bercanda, meledek dahh pokoknya bikin pikiran kalut jadi ceria lagi meski ga ke tempat wisata, tempat seperti ini saja asal bersama kesenangan itu pasti terjadi.
30 menit berlalu makanan kami sudah tandas entah karna lapar atau memang doyan dengan makanannya😁. Untuk beberapa saat kami belum beranjak masih menikmati minuman dan desert sambil ngobrol atau mengotak atik gadget kami.
Sedang khusuknya dengan hanphoneku Dilla menyenggol lengan ku.
"Ki, itukan Bang Bian sama siapa tuh cewek, kok kayak pernah tau yah,,, " Dilla berkata itu padaku dan aku mendongak dan memandang ke arah yang Dilla tuju.
"Tar deh gue chat jujur ga dia sebelum sadar dia kalau ada kita disini, " kata Dilla
"Udah gausah, jangan diganggu lagi melepas rindu kali, "ucapku malas
Yang ditanggapi kebingungan oleh duo couple dengan obrolan ku dan Dilla ga mau ikut campur mungkin.
"Ki, lo ga lagi berantem atau cemburu kan"
"Berisik, iih, " ucapku sewot kembali menunduk fokus gadget lagi, Dilla manyun dan duo couple terkekeh geli melihat tingkah kami.
"Hadeeeeh blockduku lagi, "ucap Dilla kesel saat melihat aku bermain game favorit ku dan ku tanggapi dengan cengiran.
Ki, bener jujur dianya, Dilla memberikan hpnya padaku dan otomatis aku baca chat itu.
(Me):
Lagi dimana Bang?
menunggu beberapa menit dibalas
(Bian):
Lagi jalan-jalan bareng temen nih
kafe mall
(Me):
Oh
Kata Kiara sibuk Bang?
(Bian):
Ada yang ganti tadi pagi
So, yah disini sek mumpung ada yang ajak
😁
(Me):
Kiara tahu😏?
Ayo lho bakal ada something nih😁
(Bian):
Waduhhh, belum tuh?
Tapi insyaallah dia ngerti
(Me):
Ngerti sih ngerti bang
Kalau liat cow ditempelin bidadari gitu😔
(Bian):
Eh kalian dimana?
(Me):
-send picture-
disini nih
Saat Dilla selesai mengetik itu Bian menoleh kebelakang, Aji melambai tangannya setelah tahu ada kami berenan disana, Alena menyorot tajam penglihatannya mungkin merasa terganggu, terkejut atau apa aku juga ga tau arti sorot mata itu saat melihat kami semua.
Aku hanya diam dan cuek tak menanggapi saat Bian dan Aji mendekat ke meja kami.
Dan Alena ikut mendekat setelah kulihat sekali mendengus kesal.
"Hai bro," ucap Bang Reno dan mereka berdua bersalaman layaknya teman yang bertemu.
"Hai abang-abang cute, apa kabar nih" ucap Dilla saat mereka bersalaman sambil melirik ku, aku hanya tersenyum memaksa saat menyalaminya.
Kesel yah kesel, seharian ga kabar kupikir bener sibuk ternyata sibuk sama yang onoh, boleh dong aku cemburu?
Saat bersalaman aku hanya menempelkan dipipi dan kulepas dengan cepat tapi alih-alih dilepas oleh Bian ternyata ditempelkan punggung tanganku dan dia kecup sayang, aku melongo melihat ulahnya dan ku hempas paksa tanganku karena malu. (tempat umum gaess ga biasa 🤭)
"Cieee,, cieee" koor yang melihatku dan Bian
"Romantis amat pak "
"Mau dong"
"Mata suci ku ternoda ooyy
"Bikin iri nih"
Suara-suara sumbang yang ada di meja itu mulai bertalu🤭haduuuh kok ya gini kumpul sama temen-temen absurd begini🤦♀️.
Bian terkekeh melihatku malu, dan cewek diujung sana melotot tak terima mungkin atas tingkah Bian padaku. Syirik aja ucapku dalam hati sambil memperlihatkan senyum smirk ku padanya.
"Jangan ngambek yah, aku ga sendiri kan" jelas Bian mungkin takut terjadi seperti saat itu
"Apa sih ga jelas banget, sak karepmu lah bareng ro sopo ae, " ucapku sedikit kesel
"Yah ngambek nih, kalau aku bakal tidur diluar kalau istriku lagi ngambek begini, " ucap Bang Reno yang membuat semua yang disana tertawa dan Bian menggaruk tengkuknya yang tak gatal menurutku.
"Emang tidur diluar kan belum sekamar, belum muhrim,,,ih najong" ucapku sambil berisik tambah kesel yang mulai mode ngledek.
"Eh,, bahasamu sayank, " ucap Bian, aku nemutar bola mataku jengah.
"Wuidiiih dah pake sayang-sayangan nih, 'celetuk Bang Reno yang membuat mereka semua tambah tertawa apalagi saat melihatku tambah cemberut.
"Udah Bang, nih lagi mode senggol bacok jangan digodain Bang,, atuut aku nantinya bisa ngamuk disini singa betina ini, " ledek Dilla sambil merangkul bahuku dari samping.
Karena tambah kesel ku hempas tangan Dilla dan aku langsung berdiri untuk pergi menghindari keusilan mereka.
Saat benar-benar mau pergi tanganku dicekal Bian.
"Mau kemana"
"Toilet Kenapa? Mau ikut?"
Mendengar itu Bian melepas cekalannya dan menggeleng kepala atas tingkahku.
Saat beberapa langkahku ke toilet aku masih mendengar suara Aji dan Bian pamit ke meja mereka karena makanan pesanan mereka sudah datang dan siap untuk disantap. Sedang Alena telah kembali lebih dulu di meja itu setelah beramah tanah dengan kami semua.
Dan kentara tidak senang saat menyapaku tadi.
Selesai dari kamar toilet aku membersihkan tangan di westafel tak berapa lama ada suara pintu terbuka saat aku menoleh ternyata dia.
...****************...
Siapa tuh, penasaran tunggu bab selanjutnya, okey, Semoga tak ada pelakor diantara mereka 🤭.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Maaf terlambat update karena masih ada kepentingan mendesak🤭
Maaf juga kalau cerita ini membosankan dan masih banyak typo, mohon dimaklumi yah, maka dari itu saya butuh masukan atas cerita yang aku buat ini.
See you readers, Thank you🙏love you All😘❤