
Mengernyit dahi Vonny, ia mendekati suaminya.
"Ada apa ya pah, tumben pagi-pagi mas Handoko nelpon," ucap Vonny yang langsung meminta Bayu menerima panggilan Handoko.
"Pah, mah, Chris berangkat ya," ucap Chris yang melangkah keluar pintu rumah dan menghampiri mobilnya.
Tak ingin membuang-buang waktu, Chris masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya meninggalkan hunian mewahnya menuju kantor.
Chris sengaja datang ke kantor lebih awal, ia ingin menemui Rere terlebih dulu untuk membahas tentang rencana pernikahan.
"Pagi pak Chris," sapa Rina sopan.
"Pagi.." jawab Chris tersenyum tipis.
"Oh iya Rin, Rere sudah datang?" tanya Chris dengan wajah serius.
"Bu Rere nya belum datang, pak" jawab Rina sopan.
"Ya udah kalau gitu, nanti kalau Rere datang suruh ke ruangan saya ya," ucap Chris yang melangkah masuk ke dalam ruangannya.
"Baik, pak!" ucap Rere
Di dalam ruangannya, Chris berdiri menghadap kaca jendela yang memperlihatkan pemandangan jalan raya yang di padati kendaraan.
Tok...tok...tok...
terdengar pintu ruangannya di ketuk. Chris menoleh sekilas ke arah pintu.
"Masuk!" ucap Chris dan kembali menatap keca jendela.
Terdengar pintu dibuka dan seseorang masuk kedalam ruangan dan tak lupa menutup pintunya kembali. Wangi parfum yang menjadi ciri khas seseorang tersebut menyeruak ke seluruh ruangan. Rere melangkah mendekati meja kerja Chris.
"Kak Chris panggil aku?" tanya Rere menatap punggung pria tampan yang ada di hadapannya saat ini.
Chris berbalik badan, bukannya menjawab pertanyaan, justru Chris menatap Rere dengan tatapan yang sulit di artikan, membuat wanita wanita itu sedikit salah tingkah.
Chris melangkah mendekati Rere yang berdiri di depan mejanya. Tanpa di duga...
Brugh...
Chris menarik tubuh Rere ke dalam pelukannya. Dipeluknya erat tubuh mungil yang kini sudah mulai berisi itu. Rere membalas pelukan Chris.
"Ayo kita temuin kedua orang tua ku dulu," ucap Chris tulus memohon.
Rere melepaskan pelukannya dan mendorong pelan tubuh Chris, di tatapnya lembut mata elang yang juga menatapnya meminta jawaban.
"A-aku...aku takut kak," ucap Rere menundukkan kepalanya.
"Lo..., eh..., maksud aku, kamu takut kenapa?" ucap Chris grogi, ia ingin membiasakan memanggil aku dan kamu pada gadis itu.
"Aku takut kedua orang tua kak Chris, nggak terima aku. Lagi pula, aku juga nggak mau kakak nikahin aku karena terpaksa, bukan karena cinta tapi menikah karena aku sudah...," Rere terdiam tak melanjutkan ucapannya, kepalanya menunduk dengan mata terpejam menahan butiran bening yang hendak keluar.
"Kenapa kamu diam? kenapa nggak kamu lanjutkan ucapanmu tadi? kamu kira aku nikahin kamu karena sudah hamil duluan gitu? kamu kira, aku nikahin kamu tanpa cinta? kamu salah! aku nikahin kamu bukan karena itu, tapi aku memang nikahin kamu karena sebenarnya hatiku juga sudah mulai mencintaiku sebelum kejadian malam itu terjadi," ucap Chris, Rere mendongak menatap lelaki yang ada di hadapannya itu dengan tatapan sedih bercampur senang dalam hatinya, ternyata cintanya berbalas.
"Kakak serius?" tanya Rere menyakinkan.
"Kenapa, kamu ragu? apa yang buat kamu ragu?" bukannya menjawab Chris balik bertanya.
"Maaf kak, aku cuma nggak mau kakak bicara seperti ini karena merasa tak enak padaku," ucap Rere menundukkan kepalanya.
"Apa yang membuatmu ragu? bagaimana caraku untuk menyakinkan kamu, jika aku benar-benar mencintaimu?" ucap Chris menatap Rere dengan tatapan penuh cinta.
"Kakak tidak pernah menunjukkan perasaan kakak padaku. Kak Chris selalu bersikap dingin dan cuek jika bersamaku," ucap Rere jujur.
Chris tersenyum tipis mendengar ucapan gadis yang di cintanya itu.
"Ya aku memang seperti itu, aku ingin mencintaimu dengan caraku," ucap Chris, Rere mengernyitkan dahinya, mencoba mencerna ucapan pria tampannya itu.
"Maksud kakak?" tanya Rere yang tak mengerti.
"Sudah lah nggak usah di bahas, yang penting saat ini kamu sudah tau tentang perasaanku padamu itu tulus mencintaimu bukan karena terpaksa. Jadi, gimana kamu mau kan ketemu dengan kedua orangtuaku?" tanya Chris kembali.
Rere terdiam, terlihat gadis itu seperti sedang berpikir.
"Sudah, pokoknya kamu harus mau!" ucap Chris merangkul pinggang ramping Rere.
"Ish...kok maksa sih!" ucap Rere tersenyum tipis.
"Bodo amat! kamu mah tipenya, harus di paksa kayanya," ucap Chris meledek.
"Sotoy kamu!" ucap Rere memukul pelan dada bidang Chris.
"Ha..ha...ha..., emang bener kan," ucap Chris menangkap kedua tangan Rere, keduanya kini saling pandang. Chis mendekati Rere, mengikis jarak diantara mereka berdua, hingga jarak mereka sangatlah dekat.
Jantung Rere seakan mau lompat ketika melihat wajah Chris semakin dekat dengan wajahnya. Tanpa di perintah, Rere menutup matanya.
Tok...tok...tok...
Terdengar pintu ruangannya diketuk. Hampir sedikit lagi bibir mereka bersatu, Chris menghentikan aksinya dan menoleh ke arah pintu sedangkan Rere membuka matanya dan bernafas lega.
"Siapa sih, ganggu aja," gumam Chris sedikit kesal.
Rere hanya senyum-senyum melihat wajah Chris yang terlihat kesal karena aksinya gagal menikmati kecupan manis dari sang gadis tercinta.
Dengan langkah malas, Chris berjalan menuju pintu dan membukanya.
Matanya membulat ketika melihat kedatangan kedua orangtuanya dan mereka sudah berdiri di depan pintu ruang kerjanya lengkap dengan Handoko dan Yoona. Sepertinya mereka sengaja datang untuk bertemu dengan Chris dan Rere.
"Ma-mama, papa, om, Yoona, ka-kalian..." ucap Chris mengabsen satu persatu keluarga besarnya dengan gugup.
"Dasar anak nakal! kamu buat masalah tapi nggak cerita ke Mama dan papa!," ucap Vonny memotong ucapan Chris, Vonny yang geram dengan ulah anak tampannya itu dengan cepat tangannya menarik telinga Chris hingga si pemilik telinga mengaduh kesakitan.
"Aduh mah, sakit. Ampun mah!! kuping Chris sakit nanti bisa lepas, mah..." ucap Chris meringis memohon pada sang Mama.
"Biarin! biar copot sekalian!! dasar anak nakal!! kamu hamilin anak orang tapi nggak bilang-bilang ke mama dan papa!" ucap Vonny kesal terus menarik telinga Chris hingga memerah. Vonny, Bayu dan yang lainnya masuk ke dalam ruangan Chris, tangan Vonny yang masih menempel di telinganya Chris seketika terlepas ketika Vonny melihat Rere ada di ruangan Chris.
Chris cepat-cepat menggosok telinganya yang memerah dan terasa panas saat tangan sang Mama tercinta terlepas.
Vonny mengernyitkan dahinya kala menatap Rere yang tertunduk di hadapannya. Vonny mengalihkan pandangannya pada Chris seolah bertanya siapa wanita yang ada di dalam ruangannya itu.
"Ini Rere, mah," ucap Chris, seolah tau apa yang ingin di tanyakan wanita yang melahirkan nya itu. Chris melangkah mendekati dan merangkul pinggang ramping gadis tercintanya.
Vonny terpaku melihat Chris merangkul pinggang ramping Rere, ia terdiam sejenak menatap gadis yang akan menjadi menantunya itu. Vonny melangkah mendekati Rere, sedangkan Bayu dan yang lainnya mengikutinya belakang.
"Benar kamu yang bernama Rere?"