
Devan memantau Luna dari dalam mobilnya, matanya tetap tak lepas dari mobil target nya. Hampir menjelang pagi menunggu, Devan masih duduk di dalam mobil merasa bosan, ia membuka kaca jendela di samping duduknya. Rasa kantuk kini hinggap, tak ingin tertidur, Devan mengambil sebatang rokok, menyalakan, dan mulai menghisap nya lalu menghembuskan asapnya melalui hidung. Entah sudah berapa batang rokok yang sudah habis di hisapnya untuk mengusir rasa bosan dan kantuk. Namun yang di tunggu-tunggu tak kunjung muncul batang hidungnya.
"Ugh... menyebalkan sekali, kenapa tuh orang nggak muncul sih!!, apa gue samperin aja ya ke unit apartemen nya?" gumam Devan yang sudah tak sabar.
"Akh... sepertinya gue memang harus ngecek sendiri ke unit apartemen nya," Setelah menghabiskan sebatang rokok yang ada di tangannya, Devan memutuskan untuk keluar dari dalam mobil. Ia membuka pintu mobil, tak lupa ia menutup jendela mobilnya sebelum turun dari mobil. Ia membuang puntung rokoknya dan menginjaknya.
Ketika hendak melangkah, Devan
mundur dan memilih masuk kembali ke dalam mobil, setelah melihat sosok yang di tunggu-tunggu nya muncul. Hampir saja Devan tak mengenali Luna. Luna yang mengenakan Hoodie dan masker untuk menutupi wajahnya, membuat siapapun tak dapat mengenalinya. Jika tadi Luna tak bersuara, mungkin Devan tak menyadari kalau wanita yang berpakaian Hoodie itu Luna.
"Luna... Luna... ternyata benar dugaan gue, lu masih sembunyi disini," ucap Devan tersenyum smirk.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Luna berjalan mengendap-endap, celingak-celinguk memastikan tak ada siapapun yang melihatnya naik mobil. Setelah di rasa aman Luna melajukan mobilnya keluar parkiran apartemen.
Tak ingin buruannya lolos di depan mata, Devan dengan cepat mengikuti mobil Luna dari belakang dengan memberi jarak satu mobil lain berada di depan mobilnya agar tidak ketahuan oleh Luna, jika ia sedang di ikuti.
"Jangan harap, Lo akan lolos kali ini cewek syalan!" geram Devan dengan menambah kecepatan mobilnya agar tak tertinggal jauh dari mobil Luna
🌼🌼🌼🌼
Hansel masih menunggu Yoona dengan setia, duduk di kursi kecil samping ranjang Yoona, menatap wajah cantik itu dengan sedih.
"Beo...apa kamu dengar aku? jika kamu dengar, aku ingin beritahu kamu kalau aku..." belum selesai Hansel berbicara, ponsel Hansel berbunyi minta perhatian lebih
"Tring...tring...tring..." Hansel tak meneruskan ucapannya, perhatiannya kini tertuju pada ponselnya yang berdering di dalam saku celananya.
Hansel mengambil ponsel dari dalam saku celana, melihat nama yang tertera di layar ponselnya yang sedang menyala. Tanpa pikir panjang, Hansel menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya dan agak menjauh dari Yoona
"Ya katakan, ada berita apa kau menelponku?" jawab Hansel tanpa basa-basi.
"............"
"Bagus! cepat kau lakukan tugasmu, aku tak mau sampai gagal lagi!" ucap Hansel tegas
".........."
Hansel tersenyum smirk, "Dasar wanita bodoh, aku pastikan kau tak akan lolos kali ini!!" lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
Hansel melangkah mendekati Yoona dan membungkukkan badannya sambil berbisik di telinga Yoona, "Aku harap kamu bangun, Beo. Aku ingin kamu menyaksikan sendiri, bagaimana aku membuat dia menyesal, seumur hidupnya karena telah mengusikmu!"
"Tok...tok...tok.., permisi tuan muda, saya mau periksa kondisi nona Yoona serta ingin membersihkan tubuhnya," ucap suster yang bertugas mengecek kondisi Yoona saat ini.
"Silahkan Sus," ucap Hansel mempersilakan suster itu menjalankan tugasnya, tak ingin melihat tubuh Yoona yang akan di bersihkan, Hansel memilih keluar dari ruangan dan menunggu di depan ruang ICU
Di dalam ruang ICU, suster sedang membersihkan tubuh Yoona hingga setiap sudut dengan handuk kecil dan air hangat. Suster memakaikan baju yang bersih, setelah selesai membersihkan tubuh Yoona lalu memasangkan cairan infus Dengan yang baru.
Suster Rani keluar dari ruang ICU setelah menyelesaikan tugasnya.
"Gimana, sudah selesai sus?" tanya Hansel ketika melihat suster Rani keluar dari ruang ICU
"Och..sudah tuan muda, saya permisi dulu tuan," ucap suster menundukkan kepalanya pelan lalu melangkah pergi menuju ruang pasien lainnya.
Hansel masuk kembali ke dalam ruang ICU. Ia tersenyum melihat wajah Yoona yang sudah terlihat segar, ia duduk di samping ranjang Yoona. Dengan semangat Hansel mengajaknya berbicara tentang dirinya dan kehidupan nya sehari-hari, itu dia lakukan agar Yoona dapat mendengar apapun tentang dirinya, sekalipun Yoona koma. Hansel yakin di bawah alam bawah sadarnya, Yoona bisa mendengar semua yang di ucapkan Hansel.
Kesabaran Hansel pada saat menjaga Yoona, tak sia-sia. Apa yang di harapkan Hansel membuahkan hasil. Kembali jari tangan kanan Yoona bergerak, seolah memberi respon.
Membulat sempurna pemilik mata elang itu, melihat apa yang baru saja di lihatnya. Senyumnya mengembang seketika dari bibirnya
"Beo...kamu dengar ucapanku barusan? kalau kamu dengar, tolong gerakkan lagi jari tanganmu sebanyak dua kali," ucap Hansel senang dengan mata berbinar
Sekali lagi Yoona merespon ucapan Hansel. Yoona menggerakkan jari tangannya sebanyak dua kali.
Senang bukan kepalang dengan apa yang baru saja di lihatnya, "Kamu tunggu sebentar ya Beo, aku akan panggilkan dokter untuk memeriksa kondisimu," ucap Hansel girang, ia segera berlari keluar ruang ICU dan mencari dokter jaga yang bertugas pagi itu.
"Suster..., Dokter...tolong cepat ke ruang ICU sekarang!" teriak Hansel di depan meja ruang suster jaga
Suster yang berada di dalam ruangan, seketika keluar mendengar teriakan Hansel di depan meja ruang suster
"Tuan muda, ada apa? apakah terjadi sesuatu dengan Nona Yoona?" tanya suster Rani yang baru saja dari ruang ICU tadi membersihkan tubuh Yoona
"Iya sus, ayo ikut saya ke ruang ICU!" ucap Hansel tak sabar
"I-iya tu-tuan..tapi bisa tolong jelaskan ada apa?" tanya suster berusaha tak ikutan panik
"Itu si Beo..., eh salah..!! maksudku Yoona baru saja memberikan respon padaku dengan menggerakkan jari tangannya ketika mendengar ucapan ku," ucap Hansel senang
"Benarkah tuan? baiklah kalau begitu, biar saya panggilkan dokter jaga dulu. Tuan muda mohon tunggu sebentar," ucap suster Rani, berlalu ke dalam memanggil dokter jaga yang sedang bertugas pagi itu.
Hansel menunggu suster dan dokter di depan meja ruang suster jaga. Terlihat ia mondar-mandir, tak sabar ingin mengetahui perkembangan kondisi Yoona. Tak lama suster dan dokter pun keluar dan menemui Hansel yang terlihat masih mondar-mandir nggak jelas.
"Tuan Hansel, apakah benar yang di katakan suster Rani barusan?" tanya dokter memastikan
"Benar dok," jawab Hansel
"Baiklah kalau begitu, ayo kita ke ruang ICU!"