
"Dia telah mencelakai calon istri ku," jawab Hansel, menatap Luna dengan tatapan kebencian
Dokter tampan itu mengangguk dan mengerti bagaimana perasaan Hansel saat ini. Sudah cukup lama Dokter Rian kenal dekat dengan Hansel, semenjak dirinya di percaya menjadi dokter spesialis di keluarga besar Ronald. Membuat Rian dekat dengan Hansel dan mereka menjadi sahabat.
"Tuan yang sabar ya. Trus apa yang bisa aku bantu tuan?" ucap Rian dengan menepuk pundak Hansel
"Buat dia mengalami hal yang sama dengan versi yang beda," ucap Hansel dingin
"Maksud tuan?" tanya dokter Rian tak mengerti
"Jika calon istriku mengalami amnesia akibat kecelakaan yang dilakukan oleh wanita ular itu, buat dia merasakan hal yang sama dengan versi yang beda. Aku ingin dia pun mengalami amnesia dengan cara buat dia mengalami gangguan jiwa!" ucap Hansel tersenyum sungging
"Apakah tuan yakin?" tanya dokter Rian
"Ya! aku mau dia merasakan hal yang sama dengan Yoona bahkan lebih parah agar ia tak lagi mengulangi hal yang sama," ucap Hansel berapi-api
Dokter Rian menghela nafas panjang, ingin sekali ia membujuk Hansel agar tidak membalas. Namun ia tau jika Hansel sudah berucap tak ada satupun yang dapat mengubah keputusannya. Mau tak mau dokter Rian pun mendukung apa yangenjadi keputusan Hansel.
"Baiklah, aku akan memberikan obat untuk memperburuk keadaan nya," ucap dokter Rian pelan.
Setelah selesai memeriksa, dokter Rian pamit pulang tak lupa ia berjanji akan memberikan obat yang sudah di janjikannya besok karena obat itu harus ia racik dulu, karena tidak di jual sembarangan.
Sementara di kediaman Handoko, Yoona terlihat bosan berada di dalam kamarnya terus menerus. Yoona terlihat mondar-mandir mengitari kamarnya, mencari sesuatu yang dapat menambah ingatannya. Yoona berdiri di depan lemari rak buku, tangannya mulai memilah-milah buku yang berjajar rapi di atas lemari rak, membaca satu persatu judul buku yang ada di sampul depan. Namun tak ada satu pun yang membuatnya mengingat sesuatu.
Yoona menaruh kembali buku itu di atas rak, tanpa sengaja matanya menangkap sebuah album foto berwarna putih. Yoona dengan cepat meraih album itu yang mulai sedikit berdebu karena sudah lama tidak tersentuh.
Yoona membawa album foto itu dan berjalan ke tepi ranjang, di ambilnya tisu dari atas nakas. Perlahan Yoona membersihkan debu yang menempel pada sampul album foto itu.
Di bukanya satu lembaran album foto itu, matanya mulai menelisik satu persatu foto yang berjajar dalam lembaran itu.
Membulat mata Yoona, ketika melihat foto pernikahan dirinya dengan sosok pria yang tidak di ingatnya.
Foto pernikahan Yoona dengan sang mantan suami Dimas ketika sedang ijab Kabul, disentuh Yoona. Kepalanya menggeleng pelan, tak ada apapun yang di ingat Yoona tentang pernikahannya dengan mantan suami.
Yoona membuka halaman album berikutnya, melihat foto dirinya bersama Rere dan Chris dan juga ayahnya begitu banyak hampir memenuhi album. Namun, Yoona tak melihat lagi fotonya bersama laki-laki yang menikah dengannya.
Banyak pertanyaan memenuhi kepalanya, hingga membuatnya merasa pusing. Yoona memijat pelan dahinya, namun semakin membuatnya sakit hingga tak sadarkan diri. Tubuh Yoona tergeletak di atas ranjang, sedangkan album foto itu sudah terjatuh di lantai.
Handoko yang berada di ruang kerjanya, tengah sibuk memeriksa laporan keuangan perusahaan yang di kirimkan oleh Chris. Senyumnya merekah ketika melihat hasil laporan yang di kirimkan Chris lewat email.
"Akh..., tidak salah aku minta bantuan keponakan ku itu, dia benar-benar bisa diandalkan. Keuangan perusahaan sedikit ada perkembangan, bahkan ia bisa menarik investor baru untuk bergabung dengan perusahaanku," ucap Handoko senang
Ya, sejak Yoona mengalami kecelakaan. Handoko memang meminta Chris untuk membantunya menghandle perusahaan miliknya. Bukan tanpa sebab, ini semua Handoko lakukan karena kondisi dirinya pun yang baru pulih dan juga sudah cukup tua, untuk kembali ke kantor rasanya sangat sulit. Beruntung Handoko memiliki keponakan seperti Chris yang pintar dalam urusan bisnis dan juga sangat baik pada keluarganya sehingga mau membantunya memulihkan keuangan perusahaan yang sempat kritis karena ulah mantan menantunya Dimas.
Selesai memeriksa laporan keuangan perusahaan, Handoko mematikan laptop nya. Diliriknya Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah satu siang
Tok...tok...tok..."
Yoona sayang, bangun nak," Handoko mengetuk pintu kamar Yoona
Namun tak ada sahutan dari dalam kamar putrinya itu. Handoko pun mencoba untuk mengetuk kembali pintu kamar Yoona
Tok...tok..tok...
"Sayang, ayo bangun sudah nih, sudah waktunya makan siang," ucap Handoko lembut. Ia selalu memperlakukan Yoona seperti anak kecil, walaupun Handoko sadar kalau putrinya itu sudah dewasa bahkan sudah pernah menikah, tetap saja Handoko begitu memanjakan anak semata wayangnya itu.
Merasa panggilannya tak di respon, Handoko mencoba masuk kamar Yoona. Dipegangnya handle pintu dan di bukanya perlahan ternyata pintu kamar Yoona tidak di kunci.
Handoko melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kamar Yoona, dilihatnya Yoona terbaring di atas ranjang. Handoko yang tidak mengetahui jika Yoona pingsan, ia mencoba menepuk-nepuk pelan pipi Yoona yang di kiranya sedang tidur.
"Yoona, sayang ayo bangun, sudah siang ini. Ayo bangun sayang, kok tumben sih kamu susah di bangunin," ucap Handoko yang masih menepuk-nepuk pelan pipi Yoona
Sudah berkali-kali Handoko coba membangunkan Yoona, namun putrinya itu tetap tak mau bangun. Merasa ada yang tidak beres, Handoko segera mengambil ponsel yang ada di saku baju kemejanya.
Dengan perasaan khawatir, Handoko mencoba menghubungi Chris, berharap keponakannya itu bisa segera datang ke rumah
Tut...Tut...Tut..
"Halo Om, ada.." sebelum selesai berucap Handoko sudang memotong ucapan Chris
"Halo Chris, Om minta tolong kamu cepat ke rumah Om sekarang ya," ucap Handoko terdengar panik
"Ada apa memangnya Om, kenapa Om panik begitu?" tanya Chris heran
"Yoona..., Chris. Tolong Yoona..," ucap Handoko gelagapan
"Yo-Yoona? ada apa dengan Yoona, Om?" tanya Chris merasa tak tenang
"Yoona nggak sadarkan diri. Barusan Om coba bangunkan dia berkali-kali untuk makan siang tapi Yoona tidak bangun-bangun! kamu cepat kesini ya Chris, tolong bantu Om bawa Yoona ke rumah sakit," ucap Handoko lirih
"I-iya Om, Chris kesana sekarang," ucap Chris panik
Ia segera keluar dari ruang kerja Yoona yang saat ini sebagai ruang kerjanya sementara. Chris melangkah cepat, hingga tanpa sengaja dirinya menabrak Rere yang sedang menuju ruangannya.
Brugh...
"Aduh...!"