Falling in LoVe With You!

Falling in LoVe With You!
Menyesal pun tak ada guna



"Tapi aku maunya makan kamu aja," goda Hansel dan memeluk tubuh Yoona dari belakang.


"Ish..., kamu tuh ya mas. Nggak enak sama papa, ayo cepat kita turun," Yoona berbalik badan menghadap Hansel, di tatapnya wajah tampan itu dan "muaachh" kecupan singkat berhasil mendarat di bibir Hansel.


"Eh, curang kamu ya! sini gantian..," goda Hansel.


"Iihh..nggak mau!" ledek Yoona buru-buru menghindar dari Hansel.


"Heum...awas kamu ya!" Hansel dengan cepat meraih tangan Yoona dan merangkulnya dari belakang.


"Kena kan kamu, nggak bisa pergi gitu aja dari aku. Kamu harus tanggung jawab udah buat aku candu," ucap Hansel mengecup leher jenjang Yoona dari belakang.


Yoona terpejam, seakan menikmati sentuhan lembut yang berasal dari bibir pria tampan itu.


"Mas, nggak boleh begini, akh," ucap Yoona yang hampir terbuai.


"Kenapa nggak boleh, sayang? sebentar lagi kamu akan menjadi istriku, bukan?" ucap Hansel pelan di telinga Yoona, membuat wanita cantik itu merasakan geli.


Tak ingin bertindak diluar batas akal sehatnya, Yoona menginjak kaki Hansel kuat, hingga pria tampan itu meringis kesakitan dan akhirnya melepaskan pelukannya. Melihat ada kesempatan, Yoona segera lari dan buru-buru keluar kamar.


"Dasar beo, cepat banget kaburnya," gumam Hansel tersenyum, sambil menahan sakit di bagian kakinya yang di injak oleh pujaan hatinya, Hansel berjalan keluar kamar menyusul Yoona ke ruang makan.


"Loh kaki kamu kenapa, nak Hansel?" tanya Handoko heran, melihat Hansel jalan pincang.


"Akh..ini Om, tadi ketiban sofa di kamar Yoona," ucap Hansel asal.


"Ya ampun, kok bisa? mau ke rumah sakit nggak biar di periksa kakinya, nak Hansel?" ucap Handoko cemas.


"Nggak usah, Om. Ini cuma sakit sedikit aja kok, sebentar lagi juga sembuh," ucap Hansel memperlihatkan senyum termanis.


"Ya sudah kalau gitu, kita makan dulu ya. Yoona, ambilkan makanan untuk Hansel," ucap Handoko.


"Iya, pah" jawab Yoona mengambil nasi dan lauk pauknya di atas piring Handoko dan Hansel.


Mereka bertiga menikmati makan malam bersama sambil ngobrol santai seputar hubungan keduanya, sampai ngobrol serius seputar perusahaan dan tak luput Yoona membahas tentang masalah yang terjadi pada Chris dan Rere.


Handoko terkejut mendengar masalah yang kini menimpa keponakan dan juga pegawai nya. Namun, Handoko berjanji akan membantu berbicara pada orang tua Chris agar secepatnya menikahi Rere sebelum perutnya membesar.


Malam semakin larut, langit yang bertabur banyak bintang dan rembulan yang menerangi bumi menambah keindahan langit malam ini.


"Aku pulang dulu, om. Terimakasih atas makan malamnya," Hansel pamit pulang, dua insan yang sedang di mabuk cinta itu harus berpisah karena waktu yang sudah larut.


"Hati-hati ya, nak Hansel. Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya," pesan Handoko.


"Baik Om," ucap Hansel sambil mencium punggung tangan Handoko.


"Kabari aku ya mas kalau sudah sampai rumah," ucap Yoona tersenyum.


"Iya sayang," jawab Hansel tersenyum.


Hansel melajukan mobilnya keluar dari kediaman Handoko menuju jalanan ibu kota yang terlihat masih ramai dengan kendaraan berknalpot.


🌸🌸🌸🌸🌸


Di tempat lain...


Rere termenung di depan jendela menatap langit yang bertabur bintang, terlihat begitu indahnya. Namun keindahan langit itu tak seindah kehidupan Rere saat ini. Setelah apa yang terjadi pada dirinya hari ini, Rere merasa malu pada bestie nya itu.


Tring...tring...


Terdengar bunyi pesan masuk dari ponselnya yang berasal diatas nakas. Dengan malas Rere melangkah mengambil ponselnya yang di letakkan di atas nakas.


Terlihat di layar depan notifikasi pesan yang berasal dari Chris. Rere membuka pesan yang dikirimkan Chris melalui aplikasi hijau.


"Belum!" jawab Rere singkat.


"Lo lagi ngapain? gue ganggu nggak?" tanya Chris.


"Baru mau tidur, ada apa?" tanya Rere.


"Apa lo udah siap buat ketemuan sama orang tua gue?" tanya Chris.


"Entahlah!" jawab Rere singkat.


"Kok gitu jawabnya?" tanya Chris tak suka


"Gue masih bingung, tolong jangan bahas itu sekarang," jawab Rere yang langsung mematikan ponselnya.


Ya, sejak Yoona tau dirinya hamil. Rere merasa telah mengecewakan hati bestie nya itu. Kehormatan yang selama ini di jaganya dengan baik, hancur seketika karena sebuah kesalahan dirinya dan Chris.


Andai waktu itu, ia tidak menyanggupi permintaan Chris untuk menemaninya minum di Cafe dan membuat keduanya mabuk. Mungkin hal buruk itu tak akan terjadi. Rere tak akan kehilangan kehormatannya yang ia jaga selama ini.


Kini semua sudah terjadi, menyesal pun tak ada guna, karena tak akan mampu mengembalikan keadaan. Rere memang mencintai Chris dengan tulus tapi tidak seperti ini cara mendapatkan cowok idolanya itu. Rere tak ingin Chris menikahinya karena terpaksa, ia tak ingin pernikahannya nanti kandas di tengah jalan.


Rere tak pernah tau tentang perasaan Chris terhadapnya, karena lelaki tampan itu tidak pernah menunjukkan perasaan suka padanya.


Sedangkan, di sebuah hunian mewahnya Chris dibuat bingung dengan sikap Rere.


"Tuh cewek sebenarnya maunya apa ya?" gumam Chris kesal setelah mendapat balasan pesan dari Rere.


Chris memang tidak pernah mengatakan tentang perasaannya pada Rere, sikap cuek dan dinginnya itu membuat Rere tak pernah tau jika lelaki yang di idolakan itu sebenarnya sudah klepek-klepek padanya.


Chris terlihat mondar-mandir mengitari ruang kamarnya. Hatinya semakin tak tenang setelah mendapatkan balasan pesan yang tak sesuai dengan ekspektasi. Chris mengira, jika Rere akan sangat antusias ketika di ajak bertemu dengan kedua orangtuanya.


"Ini nggak bisa dibiarin! gue harus tanyain langsung besok di kantor!" gumam Chris kesal.


Waktu begitu cepat berlalu, mentari pagi sudah memancarkan cahayanya menyinari bumi. Kicauan burung berhasutan dengan merdunya.


Kini sosok tampan dengan tubuh penuh peluh sehabis berolahraga, sedang menikmati guyuran air yang mengalir dari atas shower. Selesai mandi, Chris mengenakan pakaian kerjanya, setelah rapih dan wangi, Chris keluar dari kamarnya dan menuruni tangga menuju ruang makan.


"Pagi pah, mah.." sapa Chris tersenyum.


"Pagi sayang, ayo bareng sarapan dulu," ucap Mamanya Chris


"Chris, sarapan di kantor aja ya mah, pah. Ada masalah yang harus Chris selesaikan dulu," tolak Chris lembut.


"Loh kok gitu, sarapan dulu aja sebentar sini, biar kamu nggak sakit," ucap sang Mama sedikit memaksa.


"Yah, mah. Chris nggak bisa..., Chris buru-buru, mah. Gpp ya," ucap Chris mengecup pipi sang Mama dan hendak pamit.


"Eh...tunggu Chris, kalau kamu nggak mau sarapan bareng. Makanannya di bekel aja ya" ucap sang Mama memaksa.


Chris menarik nafas panjang, ia tak bisa lagi menolak permintaan mama nya.


"Bi, tolong bekelin makanan ini buat tuan muda bawa ke kantor ya,"


"Baik, nyonya," ucap sang asisten rumah tangga


Tring...tring...


terdengar ponsel papa nya Chris berbunyi.


"Loh, ini Handoko nelpon papa,"