Falling in LoVe With You!

Falling in LoVe With You!
Persiapan pernikahan



"Iya mah, selain cantik, calon mantu kita juga baik hati," puji Ronald papanya Hansel


Mendengar pujian dari calon mertuanya, wajah Yoona seketika merah merona.


"Wah wajah calon mantu kita memerah pah," goda mama nya Hansel


"Hush...Mama nih, jangan godain Yoona terus, kasian calon mantu kita jadi malu," ucap Ronald tersenyum


Setelah memastikan seluruh keluarga besar datang semua, acara lamaran pun di mulai. Senyum bahagia terpancar di wajah Yoona dan Hansel, dua sejoli yang sedang di mabuk cinta itu akhirnya akan bersama dalam ikatan suci pernikahan.


Hansel bisa bernafas lega ketika acara lamaran berjalan lancar sesuai rencana. Kedua keluarga juga sudah sepakat bahwa hari pernikahan mereka akan diadakan sebulan lagi. Yoona dan Hansel tak pernah membayangkan dalam waktu satu bulan nanti akan di persatukan menjadi suami istri.


"Apa ini nggak terlalu cepat mah?" tanya Hansel khawatir


Pasalnya Hansel tau betul, jika untuk mempersiapkan resepsi pernikahan tidaklah mudah, harus dengan persiapan yang matang dari jauh-jauh hari. Waktu sebulan yang di sepakati antara kedua orang tua mereka, sungguh membuat Hansel mencelos. Hansel takut jika pada acara resepsi pernikahannya gagal berantakan dan akan membuat tamu undangan dan relasi bisnisnya yang datang ke acara merasa kecewa.


Seakan mengerti dengan kegundahan yang di rasakan anak tercintanya itu, Mama nya Hansel angkat bicara


"Kamu tenang saja ya sayang, serahin semuanya sama Mama. Mama yang akan atur semuanya, jadi kamu dan Yoona nggak perlu khawatir. Kalian berdua pokoknya terima beres saja dan kalian cukup persiapan diri kalian di hari pernikahan nanti," ucap Vera menenangkan putranya


Hansel menatap Vera, ia tak menyangka ibu yang melahirkan nya itu tau apa yang di pikirkan nya. Hansel memeluk Vera erat dan berbisik, "Terimakasih ya mah" sambil mengecup pipi sang Mama


"Sama-sama sayang," jawab Vera membalas mengecup pipi kanan kiri Hansel


Tanpa terasa hari mulai gelap, sang mentari telah berganti tempat dengan rembulan yang menerangi gelapnya malam. Suasana rumah Yoona pun sudah kembali sunyi. Para tamu yang datang memenuhi acara lamaran, sudah kembali ke rumah mereka masing-masing.


Yoona yang sudah berada di dalam kamar ternyaman nya berdiri di depan jendela kamarnya, memandangi langit yang begitu indah di terangi cahaya bulan dan bintang dengan kagum.


Pikirannya melayang jauh memikirkan sosok pria tampan yang di kenal dingin dan cuek bak kulkas itu akan menjadi pendamping hidupnya dalam waktu sebulan.


Ting..Ting... terdengar bunyi pesan masuk di ponsel Yoona. Yoona menoleh ke belakang, mengedarkan pandangannya pada benda pipih miliknya yang geletak di atas nakas. Namun tak ada niatnya untuk mengambil benda pipih miliknya. Yoona memilih tetap memandangi langit yang bertabur bintang di depan jendela kamarnya.


Tring...tring...tring...


Kini ponselnya kembali berbunyi, ingin abai namun ponselnya terus-menerus berbunyi. Dengan terpaksa Yoona pun berbalik badan dan berjalan ke arah ranjang, diambilnya ponsel yang masih berdering, tertera dilayar ponsel nama si penelpon "Ice Bear". Senyum mengembang terlihat di wajah cantiknya.


Tanpa menunggu lama lagi, Yoona menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya.


"Halo..." sapa Hansel


"Ya halo," jawab Yoona


"Kamu lagi apa?" tanya Hansel


"Hah, mandangin langit?" tanya Hansel bingung, ia mengulangi ucapan Yoona


"Iya, langit di luar bagus banget bertabur bintang-bintang," ucap Yoona polos


Begitu banyak yang di bahas oleh dua insan yang sedang bucin itu, walaupun mereka baru saja bertemu beberapa jam yang lalu. Namun, tidak membuat keduanya bosan, justru benih-benih cinta semakin merekah di hati mereka berdua.


🌼🌼🌼🌼🌼


Keesokan harinya, keluarga Hansel sudah sibuk mempersiapkan segala keperluan yang harus di buat untuk acara resepsi pernikahan yang waktunya hanya sebulan saja.


Beruntung Vera sudah mempersiapkan segalanya di jauh-jauh hari, sebelum Yoona mengalami kecelakaan. Jadi, tidak sulit bagi Vera untuk membantu anak dan calon mantu nya itu dalam mempersiapkan acara resepsi pernikahan yang meriah dan tentunya akan di hadiri oleh para tamu undangan yang berasal dari relasi bisnis dan kalangan sultan tentunya.


Vera dengan cepat mulai mengundang beberapa relasi bisnis nya yang cukup dekat dengan keluarganya lewat telpon. Sebelumnya Vera juga sudah mencetak undangan, berhubungan undangannya belum jadi. Vera berinisiatif untuk menghubungi rekan-rekan terdekat nya sambil menunggu undangan yang sudah di cetak jadi nantinya.


Berita tentang pernikahan Hansel dan Yoona sudah tersebar hingga ke seluruh kota tersebut dengan cepat. Dimas dan Ayu yang masih berada di dalam penjara pun sudah mendengar berita tersebut.


Dimas yang mendengar kabar pernikahan Yoona merasa kesal, hatinya tak terima melihat mantan istrinya itu sudah menemukan penggantinya. Dimas tak rela melihat Yoona bahagia, sedangkan dirinya hidupnya hancur setelah perbuatannya di pergoki oleh Yoona.


Alih-alih ingin hidup bahagia bergelimang harta bersama Ayu, wanita yang di cintainya dari hasilnya menguras harta Yoona. Bukan kebahagiaan yang di dapat, justru dirinya dan Ayu harus menikmati hidup di jeruji besi.


Rencananya ancur berantakan, hidup Dimas dan Ayu terlihat lebih memperihatinkan.


"Aku nggak akan biarin kamu bahagia Yoona, setelah apa yang kamu lakukan padaku!" geram Dimas memegang kuat jeruji besi


Dendam di hatinya semakin membara, dirinya bahkan bersumpah akan menghancurkan kehidupan Yoona setelah ia bebas dari penjara nanti.


Rencana jahat sudah di rancang sedemikian rupa, ingin rasanya Dimas membayar orang untuk mencelakai Yoona. Tapi itu tidak bisa ia lakukan, berhubung seluruh harta dan tabungannya sudah di sita dan diambil kembali oleh Yoona. Dimas tidak bisa membayar orang untuk mencelakai Yoona, karena kini Dimas sudah kembali hidup susah dan tidak memiliki tabungan sepeser pun.


Dimas hanya mampu menyimpan rapat-rapat rencana jahatnya pada otak kecilnya itu.


Sedangkan di tempat lain...


Luna yang semakin hari semakin hilang kesadarannya karena obat yang terus-menerus di berikan oleh Rocky atas perintah Hansel, kini dirinya benar-benar sudah gila. Luna tidak lagi mengenali Hansel bahkan Luna tidak mengenali dirinya sendiri.


Luna kerap kali tertawa, menangis dan marah-marah tanpa sebab. Bahkan kerap kali Rocky mendapati Luna melukai dirinya sendiri dengan membentur-benturkan kepalanya ke dinding jika ia tengah mengamuk.


Hansel yang mendengar laporan tersebut dari Rocky, segera meminta Rocky untuk mengirim Luna ke rumah sakit jiwa. Hansel tak ingin melihat Luna mati dengan mudah, pria tampan itu ingin melihat Luna tersiksa seumur hidupnya.


Rocky pun segera menjalankan perintah tuannya itu. Rocky membawa Luna ke rumah sakit jiwa milik keluarganya Hansel.


"Gue mau di bawa kemana?" teriak Luna