
Mata Luna membulat ketika dirinya di bawa paksa oleh anak buah Rocky keluar dari gudang tempat ia selama ini di sekap. Luna merasa ketakutan saat hendak di bawa masuk ke dalam mobil oleh beberapa anak buah Rocky. Tangan yang masih terikat, membuat Luna sulit untuk bergerak. Luna terus saja teriak dan mencoba berontak, minta di lepaskan. Rocky yang kesal mendengar suara teriakan Luna, meminta anak buahnya untuk menutup mulut Luna dengan lakban.
"Berisik tau nggak!!" bentak Rocky matanya melotot menatap Luna
"Mmmmkkk" teriak Luna dengan mulut yang sudah berhasil di tutup lakban.
Untung markas tersebut jauh dari pemukiman warga, jadi tak ada satupun warga yang datang menghampiri markas mereka karena suara teriakan Luna yang kerap kali mengganggu.
Luna yang sudah berada di dalam mobil duduk di kursi tengah diapit oleh anak buah Rocky di sebelah kanan dan kiri. Sebelum mobil melaju menuju rumah sakit jiwa, Rocky membekap mulut Luna dengan saputangan yang sudah di beri obat bius. Tak ingin Luna membuat kekacauan saat di dalam mobil yang dapat mengundang perhatian pengendara lainnya nanti.
Mobil sudah melaju membelah jalanan ibukota. Sepanjang perjalanan terlihat dari samping kaca mobil, gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi menjadi ciri khas di kota besar.
Hampir setengah jam lamanya Rocky dan anak buahnya berada di perjalanan, kini mobilnya sudah sampai di depan rumah sakit jiwa 'Pelita', mobil segera memasuki parkiran mobil dan memarkirkan mobilnya di sambil lift. Sebelum keluar dari mobil, Rocky menghubungi Hansel terlebih dahulu.
Tut...Tut...Tut...
"Halo, katakan!" terdengar suara Hansel menyapa pelan namun tegas
"Halo tuan, kami sudah sampai di rumah sakit jiwa pelita. Apakah wanita gila langsung kami bawa masuk tuan?" tanya Rocky
"Tidak perlu! kalian tunggu saja di dalam mobil, aku akan hubungi dokter dulu, biar nanti tim dokter saja yang membawa masuk Luna!" ucap Hansel dan di patuhi oleh Rocky, Panggilan pun segera di akhiri.
Rocky dan anak buahnya menunggu di dalam mobil sesuai yang di perintahkan Hansel. Mereka menunggu dokter datang menjemput Luna. Hampir 15 menit lamanya mereka menunggu, akhirnya dokter pun datang dengan beberapa petugas untuk membopong tubuh Luna.
Melihat dokter dan beberapa petugas medis datang. Rocky membuka pintu mobilnya dan menurunkan Luna di bantu oleh anak buahnya, lalu menyerahkan Luna pada dokter dan petugas yang sudah di perintahkan Hansel untuk menangani Luna disana.
Luna yang masih dalam pengaruh obat bius, memudahkan petugas rumah sakit untuk membawanya masuk tanpa ada drama perlawanan seperti pada pasien sebelum-sebelumnya.
Luna di bawa menuju ruang khusus untuk dirinya sendiri. Ia tidak di campur dengan pasien RSJ lainnya. Di dalam ruang sempit Luna di baringkan di atas ranjang berukuran kecil. Setelah membaringkan Luna, dokter dan petugas itu membuka ikatan dan lakban yang menutup mulutnya, lalu mereka segera keluar dari ruangan itu dan membiarkan Luna sendiri yang masih tertidur dalam pengaruh obat bius. Tak lupa mengunci pintu ruangan dengan gembok.
Dokter yang menangani Luna, kembali ke ruangannya dan duduk di kursi kerjanya. Tangannya sibuk berkutat dengan layar komputer yang ada di atas meja kerjanya, ia memantau Luna lewat cctv yang sengaja di pasang di ruangan tersebut agar lebih memudahkannya melapor pada Hansel.
Beginilah kondisi ruang tempat Luna di rawat.
Hari menjelang sore, Luna akhirnya sadarkan diri. Ia membuka mata dan melihat ke sekitar ruangan yang terasa asing baginya. Luna bangun dari ranjang, ia berjalan mengitari ruangannya yang terlihat lebih rapi dan bersih dari tempat sebelumnya. Matanya menatap heran ke setiap sudut ruangan.
Tok..tok...Tokk...
Terdengar suara pintu di ketuk, membuyarkan lamunan Luna. Luna menoleh ke arah pintu, Tiga orang suster datang menghampiri Luna.
"Ayo Non, kita mandi dulu," ucap salah satu suster yang sudah berdiri di hadapan Luna
Mata Luna membulat, "Nggak!" teriaknya histeris.
Sadar dengan sikap Luna yang ketakutan seperti itu, Suster tersebut mendekati Luna dan membujuknya dengan cara yang lembut.
"Non, nggak usah takut. Suster cuma mau mandiin doank kok," bujuknya
Luna menoleh ke belakang, dilihatnya wajah suster itu begitu teduh. Luna terdiam sejenak dalam ketakutan, ia menatap ke wajah suster tersebut yang tersenyum melihat dirinya.
"Ayo non, kita mandi biar bersih wangi," ucap suster lagi membujuk
Luna akhirnya luluh, ia mau turun dari ranjang dan di tuntun oleh suster menuju kamar mandi.
"Saya bukain dulu ya bajunya," ucap salah satu suster lainnya
Luna menepis kasar tangan suster itu, matanya membulat karena tak suka dengan suster tersebut yang terlihat lebih jutek dari suster sebelumnya
"Pergi!!" usir Luna melotot ke arah suster yang bernama Leli
Leli terlihat kesal dengan sikap Luna. Leli menatap ke arah suster Noni yang sebelumnya berhasil membujuk Luna mandi.
"Gimana ini, gue di usir!" ucapnya dengan gerak mulut tanpa suara
"Ya udah kamu keluar aja sama Risa, biar aku saja yang mandiin dia," jawab suster yang bernama Noni.
"Cepat keluar!" teriak Luna yang melihat mereka masih berada di kamar mandi
"Oke..oke... tenang non, biar suster yang mandiin non ya. Kalian berdua keluar dulu ya," ucap Noni pada kedua rekannya
Risa dan Leli keluar dari kamar mandi dan membiarkan Noni sendirian yang memandikan Luna.
Melihat kedua rekannya sudah keluar dari kamar mandi, Noni mendekati Luna dan membantunya membuka pakaian dan memandikannya.
Selesai mandi, Noni dengan sabar memakaikan pakaian Luna. Luna merasa lebih nyaman dengan suster Noni. Setiap harinya Luna hanya mau di rawat oleh suster Noni. Setiap kali Noni libur kerja dan di gantikan oleh suster yang lain, Luna tak segan-segan mengamuk dan tak mau mandi bahkan makan jika bukan Noni yang mengurusnya.
*****
Sudah hampir seminggu Luna di rawat di Rumah sakit jiwa pelita milik Hansel. Keadaan Luna masih sama, ia kerap kali menangis tiba-tiba dan kadang mengamuk tanpa sebab. Hanya suster Noni lah yang mampu membujuk Luna agar bisa tenang.
"Pergi kalian semua!" teriak Luna ketika melihat yang datang bukanlah suster Noni
Noni yang sedang libur pun terpaksa di hubungi oleh atasannya untuk masuk kerja dan merawat Luna dengan catatan gajinya di naikkan karena tak ada libur.
Noni yang baru di terima kerja di rumah sakit tersebut merasa senang karena gajinya naik meski ia belum lama kerja disana