
Rocky yang kesal karena tak mendapati Luna di mobil itu, menghampiri Pak Ujang yang sudah gemetar ketakutan.
"Gue tanya sekali lagi sama Lo, Pak tua, dimana bos Lo si Luna itu? jangan coba-coba Lo sembunyikan penjahat itu!" ucap Rocky memberi tekanan
Membulat mata Pak Ujang, waktu mendengar majikannya di katakan seorang penjahat.
"A-apa maksudnya menuduh majikan saya sebagai seorang penjahat?" tanya Pak Ujang yang tak mengerti
"Dengar ya Pak tua, gue nggak asal nuduh! majikan Lo itu udah sengaja nabrak calon istri bos gue! jadi, sekarang kasih tau gue, dimana Lo sembunyikan majikan Lo itu!!" bentak Rocky yang sudah mulai habis kesabaran nya.
Dilema itulah yang dialami oleh Pak Ujang, satu sisi ia tidak mau di bilang sekongkol dengan majikannya, namun satu sisi lainnya, Pak Ujang sudah banyak berhutang budi pada Luna dan keluarganya.
"Duh gimana ini, kalau aku beritahu keberadaan non Luna, bagaimana nasib anak dan istriku," berkecamuk batin Pak Ujang
"Kenapa diam aja, cepat jawab!!" membulat sudah mata Rocky, seperti ingin menelan Pak Ujang hidup-hidup
"Sa-sa-saya nggak tau bang, non Luna tadi minta di turunkan di tengah jalan, katanya ingin ke rumah temannya menginap," ucap Pak Ujang berbohong
"Ehmm...Lo mau main-main sama gue,hah! cepat katakan temannya yang mana!!" tanya Rocky, tangannya menarik kerah baju pak Ujang, ia masih kurang percaya
"Saya nggak tau, tadi non Luna tidak bilang!" ucap Pak Ujang berbohong menundukkan kepalanya
Rocky melepaskan tangannya, "Awas saja kalau Lo sampai ketauan bohong dan sekongkol sama majikan Lo itu, gue bikin perkedel kalian berdua!" ancam Rocky, lalu pergi masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.
Namun Devan yang tidak percaya dengan pengakuan Pak Ujang, ia memilih pura-pura pergi dari tempat itu, lalu kembali memantau agar tidak ketahuan
Luna yang mengintip dari balik mobil yang parkir, segera masuk ke dalam lift menuju unit apartemen nya
"Aakkhh.. akhirnya aku bisa lolos dari mereka. Tapi aneh, dari mana mereka tau aku yang menabrak wanita syalan itu?" Pikir Luna
🌼🌼🌼🌼
"Huachim... huachim..." Hansel menatap wajah Handoko yang terlihat lemah
"Om sepertinya sedang sakit, sebaiknya Om pulang dan istirahat di rumah. Yoona biar Hansel yang jaga disini," ucap Hansel mendekati Handoko terlihat pucat
"Om tidak apa-apa nak Hansel, Om masih kuat disini jaga Yoona," ucap Handoko yang merasa tak ingin merepotkan siapapun
"Om...tolong jangan paksain diri, Om sudah terlihat pucat seperti ini, lebih baik Om istirahat di rumah agar tidak sakit. Om nggak usah khawatirkan Yoona, aku yang akan jagain Yoona Om," ucap Hansel
"Tapi Om merasa tidak enak pada nak Hansel, pasti nak Hansel sibuk dengan urusan kantor. Nak Hansel juga harus istirahat," ucap Handoko semakin merasa tak enak hati
"Om tenang aja ya, urusan kantor nanti masih bisa di handle sama Papa. Lagian Yoona ini kan calon istri ku, aku ingin juga menjaganya," ucap Hansel tersenyum
"Baiklah kalau begitu, Om pulang dulu ya. Om titip Yoona, tolong kabari Om jika ada perkembangan tentang kondisi Yoona," ucap Handoko pamit
"Tentu saja Om, nggak usah khawatir. Aku akan hubungi Om jika ada perkembangan tentang kondisi Yoona," ucap Hansel
Handoko keluar dari ruang ICU dan pergi pulang ke rumah yang di antar oleh supirnya
Hansel yang berada di ruangan ICU menjaga Yoona di buat kesal ketika Rocky mengabarinya gagal menemukan Luna
"Apa!!! jadi Luna yang menabrak Yoona? dan kau gagal menemukan wanita ular itu? aku tidak mau tau cepat kau temukan wanita ular itu, sebelum polisi yang menemukannya! aku akan buat perhitungan terlebih dahulu dengannya sebelum di serahkan pada polisi!! bentak Hansel tegas
"Ba-baik bos, tolong maafkan saya bos. Saya janji akan menemukan wanita itu secepatnya!" ucap Rocky panik, mendengar amarah Hansel di telepon.
"Aaarrgghh...!!! dasar wanita ular syalan!! Berani-beraninya dia mengusik calon istriku, sudah berani dia main-main denganku dan mengabaikan peringatan ku waktu itu agar tidak mengusik kehidupan ku. Baiklah Luna akan ku buat kau menyesal karena telah berani mengabaikan peringatan ku!! Aaarrgghh...!!!" teriak Hansel geram, ia melempar ponselnya secara kasar ke atas sofa
Hansel merasa bersalah pada Yoona, ia merasa karena dirinya lah Yoona di tabrak. Hansel mendekati Yoona yang masih terbaring koma, ia duduk di bangku kecil samping ranjang Yoona.
Hansel menggenggam tangan Yoona, di tatapnya wajah cantik itu yang terlihat seperti orang tidur.
"Maafin aku, Beo. Ini semua salah aku, karena aku lah kamu jadi seperti ini. Aku nggak tau kalau Luna akan senekat ini mencelakai mu. Maafkan aku yang terlambat menolongmu waktu itu, maafin aku," ucap Hansel lirih, lolos sudah butiran bening itu dari pelupuk mata elangnya membasahi tangan Yoona
Yoona yang masih belum memberikan respon, membuat Hansel semakin merasa bersalah. Kini wajah tampan yang galak dan dingin itu, terlihat begitu hancur hatinya. Baru pertama kali dalam hidupnya, ia menangis dan takut kehilangan wanita yang ia cintai.
Hansel takut jika harus kehilangan wanita yang sudah berhasil menaklukkan hatinya itu.
"Beo, tolong cepatlah bangun. Aku benar-benar takut kehilanganmu, tolong jangan pergi tinggalkan aku. Aku janji, akan menangkap Luna secepatnya, demi kamu!" ucap Hansel dengan mata yang semakin sembab, ia tak mampu menghentikan butiran bening itu keluar dari mata elangnya, semakin ia menahannya semakin deras butiran bening itu berhamburan.
Lelah menangis membuat si singa galak itu terlelap tidur dengan tangan masih menggenggam erat tangan Yoona
Tanpa Hansel sadari, jari telunjuk Yoona bergerak pelan seperti memberi respon.
🌼🌼🌼
"Kak Chris kok tumben datang ke kantor ini?" tanya Rere penasaran ketika hendak bersiap pulang, karena sudah waktunya pulang pulang kantor
"Iya, gue diminta Om Handoko untuk bantu handle kantor sementara sampai Yoona pulih," ucap Chris yang sedang menunggu Rere bersiap-siap merapikan meja kerjanya
"Oh jadi kak Chris, tiap hari akan datang ke kantor?" tanya Rere senang, pasalnya ia akan sering-sering melihat wajah tampan itu di kantornya
"Iya, gue akan datang tiap hari ke kantor. Kenapa muka Lo senyum-senyum nggak jelas gitu? Lo seneng ya bisa liat gue tiap hari disini?" Ledek Chris, entah kenapa setelah melihat ketulusan Rere tadi siang membuat hati Chris yang beku, meleleh.
Memerah bak buah Cherry, wajah Rere saat ini mendengar ucapan Chris. Tak di pungkiri apa yang di katanya pria lajang yang berwajah tampan itu tepat sekali.